
"Bye, Su. See you again," ucap Soraya sambil melambaikan tangan sebelum mobilnya meninggalkan tempat parkir restoran Jepang, yang menjadi tempat pertemuannya dengan Rahma. Begitu juga dengan Rahma. Wanita dengan usia paling muda di antara ketiga temannya itu membalas lambaian tangan dari Soraya, sebelum kaca mobil sahabatnya tertutup rapat. Mereka berdua sudah selesai membahas masalah misi Dena yang gagal.
Selama dalam perjalanan, Soraya tak henti mengembangkan senyumnya karena Rahma bersedia untuk melakukan tugas yang diarahkan oleh Astrid. Soraya sangat bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka. Selain hanya bersenang-senang, mereka sangat peduli dengan dirinya dan juga Beatrice. Setidaknya, janda kaya itu tidak merasa harus memikul beban seorang diri.
"Pak, kita mampir ke toko buku dulu," pesan Soraya. Dia teringat akan rencananya untuk memperbaiki hubungan dengan Beatrice. Makan malam berdua dan hadiah sebuah buku, pasti bisa memperlancar usahanya dalam mendekatkan diri lagi kepada putri semata wayangnya tersebut.
"Baik, Nyonya," ucap Alpianto dengan sopan. Dia segera mengarahkan setir mobil menuju arah toko buku terbesar di daerah sana.
Tidak berselang lama, mobil itu pun telah sampai di halaman toko buku yang dimaksud Soraya. Dia segera keluar dari mobil dan mengayun langkah memasuki bangunan itu. Setelah berada di dalam, ternyata Soraya merasa bingung hendak membelikan buku tentang apa untuk Beatrice.
"Selamat malam, Nyonya," sapa seorang SPG yang menghampiri Soraya, "apa ada yang bisa saya bantu?" tanya gadis muda tersebut dengan sikap yang sangat ramah.
"Ah, tentu. Saya ingin membeli buku yang sedang laris dan disukai banyak orang," jawab Soraya asal, karena dia sendiri tidak tahu tentang buku yang menarik. Soraya bukanlah seorang pecinta buku. Dia lebih menyukai gadget dan media sosial tentunya. Di sana, janda empat puluh lima tahun itu bisa jauh lebih eksis dengan memajang foto-foto cantiknya.
"Untuk edisi minggu ini, para pembeli lebih berminat untuk membeli novel, Nyonya. Novel karya beberapa penulis terkenal di Indonesia sedang diburu para pembaca. Ada karya dari Tie tik, Komalasari, Strawcake dan juga Ayaya Malila. Keempat penulis ini sedang naik daun dan bukunya pun dicetak dengan limited edition." SPG cantik itu membawa Soraya ke rak buku yang ada di deretan paling depan, di mana mereka memajang buku dengan label best seller.
"Kalau begitu tolong bungkus karya best seller dari keempat penulis yang kamu sebutkan tadi," pinta Soraya tanpa berpikir panjang, karena dia sendiri tidak tahu apapun tentang buku.
__ADS_1
"Baik. Silahkan Nyonya tunggu di sana, saya akan menyiapkan novel yang Nyonya inginkan," ucap SPG tersebut seraya menunjuk sofa panjang yang biasa dipakai untuk membaca tester buku. Soraya pun menurut saja. Dia segera duduk dengan anggun. Sesekali, pandangannya menyapu setiap sudut toko tersebut. Setelah itu, dia merogoh ponselnya dan melakukan foto selfie. Tak lupa dia segera mengupload foto-foto yang telah diambilnya dengan caption, 'Among the books'. Padahal itu hanya sebuah pencitraan.
Lebih dari sepuluh menit Soraya menunggu di sana hingga akhirnya dia menyelesaikan transaksi jual beli. Setelah mendapatkan beberapa buku yang akan diberikan kepada Beatrice, janda cantik itu segera meninggalkan toko buku tersebut.
Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Setelah menghabiskan waktu beberapa puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Alpianto pun tiba di halaman rumah megah milik Soraya. Wanita tanpa suami itu segera keluar dari mobil setelah Alpianto membukakan pintu untuknya.
