
"Ambil persimpangan sebelah kiri, setelah itu lurus saja terus sampai nanti ketemu dealer motor," jelas Dena.
"Habis dari sana, aku harus ke mana?" tanya Alexandre lagi.
"Lurus lagi," jawab Dena dengan enteng.
"Astaga. Lurus terus. Kamu suka yang lurus-lurus rupanya," celetuk pria asal Swedia tadi sambil terus mengemudi.
"Kamu sendiri bagaimana?" balas Dena tak acuh.
"Aku sih ...." Alexandre tak melanjutkan kata-katanya. "By the way, kita belum berkenalan," ujarnya seraya menoleh sejenak kepada Dena yang tengah asyik memainkan ponsel.
"Oh, iyakah? Astaga." Dena menoleh sambil membelalakan matanya terhadap Alexandre, membuat pria itu dapat memahami sesuatu.
"Ya sudah kalau tidak mau. Aku tidak akan memaksa," ujar pria berambut cokelat itu. Alexandre yang sangat berpengalaman dalam hal wanita, tak ingin terlalu menunjukkan bahwa dirinya berharap untuk bisa mengenal Dena dengan lebih jauh. Namun, rasa penasaran itu tetap saja hadir dan mengusiknya terus-menerus. "Aku harap kamu bukan wanita yang sudah bersuami," ucapnya kemudian.
"Memangnya aku terlihat seperti seorang ibu rumah tangga?" cibir Dena seraya melirik pria tampan bertubuh jangkung di sebelahnya.
"Maybe. I don't know about that," jawab Alexandre tanpa menoleh. Dia sibuk dengan kemudi yang tengah dikendalikannya.
"Maybe," cibir Dena seraya memalingkan wajah.
"Ya. Kamu tahu sendiri bahwa zaman sekarang sulit sekali untuk membedakan antara wanita yang asli dengan yang tidak," ujar Alexandre tenang.
"Hey!" protes Dena sambil meluruskan jari telunjuknya kepada Alexandre. "Aku ini wanita tulen, bukan wanita jadi-jadian! Kamu sih kebanyakan jajan! Aku jadi curiga jangan-jangan kamu sering pake jasa waria juga," tukas Dena seenaknya.
Namun, Alexandre tak menanggapi ocehan Dena. Pria berdarah Swedia itu masih terlihat tenang sambil mengemudi, membelah jalanan kota yang mulai lengang berhubung saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Dia terus mengemudikan laju mobilnya sesuai dengan arahan Dena. Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya tiba di depan sebuah rumah mewah yang merupakan warisan dari kedua orang tua Dena. Tanpa banyak bicara, wanita empat puluh lima tahun itu segera melepas sabuk pengaman yang melintang di dadanya.
"Ini rumahmu?" tanya Alexandre sambil mengamati bangunan yang tak kalah megah dari rumah miliknya.
"Ya. Ah, maksudku ... ini rumah almarhum kedua orang tuaku. Aku hanya beruntung karena dapat warisan," jawab Dena dengan enteng.
__ADS_1
"Jadi, kamu tinggal sendiri di sana?" tanya pria itu lagi.
"Tidak juga. Ada beberapa pembantu. Kenapa? Minat?" celoteh Dina tak karuan, membuat Alexandre mengempaskan sebuah keluhan pelan. "Semoga sopirmu tidak membawa lari mobilku. Kalau sampai itu terjadi, maka lihat saja! Kamu yang harus bertanggung jawab untuk semuanya!" ancam Dena dengan tegas.
"Aku tidak butuh mobil seperti itu. Di showroom ada banyak mobil yang jauh lebih mewah. Mobil-mobil keluaran Eropa," balas Alexandre dengan penuh percaya diri.
"Oh baguslah. Namun, untuk berjaga-jaga, aku harus tetap meminta jaminan darimu," sahut Dena lagi.
"Jaminan apa?" protes Alexandre yang terlihat kurang setuju dengan ucapan lajang abadi itu.
"Jaminan sebagai pegangan agar nanti aku mudah mendeteksi keberadaanmu," ujar Dena enteng.
"Misalnya?" tanya Alexandre.
"KTP," pinta Dena seraya mengulurkan tangannya.
"Jangan seenaknya ya!" tolak pria berambut colelat itu tegas. "Aku sudah mengantarmu pulang, dan begini balasannya darimu. Astaga, wanita Indonesia sungguh luar biasa," sindirnya.
"Hey! Jaga bicaramu!" sergah Dena. "Lagi pula, aku tidak pernah memintamu untuk mengantarkanku pulang. Kamu melakukan ini dengan ikhlas," ujarnya sembari mencibir.
"Siapa yang menyuruhmu sok jadi pahlawan," balas Dena. "Sudah-sudah, sini mana KTP kamu," pinta Dena lagi setengah memaksa.
