Sosialita

Sosialita
Harus Bedrest.


__ADS_3

Gelapnya malam perlahan pudar setelah siluet kekuningan menghiasi cakrawala. Seperti biasa, setelah bangun dari tidur nyenyaknya, Rahma berakhir di depan wastafel kamar mandi. Morning sickness masih dirasakan wanita cantik itu sama seperti hari-hari sebelumnya.


"Duh. Kenapa kepalaku pusing begini ya. Perutku juga rasanya sangat tidak nyaman, tegang banget rasanya." keluh Rahma sambil memijat kepalanya. Kondisi ini jauh berbeda dari hari-hari biasanya.


Rahma kembali membungkukkan tubuhnya setelah merasakan ada sesuatu yang ingin keluar dari mulutnya. Hampir sepuluh menit wanita berbadan dua itu berdiri di sana. Sesekali dia meringis menahan sakit karena perutnya terasa kram.


"Sepertinya aku harus periksa ke dokter Richard ini. Pasti ada yang tidak beres denganku," gumam Rahma setelah berpikir beberapa saat.


Meski rasanya malas untuk menyentuh air, Rahma tetap mandi sebelum berangkat ke klinik bersalin tempat dokter Richard praktek. Sebenarnya Rahma sendiri bukanlah wanita jorok yang anti dengan air. Biasanya dia rutin membersihkan diri pagi siang dan malam agar kulitnya tetap terjaga dengan baik. Namun, semenjak hamil situasi itu berbanding terbalik.


Tidak sampai tiga puluh menit Rahma menyelesaikan segala ritual di kamar mandi. Dia harus bersiap sebelum berangkat ke tempat dokter Richard. Buku KIA dan beberapa dokumen penting telah dimasukkan ke dalam tas. Rahma pun sudah siap berangkat menuju klinik.


"Lebih baik aku naik taxi online saja. Keadaan ini bisa membahayakan ku jika harus membawa mobil sendiri," gumam Rahma sambil merogoh ponsel yang tersimpan di dalam tas.


****


Tepat pukul setengah sembilan pagi, Rahma telah sampai di tempat praktek dokter Richard. Setelah membayar tarif taxi yang mengantarnya hingga sampai di tempat ini, Rahma segera keluar dari mobil. Dia mempercepat langkahnya karena rasa tidak nyaman di perutnya semakin terasa. Sesampainya di depan bilik pendaftaran, Rahma segera memberikan buku panduan ibu dan anak serta kartu identitas pasien yang dulu diberikan saat awal berobat di klinik ini.


"Nyonya dapat nomor antrian lima untuk pemeriksaan di poli kandungan dengan dokter Richard. Silahkan menunggu di depan poli, nanti nama Nyonya akan dipanggil," ucap perawat yang bertugas di pendaftaran sambil menyerahkan buku dan kartu milik Rahma.


"Baik, Sus. Terima kasih," ucap Rahma sebelum pergi dari bilik pendaftaran.


Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori kulit wanita cantik yang baru saja duduk di kursi panjang yang ada di depan poli kandungan. Sesekali Rahma memejamkan mata saat rasa sakit itu semakin terasa. Dia meremas ujung dress putih tulang yang melekat di tubuhnya karena tidak tahan dengan rasa sakit di perutnya.


"Ya Tuhan. Apa aku ini mau mati kali ya! Sakit banget sih!" gumam Rahma dalam hati.

__ADS_1


Setelah beberapa puluh menit menunggu giliran masuk, pada akhirnya nama Rahma dipanggil oleh suster. Dia segera berdiri dari tempatnya dan masuk ke dalam ruangan dokter Richard.


"Selamat pagi," sapa dokter Richard setelah melihat kehadiran Rahma di dalam ruangan.


"Pagi, dok," jawab Rahma setelah duduk di kursi yang ada di sebrang meja kerja dokter Richard.


Dokter tampan itu tersenyum tipis saat mengamati wajah cantik yang ada di hadapannya. Namun, ada rasa khawatir ketika melihat Rahma sedikit pucat dan terlihat tidak baik-baik saja.


"Apa ada keluhan, Nyonya?" tanya dokter Richard.


