
Kebekuan di antara dua sejoli labil itu perlahan mulai mencair. Senyum manis milik Dirga kembali mengembang di sana seusai kesalahpahaman dengan Beatrice berakhir. Begitu pun dengan Beatrice, gadis yang memiliki mata berwarna cokelat itu pun akhirnya bisa menatap sang kekasih dengan penuh cinta. Dia merasa lega setelah tahu jika Dirga hanya menjadi miliknya bukan gadis lain.
"Aku harap hal-hal seperti ini tidak terjadi di hari esok dan selanjutnya. Aku ingin kamu lebih terbuka. Jangan memendam masalah sendiri karena semua orang tidak tahu bagaimana isi hatimu." Dirga meraih telapak tangan Beatrice dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku akan berusaha lebih baik setelah ini," ucap Beatrice dengan diiringi senyum yang sangat manis.
Senyum manis kembali mengembang dari sudut bibir Dirga setelah mendengar jawaban dari Beatrice. Sementara tatapan matanya tak lepas dari wajah cantik sang kekasih. Tatapan penuh cinta dari Beatrice dia dapatkan kembali setelah sempat menghilang beberapa hari lamanya.
"Kamu mau pesan minum apa?" tanya Beatrice setelah sadar jika hanya ada air mineral yang ada di hadapan Dirga. Itu pun Soraya yang memesannya.
"Bisakah aku pulang saja sekarang. Aku takut mengganggu waktumu bersama mamamu," ucap Dirga tanpa melepaskan pandangan dari wajah Beatrice.
"Jangan!" cegah Beatrice, "aku yakin jika semua ini adalah rencana mama dan teman-temannya. Tunggu saja, pasti Mama tidak akan kembali. Tidak mungkin bukan jika ke toilet selama ini, mereka pasti bersembunyi di sekitar sini," jelas Beatrice sambil mengedarkan pandangan.
Sementara itu ketiga wanita sosialita yang sedang bersembunyi di balik dinding cafe di bagian samping segera menegakkan tubuh, setelah melihat Beatrice mengedarkan pandangan. Ketiganya bersandar di dinding berwarna putih itu. Mereka bernapas lega karena Beatrice tidak melihat keberadaan mereka.
"Untung saja kita gak ketahuan si Bea!" ujar Soraya sambil mengusap dadanya.
"Hmmm kalau kita ketahuan bisa kacau. Bisa jadi Bea ikut sebel sama kita kan Den," ucap Astrid seraya mengalihkan pandangan ke arah Dena yang ada di sisinya.
"Iya lah! Aku gak mau lihat bibir manyunnya. Biar Soraya aja yang merasakan sendiri," sahut Dena, "eh, tapi kita gak nyari tempat duduk nih? Masa cuma berdiri doang di sini?" Dena menatap kedua sahabatnya.
"Tapi kita duduk di mana? Masa iya kita duduk di dekat tempat Bea?" Soraya terlihat bingung karena tidak mungkin bukan jika harus duduk di ruang yang sama dengan putrinya.
Tanpa menjawab pertanyaan Soraya, Astrid menganyunkan langkahnya untuk mencari tempat yang aman. Dia melihat ada beberapa sekat ruang yang ada di bagian luar cafe tersebut. Sepertinya ruang-ruang tersebut adalah tempat VVIP yang tersedia di sini. Biasa dipakai rapat atau pertemuan tertutup.
"Ayo kita masuk ke sana saja! Lebih aman di sana!" tunjuk Astrid ke arah ruang VVIP.
__ADS_1
Soraya dan Dena pun mengikuti langkah ratu lebah menuju ruangan tersebut. Terlihat ada seorang waiter yang menyambut kedatangan mereka di sana. Namun, baru saja mereka berdua sampai di tempat Astrid berada, Dena menghentikan langkahnya.
"Eh, aku ke toilet sebentar deh. Pengen pipis," pamitnya sebelum pergi, "titip hand bag ku ya! Aku takut ketinggalan di toilet," ucapnya sambil menyerahkan hand bag hitam miliknya kepada Soraya.
"Ya udah sono! Kalau ngompol di sini kan berabe," ujar Soraya sambil menerima hand bag dari Dena.
"Hei Perawan tua! Ingat ruangan kita VVIP 03! Awas salah masuk!" Astrid mengingatkan Dena setelah mendapat ruangan yang masih kosong agar tidak salah memasuki ruangan.
"Iya ... iya! Bawel banget sih!" cibir Dena sebelum pergi dari hadapan Astrid dan Soraya.
