
Pesta kecil yang diselenggarakan perusahaan milik Sudiro akhirnya berakhir. Selama itu pula Dirga hanya termenung setelah mendengar pernyataan mengejutkan dari pemilik perusahaan ini. Bahkan, pemuda berparas manis itu tidak mengetahui apa saja isi acara yang berlangsung meriah itu. Berbagai praduga muncul dalam pikirannya untuk memecah teka-teki sebuah hubungan yang diucapkan oleh Sudiro.
"Ga, kamu tidak mau mengambil makan?" tanya teman Dirga yang duduk satu meja dengannya, "aku perhatikan sejak tadi kamu hanya diam saja dengan tatapan kosong? Apa ada masalah?" tanya nya lagi.
"Ah iya. Nanti aku akan mengambil makanan, itu masih antre," jawab Dirga sambil menunjuk tempat berbagai macam hidangan tersedia, "kamu duluan saja," ucap Dirga dengan diiringi senyum yang manis.
Hingga beberapa puluh menit kemudian pesta itu pun benar-benar berakhir. Akan tetapi Dirga tak kunjung beranjak dari tempatnya. Bahkan, dia sampai tidak mengambil makanan ataupun menikmati hidangan lainnya.
"Mas Dirga dipanggil untuk menghadap bapak di sana," ujar asisten pribadi Sudiro saat menghampiri Dirga.
Dirga mengalihkan pandangan ke arah yang dimaksud oleh pria tersebut. Terlihat di sana Sudiro sedang mengembangkan senyum kepadanya. Mungkin ini adalah saat yang tepat untuk berbicara dengan pria yang mengakui dirinya sebagai anak. Dirga segera beranjak dari tempatnya menuju tempat keberadaan Sudiro.
"Pak," sapa Dirga setelah sampai di sana.
Sudiro beranjak dari tempatnya dengan tatapan yang tak lepas dari Dirga. Pria paruh baya itu menatap Dirga dengan perasaan membuncah di dada hingga air mata menggenang di pelupuk mata. Dia mengamati wajah manis yang ada di hadapannya untuk beberapa saat lamanya. Menyelami telaga bening milik pemuda berusia dua puluh enam tahun itu.
"Anakku," gumam Sudiro dengan suara yang bergetar. Dia tidak menyangka saja setelah puluhan tahun akhirnya dipertemukan takdir dengan darah dagingnya. Tanpa meminta izin, Sudiro memeluk memeluk Dirga begitu saja.
Tentu keadaan ini membuat Dirga semakin bingung. Dia memejamkan mata ketika merasakan usapan lembut dari Sudiro di punggungnya. Ada kehangatan yang sudah lama dia rindukan merasuk ke dalam hati.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Saya tidak mengerti dengan semua ini. Kenapa Bapak menganggap saya sebagai anak Bapak?" tanya Dirga setelah Sudiro melepaskan dekapan hangat itu.
"Apa ibumu belum bicara denganmu?" Bukannya menjawab, Sudiro malah bertanya balik.
Dirga hanya menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan itu karena Astuti tidak membahas apapun bersamanya, "memangnya Bapak mengenal ibu saya? Memangnya apa yang harus saya bicarakan dengan ibu mengenai Bapak?" tanya Dirga. Dia semakin bingung dengan kondisi ini.
"Keterlaluan sekali Astuti ini," gumam lirih Sudiro sambil berdecak kesal.
"Apa Bapak mengenal ibu saya?" tanya Dirga setelah mendengar Sudiro menyebut nama ibunya.
"Tentu. Aku sangat mengenal ibumu," jawab Sudiro dengan pandangan yang tak lepas dari Dirga, "bahkan kami pernah memiliki rasa yang sama hingga kamu ada dalam hidup kami," ucap Sudiro dengan senyum tipis saat mengucapkan itu.
"Aku dan ibumu pernah menikah dan dari pernikahan itu, kamu hadir sebagai pelengkapnya. Ada kejadian besar di mana ibumu harus pergi dengan membawamu. Bukan karena aku selingkuh, tetapi karena restu dari nenekmu," jelas Sudiro tanpa mengalihkan tatapannya dari Dirga.
