Sosialita

Sosialita
Bersemu merah,


__ADS_3

Senyum manis terus terkembang dari bibir wanita cantik yang baru masuk ke dalam ruang VVIP 03. Wanita itu tiada lain adalah Dena. Dia menyandarkan tubuh setelah pintu yang baru dibukanya kembali ditutup dengan rapat. Tangan kanan Dena mendekap dada yang berdebar kencang. Moment tadi bersama Alexandre, telah membuat wajahnya berseri dan terus tersipu bagaikan anak remaja yang baru merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.


"Jadi bagaimana Den? Apa kamu membutuhkan rekomendasi hotel bintang lima dariku?" tanya Soraya tanpa melepaskan pandangan dari sahabatnya yang masih mematung di depan pintu.


"Kenapa kamu menjadi aneh begini, dek Dena? Apa kamu sedang merasakan debaran jantung yang tak beraturan? Jatuh cinta memang seperti itu rasanya," seloroh Astrid sambil mengulum senyum.


Wajah dari lajang cantik itu seketika bersemu merah, setelah tatapan matanya beradu dengan kedua sahabat yang sedang menggodanya. Dena mengayun langkah dan segera duduk di sofa yang ada di sisi Astrid.


"Aku rasanya sesak napas," keluh Dena tanpa sadar.


"Ya ... ya ... ya. Memang seperti itu rasanya jika sudah lama tidak melakukannya. Hmmm bisa jadi nanti malam kau tidak bisa tidur!" ujar Astrid dengan diiringi tawa renyah.


"Enak bukan rasa dari bibir pria bule?" Soraya menatap Dena dengan intens. Satu alisnya bergerak naik turun setelah mengatakan hal nakal tersebut.


"Sudahlah! Kalian ini kenapa sih?" Dena membuang muka ke arah lain. Untuk kali ini dia merasa salah tingkah di hadapan Astrid dan Soraya. Bayang-bayang wajah Alexandre belum hilang dari pandangan mata.


"Cie salah tingkah! Cie ... cie!" Astrid semakin menggebu saat menggoda Dena. "Akhirnya sahabat kita yang satu ini menemukan cintanya. Wah Ay, kita harus menyiapkan gaun setelah ini. Pasti tidak lama lagi ada undangan nih," seloroh Astrid lagi sambil melirik Soraya yang tengah meneguk minumannya.


"Hmmm ... sepertinya aku harus menyiapkan hadiah yang cukup menarik saat menghadiri pernikahannya nanti ya, Mbak As." Soraya membalas lirikan Astrid penuh arti.


"Kamu ini kenapa sih Ay? Apa yang sudah kamu lihat tadi tidak seperti yang ada dalam bayanganmu!" Dena mencoba membela diri agar kedua temannya tersebut berhenti menggoda, meskipun saat itu sebenarnya dia merasa ingin terbang ke nirwana. Betapa tidak, selama ini Dena tak pernah lagi berdekatan dengan pria manapun setelah kegagalannya untuk yang kesekian kali. Dia tak peduli dengan statusnya yang terkadang menjadi olok-olok ketiga rekannya dalam geng sosialita itu. Namun, tiba-tiba dia mengenal sosok Alexandre.


Tak pernah terlintas dalam benak seorang Dena, bahwa dirinya akan kembali merasakan kebucinan yang membuatnya jadi konyol. Padahal, Alexandre hanya memberikan sebuah ciuman. Itu pun cuma satu kali, tapi entah mengapa karena hal itu teramat berkesan baginya.

__ADS_1


"Lalu seperti apa yang benar?" Soraya menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Aku dan Alex tidak sengaja bertemu dan aku salah ...." Dena menghentikan ucapannya karena Astrid menyela begitu saja.


"Oh jadi namanya Alex. Nama yang bagus dan kalau dilihat dari namanya sepertinya dia keren," ucap wanita yang memiliki beberapa madu dalam pernikahannya itu.


"Apa sih kalian ini!" Dena kembali terlihat salah tingkah dan tidak nyaman karena celotehan kedua temannya. Dia begitu malu karena teringat jika usianya sudah tidak muda lagi.


Bukan tanpa sebab Soraya dan Astrid terus menggoda lajang berusia empat puluh lima tahun tersebut. Mereka ikut bahagia setelah sekian lama tidak melihat wajah berseri dari lajang itu. Selama ini, Dena selalu bersikap dingin setiap ada pria yang datang mendekatinya. Namun, kali ini Dena terlihat berbeda. Dia terus tersipu ketika Soraya dan Astrid menanyakan tentang siapa Alexandre yang sebenarnya. Namun, belum sempat Dena bercerita, ponsel milik Soraya yang ada di atas meja berdering.


