Sosialita

Sosialita
Dua keluarga bertemu,


__ADS_3

Malam yang ditunggu Beatrice akhirnya tiba. Setelah sehari penuh mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan keluarga Dirga, gadis berambut cokelat itu tampil cantik dengan dress mewah koleksi designer terkenal di Indonesia. Begitu pun dengan Soraya, janda empat puluh lima tahun itu terlihat anggun dan cantik dalam balutan dress berwarna hitam.


"Kenapa kamu gugup, Sayang?" tanya Soraya setelah menghampiri Beatrice yang sedang mondar-mandir di ruang keluarga. Dia duduk dengan elegan di sofa panjang yang ada di sana.


"Ini adalah momen bersejarah dalam hidupku, Ma. Tidak mungkin jika aku tidak merasa gugup," jawab Beatrice tanpa menghentikan apa yang sedang dilakukannya.


"Jangan berlebihan, Bea. Ini hanya makan malam, bukan pernikahan. Jadi, bersikaplah sewajarnya," tegur Soraya. "Lebih baik kamu duduk dulu. Jangan sampai penampilanmu nanti jadi berantakan." Soraya menepuk permukaam sofa yang ada di dekatnya.


Beatrice tidak pernah menyangka sebelumnya, jika jalinan asmara bersama Dirga akan berbuah manis setelah melalui proses panjang yang menguras tenaga dan perasaan. Bayang-bayang hidup bahagia sebentar lagi akan menjadi kenyataan tanpa harus menyakiti hati ibunya. Beatrice menghela napas lega, setelah ART yang bekerja di sana menemui mereka di ruang keluarga. Dia memberitahukan bahwa tamu yang sedang mereka tunggu sudah tiba di sana.


"Ayo, Bea. Kita harus menyambut kedatangan mereka," ajak Soraya sambil beranjak dari tempatnya. Dia meraih tangan Beatrice untuk digenggam saat berjalan menuju ke ruang tamu.


Ternyata Dirga tidak datang bersama ayah dan ibunya saja. Akan tetapi, ada Yayuk beserta kedua anaknya. Mereka segera masuk setelah mendapat sambutan hangat dari sang pemilik rumah. Semua orang sedang berkumpul di ruang tamu. Dirga dan Beatrice duduk bersanding dalam satu sofa. Mereka terlihat serasi malam itu. Apalagi, penampilan Dirga jauh berbeda dari hari-hari biasanya. Dia terlihat gagah dan juga berwibawa dengan pakaian semi formal yang dirinya kenakan. Kedua keluarga itu pun mulai berbas-basi saat mengawali pertemuan tersebut.


"Jadi begini Bu Soraya. Kedatangan kami bukan hanya untuk bersilaturahmi, tetapi ada satu hal lain yang ingin kami sampaikan," ucap Sudiro setelah berhasil mencari celah untuk membahas masalah pernikahan. "Saya sebagai orang tuanya Dirga bermaksud melamar putri Anda untuk menjadi menantu kami, mengingat keduanya saling mencintai. Akan lebih baik jika hubungan ini segera diresmikan saja. Bagaimana menurut Bu Soraya?" Akhirnya Sudiro mengungkapkan tujuannya datang ke rumah itu.


Beatrice mengembangkan senyumnya setelah mendengar kalimat panjang yang selama ini dia tunggu. Dia menatap Dirga sekilas dan pemuda tampan itu pun tersenyum tipis ke arahnya.


"Jika memang ini yang terbaik untuk anak-anak, saya setuju saja, Pak. Saya menerima lamaran Anda untuk putri saya." Tanpa ada penolakan Soraya menerima lamaran tersebut. Dia ikut bahagia ketika tak sengaja melihat sorot mata bahagia dari putrinya.

__ADS_1


"Lalu kapan Bu Soraya ingin melaksanakan acara resminya?" Kali ini Astuti ikut berbicara.


"Kalau untuk hal itu terserah Bu Astuti saja. Saya pasrahkan untuk masalah waktunya, karena yang terpenting kedua keluarga sudah berkomitmen," jawab Soraya tanpa melepas pandangan dari wajah Astuti yang terlihat cantik dengan polesan make-up.


Akhirnya kedua pihak keluarga berunding masalah waktu. Mereka bersepakat untuk menggelar acara pertunangan resmi di akhir bulan ini, sedangkan untuk pernikahan mereka bersepakat beberapa bulan lagi, mengingat membutuhkan waktu yang lama untuk mempersiapkan acara besar tersebut.


