
Soraya melepas stiletto yang dia kenakan, kemudian membiarkannya begitu saja di atas lantai. Wanita empat puluh lima tahun tersebut duduk bersandar dengan kepala mendongak, serta kaki yang terulur lurus di atas meja. Soraya lalu memejamkan mata.
Dua hari telah berlalu sejak dirinya mendapatkan kejutan yang teramat luar biasa. Bimbang, itulah yang wanita cantik itu rasakan kini.
"Mama kapan datang?" Suara Beatrice membuat Soraya kembali membuka matanya. Dia juga segera menurunkan kaki dari atas meja, dan duduk dengan sikap yang anggun khas wanita kelas atas. Tatapan janda cantik yang memilih untuk tidak menikah lagi itu, mengikuti gerak sang putri yang duduk tak jauh dari dirinya.
"Hai, Sayang. Mama baru saja datang. Rasanya lelah sekali," jawab Soraya. Dia lalu melepas blazer dan menyisakan kemeja putih di dalamnya.
"Apa mau aku buatkan segelas susu agar Mama bisa tidur nyenyak?" tawar Beatrice.
"Hey, sejak kapan kamu menyeduh susu sendiri? Biasanya juga si mbak yang melakukan itu." Soraya tersenyum, tapi raut wajahnya terlihat keheranan.
"Aku sudah membiasakan diri sekarang, Ma. Kalau aku menikah nanti, aku ingin fokus jadi ibu rumah tangga saja," ujar gadis berambut panjang itu, membuat Soraya menautkan alisnya dan semakin merasa heran.
"Kamu yakin?" Soraya menatap aneh kepada putri semata wayangnya.
"Ya, tentu. Aku ingin tinggal di rumah sederhana saja agar tidak terlalu lelah saat membersihkannya." Beatrice mengempaskan napas pelan. Dia lalu terdiam sejenak. Entah apa yang tengah gadis itu pikirkan. Mungkin saja sama dengan yang ada dalam benak seorang Soraya.
"Apa kamu tahu tentang ayah Dirga yang sebenarnya?" tanya Soraya memecah kebisuan yang berlangsung beberapa saat di antara mereka berdua.
"Waktu itu Dirga pernah bercerita padaku kalau ternyata ayah kandung dia yang sebenarnya, bukanlah pria yang selama ini dia anggap sebagai ayah. Akan tetapi, Dirga tidak menjelaskan dengan detail bahwa orang itu adalah om Sudiro. Aku juga sama terkejutnya dengan Mama," terang Beatrice.
"Ya, siapa sangka bahwa dia dan Reyhan ternyata masih satu ayah. Ini sungguh di luar dugaan," timpal Soraya.
__ADS_1
"Lalu, setelah Mama tahu yang sebenarnya ... apa Mama akan merestui hubunganku dengan Dirga?" Ragu, Beatrice menanyakan hal itu kepada Soraya. Gadis cantik tersebut sadar bahwa pertanyaan yang dia ajukan memang terlalu sensitif dan mungkin akan menyinggung sang mama.
"Maksudmu?" Soraya menatap lekat putri semata wayangnya. "Kamu pikir Mama terlalu matrealistis?" Soraya berdecak pelan.
"Ya, tapi satu-satunya alasan Mama kan memang status sosial dan keadaan ekonomi keluarga Dirga," sahut Beatrice kemudian .
"Astaga, Bea. Dengarkan Mama, Sayang." Soraya membetulkan sikap duduknya. "Mama akui jika dulu merasa ragu dengan masa depan kalian jika sampai harus menikah dan ... tapi, perlahan semua pikiran itu berangsur sirna setelah Mama tahu bahwa Dirga adalah seorang pekerja keras. Materi bisa dicari, tapi sikap tanggung jawab dalam diri tidak dimiliki oleh setiap pria. Itu yang utama," jelasnya.
"Apa itu artinya Mama sudah mulai menyukai Dirga sejak lama?" pancing Beatrice.
"Mama yang merencanakan pertemuan kalian di cafè malam itu. Kamu pikir dalam hidup ini sebuah kebetulan yang benar-benar sempurna?" Soraya mengempaskan napas pelan.
"Oh, sudah kuduga," ujar Beatrice menanggapi. "Aku sudah memperkirakannya dari awal, tapi aku menunggu Mama yang mengatakan ini secara langsung padaku," ucap gadis itu lagi.
