
Pagi-pagi sekali, Rahma sudah terbangun ketika merasakan ada sesuatu yang basah di celananya. Dia lalu bangkit dengan perlahan dan sangat hati-hati. Rahma memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Dia duduk di atas closet. "Kenapa bertambah banyak fleknya?" Rahma bergumam sambil mengamati segitiga berenda yang baru saja dia lepas. Wanita tiga puluh lima tahun tersebut akhirnya melepas dan memasukan pakaian dalam itu ke dalam keranjang cucian. Dia lalu bersiap untuk membersihkan diri.
Setelah beberapa menit berada di dalam kamar mandi, wanita simpanan Abraham Lee itu pun keluar dari sana. Sebelum kembali ke tempat tidur, dia menyempatkam diri untuk berdiri sejenak di atas balkon apartemen. Rahma ingin menghirup udara pagi di sekitar sana. Dia merasa bosan, karena selama beberapa hari hanya terdiam di atas tempat tidur.
Namun, tak berselang lama Rahma kembali merasa terusik. Dia merasakan ada yang sesuatu yang keluar. Wanita itu pun kian gelisah dan khawatir. Dengan segera, dia kembali ke dalam kamarnya dan duduk di tepian tempat tidur. "Sepertinya aku harus menghubungi dokter Richard," gumamnya saat meraih ponsel yang ada di atas nakas. "Padahal sudah istirahat total, tapi kenapa kondisiku tidak juga membaik?" Rahma yang dulu berniat untuk menggugurkan kandungannya, kini merasa was-was atas apa yang tengah dialami.
Tanpa berpikir lebih lama lagi, dia pun mencoba untuk mengirim pesan kepada dokter tampan yang menangani kehamilannya selama ini. Meski sempat ragu karena waktu terlalu pagi dan takut mengganggu dokter tersebut, tetapi karena keadaan darurat Rahma akhirnya mengirim pesan yang sudah diketiknya.
"Semoga saja dokter Richard membalas pesanku," gumam Rahma penuh harap.
Selang beberapa menit, ada notifikasi pesan masuk di ponsel canggih tersebut. Ternyata balasan dari dokter Richard yang bersedia datang home visite untuk melakukan pemeriksaan. Rahma pun kemudian mengirimkan alamatnya.
"Syukurlah, ternyata dokter Richard bersedia datang." Rahma merasa lega. Dia kembali lagi ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian dalam kedua kalinya. Kali ini, Rahma memasang pantyliners di sana.
Ada rasa sesal yang begitu besar ketika Rahma harus merasakan kondisi seperti itu. Sejujurnya saja bahwa dia tidak mau jika terjadi sesuatu yang serius dengan kandungannya selama ini. Meski Abraham tak menginginkan benih yang sedang tumbuh itu, Rahma bertekad untuk tetap mempertahankan hingga waktu lahiran tiba. Dia berharap agar suatu saat nanti, janin yang ada dalam kandungannya itu tumbuh dengan baik dan bisa menemani hari-harinya.
"Ah sudahlah. Aku pasti bisa melewati semua ini meski tanpa mpap di sisiku. Aku pasti kuat!" Rahma memberikan semangat pada dirinya sendiri, saat hatinya merasakan pedih akibat sikap Abraham.
Abraham tidak pernah datang lagi semenjak menginap di apartment mewah yang dia tempati kala itu. Lagi pula, mungkin tak ada alasan bagi pria tua itu untuk berkunjung ke sana. Rahma tak bisa melayani pria itu seperti dulu, saar dirinya belum divonis hamil. Namun, meski begitu dia tetap berkomunikasi lewat sambungan telepon di siang hari. Pundi-pundi rupiah pun tetap masuk ke rekening milik wanita kedua Abraham Lee tersebut.
__ADS_1
Akan tetapi, rasanya tetap berbeda. Rahma kini mulai sadar bahwa dirinya ternyata menginginkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang jauh lebih dia rindukan dari sekadar materi, yaitu perhatian tulus.