Tentu saja Dirga semakin terkejut setelah mendengar penjelasan itu. Dia menggeleng pelan karena tidak percaya dengan cerita yang disampaikan oleh Sudiro, "tidak. Pasti Bapak berbohong. Jika memang seperti itu keadaannya kenapa ibu tidak pernah bercerita kepada Saya. Bahkan ayah saya pun tidak pernah menyinggung hal ini." Dirga belum bisa menerima kenyataan yang diceritakan oleh Sudiro.
Pria paruh baya itu hanya mengela napas setelah mendengar penolakan dari Dirga, "ya sudah kalau begitu mari kita menemui ibumu. Kita selesaikan kekeliruan ini bersama," ajak Sudiro sambil menepuk bahu Dirga. Ini adalah solusi yang tepat untuk membuka hubungan darah yang sudah lama terkubur.
****
__ADS_1
Keheningan terasa di ruang tamu yang tak seberapa luas di sebuah rumah sederhana yang ada di gang buntu. Ketiga orang yang ada di dalam ruangan tersebut tenggelam dalam pemikiran masing-masing setelah pengakuan panjang yang diungkap Astuti. Apalagi Dirga, pemuda berusia dua puluh enam tahun itu hanya menundukkan kepala setelah mendengar cerita panjang yang disampaikan oleh ibunya. Berbagai rasa membaur di dalam dada hingga dirinya tak mampu untuk mengungkapkan perasaannya yang mana.
"Ayah tidak akan memaksamu menerima kenyataan ini, Nak. Satu hal yang pasti, sebuah hubungan darah tidak bisa diingkari. Sekuat apapun kamu berlari dari kenyataan, kita tetap memiliki hubungan darah," ucap Sudiro sambil menepuk paha Dirga, "ayah minta maaf karena tidak menemukanmu selama puluhan tahun. Kamu boleh membenci asal kamu tetap bisa menerima kenyataan bahwa aku adalah ayahmu. Jangan pernah menyalahkan ibumu karena sudah merahasiakan semua ini. Dia adalah wanita yang hebat karena sudah membesarkanmu hingga di titik ini," jelas Sudiro dengan tutur kata yang menenangkan.
Tanpa sadar bulir air mata yang sejak tadi berusaha ditahan, akhirnya mengalir karena rasa haru yang terasa. Ya, Dirga tak kuasa menahan air matanya karena rasa yang membaur menjadi satu di dada. Dia ingin marah tetapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Satu hal yang pasti, Dirga yakin jika ibunya tidak berbohong kali ini. Dia menegakkan kepala setelah mengusap air mata yang membasahi pipi.
"Lalu jika memang kenyataan seperti ini, apa yang Bapak inginkan dari hubungan ini? Bukankah Bapak sudah memiliki keluarga?" tanya Dirga setelah mengatur napasnya yang memburu.
"Tentu Ayah akan bertanggung jawab atas hidupmu, meski kita tidak bisa dipersatukan menjadi keluarga yang utuh. Kamu bisa datang ke rumah ayah untuk mengenal adik-adikmu dan juga ibu sambungmu. Mereka sudah mengetahui semua ini dan berharap kamu datang dan membaur bersama mereka." jelas Sudiro seraya menatap Dirga.
"Apa itu berarti saya harus tinggal di sana?" tanya Dirga lagi.
"Itu terserah kamu. Jika kamu mau tinggal di sana silahkan. Akan tetapi ayah tidak bisa membawa ibumu untuk tinggal di sana." Sudiro menatap Dirga penuh arti.
"Saya tidak akan tinggal di sana, apalagi sampai meninggalkan ibu." Dirga menegaskan apa yang ada dalam pikirannya.
"Baiklah. Ayah tidak akan memaksamu dengan masalah itu. Akan tetapi jangan menolak apapun pemberian dari Ayah, termasuk jika setelah ini Ayah akan datang ke rumah kekasihmu," ujar Sudiro dengan sorot mata penuh harap.
"Ibu yang memberitahu ayahmu tentang hal ini, karena hanya ini yang bisa ibu lakukan agar kamu bisa hidup bahagia dengan Bea," sahut Astuti ketika melihat putranya terkejut dengan ucapan Sudiro, "inilah yang membuat ibu nekat datang ke rumah ayahmu setelah menemukan kartu nama miliknya di kamarmu. Jangan marah karena ibu melakukan semua ini demi kebahagiaanmu, Ga," jelas Astuti dengan tatapan mata yang tak lepas dari Dirga.
__ADS_1
...🌹To Be Continue 🌹...