Hingga beberapa puluh menit lamanya, pembicaraan itu pun akhirnya selesai. Soraya mengajak keluarga besannya pindah ke ruang makan, untuk mulai makan malam bersama. Berbagai hidangan spesial sudah disiapkan janda cantik itu.


Acara santap malam pun berjalan dengan hangat. Tak ada lagi rasa canggung di antara mereka. Setelah selesai dari meja makan, mereka kemudian berpindah kembali ke ruang tamu. Perbincangan hangat pun kembali berlangsung di sana. Sementara Beatrice rupanya tak tahan untuk mengajak calon suaminya berleliling di taman.


Awalnya, Dirga menolak saat dia menerima pesan dari gadis itu. Dirga lebih memilih untuk ikut serta dalam perbincangan para orang tua. Namun, bagi Beatrice itu merupakan sesuatu yang sangat membosankan. Pada akhirnya, Dirga pun setuju setelah sang kekasih terus mendesaknya dengan mengirimkan pesan yang sama berulang-ulang.


"Lagi pula, tanaman juga kan sama-sama makhluk hidup," jawab Dirga seadanya. Dia agak kurang nyaman dengan tampilannya yang terasa aneh. "Apa aku tidak kelihatan aneh, Bea?" tanya Dirga beberapa saat kemudian.


"Aneh bagaimana? Justru kamu kelihatan tampan sekali malam ini. Baru kali ini aku melihatmu serapi seperti sekarang," sahut Beatrice seraya menghentikan langkahnya. Dia lalu berbalik, hingga tubuh rampingnya jadi menghadap kepada Dirga. "Seberapa besar rasa bahagia kamu setelah mama merestui hubungan kita?" tanyanya.


"Haruskah kujabarkan? Kuharap mamamu benar-benar menerimaku apa adanya." Dirga pun membalikkan badan, sehingga kini mereka berdua saling berhadapan.


"Aku rasa mamaku sudah lama berubah pikiran tentang kamu, Ga. Namun, dia terlalu malu untuk mengakuinya. Andai dia yang melatarbelakangi restunya adalah karena status sosial ayah kamu, maka aku tetap tak peduli. Asalkan dia sudah mengizinkan kita untuk menikah. Saat aku telah menjadi istrimu, maka dia tidak punya hak lagi untuk memisahkan kita," tutur Beatrice dengan gaya bicaranya yang terdengar manja.

__ADS_1


"Ya. Kamu benar. Satu yang pasti, aku akan selalu berusaha untuk bisa menjadi imam yang baik bagi kamu dan anak-anak kita kelak," sahut Dirga membalas semua ucapan Beatrice.


"Itu sudah menjadi keharusan. Kamu membawaku dari mama, dari rumah ini. Maka, kamu harus bertanggung jawab atas seluruh hidupku. Namun, aku percaya kamu bisa melakukan yang terbaik, meskipun tanpa status sosial yang tinggi." Beatrice tersenyum lembut, kemudian menatap lekat paras tampan Dirga. "Aku ingin kita segera menikah," ucap gadis itu lagi.


"Kita akan menikah. Secepatnya. Setelah itu, persiapkan dirimu untuk jadi istri dan juga ibu yang baik. Kita akan belajar saling mengingatkan, andai salah satu di antara kamu atau aku yang melakukan sesuatu dengan keliru. Jangan ragu untuk menegurku, dan jangan sakit hati jika aku pun menegurmu," ucap Dirga. Itulah yang Beatrice sukai dari pria dua puluh lima tahun tersebut.


"Tentu," jawab Beatrice dengan segera. "Berhubung sebentar lagi kita akan menikah, rasanya tak masalah jika ... jika ...." Beatrice tersipu malu.


"Jika apa?" pancing Dirga. Namun, dia pun sudah paham dengan maksud dari gadis cantik di hadapannya tersebut. Adalah sesuatu yang jarang sekali dia lakukan terhadap sang kekasih, tak seperti pasangan muda lainnya yang gemar mempertontonkan kemesraan mereka.


Dirga menyentuh dagu Beatrice kemudian mengangkatnya perlahan. Gadis itu pun tersenyum manis. Namun, tak berselang lama senyuman itu memudar ketika dia memejamkan mata, saat Dirga menyentuh bibirnya dengan lembut. Hingga beberapa saat, adegan manis itu terus berlangsung.


"Semoga taman ini tidak dipasangi kamera CCTV," celetuk Dirga setelah dia puas mencium kekasihnya.


...🌹To Be Continue 🌹...


...Maaf baru bisa update🤭semoga bisa nulis lancar setelah ini,...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2