"Ya, baguslah. Dengan begitu kamu tidak akan berpikir negatif terus tentang mamamu lagi." Soraya kembali menyandarkan tubuhnya seraya memijit kening.
"Sungguh?" Soraya menautkan alisnya karena tak percaya.
"Iya. Untuk apa aku berbohong? Itulah kenapa kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari luarnya saja." Gadis cantik berambut cokelat tadi menatap Soraya dengan lekat. Sesaat kemudian, putri semata wayang Soraya tersebut tersenyum manis. "Bagaimana jika kita undang Dirga dan keluarganya untuk makan malam di sini?" cetus Beatrice seraya memainkan alisnya.
"Ah, tidak. Kamu ingin mempermalukan mamamu sendiri? Dirga dan keluarganya pasti akan semakin berpikiran bahwa Mama memang seorang ibu yang matrealistis," tolak Soraya dengan segera.
Akan tetapi, Beatrice justru tertawa pelan. "Ya ampun, Ma. Sudah kubilang bahwa Dirga telah mengetahui jika Mama sudah berubah pikiran. Aku rasa, bu Astuti juga tidak akan berpikiran begitu. Mama terlalu berlebihan."
__ADS_1
"Tidak, tidak. Mama tidak ingin mengambil risiko." Soraya tetap menolak.
"Ayolah, Ma. Biar aku yang mengatur semuanya. Aku pastikan tak akan pernah ada pikiran buruk apapun dari Dirga dan bu Astuti terhadap Mama. Mau ya, Ma. Aku mohon," bujuk Beatrice sambil menggenggam tangan Soraya.
"Tolonglah, Bea. Mama mohon jangan begitu. Jangan buat Mama malu." Soraya kembali memijat pangkal hidungnya setelah mendengar rengekan Beatrice tentang rencana itu.
Suara dering ponsel yang ada dalam genggaman tangan Beatrice terdengar di sana. Gadis bermata cokelat itu mengembangkan senyumnya ketika melihat siapa yang sedang menghubunginya. Dia segera menerima panggilan tersebut. Suara merdunya terdengar di sana.
Soraya hanya diam saja saat menyimak obrolan putrinya. Janda cantik itu sedang mempertimbangkan permintaan Bea tentang makan malam bersama keluarga Dirga. Tentu rencana itu bukanlah rencana yang tepat. Dia belum siap jika ibunya Dirga melayangkan sindiran atau kata-kata pedas untuknya, mengingat pembicaraannya kala itu bersama Astuti dan Dirga.
"Ma, ada kabar baik," ucap Beatrice setelah selesai berbicara dengan Dirga lewat sambungan telfon.
Soraya kembali membuka kelopak matanya. Dia menatap Beatrice yang sedang tersenyum bahagia. Ada rasa penasaran yang begitu besar dalam diri janda cantik tersebut, "apa itu? Katakan, Be," ujar Soraya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah putrinya.
"Besok malam Dirga dan orang tuanya akan datang ke mari, Ma. Ini kebetulan yang sempurna bukan? Jadi Mama tidak akan malu saat bertemu dengan mereka," jelas Beatrice dengan senyum lebar setelahnya. Dia sepertinya sangat bahagia setelah mendengar kabar baik yang baru saja disampaikan oleh kekasihnya.
"Sungguh, Be? Bukan kamu yang mengundang mereka?" Soraya sepertinya belum percaya akan kebenaran kabar tersebut.
"Iya, Ma. Dirga sendiri yang mengatakan jika akan datang. Mama mendengar sendiri bukan bagaimana pembicaraanku?" Beatrice mengela napas pelan karena hal itu.
Soraya bernapas lega karena makan malam antar dua keluarga akan tetap berlangsung tanpa dirinya yang mengundang. Janda cantik itu mulai berpikir apa saja yang akan dipersiapkan di hari esok. Tentu dia tidak mau menjamu calon besannya dengan makanan ala kadarnya.
"Be, besok pagi kita harus mencari gaun yang cocok untuk menyambut Dirga dan keluarganya. Mama tidak mau kamu memakai gaun lamamu. Pokoknya besok kamu harus terlihat cantik!" ujar Soraya setelah termenung beberapa saat.
__ADS_1
...🌹To Be Continue 🌹...
...Maaf ya sayangku karena jarang up😭...