"Tidak. KTP adalah barang pribadi. Aku tak akan menyerahkannya kepada orang yang tidak jelas," tolak Alexandre tegas. "Bisa-bisa disalahgunakan ke pinjaman online," pikirnya kemudian.
"Idih, sembarangan. Dengar ya, Tuan Bule. Aku ini seorang wanita karier. Aku punya bisnis jasa travel yang sedang berkembang pesat. Mungkin kamu butuh jasa kami untuk kembali ke negara asalmu? Boleh sekali. Kamu membuat negara ini tambah sesak saja," cibir Dena. Sedangkan Alexandre hanya menanggapinya dengan sebuah tawa pelan bernada ejekan.
"Sayangnya bisnisku di sini sangat maju. Jadi, aku tidak mungkin pergi begitu saja. Lagi pula, ibuku adalah warga asli Indonesia. Kamu sudah bertemu dengannya tempo hari," terang Alexandre.
"Cih, bukan urusanku," cibir Dena lagi.
"Oh, Tuhan. Ampuni segala dosa karena Kau harus mempertemukanku dengan spesies seperti ini," ujar Alexandre menangkupkan kedua tangannya di depan mulut.
__ADS_1
Dena terdiam sejenak. Bukan karena doa yang dipanjatkan oleh Alexandre, tapi karena dia sedang memikirkan kira-kira barang apa yang bisa dia jadikan sebagai jaminan dari pria itu. "Baiklah, kalau begitu SIM saja," putusnya kemudian.
"Tidak ada," tolak Alexandre. "Aku tidak membawa foto copy apapun," tegas pria itu.
"Tidak ada KTP, SIM, atau surat penting lainnya yang akan kuberikan padamu sebagai jaminan, karena aku sama sekali tak berminat untuk mencuri mobilmu. Kamu pikir mudah menjual mobil hasil curian?"
Dena mendengus kesal. "Dasar bodoh. Aku tidak mungkin meminta pakaian dalammu sebagai jaminan," gumam wanita itu pelan, tapi masih terdengar oleh Alexandre.
"Jika kamu mau, boleh saja," celetuknya enteng diiringi sebuah senyuman. Dia menatap Dena dengan sorot mata yang tampak sangat aneh.
"Ih, amit-amit. Aku bukan PSK seperti yang biasa kamu beli di jalanan!" tegas Dena dengan jengkel, membuat Alexandre terkekeh puas. Pria itu terlihat sangat tampan saat dia tertawa, membuat Dena memperhatikannya untuk beberapa saat.
"Baiklah, baiklah. Jika kamu benar-benar ingin sebuah jaminan dariku, maka aku bisa memberikan sesuatu padamu," ucap Alexandre kemudian. Dia lalu merogoh dompet dari saku belakang celananya. Pria tampan berkulit bersih itu mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya yang berbahan kulit asli. Dena bisa melihat jika barang itu merupakan produk original dari sebuah merk ternama asal Australia. Dia juga tahu berapa kisaran harga dompet tersebut.
Sesaat kemudian, Alexandre menyodorkan sebuah kartu nama kepadanya. Dena pun langsung menerima kartu nama tadi dan memasukannya ke dalam tas. "Simpan itu. Jika ada apa-apa, kamu boleh datang ke sana. Namun, tetap jaga kesopanan dan juga sikap. Jangan mempermalukan harga dirimu sebagai wanita Indonesia yang memegang teguh adat ketimuran," ucapnya yang membuat Dena seketika tercengang. Sebuah pesan menohok dari seorang pria yang bukan merupakan warga asli Indonesia.
"Sudah malam. Sebaiknya kamu segera masuk."
Dena yang tadi sempat terkesima dengan ucapan dari Alexandre, kembali tersadar. Wanita itu segera membetulkan letak tali tas yang menggantung di pundaknya. Tanpa mengucapkan terima kasih, dia keluar dari mobil SUV milik Alexandre. Dena lalu menutup pintunya dengan rapat.
"Sama-sama," seru Alexandre dari dalam, membuat Dena seketika tertegun. Dia mundur kembali ke dekat pintu, kemudian melongo dari luar.
"Terima kasih," ucap Dena dengan senyuman yang sangat dibuat-buat. Setelah itu, dia kembali melanjutkan langkah untuk masuk ke halaman rumahnya. Sementara Alexandre pun melajukan mobilnya dan pergi dari sana, karena malam sudah semakin larut.
Di teras rumah, Dena merasa penasaran. Dia lalu membuka kartu nama tadi dan membacanya. Di sana tertulis nama Alexandre Tobìas Forsberg, yang merupakan pemilik dari sebuah showroom elite di ibukota dengan nama Fors Automatic.
...🌹To Be Continue 🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
...Hallo selamat siang😁Ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih❤️Jangan lupa baca karya dari author Nazwatalita dengan judul Takdir❤️ kuy kepoin biar gak ketinggalan ceritanya....
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...