
Langit nampak redup meski penunjuk waktu sudah berada di angka sebelas siang. Sepertinya matahari memilih untuk menyembunyikan sinarnya di balik awan yang berwarna abu-abu. Kondisi jalanan ibu kota pun nampak senggang di minggu yang syahdu ini.
Berbekal kartu nama yang dia temukan di kamar putranya, Astuti berangkat mencari alamat tersebut dengan menggunakan layanan ojek online. Janda dua anak itu harus memastikan secara langsung bagaimana sosok Sudiro Hadiwinata itu, karena kemarin malam dia berhasil mengorek informasi dari Dirga tentang ciri-ciri bosnya itu. Berdalih tidak asing dengan nama tersebut, Astuti akhirnya mengantongi informasi tanpa dicurigai Dirga. Pasalnya, Astuti sempat berbohong kepada putranya, jika ciri yang disebutkan bukan seperti orang yang dikenal. Padahal, itu adalah ciri yang merujuk kepada mantan suaminya itu.
"Bang, apakah masih jauh tempatnya?" tanya Astuti kepada pria yang sedang fokus mengendarai motor matic yang dia tumpangi itu.
"Sepuluh menit lagi kita sampai, Mpok," jawab pengendara ojek online itu.
Ada rasa ragu yang menyelinap ke dalam hati janda berparas manis itu ketika jarak menuju kediaman Sudiro semakin dekat. Dia sendiri bingung harus berkata apa jika pria yang akan ditemuinya itu benar-benar mantan suaminya. Astuti takut jika Sudiro menolak kehadirannya. Alasan utama dia ingin menemui Sudiro karena ingin kehidupan Dirga jauh lebih baik, sehingga putra sulungnya itu bisa diterima sebagai menantu oleh Soraya.
"Mpok, sudah sampai sesuai alamat yang ada di kartu nama," ucap tukang ojek tersebut setelah menghentikan laju motornya di depan pagar rumah megah yang menjulang tinggi.
"Abang yakin ini rumahnya?" tanya Astuti setelah turun dari motor dan melepas helmnya.
"Yakin lah, Mpok!" ujar pria tersebut dengan yakin.
"Eh Bang, kalau begitu tunggu di sini sampai urusan saya selesai ya. Nanti saya tambahin dah ongkosnya," pinta Astuti kepada tukang ojek tersebut.
"Boleh lah, Mpok kalau begitu. Saya tunggu di bawah pohon rindang itu ya, Mpok." Pria itu menunjuk pohon rindang yang ada di sebrang jalan.
Dengan segenap keberanian yang terkumpul dalam diri, Astuti melangkahkan kakinya mendekat ke pintu gerbang berwarna putih itu. Dia mengamati kemegahan rumah Sudiro beberapa menit lamanya. Sangat jauh berbeda ketika Sudiro masih menjadi suaminya di masa lalu.
"Maaf Bu, di sini tidak menerima sumbangan untuk orang baru." Tiba-tiba saja ada satpam yang datang menghampiri Astuti yang sedang termenung.
"Saya tidak meminta sumbangan, Dek," ucap Astuti seraya menatap pria yang lebih muda darinya.
__ADS_1
"Terus ibu mau ngapain di sini? Mau jualan produk herbal, Bu? Maaf majikan kami tidak menerima sales dalam penjualan produk apapun," tebak satpam tersebut hingga membuat Astuti harus menahan kekesalannya.
"Saya kesini ingin bertemu dengan pemilik rumah ini, tuan Sudiro Hadiwinata," ujar Astuti seraya menatap satpam tersebut dengan lekat.
Sontak saja satpam tersebut mengamati penampilan Astuti dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia hanya tidak menyangka saja jika majikannya memiliki tamu seperti Astuti, karena selama ini tamu-tamu yang datang ke rumah ini adalah orang-orang high class seperti Sudiro.
"Anda pasti bercanda, Bu! Jangan-jangan Anda ini orang jahat yang sedang menyamar!" tuduh satpam tersebut seraya menunjuk Astuti.
"Hei jangan asal tuduh ya Anda! Memangnya tampang saya seperti penjahat apa!" sarkas Astuti seraya berkacak pinggang.
Perdebatan panjang terjadi di sana, hingga Astuti teringat jika menyimpan kartu nama Sudiro. Lantas, dia menunjukkan kartu nama tersebut kepada satpam bertubuh kekar itu, "ini kartu nama tuan Sudiro. Jadi sekarang tolong bilang kepada majikan Anda jika saya ingin bertemu. Katakan pada tuan Sudiro jika ada wanita bernama Sri Astuti anak dari Haji soleh dan ibu Narwati ingin bertemu," ujar Astuti tanpa melepaskan tatapan matanya dari satpam tersebut.