"Sejak bangun tidur, perut saya tiba-tiba saja terasa tidak nyaman dan beberapa menit yang lalu, keringat dingin mulai muncul, dok. Sekarang perut saya terasa kram," keluh Rahma dengan suara yang lirih.


"Silahkan berbaring dulu, Nyonya. Saya akan melakukan pemeriksaan," tunjuk dokter Richard pada bed yang ada di samping alat USG.


Dengan bantuan suster yang menjadi asisten dokter Richard selama ini, Rahma akhirnya berbaring di sana. Gel pelumas untuk USG pun telah dioleskan suster tersebut di perut Rahma yang masih rata.


"Tidak, Dok. Saya tidak melakukan apapun yang memicu rasa sakit ini," ucap Rahma seraya menatap dokter Richard.


"Apa Nyonya mengkonsumsi obat selain yang saya berikan?" tanya dokter Richard dengan pandangan fokus di layar monitor USG.


"Tidak, Dok. Saya hanya minum vitamin yang dokter berikan. Saya memutuskan untuk mempertahankan anak ini," ucap Rahma dengan suara yang lirih.


Dokter Richard tersenyum tipis setelah mendengar keputusan Rahma. Dia merasa lega saja karena pada akhirnya Rahma mengurungkan niatnya untuk menggugurkan kandungannya, "Ada sedikit masalah dalam kandungan Nyonya." Dengan berat hati dokter Richard mengatakan hal itu.


"Kenapa bisa begitu, Dok? Padahal saya tidak melakukan apapun loh. Saya menjaga kandungan saya sesuai dengan arahan dari Dokter." Rahma terkejut setelah mendengar diagnosis dokter Richard.

__ADS_1


Dokter Richard menjelaskan kondisi Rahma saat ini. Beliau menyarankan agar Rahma istirahat total di rumah untuk sementara waktu karena janin yang sedang tumbuh itu tiba-tiba saja lemah, "Nyonya hanya boleh berbaring di atas tempat tidur dan pergi ke kamar mandi saja. Kali ini Nyonya benar-benar harus membatasi pergerakan jika ingin menyelamatkan janin ini." Dokter Richard menatap Rahma dengan penuh sesal.


Rahma tak segera menanggapi penjelasan dari dokter tampan yang masih melakukan pemeriksaan itu. Dia sedih setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan kandungannya. Dia baru saja bisa menerima kehadiran benih itu dan sekarang dia harus di hadapkan dengan situasi ini.


"Apa Nyonya baik-baik saja?" tanya dokter Richard setelah melihat Rahma yang sedang termenung.


"Ah iya saya baik-baik saja, Dok." Rahma berusaha tersenyum meski pada kenyataannya dia merasakan sakit di hatinya. Dia tidak mau jika sampai kehilangan janin yang sedang tumbuh itu.


Setelah pemeriksaan selesai, seorang suster membersihkan sisa gel pelumas yang ada di perut Rahma dan setelah itu dia membantu Rahma turun dari bed. Rahma kembali duduk di kursi yang ada di sebrang meja kerja dokter Richard.


"Saya sarankan lebih baik Nyonya menggunakan jasa layanan antar obat saja agar Nyonya bisa langsung pulang dan istirahat," tutur dokter Richard.


"Baik, Dok. Saya mau minta izin kepada dokter, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, apa boleh saya menghubungi dokter secara pribadi?" tanya Rahma seraya menatap dokter yang terlihat berpikir itu.


"Silahkan saja. Ini ada kartu nama saya," ucap dokter Richard setelah berpikir sejenak. Kartu nama dokter tampan itu pun telah dikantongi Rahma untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu.


Setelah pemeriksaan selesai, Rahma segera keluar dari ruangan tersebut. Dia membuka ponselnya untuk memesan taksi online yang bisa mengantarnya pulang. Setelah selesai membuka aplikasi layanan taksi online, Rahma membuka aplikasi chat. Dia mencari nomor rahasia milik Abraham untuk memberitahu bagaiman kondisinya saat ini.


Tolong mampir sebentar ke Apartment karena ada hal penting yang harus kita bicarakan.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


...Hallo, ada rekomendasi untuk kalian nih😀Kuy baca gratis karya author Merpati_Manis dengan judul Harta Tahta Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)❤️Ceritanya seru loh, jadi jangan sampai ketinggalan yak🤭...


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2