
Pernyataan yang baru saja diucapkan oleh Beatrice berhasil membuat Dirga bungkam. Pria berparas manis itu cukup terkejut setelah mendengar tuduhan sang kekasih, karena selama ini dia tidak merasa pernah dekat dengan gadis manapun selain Beatrice. Apalagi, di depan toko yang ada di depan gang rumahnya.
"Toko kelontong mpok Ida maksudmu?" Dirga memastikan tempat yang dimaksud Beatrice, karena hanya toko kelontong itulah yang ada di sana.
"Mana aku tahu itu toko siapa! Yang pasti aku melihatmu duduk di sana dengan seorang gadis. Kalian sangat dekat dan juga tertawa bahagia bersama, seakan dunia ini hanya milik berdua saja. Gadis yang ada di sampingmu sampai berani meletakkan tangannya di atas pundakmu. Aku tidak menyangka saja sikapmu seperti itu kepada gadis lain!" Beatrice membuang muka ke arah lain setelah mengeluarkan semua unek-unek yang membuatnya resah akhir-akhir ini.
Dirga tertegun setelah mendengar penjelasan panjang sang kekasih. Dia tidak menyangka jika semua itu yang membuat Beatrice cemburu. Akan tetapi, dia sendiri belum bisa memastikan siapa gadis yang dimaksud oleh Beatrice. Pria berparas manis itu pun mulai mengingat kapan terakhir kali dirinya duduk di depan toko kelontong milik mpok Ida.
"Kenapa hanya diam saja? Apa kamu bingung mencari alasan?" cibir Beatrice dengan tatapan sinis. Gadis cantik itu terlihat sangat kesal dengan sikap bungka Dirga.
"Diamlah dulu. Aku sedang mengingat-ingat kejadian yang kamu maksud," protes Dirga tanpa menatap Beatrice.
Bayang-bayang wajah Maryati mulai hadir dalam pikiran Dirga. Dia mulai mengingat kapan dan dengan siapa dirinya terakhir kali di tempat mpok Ida. Pria dua puluh lima tahun itu pun dapat memastikannnya dengan jelas kini. Saat itu, Dirga memang sedang duduk di sana untuk melepas penat dan membicarakan mak Ijem yang meresahkan di kampungnya. Ya, kini Dirga tahu siapa gadis yang dimaksud oleh Beatrice.
"Apakah gadis yang kamu lihat bersamaku memiliki kulit putih dan rambutnya hitam sebahu?" Dirga memastikan ciri-ciri Maryati kepada Beatrice.
"Ya." Beatrice menjawab dengan singkat dan jelas.
"Astaga! Dia adalah anak pemilik toko kelontong itu, namanya Maryati. Dia masih duduk di bangku SMA. Lagi pula, aku tidak ada hubungan apapun dengan dia. Aku hanya menganggap Maryati sebagai adikku sendiri. Hubungan kami memang akrab, karena terkadang dia meminta bantuanku untuk urusan tugas-tugas sekolahnya," jelas Dirga kepada Beatrice. Raut wajah dan pembawaannya kini sudah mulai terlihat tenang.
__ADS_1
"Terus kamu sendiri kenapa tidak keluar dari mobil dan menemuiku secara langsung waktu itu? Kenapa kamu harus membiarkan kesalahpahaman ini berlarut-larut? Kamu malah menghilang, tak ada kabar dan pergi ke Spanyol tanpa pamit dulu padaku, " ujar Dirga tanpa melepaskan pandangan dari Beatrice.
"Kenapa kamu jadi menyalahkan aku! Kamu yang memulai semua ini kan!" Beatrice tidak terima setelah mendengar Dirga menyalahkannya dalam hal ini.
Sementara Dirga hanya menggeleng pelan. Sepertinya dia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan masalah tersebut kepada kekasihnya yang memang masih labil. Dia hanya menatap Beatrice dengan lekat dan memikirkan jalan keluar atas semua itu. Jujur saja bahwa dirinya merasa kecewa dengan sikap yang ditunjukkan Beatrice dalam menghadapi masalah yang dihadapi mereka berdua.
