Sosialita

Sosialita
Rencana Aborsi?


__ADS_3

Langit gelap mulai pudar seiring berjalannya waktu. Siluet kuning terlukis indah di cakrawala timur, siap untuk menyambut kehadiran sang mentari. Penunjuk waktu masih berada di angka lima. Akan tetapi, seorang wanita cantik yang biasa bangun tidur di saat matahari naik ke permukaan, kini sudah berada di dalam kamar mandi. Wanita itu tak lain adalah Rahma, dia duduk di lantai kamar mandi karena lemas setelah memuntahkan cairan ke dalam closet. Ini lah yang terjadi kepada wanita cantik itu sejak beberapa hari ini.


"Aku tidak bisa seperti ini terus! Aku harus melakukan sesuatu," gumamnya dengan suara yang lirih.


Pertemuannya bersama Soraya tadi malam tidak membuahkan hasil, selain hanya kata-kata penyemangat untuk dirinya. Ya, Rahma memaklumi hal itu, karena seniornya itu pun tidak tahu harus bagaimana. Dia sudah mencari solusi. tidak ada yang bisa diterima oleh Rahma. Untuk saat ini, dia hanya membutuhkan satu solusi yaitu tanggung jawab dari Abraham.


Pria paruh baya itu benar-benar menghilang tanpa kabar. Rahma bahkan tak bisa menghubunginya. Nomor kakek dengan dua orang cucu itu pun tidak aktif sejak tadi malam. Rasa frustasi tentu dirasakan wanita yang sedang mengalami morning sickness tersebut.


"Aku harus mencari tempat untuk aborsi. Aku tidak mungkin melahirkan anak ini tanpa seorang suami," pikir Rahma dengan keyakinan penuh.


Setelah merenung sejak tadi malam, Rahma menemukan satu solusi yang tepat untuk masalahnya kali ini. Semalaman dia mencari informasi mengenai klinik yang bisa diajak kerja sama untuk aborsi. Dia tidak peduli lagi meski tindakannya dilarang oleh hukum, karena saat ini dia harus menyelamatkan namanya dari semua kesalahan yang dia sebabkan sendiri. Berhubungan tanpa kejelasan status, tidak pernah menggunakan pengaman dan selalu parkir di dalam. Lalu, bagaimana bisa tidak terjadi pembuahan, mengingat hubungan mereka sering dilakukan tanpa kenal waktu.


"Tua bangka sialan!" umpat Rahma setelah mengingat bagaimana sikap Abraham terhadapnya.


Air mata kembali membasahi pipi. Sekuat apapun kakinya menopang, tetapi nyatanya dia tak mampu untuk menahan tangis. Kesedihan yang dibalut dengan penyesalan tentu telah menghantam pertahanan hatinya. Namun, hidup ini tetap berjalan, jadi menyesal tanpa melakukan apapun rasanya percuma.


"Aku harus bersiap sekarang juga." Rahma bangkit dari tempatnya saat itu.


Satu jam telah berlalu begitu saja dan Rahma sudah rapi dengan midi dress yang membalut tubuhnya. Tanpa sarapan dia keluar dari apartment pemberian Abraham itu. Pergi ke salah satu klinik yang sudah dia kantongi informasinya adalah tujuan pertama simpanan pejabat itu.


Mobil baru pemberian Abraham kala itu membawa Rahma ke salah satu tempat yang cukup jauh dari tempat tinggalnya. Tekad untuk menggugurkan janin yang baru tumbuh selama satu bulan itu telah bulat. Dia sudah tidak perduli apapun resikonya nanti.


"Masih tiga puluh menit lagi." Rahma bergumam setelah melihat layanan map yang dijadikan sebagai panduan menuju klinik kandungan di salah satu daerah yang masih ada di Jakarta.

__ADS_1


Hingga beberapa puluh menit lamanya, mobil mewah yang dikendarai Rahma berhenti di halaman luas klinik bersalin sesuai arahan maps. Dia segera keluar dari mobil dan memasuki klinik tersebut.


"Permisi, saya mau bertemu dokter Ayu. Apakah hari ini ada jadwalnya?" tanya Rahma setelah berdiri di depan bilik pendaftaran pasien.


"Maaf, untuk hari ini dan beberapa minggu ke depan dokter Ayu cuti karena pergi ke luar negeri," ucap petugas pendaftaran.


