Sosialita

Sosialita
Malam Yang Damai,


__ADS_3

Seusai adu mulut dengan Rima, Rahma pun menjadi kehilangan selera makannya. Setelah memaksakan diri memasukkan beberapa suap ke dalam mulut, Rahma memilih untuk menyudahi hal itu. "Aku ingin segera pulang dan berkemas," ujarnya yang tampak gusar.


"Tenangkan diri dulu. Kamu harus melakukan persiapan yang matang sebelum mengambil keputusan," saran dokter Richard. Sedangkan Rahma hanya mengeluh pelan. Dia lalu beranjak dari duduknya dan tetap memaksa untuk pulang. Mau tak mau, dokter Richard pun mengikutinya dengan segera.


Selama di dalam perjalanan menuju apartemen, Rahma tak banyak bicara. Hingga mereka tiba di tempat tujuan, wanita muda itu masih menunjukkan raut yang muram dengan tatapan sayu dan hampir menangis. Namun, sepasang mata Rahma terbelalak seketika, saat dia mendapati sebuah koper berukuran kecil di depan pintu ruang apartemen yang selama ini dirinya tempati.


Dengan segera, wanita berusia tiga puluh lima tahun itu memeriksa koper tadi. Dia membukanya. Di dalam sana, tampak baju-baju lama yang sudah tak terpakai. Rupanya Abraham sudah mengemasi barang-barang milik wanita simpananya tersebut. Di dalam koper itu juga ada sebuah pesan yang amat menohok. 'Ini adalah baju-bajumu saat pertama kali masuk ke apartemen ini'. Abraham tak memberikan baju-baju bagus yang dia dapatkan saat menjadi wanita simpanannya. Sungguh keterlaluan pria tua itu di mata Rahma.


"Tua bangka sialan!" umpat Rahma pelan seraya kembali menutup koper tadi. Dia lalu berdiri dan menoleh kepada dokter Richard. "Aku tidak harus repot-repot berkemas. Aki-aki ganjen itu rupanya dengan senang hati membantuku," ujarnya seraya tersenyum getir. Rahma mencoba terlihat santai, meskipun dokter Richard melihat kebalikannya.


Segera diraih gagang koper tadi. Pria tampan yang berstatus duda tersebut menggeret koper milik Rahma dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya menggenggam tangan si mantan pelakor dan menuntun hingga masuk ke dalam lift.


Di dalam lift itu mereka berdua saling terdiam dan larut dengan pikiran masing-masing. Semuanya berlangsung hingga pintu lift terbuka. Dokter Richard kembali menuntun Rahma keluar dan berjalan menuju mobilnya terparkir. Dia lalu memasukkan koper tadi ke dalam bagasi, kemudian mempersilakan Rahma untuk masuk.


"Aku akan mencari kontrakan ...."


"Tinggal saja di rumahku untuk sementara," potong dokter Richard, membuat Rahma seketika menoleh padanya dengan raut tak percaya. "Di rumahku ada beberapa kamar kosong. Aku akan menyuruh pembantu untuk membersihkan salah satunya," ucap pria tampan itu lagi.


Tanpa banyak bicara, dokter Richard memasang headset bluetoothnya sambil terus mengemudi. Sesaat kemudian, duda tampan penuh pesona itu memerintahkan untuk menyiapkan kamar tamu kepada asisten rumah tangganya. "Beres," ucapnya setelah mengakhiri panggilan tadi. "Tinggal saja di rumahku sampai kamu mendapat pekerjaan dan juga kontrakan yang cocok." Dia melirik Rahma seraya tersenyum kalem.


"Aku tidak mau merepotkanmu," tolak Rahma dengan halus. Dia tak ingin lagi menjadi parasit bagi para pria.


"Aku tidak merasa begitu. Lagi pula, kamu butuh uang untuk membayar kontrakan, sedangkan kamu belum dapat pekerjaan apapun," ucap dokter Richard lagi. Dia terus melajukan kendaraan mewahnya hingga tiba di depan sebuah rumah megah.


"Apa ini rumahmu?" tanya Rahma seraya mengedarkan pandangan ketika dia baru turun dari mobil.


"Aku tidak akan membawamu ke rumah orang lain," jawab pria itu kembali tersenyum kalem. Dia lalu mengajak Rahma untuk masuk dan segera membawanya menuju kamar yang akan wanita itu tempati. Sedangkan Rahma begitu kagum akan kemewahan tempat tinggal dokter tampan tersebut.

__ADS_1


"Ini kamar yang akan kamu tempati," ujar dokter Richard setelah membuka pintu dan menunjukkan kamar yang disediakan untuk Rahma.


Ruangan itu terbilang luas untuk ukuran sebuah kamar tidur. Rahma segera masuk. Tatapannya menyapu setiap sudut dari kamar tersebut. Sesaat kemudian, wanita tiga puluh lima tahun itu tersenyum. "Terima kasih," ucapnya tulus.


"Aku akan mendukungmu untuk memulai lembaran baru. Jangan khawatirkan apapun. Fokuslah pada tujuan dan niat baikmu itu," balas dokter Richard masih dengan sikapnya yang terlihat kalem. "Sekarang beristirahatlah. Jika butuh apa-apa, kamu tinggal tekan tombol hijau itu. Nanti akan ada pelayan yang datang kemari," pesannya. Setelah meletakkan koper milik Rahma di dekat tempat tidur, dokter Richard pun berlalu dari sana.


