Sosialita

Sosialita
Sesi konseling,


__ADS_3

"Maaf, Mbak Dena sayang. Aku gak bisa ikut kumpul karena sekarang aku baru saja tiba di rumah sakit," ucap Rahma setelah mengangkat telfon dari Dena.


Wanita berbadan dua itu kembali menyimpan gadget miliknya ke dalam tas setelah panggilan bersama Dena berakhir. Dia melanjutkan langkah menuju ruangan dokter Richard yang sudah ditunjukkan oleh seorang perawat yang berjaga di pendaftaran.


"Hmmm ... sepertinya aku harus sabar menunggu beberapa pasien lagi," gumam Rahma setelah duduk di bangku panjang yang ada di depan ruangan dokter Richard.


Pikiran wanita cantik itu menerawang jauh untuk mengingat setiap kata yang diucapkan oleh Abraham tadi pagi, sebelum dirinya berangkat ke rumah sakit tempat dokter Richard praktek. Rasa kesal kembali memenuhi hati wanita berusia tiga puluh lima tahun itu, tetapi setelah teringat bagaimana dirinya muntah di tubuh Abraham, senyum smirk akhirnya terbit dari bibirnya.


"Syukurin deh! Kalau bisa sih setiap hari aku pengen muntah di hadapan ABG tua itu!" umpat Rahma dengan suara yang lirih.


Hampir tiga puluh menit, Rahma duduk di sana hingga semua pasien yang datang ke dokter kandungan itu telah selesai melakukan pemeriksaan. Rahma segera mengeluarkan ponsel untuk memberitahu dokter Richard jika dirinya sudah tiba di rumah sakit tersebut. Tak berselang lama, pintu ruangan dokter Richard terbuka lebar dan seorang perawat keluar dari sana.


"Nyonya Rahma silahkan masuk. Dokter Richard sudah menunggu kedatangan Anda," ucap perawat tersebut saat menghampiri Rahma.


"Terima kasih, Sus," ucap Rahma dengan sikap yang sangat ramah. Setelah itu, perawat tersebut segera pergi entah ke mana.


"Selamat siang, Dok," sapa Rahma setelah membuka pintu ruangan tersebut. Dia segera masuk ke dalam ruangan setelah dokter Richard mempersilahkan masuk.


Ruangan yang cukup luas itu benar-benar sepi karena hanya ada Rahma dan dokter tampan yang sedang melepas jas putih yang menjadi seragamnya saat bekerja. Wanita simpanan Abraham itu hanya diam saja sambil memperhatikan gerak-gerik pria tampan yang ada di hadapannya itu.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Nyonya hari ini? Apa ada yang Anda keluhkan?" tanya dokter Richard setelah meletakkan kedua tangannya di atas meja. Tatapan mata dokter tampan itu tertuju kepada Rahma.


"Sama seperti sebelumnya, Dok. Setiap pagi saya mengalami morning sickness." Keluhan Rahma masih sama seperti sebelumnya.


"Morning sickness adalah hal yang wajar bagi ibu hamil. Jangan khawatir karena kondisi tersebut akan berangsur hilang seiring dengan bertambahnya usia kandungan Anda," jelas dokter Richard dengan suara yang terdengar menenangkan di telinga Rahma.


"Saya berharap kondisi tersebut berakhir secepatnya, Dok." Rahma menatap dokter yang terlihat tampan itu dengan intens, "jadi bagaimana? Apa Anda bisa membantu saya untuk menggugurkan kandungan ini?" tanya Rahma tanpa basa-basi lagi.


Dokter Richard hanya tersenyum simpul setelah mendengar pertanyaan dari Rahma. Sesuatu hal yang tidak pernah dan tidak akan pernah dia lakukan. Dokter Richard sedang merangkai kata yang tepat agar bisa diterima oleh Rahma.


"Sebelum kita membahas tentang aborsi lebih jauh lagi. Saya ingin tahu, apa alasan Anda menggugurkan kandungan? Apakah janin yang tumbuh di rahim tersebut mengganggu kesehatan Anda, Nyonya Rahma?" tanya dokter Richard tanpa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Satu hal yang pasti, Dok. Saya tidak siap memiliki anak," ucap Rahma dengan tegas.


Ya, meski sebenarnya enggan untuk mendengarkan penjelasan tersebut, Rahma tetap melakukannya untuk menghargai dokter Richard yang bersedia meluangkan waktu untuk konseling bersamanya. Rahma menyimak setiap gambar dan beberapa video yang ditunjukkan oleh dokter tampan tersebut. Ada rasa nyeri yang terasa dalam tubuhnya ketika melihat bagaimana proses aborsi yang ditunjukkan oleh dokter tampan tersebut.


"Jika saya melakukan aborsi, apakah prosedurnya sama dengan yang ada di video tersebut, Dok?" tanya Rahma setelah melihat satu video yang berhasil membuat tubuhnya meremang.


"Bisa lebih parah dari itu dan yang paling fatal, Anda bisa kehilangan nyawa," jawab dokter Richard.

__ADS_1


Tanpa bisa ditahan lagi, air mata luruh begitu saja dari pelupuk mata. Wanita berbadan dua itu menjadi bimbang akan tindakan yang ingin dilaksanakan secepatnya itu. Namun, mempertahankan janin yang sedang tumbuh dalam rahimnya tentu tidaklah mudah. Ada beban mental yang harus dia tanggung seorang diri tanpa ada sosok pria yang peduli dengannya.