Satpam tersebut akhirnya masuk ke dalam pos untuk menelfon Sudiro dan melaporkan jika ada wanita yang ingin bertemu. Nama lengkap yang disebutkan Astuti telah disampaikan oleh satpam tersebut.
Selang beberapa menit kemudian, satpam tersebut menerima telfon dari majikannya dan setelah itu, Astuti pun diantar untuk masuk ke dalam kediaman megah tersebut. Janda dua anak itu duduk di ruang tamu sambil menunggu kedatangan sang pemilik rumah.
"Selamat siang."
Astuti mengalihkan pandangan dan segera berdiri dari tempatnya setelah mendengar suara pria di belakangnya. Wajah tampan yang dulu pernah mengisi hari-harinya telah berubah setelah beberapa puluh tahun lamanya tidak bertemu. Tatapan keduanya saling bersirobok dengan bayang-bayang masa lalu yang terputar dalam ingatan.
"Tuti ...." Sudiro bergumam lirih tanpa melepaskan pandangan dari wajah manis yang dulu pernah ada dalam hidupnya.
"Ternyata benar, kamu Sudiro yang aku kenal." Tanpa sadar Astuti bergumam lirih tanpa melepaskan pandangan dari wajah Sudiro. Bahkan dia tidak sadar jika ada sosok wanita yang berdiri di samping Sudiro.
"Sebaiknya kita duduk dulu." Suara wanita yang ada di samping Sudiro berhasil memecah kecanggungan yang terasa di sana.
__ADS_1
Astuti menggeleng pelan setelah tersadar bagaimana sikapnya saat ini. Dia merasa tidak enak hati kepada wanita yang ada di samping mantan suaminya itu. Janda dua anak itu bingung harus bagaimana memulai pembicaraan ini.
"Aku tidak pernah menyangka jika kita masih bisa bertemu lagi. Aku pikir kamu sudah tidak tinggal di Jakarta lagi," ucap Sudiro tanpa melepaskan pandangannya dari Astuti.
"Sejak aku disingkirkan dari rumah orang tuamu, aku tetap tinggal di Jakarta, meski di pelosok kota yang jauh dari jangkauan keluargamu," ucap Astuti dengan suara yang bergetar, "ah tapi lupakan saja masalah di masa lalu, karena tujuanku datang ke tempat ini bukan untuk membahas hal itu. Aku hanya ingin memastikan satu hal saja." Astuti sengaja tidak mau membahas tentang cerita di masa lalu karena tidak enak hati dengan istri Sudiro. Lantas, dia mengeluarkan kartu nama yang tadi disimpan di dalam dompetnya.
"Apakah benar ini kartu nama milikmu?" tanya Astuti sambil meletakkan kartu nama itu di meja yang ada di hadapan Sudiro.
Pria paruh baya itu mengambil kartu nama tersebut dan membacanya, "ya, ini adalah kartu nama milikku. Dari mana kamu mendapatkannya?" Sudiro mengernyitkan keningnya karena dia tidak pernah memberikan kartu nama kepada sembarangan orang.
"Aku menemukan kartu nama ini di kamar putraku," jawab Astuti tanpa berani menatap Sudiro. Kedua tangannya saling bertautan karena merasa gugup.
"Siapa nama putramu?" tanya Sudiro.
"Dirga Aditya," jawab Astuti dengan singkat.
Tentu Sudiro hafal dengan nama itu karena masih teringat dengan jelas saat pertemuan pertamanya bersama Dirga kala itu. Sudiro termenung untuk sesaat ketika memikirkan kunci atas tujuan Astuti datang menemuinya, "apakah itu berarti dia adalah putraku?" tanya Sudiro tanpa berbasa-basi lagi.
"Ya. Dia adalah putramu. Cucu yang tidak pernah diinginkan oleh keluargamu. Sekarang dia sudah berumur dua puluh enam tahun," ucap Astuti dengan tegas.
Janda dua anak itu akhirnya menceritakan dengan detail apa saja yang sudah tejadi sejak dirinya keluar dari rumah mertuanya kala itu. Astuti lebih banyak menceritakan masalah tentang putranya daripada perasaannya.
"Sekarang katakan padaku, apa yang harus aku lakukan setelah mengetahui jika kamu masih ada? Apakah aku harus menutupi kebenaran ini selamanya? Ataukah aku harus memberitahu Dirga jika ayahnya masih ada? Jujur saja aku merasa berdosa karena selama ini sudah menyembunyikan fakta yang sebenarnya." Astuti mengeluarkan keluh kesahnya.
...🌹To Be Continue 🌹...
__ADS_1