Sosialita

Sosialita
Mual dan Muak!


__ADS_3

"Minggir, Mpap! Minggir!" teriak Rahma setelah turun dari ranjangnya. Abraham tertegun di depan kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


Rasa mual yang begitu hebat dirasakan wanita yang tengah hamil muda itu. Dia harus menahan gejolak itu karena Abraham tak segera minggir dari pintu kamar mandi hingga membuat Rahma harus membekap mulutnya.


Hoek! Byur!


Abraham terperangah setelah mendapati sesuatu yang sangat menjijikkan. Tubuhnya yang wangi harus terkena muntahan wanita yang sedang berdiri di hadapannya itu. Pria matang itu memberanikan diri untuk melihat kondisi tubuhnya setelah mendapatkan kejutan di pagi hari dari sang kekasih hati.


"Dek Rahma! Apa ini? Astaga!" Abraham mengusap wajahnya kasar setelah melihat handuk yang melilit di pinggangnya ternoda.


Dalam hati yang paling dalam, Rahma ingin sekali memuntahkan isi perutnya pada wajah kakek dua cucu itu, terlebih ketika dia mengingat perbincanganmya dengan Rima kemarin saat di klinik. Namun, bagaimanapun juga dia masih sadar bahwa pria menyebalkan itu merupakan ayah dari janin yang tengah dikandungnya.


"Sejak kapan Dek Rahma seperti ini?" tanya Abraham setelah membersihkan diri dan mengganti handuknya dengan yang bersih.


"Aku sudah berusaha menghubungi Mpap sejak kemarin, tapi Mpap sibuk dengan bu Rima. Malah sampai main dua kali dalam semalam," Rahma terduduk di atas closet dengan wajah lusuh.


"Astaga. Kasihan sekali kamu, Dek," ujar Abraham seraya meraih kepala Rahma dan menempelkan pada perutnya. "Maafkan aku, ya," ucapnya sambil mengusap-usap rambut panjang wanita yang tampak lesu itu.


"Usia kehamilanku sudah empat minggu. Siang nanti aku ada jadwal konseling sama dokter kandungan, tapi aku yakin Mpap tak mungkin mau menemaniku. Ah, sudahlah. Lagi pula, aku ngga berharap ditemani." Rahma beranjak dari duduknya. Setelah merasa lebih baik, wanita itu pun keluar dari dalam kamar mandi. Sementara Abraham hanya berdiri terpaku. Tak berselang lama, dia lalu mengikuti kekasih gelapnya yang cantik keluar dari sana, dengan masih mengenakan handuk.


"Jadi, Dek Rahma benar-benar hamil?" tanyanya meyakinkan.


"Mpap pikir aku bercanda? Mpap sih kalau main ngga mau pakai sarung, makanya tanggung risiko seperti ini," sahut Rahma kesal. Dia tengah memilih pakaian yang akan dikenakannya.


"Aku pikir kemarin-kemarin Dek Rahma hanya ngeprank. Bagaimana ini? Katanya Dek Rahma pake KB kalender, tapi kok tetep hamil?" protes Abraham. Dia lalu duduk di ujung tempat tidur sambil terus memperhatikan Rahma yang tengah berganti pakaian. Hari ini, wanita berusia tiga puluh lima tahun tersebut sedang malas untuk mandi. Selama ada parfume mahal yang dibelikan khusus dari Perancis oleh Abraham, semua akan baik-baik saja. Rahma pun mulai menyemprotkan parfume tadi pada beberapa bagian tubuhnya.


Namun, apa yang terjadi? Aroma semerbak wewangian itu justru malah mengundang rasa mual dan pusingnya kembali. Alhasil, Rahma harus segera berlari ke dalam kamar mandi. Sementara Abraham masih duduk tercenung di ujung tempat tidur. Dia akan segera punya cucu ketiga dari anak bungsunya. Selain itu, dia juga akan menjadi ayah dari selingkuhan yang selama ini dipelihara dan disembunyikan dengan baik, dari istri sah yang menganggapnya sebagai suami idaman. Tak terkira betapa mumet kepala pria berusia setengah abad lebih tersebut.

__ADS_1


Hingga Rahma keluar dari dalam kamar mandi, Abraham masih duduk terpekur merenungi apa yang terjadi. Dia belum juga berpakaian, padahal hari ini dirinya akan melakukan kunjungan ke sebuah daerah. Jatah satu hari yang dia berikan untuk dihabiskan bersama cemceman kesayangan, ternyata berlalu begitu saja dan hanya dia gunakan untuk menyaksikan wanita yang terus muntah-muntah tak karuan.


"Dek. Bukannya Adek sudah menerapkan KB kalender? Kenapa masih kecolongan?" tanya Abraham lagi yang masih tampak kebingungan.