"Seharusnya di sesi konseling ini, saya harap Anda bisa lebih terbuka dengan permasalahan yang sedang Nyonya hadapi. Mungkin dengan begitu, saya bisa membantu untuk mencari solusi yang tepat atas permasalahan tersebut." Tatapan mata dokter tampan itu teduh dan semakin menenggelamkan Rahma dalam kebimbangan.


"Seandainya boleh jujur, saya tidak mengharapkan kehamilan ini, Dok. Mempunyai bayi belum ada dalam rencana hidup saya," tutur Rahma memberanikan diri untuk memulai cerita.


"Apa Anda tahu bahwa di luar sana ada banyak sekali pasangan, yang ingin berada dalam kondisi seperti yang tengah Anda jalani saat ini? Entah berapa pasangan yang rela mengeluarkan biaya hingga berjuta-juta demi satu kelahiran seorang anak. Lalu, kenapa Anda yang sudah diberi anugerah sedemikian besar justru malah berkata bahwa ini tidak ada dalam rencana hidup Anda?" Dokter Richard mengernyitkan kening karena tak mengerti.


"Untuk mereka yang telah berbahagia dengan pasangannya, tentu kehamilan menjadi sebuah anugerah tak ternilai, Dok. Namun, bagi saya yang kenyataannya tak memiki siapa pun, jelas ini adalah sebuah bencana," sahut Rahma lirih.


"Bencana?" ulang dokter Richard seraya menautkan alisnya. "Maaf sebelumnya, tapi Anda bukan korban perkosaan, kan?" tanya dokter dengan tatanan rambut kelimis itu. Sebuah pertanyaan yang dia lontarkan, telah berhasil membuat Rahma menjadi sedikit tidak nyaman dan juga salah tingkah.


"Oh, tentu saja bukan. Saya tidak mengalami perkosaan atau pelecehan dalam bentuk apapun. Ini semua terjadi dengan sadar. Saya hanya kurang berhati-hati," jawab Rahma. Dia masih ragu untuk bercerita secara gamblang atas apa yang terjadi padanya.


"Apa kekasih Anda tidak bersedia untuk bertanggung jawab?" tanya dokter Richard lagi. "Maaf jika pertanyaan yang saya ajukan bersifat sangat pribadi. Akan tetapi, saya tidak bisa melakukan aborsi dengan begitu saja. Kecuali jika hal ini memang harus dilakukan karena alasan medis yang memang dapat dipertanggungjawabkan. Selain untuk alasan itu, saya jelas akan menolak untuk melakukannya. Anda tentu tahu seperti apa legalitas aborsi di negara kita," jelas dokter tampan tersebut dengan nada bicaranya yang begitu tenang.


"Lalu bagaimana, Dok? Saya tidak mungkin melanjutkan kehamilan ini." Rahma tetap pada pendiriannya.


"Saya hanya dapat menyarankan agar Anda tetap melanjutkan kehamilan ini. Rawat dan jaga dengan sebaik mungkin hingga bayi Anda lahir ke dunia. Setelah itu, saya yakin seiring berjalannya waktu, naluri keibuan Anda pasti akan muncul dengan sendirinya. Namun, jika memang niat Anda terlalu kuat untuk tidak memiliki bayi ini, maka Anda bisa memberikannya kepada teman, saudara, atau siapa pun yang sekiranya bersedia untuk menjadi orang tua asuh dan tentu saja bisa menjadi orang tua yang baik baginya. Bagaimanapun juga, bayi yang telah Anda lahirkan memiliki hak yang harus dia dapatkan. Kita tak boleh mengabaikan hal tersebut," terang sang dokter.

__ADS_1


"Seandainya Anda tahu. Ada seorang wanita yang berjuang dalam hidupnya melawan penyakit mematikan, hanya karena dia berharap akan datangnya sebuah keajaiban. Wanita itu bahkan terus bermimpi untuk menjadi seorang ibu, hingga dia tak sanggup lagi membuka kedua matanya dan harus berhenti bermimpi, ketika Tuhan justru memanggil dia sebelum mewujudkan apa yang menjadi harapannya. Betapa beruntungnya Anda karena tak perlu susah payah untuk bisa memiliki seorang bayi. Tubuh Anda sehat, kuat, dan juga pasti dianggap mampu serta telah layak untuk menjadi seorang ibu. Lalu kenapa Anda tidak mensyukuri hal tersebut? Kenapa Anda justru malah mengingkari anugerah berharga itu hanya karena sebuah ego? Mengapa saya mengatakan bahwa itu adalah sebuah ego? Karena Anda hanya melihat diri sendiri. Anda hanya memikirkan kenyamanan sendiri. Saran saya, belajarlah untuk jauh lebih peka," jelas dokter Richard lagi dengan panjang lebar. Dia memberikan sarannya kepada Rahma dengan sepenuh hati. Paras tampannya pun terlihat sangat serius, tapi seperti menyembunyikan sesuatu yang tengah dia tahan dengan sekuat tenaga.


🌹TBC🌹


__ADS_2