Rahma berdiri sesaat sebelun merapikan pakaiannya ke dalam lemari yang tersedia. Dia tak menyangka bahwa harapannya untuk dipertemukan dengan pria baik seperti Dirga, akan terlaksana. Ya, meskipun dia tak berpikir untuk dapat sesuatu yang lebih dari kedekatannya dengan dokter tampan tersebut. Rahma menyadari siapa dirinya.


Siang yang panas dan penuh kejutan telah berlalu. Ia tergantikan dengan datangnya malam yang jauh lebih tenang dan terasa menenangkan. Seusai makan malam, dokter Richard mengajak Rahma untuk berbincang di beranda samping rumah megahnya. Sambil menikmati suara gemericik air dari pancuran yang berada di kolam renang, dua sejoli itu asyik bercengkerama dengan akrab.


Obrolan demi obrolan terus bergulir. Ada banyak hal yang mereka bahas. Ternyata, Rahma bukanlah wanita berotak bodoh. Itu terbukti dari cara bicaranya yang dapat mengimbangi dokter Richard. Dia hanya mengambil jalan pintas untuk kesenangan hidup semata.


"Aku punya kenalan. Dia pemilik perusahaan ritel tenama di kota ini. Jika kamu mau, aku bisa mengenalkanmu padanya. Siapa tahu dia bisa memberikan pekerjaan yang sesuai dengan jalur pendidikanmu," ucap dokter Richard.


"Aku malu karena terus-menerus merepotkanmu," sahut Rahma menanggapi dengan rasa tidak enak.


"Kenapa kamu begitu betah menduda? Apa kamu terlalu cinta dengan mendiang istrimu?" tanya Rahma. Dia mulai berani bertanya tentang sesuatu yang jauh lebih pribadi.


"Apa kita pernah membahas ini sebelumnya?" Dokter Richard menoleh sembari menautkan alis.


"Entahlah, aku lupa," jawab Rahma diiringi tawa pelan.


"Aku menghabiskan waktu dengan berbagai kegiatan di luar. Saat itu waktu terasa begitu cepat berlalu. Namun, aku tetap kembali kemari dan duduk sendiri di malam hari. Sama saja," tutur dokter Richard. Dia lalu tersenyum simpul.


"Selama aku di sini, aku yang akan menemanimu berbincang. Jadi, kamu tidak akan sendiri lagi," ujar Rahma mencoba untuk menghibur.


"Selama kamu tinggal di sini. Lalu, apa yang akan terjadi jika suatu saat nanti kamu pergi?" Pria tampan itu menatap Rahma dengan lekat. Sedangkan Rahma sendiri tak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Apa boleh jika aku menemanimu untuk beberapa waktu lagi?" tanya wanita tiga puluh lima tahun itu.


Dokter Richard tersenyum simpul. Dia masih melayangkan tatapannya pada paras cantik Rahma. Sekian lama dirinya tidak menatap seorang wanita lain selain mendiang sang istri yang telah tiada beberapa tahun silam. Ini adalah pertama kalinya dia kembali melakukan hal seperti itu.


Entah disadari atau tidak saat dokter Richard meraih tangan Rahma dan menggenggamnya erat. Dia lalu menggeser posisi duduk sehingga makin merapat kepada wanita muda tersebut. Sedangkan Rahma pun bukan gadis polos yang tak mengerti apa-apa. Dia mengarahkan wajahnya pada pria itu dengan tatapan yang cukup menggoda.


Apa yang Rahma pikirkan ternyata tidaklah keliru. Dokter Richard merengkuh pundaknya dengan lembut menggunakan tangan kanan, sementara tangan kiri menangkup wajah cantiknya. Rahma pun memejamkan mata, ketika pria tampan itu menyentuh permukaan bibirnya dengan lembut.


Akan tetapi, dengan segera dokter Richard menjauhkan wajahnya. Dia juga menarik tangan dari pundak Rahma. "Maaf," ucap pria itu merasa tak enak. "Aku tidak bermaksud untuk bersikap tak sopan padamu, tapi ...."


"Tidak apa-apa," sahut Rahma. Dia tahu bahwa dokter Richard adalah pria yang sopan. Namun, Rahma dapat merasakan bahwa pria di sebelahnya itu memiliki ketertarikan lebih terhadap dirinya. Wanita cantik tersebut lalu menyentuh punggung tangan duda tampan yang kini terlihar kikuk.


"Kenapa? Jangan sungkan. Aku tidak ada masalah dengan hal itu," ucap Rahma pelan.


Dokter Richard kemudian menoleh. Dia kembali menatap wanita cantik itu. "Aku takut tidak bisa mengendalikan diri," ujarnya pelan dan berat. Tampak jelas jika dia tengah menahan sesuatu dalam dirinya.


"Aku tahu. Sebuah ciuman kecil aku rasa tak akan menjadi masalah," balas Rahma seakan memberi harapan.


Sebuah kata-kata yang segera berbalas sesuatu dari dokter Richard. Pria itu menarik tubuh Rahma hingga berpindah ke atas pangkuannya. Dia merengkuh pinggang ramping wanita cantik tersebut, kemudian mendekapnya dengan erat hingga tubuh mereka saling menempel ketat. Sebuah ciuman panas pun berlangsung dengan sempurna saat itu.


...🌹To Be Continue 🌹...


...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...


...Hallo semua😎Ada rekomendasi karya super keren untuk kalian nih😎Kuy baca karya author Reni. T dengan judul Hasrat Tuan Kesepian❤️ Kuy gercep biar gak ketinggalan ceritanya😍...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2