Lajang empat puluh lima tahun itu segera mencari toilet untuk menuntaskan sesuatu yang sudah mendesak. Hingga sepuluh menit kemudian, Dena keluar dari toilet. Dia melangkahkan kakinya menuju area ruangan VVIP yang ditempati Soraya dan Astrid.
"Tunggu. Tadi ratu lebah bilang tiga atau dua ya?" gumam Dena setelah sampai di depan ruangan VVIP, "sial! Mana handphone ku ada di Soraya lagi!" umpat Dena saat meraba saku celananya.
Wanita itu berpikir sejenak sebelum nekat masuk ke dalam ruangan, karena akan dirasa sangat tidak sopan jika sampai salah masuk ruangan. Apalagi ini ruangan VVIP, jelas bukan orang sembarangan yang masuk ke dalam tempat ini. Dena sempat mencari waiter yang tadi ada di sana, akan tetapi tidak ada satu pun yang berjaga di balik cafe bar.
Dena mengedarkan pandangan untuk memastikan keadaan aman. Perlahan wanita cantik itu mulai menyentuh gagang pintu dan berniat untuk menariknya. Namun, belum sempat gagang pintu itu terbuka, Dena dikejutkan dengan tepukan di bahunya. Dia terkesiap tetapi tak segera membalikkan badan. Tentu wanita cantik itu sedang merangkai kata-kata jika sosok yang ada di belakangnya bertanya.
"Siapa Anda? VVIP 02 adalah ruangan yang sudah saya pesan." Terdengar suara bariton seorang pria di balik tubuh ramping itu.
Dena mengernyitkan keningnya karena tidak asing dengan suara tersebut. Dia sepertinya pernah mendengar suara pria itu tapi dia sendiri lupa entah di mana. Rasa penasaran yang besar membuat Dena segera membalikkan badan.
"Kamu?" Dena memicingkan matanya setelah tahu siapa yang berdiri di hadapannya, "emmm ... namamu ... siapa sih! Pakai lupa lagi!" Dena menggerutu karena lupa dengan pria yang sudah tiga kali ini dia jumpai.
"Alex," ucap pria tersebut dengan singkat.
"Ah ya. Aku ingat sekarang jika namamu Alex," ucap Dena sambil manggut-manggut.
__ADS_1
"Iya lah! Aku kan baru saja memberitahumu. Dasar wanita aneh!" cibir Alex. Pasalnya pria tampan itu merasa kesal karena harus bertemu dengan Dena di tempat ini.
"Hei! Jaga bicaramu!" Dena mengarahkan jari telunjuknya ke arah Alex, "kamu itu yang aneh! Aku mau masuk ruanganku tapi situ halangi!" cerocos Dena sambil berkacak pinggang.
"Hei! Ruangan yang ada di belakangmu adalah ruangan yang sudah aku pesan untuk bertemu dengan teman-temanku!" Tentu Alex tidak terima saat dituduh Dena seperti itu, "mungkin kamu yang salah ruangan, ya ... bisa saja seperti dulu, kamu salah mobil dan tidak tahu di mana mobilmu. Tapi kali ini aku tidak terima jika kamu salah masuk ke ruanganku!" Alex mencoba mengingatkan lagi kejadian yang sempat dia alami dulu.
Tentu Dena merasa malu setelah Alex membahas masalah itu. Dia membuang muka ke arah lain karena tidak mau jika Alex melihat hidungnya yang kembang kempis.
"Hmmm ... aku tahu pasti kamu sedang menyembunyikan PSK ya di dalam!" Tanpa berpikir panjang, Dena menuduhkan hal itu kepada Alex dengan suara yang lantang hingga membuat mata Alex terbelalak sempurna.
Pria tampan itu membungkam mulut Dena dengan telapak tangannya dan dia reflek mendorong Dena hingga tubuh sexy itu bersandar di dinding yang ada di sisi pintu. Alex merasa malu saja jika ada yang mendengar perkataan Dena tentang dirinya.
"Hei! Jaga bicaramu! Aku bisa malu kalau ada yang mendengar!" bisik Alex tanpa melepaskan tangannya dari mulut Dena meski wanita itu berusaha keras melepaskan diri darinya.
"Dena! Wah ... wah ... wah!"
Sang pemilik nama langsung saja mengalihkan pandangan setelah mendengar namanya disebut. Dia semakin terbelalak karena kehadiran seseorang di sana.
...🌹To Be Continue 🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Rekomendasi untuk kalian nih❤️kuy baca juga karya author Yanktie Ino dengan judul Beetwen Qatar And Jogja. Gercep yak! Biar gak ketinggalan kisahnya😍...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1