"Semoga kamu baik-baik saja ya. Aku ingin kamu tumbuh dengan baik. Tetaplah bersamaku," gumam Rahma sambil mengusap perut yang masih rata itu.
Sesekali Rahma meringis kecil saat merasakan tak nyaman di perutnya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana saat itu, karena tidak memiliki pengetahuan apapun tentang kehamilan. Hingga beberapa menit kemudian, wanita itu menahan rasa tak nyamanya sambil menunggu kedatangan dokter Richard.
Detik demi detik terus berlalu. Rahma sudah menunggu hampir enam puluh menit lamanya untuk kedatangan dokter Richard. "Masuk!" seru wanita itu setelah mendengar ketukan pintu kamarnya. Pelayan yang menemaninya, muncul dari balik pintu tersebut.
"Maaf Nyonya, di luar ada tamu yang ingin bertemu. Seorang pria bernama dokter Richard Rahardja," lapor sang asisten rumah tangga.
"Suruh saja masuk dan tolong langsung antar ke sini. Jangan lupa buatkan minuman untuk tamu saya," suruh Rahma dengan suara yang terdengar lirih.
"Baik, Nyonya," ucap asisten rumah tangga tadi sebelum berlalu dari kamar mewah tersebut.
"Selamat pagi, Nyonya Rahma," sapa dokter Richard karena melihat Rahma hanya diam saja dengan tatapan yang fokus kepadanya. "Maaf, berhubung hari ini saya tidak ada jadwal praktik. Tadinya saya akan pergi untuk latihan menembak," jelas sang dokter tanpa diminta.
"Ah, iya. Tidak apa-apa, Dok. Justru saya yang minta maaf karena harus mengganggu dokter di hari libur. Saya takut dan juga bingung," ucap Rahma merasa tak enak.
"Tidak apa-apa. Itu risiko pekerjaan saya untuk selalu siap dengan segala sesuatu yang tak terduga," balas dokter Richard seraya tersenyum kalem. "Jadi, bagaimana?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
"Dalam beberapa hari kemarin saya memang sudah mendapati flek, cuma tidak terlalu banyak. Untuk kali ini jumlahnya menjadi semakin banyak dan warnanya juga lebih merah," tutur Rahma menerangkan. Rona kekaguman yang tadi dia tunjukkan atas keindahan fisik dokter Richard yang tampak begitu memesona, seketika berganti dengan raut gelisah.
"Astaga. Nyonya tidak melakukan aktivitas yang berlebihan, kan?" tanya sang dokter.
"Tidak, Dok. Sesuai anjuran Anda, saya hanya diam di tempat tidur," jawab Rahma pelan. "Apakah itu pertanda kalau ...." Wanita cantik berambut panjang tersebut tak melanjutkan kata-katanya, ketika dia merasakan nyeri yang tiba-tiba muncul dan semakin menjadi.
Seketika Rahma memegangi bagian bawah perutnya yang terasa kram. "Aduh, sakit sekali," keluhnya yang disertai sebuah ringisan.
Dengan sigap, dokter tampan itu membantunya berbaring. Dia pun melakukan beberapa tindakan sebelum Rahma semakin merasa semakin kesakitan. Tanpa banyak berpikir, dokter Richard segera membopong tubuh Rahma. Apa yang dilakukannya telah membuat asisten rumah tangga tadi, yang datang ke sana dengan membawa minum dan juga camilan menjadi ikut panik.
"Nyonya kenapa?" tanyanya.
"Tolong bukakan pintu. Saya akan membawanya ke klinik." Wajah tampan dokter Rhicard terlihat sangat serius saat dirinya membawa Rahma yang kesakitan untuk menuju ke tempat parkir.
...🌹To Be Continue 🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Seperti biasa😍Kali ini othor membawa rekomendasi karya keren untuk kalian nih😍Kuy baca karya author Lena Laiha dengan judul Gadis Bogor. Kuy gercep biar gak ketinggalan ceritanya😍...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...