"Kapan kamu akan belajar untuk bisa lebih dewasa? Aku tahu kamu adalah gadis yang biasa mendapatkan segala hal tanpa harus bersusah payah terlabih dahulu, tak tahu apa artinya kerja keras. Namun, kupikir seiring berjalannya waktu dan bertambah usia, maka kedewasaan itu akan muncul dalam dirimu. Sayangnya aku keliru," ucap Dirga dengan intonasi yang terdengar lemah.
"Hubungan kita memang belum lama, tapi juga tak terhitung baru. Apa kamu masih belum bisa menilai seperti apa karakterku?" Dirga menggeleng tak mengerti dengan jalan pikiran gadis di hadapannya.
"Dengarkan aku, Bea. Jangankan untuk berselingkuh darimu, seluruh konsentrasiku kini tengah fokus tertuju pada rencana masa depan. Aku bukan orang kaya yang hari ini menginginkan sesuatu dan bisa kudapatkan esok. Aku sama sekali tak memiliki niat atau pikiran nakal seperti yang kamu tuduhkan tadi," ujar Dirga lagi.
"Aku tidak menuduh. Waktu itu aku berharap kamu memberikan sebuah penjelasan padaku, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah kesal, menghindariku dan pergi tanpa penjelasan apapun. Lalu, kamu semakin menambah runyam masalah dengan berpikir macam atas diriku yang juga jauh dari kenyataannya," jelas Dirga.
"Dengarkan aku, Bea. Cobalah untuk bicara dan ungkapkan apa yang ada dalam hatimu, segala unek-unek yang kamu simpan. Sama halnya dengan rasa tidak sukamu akan segala hal yang bu Soraya lakukan. Seandainya kamu mau berbicara dengan baik-baik dari hati ke hati, aku yakin mama pun pasti akan dapat memahami keinginan putrinya. Berbeda jika kamu tak mengatakan apapun seakan semua baik-baik saja. Siapa yang bisa menebak isi hati seseorang? Menjalin komunikasi yang terbuka akan jauh lebih baik," saran Dirga dengan tutur kata tenang dan lembut. Dia sudah dapat menemukan titik kunci dari permasalahannya.
Sementara itu, Beatrice hanya terdiam. Tampaknya gadis itu pun mulai mencerna segala ucapan Dirga.
"Sekarang begini saja. Berikan keputusanmu padaku, apakah kamu masih ingin melanjutkan hubungan ini atau kita sudahi saja? Aku tidak bisa memaksakan pemikiranku padamu. Aku hanya memiliki sedikit harapan untuk kebersamaan kita selama ini. Entah itu menjadi sesuatu yang istimewa untuk kamu atau tidak. Aku terlalu lelah jika harus memikirkan segala masalah dalam waktu yang bersamaan. Lelah fisik dapat kuatasi dengan beristirahat, tapi lelah pikiran ...."
__ADS_1
"Kamu ingin kita putus?" tanya Beatrice pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ada rasa tak rela dalam dirinya tentang hal itu.
"Aku ikuti saja apa maumu," jawab Dirga.
"Kalau aku tidak mau?" Sikap manja Beatrice mulai terlihat dengan jelas.
Dirga tersenyum simpul. Ditatapnya gadis cantik berdarah Spanyol itu dengan penuh kasih. Dia lalu mencoba untuk meraih tangan si gadis yang yang berada di atas meja. Beatrice pun kemudian mengulurkan tangan ke tengah, sehingga Dirga semakin mudah saat menggenggamnya. "Kamu pikir aku akan dengan mudahnya melepaskan kamu. Meskipun kamu sangat manja dan terkadang egois, tapi aku juga sadar bahwa diriku bukanlah pria yang sempurna. Jika memang kamu masih ingin melanjutkan hubungan ini, maka mari kita perbaiki segala hal yang keliru dan tak sesuai."
"Aku akan berusaha untuk menjadi lebih dewasa lagi. Aku janji padamu."
"Tidak, Bea. Kamu tidak perlu memaksakan diri seperti itu. Lakukan segalanya dengan perlahan. Biarkan ini mengalir apa adanya."
...πΉTo Be Continue πΉ...
...ββββββββββββββββ...
...Hallo semua π Ada rekomendasi karya keren untuk kalian nihπkuy baca karya author Ria aisyah dengan judul Terpaut 20 tahun. Nah, kepo gak nih sama judulnya?π...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·π·π·...