"Iya, Bea. Ada apa?" tanya Soraya setelah panggilan terhubung. "Oh, Astaga mama sampai lupa jika meninggalkanmu di sana sendiri. Tadi selepas dari toilet, mama tidak sengaja bertemu pelanggan perhiasan mama. Baiklah, tunggu ya. Mama kesitu sekarang," ucap Soraya sebelum panggilannya bersama Beatrice terputus.


"Aku harus ke tempat Bea sekarang. Kalian bersenang-senanglah dulu di sini berdua." Soraya merapikan penampilan sebelum beranjak dari tempat duduknya.


"Memang Bea kenapa?" tanya Astrid sambil memperhatikan Soraya yang sibuk merapikan rambut.


Janda dari Francesco itu mengayun langkah menuju tempat di mana putrinya berada. Dia harus berlagak terkejut setelah melihat Dirga di sana. Soraya tidak mau jika kedua sejoli itu terlalu percaya diri dan berpikir jika dirinya sudah memberikan restu.


"Loh, kenapa ada dia di sini?" tanya Soraya setelah sampai di tempat Beatrice berada. Dia menatap Dirga untuk sesaat.


"Selamat malam, Bu," sapa Dirga seraya berdiri. Dia tersenyum ramah kepada ibunda dari kekasihnya tersebut.


"Sedang apa kamu di sini? Kenapa bisa kebetulan?" Soraya berlagak tak mengerti.

__ADS_1


Akan tetapi, sikap pura-pura wanita cantik itu tak berlaku bagi Dirga yang telah memahami sesuatu. Pria berusia dua puluh lima tahun tersebut lagi-lagi menyunggingkan senyuman ramahnya. "Beruntung saya yang menemani Bea di sini. Tadi dia sendirian saja ...."


"Sudah, sudah. Jangan sok jadi pahlawan yang berjasa kamu!" sela Soraya ketus seraya menoleh kepada Dirga untuk sejenak. Setelah itu, dia mengalihkan perhatiannya kepada Beatrice. "Ayo, Sayang. Sudah waktunya kita pulang," ajak wanita itu seraya menarik tangan anak gadisnya.


Beatrice pun tak banyak membantah. Dia sempat melirik kepada Dirga sambil tersenyum manis, sebelum berlalu dari hadapan pria yang kini telah membawa kembali perasaan cinta ke dalam hatinya. Dirga membalas senyuman manis Beatrice dengan mengedipkan sebelah matanya, membuat gadis itu tersipu.


Helaan napas pelan meluncur dari pria berparas manis itu. Dirga lalu melihat arloji di pergelangan kiri. Sudah waktunya untuk pulang. Dia tak ingin membuat Astuti menjadi khawatir. Dilajukannya motor butut yang selama ini selalu menjadi teman setia dalam setiap aktivitas. Lalu lintas di jalanan ibukota masih terbilang ramai, meskipun tak seramai saat siang hari.


Ketika melewati sebuah jalan layang, perhatian Dirga tertuju pada seorang pria paruh baya yang berdiri di dekat mobilnya. Pria itu tampak gelisah karena terus mondar-mandir di sebelah kendaraan tersebut. Dirga pun memberanikan diri berhenti di hadapannya, tapi tanpa turun dan tetap menyalakan mesin motor. "Ada masalah, Pak?" tanyanya.


"Iya, Dek. Mobil saya mogok. Mana sudah jam segini dan saya menyetir tanpa sopir," jawab pria dengan tampilan rapi tersebut.


Ragu, Dirga tak langsung percaya begitu saja. Namun, jika dipikir secara logika tak mungkin jika pria itu adalah seorang penjahat, karena suasana jalanan yang masih terbilang ramai. "Kenapa Bapak tidak menghubungi layanan mobil derek saja?" tanya Dirga heran.


"Sudah, Dek. Namun, saya tunggu dari tadi tapi lama sekali datangnya," jawab pria itu seraya berdecak kesal.


Sisi hati Dirga pun tergerak untuk membantu. Entah ada dorongan dari mana yang membuatnya mengesampingkan segala rasa ragu dan waspada, yang sejak tadi menahannya untuk turun dari motor. Dirga mematikan mesin motornya. "Boleh saya periksa mobilnya, Pak?" tanyanya menawarkan jasa.


...🌹To Be Continue 🌹...


...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...


...Rekomendasi karya keren untuk kalian nih😎Yuk baca karya author Siti Fatimah dengan judul Istri Yang Tak Dianggap. Nah loh, judulnya aja udah bikin penasaran kan? Kuy gercep baca karyanya sekarang😍...

__ADS_1



...🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2