"Ke luar negeri?" Rahma meyakinkan jawaban petugas tersebut. Dia melenguh setelah mendapat anggukan dari petugas pendaftaran itu, pasalnya menurut informasi yang dia dapatkan, dokter Ayu lah yang biasa melakukan tindakan aborsi.


"Lalu apakah ada dokter kandungan lain yang dinas di sini?" tanya Rahma lagi.


"Ada. Pagi ini ada jadwal praktek dokter Richard. Beliau pun dokter spesialis kandungan yang memiliki banyak pasien di sini," jelas petugas tersebut.


"Baiklah, saya ingin melakukan pemeriksaan dengannya," ucap Rahma. Tidak ada salahnya bukan mencoba melakukan aborsi di dokter yang lain.


Setelah selesai mengurus pendaftaran, Rahma duduk di ruang tunggu untuk mendapat giliran. Pasalnya banyak pasien yang sudah datang sebelum dirinya, alhasil wanita cantik itu harus sabar menunggu.


Sambil menunggu antrian, Rahma membuka ponselnya. Dia memeriksa sosial media dan juga pesan yang masuk. Betapa terkejutnya wanita tiga puluh lima tahun tersebut, ketika mendapat sebuah pesan dari Abraham.


Dek Rahma sayangku. Maaf, aku sedang ada acara dengan si ibu. Jadi, nomor cadangan aku nonaktifkan dulu. Sekarang kamu di mana?


Itulah isi pesan dari Abraham yang membuat Rahma sedikit goyah. Wanita itu pun kemudian membalas pesan tersebut.


Aku di dokter kandungan, Mpap.

__ADS_1


Balasan yang singkat dan tak bertele-tele dari Rahma.


Hubungi aku lagi nanti.


Pesan Abraham lagi. Namun, Rahma tak berminat untuk membalasnya, terlebih karena giliran telah tiba. Rahma memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia lalu berdiri kemudian masuk ke ruangan dokter Richard. Seorang perawat menyambutnya dengan ramah, lalu mempersilakan Rahma untuk duduk. Namun, saat itu sang dokter sedang ke kamar kecil. Barulah setelah beberapa saat, dokter itu pun muncul.


"Maaf menunggu. Saya harus ke kamar kecil sebentar," ucapnya sambil duduk di hadapan Rahma yang terdiam menatap sang dokter.


Dokter Richard ternyata masih terbilang muda dan juga sangat tampan. Rambutnya tersisir rapi, dengan kulit yang terlihat sangat bersih. "Nyonya Rahma Mariana Pujiningdiyah. Silakan," ucap dokter Richard seraya mengarahkan tangannya pada ranjang periksa.


Rahma tersenyum seraya mengangguk pelan. Dia naik ke ranjang dan berbaring. Seorang perawat membantu menyiapkan dirinya untuk melakukan pemeriksaan USG. Setelah itu, dokter Richard duduk di sebelah ranjang sambil menghadap komputer. Dia pun mulai memeriksa kandungan Rahma.


Pria itu terlihat sangat serius memperhatikan layar. Dia tak banyak bicara, tapi tampak meyakinkan. Sesaat kemudian, pemeriksaan pun selesai. Dokter Richard kembali pada meja kerjanya. Dia terlihat menuliskan sesuatu pada selembar kartu.


"Nyonya Rahma. Usia kandungan Anda sudah menginjak lima minggu. Sejauh ini terlihat baik. Jadi, saya berikan resep multivitamin saja. Boleh juga minum susu khusus ibu hamil jika Anda tidak terlalu parah ngidamnya," jelas sang dokter. Dia lalu menyodorkan resep yang telah ditulisnya. Namun, dokter Richard kemudian tertegun saat melihat Rahma tak juga menerima kertas resep darinya. "Apa Anda ada masalah?" tanyanya.


Rahma mengangguk pelan. "Iya, Dok. Saya ingin berkonsultasi," jawab Rahma.


"Apa yang menjadi masalah Anda, Nyonya?" tanya dokter Richard.


"Begini, Dok. Sebenarnya, saya kemari untuk ... untuk ... untuk berkonsultasi tentang masalah aborsi," jawab Rahma. memberanikan diri.


...🌹TBC🌹...

__ADS_1


__ADS_2