"Astaga, Mpap. KB secara medis saja terkadang gagal, apalagi cuma KB kalender," jawab Rahma kesal. Dia kembali merapikan diri di depan cermin.


"Ya, tapi bagaimana ini? Saya tidak mungkin menikahi Dek Rahma. Apa jadinya kalau istri dan putri-putri saya tahu? Saya juga akan dipecat dari instansi. Waduh, ciloko!" Abraham menepuk keningnya yang licin.


"Mpap pikirkan saja jalan keluarnya. Hari ini aku ada jadwal konseling sama dokter kandungan. Dia akan memberikan saran-saran terbaik untuk kehamilan tanpa rencana ini. Duh ... kalau tahu bakal seperti ini ...." Rahma mengeluh pelan. Dia pun meraih tasnya dan bermaksud untuk beranjak ke pintu.


"Dek Rahma tunggu dulu, kita belum selesai bicara," cegah Abraham. Dia mengikuti Rahma hingga ke dekat pintu.


"Mpap apaan sih? Pakai baju dulu sana," suruh Rahma yang mulai jengkel dengan kakek dua cucu itu.


"Ya, tapi kita bicara dulu sebentar sebelum saya berangkat ke Manokwari," ujarnya.


...๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ...


Lain Rahma, lain pula dengan Astrid. Suaminya yang bernama Handoko Suryadiningrat, diketahui tengah sakit. Kabar itu dia dapatkan dari istri ketiga pengusaha batu bara tersebut. "Mbak, Astrid. Mas Han sakit loh sudah dua hari di tempat saya," ucap Santi, saat menghubungi Astrid.


"Memangnya minggu ini siapa yang dapat jadwal kunjungan?" Astrid malah balik bertanya. "Bukankah seharusnya mas Han ada di istri kedua? Kenapa tiba-tiba ada di kamu?" Astrid terdengar keheranan, masalahnya dia tau betul jadwal kunjungan sang suami dalam satu bulan.


"Iya nih, mbak. Seharusnya minggu ini jadwal sama mbak Aisyah, tapi katanya tiba-tiba mbak Aisyahnya malah datang bulan. Jadi, mas Han akhirnya datang ke saya. Eh, sekarang dia malah sakit di sini," terang Santi seraya mengeluh pelan.


"Ya sudah. Berhubung lagi sama kamu, ya kamu yang ngurus lah," jawab Astrid dengan enteng.


"Aduh, mbak. Bagaimana ini, saya kan ada kerjaan," balas Santi menyesalkan keadaan.

__ADS_1


"Lah, terus kamu pikir saya ngga punya kerjaan?" balas Astrid, meskipun memang seperti itu kenyataannya. Setiap hari, setiap saat, pekerjaan Astrid hanya bersantai dan rebahan sambil menikmati kehidupan mewahanya. "Kamu jangan cuma mau enaknya saja, giliran sakit ngga mau ngurus. Istri macam apa kamu?" omel Astrid lagi dengan kesal.


"Bukannya begitu, mbak. Ini mas Han sendiri yang minta balik ke rumah mbak Astrid. Katanya kalau lagi sakit lebih nyaman diurusin sama mbak, bukan sama yang lain," ujar Santi membela diri.


"Heleh ...." dengus Astrid pelan. "Apa-apaan itu?"


"Jadi bagaimana, mbak? Saya anterin mas Han ke sana atau mbak yang jemput?" tanya Santi menegaskan.


"Mana mas Han? Aku mau bicara sama dia," tanya Astrid.


Tak berselang lama, suara sang suami yang kini telah memiliki empat orang istri itu terdengar di telepon. "Mom, ini aku," ucapnya dengan suara lemah.


"Mas sakit apa sih?" tanya Astrid biasa saja.


"Biasa, Mom. Kencing batu aku kambuh lagi. Dari kemarin mau buang air kecil rasanya sakit," keluh Handoko.


"Astaga, apa si Santi ngga nganter mas Han ke dokter? Gampang kan?"


"Sudah, Mom. Aku sudah periksa, tapi gimana, ya? Aku lebih nyaman sama kamu kalau lagi sakit begini. Kamu yang paling tahu bagaimana cara merawatku saat aku sedang dalam kondisi seperti ini," ujar Handoko membuat kepala Astrid seketika berasap tebal.


"Kawin saja terus! Giliran sakit kamu baru bilang begitu!" gerutu Astrid dengan jengkel.


Wanita peternak madu itu segera memutuskan sambungan telfon bersama Handoko karena kesal dengan jawaban tersebut. Dia menghela napas panjang dan setelah itu memijat pangkal hidungnya karena pusing.


...๐ŸŒนTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐Ÿ˜๐ŸŒน...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...

__ADS_1


__ADS_2