"Biar saya bawa sendiri bukunya," ucap Soraya saat Alpianto bermaksud untuk membantunya membawa buku yang tersimpan di dalam paperbag.
Soraya sempat melirik arloji mahal yang melingkar di pergelangan kirinya. Dia berpikir bahwa Beatrice pasti belum tidur, karena saat itu masih cukup sore bagi Soraya ketika dirinya kembali ke rumah. Ya, meskipun sebenarnya waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Hola, Chica dulce (Hai, Gadis manis)," sapa Soraya saat melihat Beatrice yang tengah berada di ruang keluarga, dengan beberapa buku yang tertumpuk di atas meja.
"Mama sedang tidak ada acara, so ... Mama ingin di rumah bersamamu. Tadinya Mama ingin makan malam di rumah, tapi ternyata di jalan lumayan macet jadi ...." Soraya menjeda kata-katanya. Dia lalu tersenyum manis. "Oh ya, Mama punya sesuatu untukmu." Soraya memberikan paperbag tersebut kepada Beatrice. "Bukalah! Kamu pasti suka," suruh wanita itu sambil menatap Beatrice penuh kasih.
Beatrice terpaksa menutup buku yang sedang dia baca, demi menuruti ucapan sang ibu. Dia melihat isi paperbag tersebut. Mata cokelatnya seketika berbinar indah setelah buku-buku tersebut dikeluarkan dari dalamnya. Pandangan Beatrice tak lepas dari novel-novel terbaru itu.
"Wow ada karya penulis Tie tik, Komalasi, Strawcakes dan Ayaya Malila." Beatrice terlihat sangat bahagia bisa memeluk karya limited edition dari keempat penulis tersebut.
__ADS_1
"Muchas gracias, Mama (Terima kasih banyak, Mama)," ucap Beatrice dengan rona bahagia. Apa yang Soraya berikan padanya, jauh lebih dari sekadar sebuah hadiah mewah sekalipun.
"Kamu menyukainya, Sayang?" tanya Soraya yang kembali merasa percaya diri. Langkah pertama dalam pendekatan terhadap putrinya telah berhasil.
"Tentu saja, Mama. Sudah lama aku ingin buku-buku ini. Ya Tuhan, rasanya seperti mimpi bisa memeluk buku mereka. Mama tahu? Tiap kali aku ke toko buku untuk mencari novel-novel karya empat penulis ini, pasti saja selalu kehabisan. Mama beruntung karena bisa mendapatkan keempatnya secara bersamaan." Beatrice tak henti-henti tersenyum lebar sambil memeluk keempat novel tersebut.
"Syukurlah kalau kamu suka," sahut Soraya tersenyum bahagia. "Oh, iya. Berhubung hari ini kita gagal makan malam spesial berdua, bagaimana jika Mama ganti dengan makan siang besok?" tawar wanita itu dengan raut penuh harap.
Beatrice terdiam sejenak sebelum menanggapi ajakan sang ibu. Sesaat kemudian, gadis manis itu menjawab. "Memangnya Mama mau ngajak aku makan siang di mana?" tanyanya.
"Di mana saja terserah kamu. Restoran yang menyajikan makanan Spanyol mungkin?" cetus Soraya memberikan ide.
"Oh, baiklah. Aku setuju. Lagian, aku juga kangen banget makanan Spanyol, tapi Mama berangkat duluan saja," ujar Beatrice seraya merapikan buku-bukunya, menumpuk mereka menjadi satu.
"Kenapa kita tidak berangkat sama-sama saja, Sayang?" tanya Soraya heran.
Beatrice kembali terdiam sebelum menjawab pertanyaan sang ibu. Sesaat kemudian, gadis itu memberanikan diri untuk memberikan penjelasa kepada Soraya. "Um ... aku ... aku ada janji untuk ketemuan dulu dengan Dirga. Itu juga kalau Mama mengizinkan," jawab Beatrice dengan nada bicara yang terdengar ragu.
__ADS_1
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍 Jangan lupa mampir ke karya penulis yang disebutkan SPG toko buku tadi yak🤭🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...