Sosialita

Sosialita
Jangan Egois, Nak!


__ADS_3

Soraya terus mengamati setiap hal yang ada ruang tamu tersebut. Pandangan janda cantik empat puluh lima tahun itu kemudian terkunci pada sebuah foto keluarga. Bukanlah foto dengan ukuran besar dan berbingkai penuh ukiran dengan warna emas, melainkan hanya selembar dengan ukuran 10 R berbungkus plastik bening agar terhindar dari debu. Foto tadi menempel di dinding dengan menggunakan selotip bening pada tiap sudutnya.


Di sana terlihat Dirga bersama kedua orang tua serta seorang anak remaja yang pastinya adalah adik dari Dirga. Meskipun pose dan latar dalam foto tadi terlihat sangat sederhana, tapi terpancar ada kehangatan dari kebersamaan yang tak dibuat-buat hanya demi sebuah hasil jepretan indah dipandang mata.


"Selamat sore," sapa seorang pria yang tiada lain adalah Dirga. Dia sudah berdiri di ruang tamu tadi dengan tampilannya yang terlihat sangat segar.


"Selamat sore," balas Soraya seraya berdiri untuk menyambut sang tuan rumah. Tak lama kemudian, muncul Astuti yang membawa tiga cangkir teh dan menyajikannya di atas meja, bersamaan dengan Dirga yang mempersilakan Soraya untuk kembali duduk. "Ada perlu apa ya, Bu?" tanya Dirga kemudian setelah melihat Soraya yang berusaha untuk duduk dengan senyaman mungkin. "Maaf, kursi di rumah saya tidak seempuk yang ada di kediaman mewah Ibu," sindir Dirga yang melihat sikap Soraya.


"Ga, kenapa bicara seperti itu? Tidak sopan, Nak," tegur Astuti yang dapat menangkap raut serta nada bicara aneh dari putranya.


"Itu kenyataannya, Bu. Ibu harus memastikan cangkir ini sangat bersih dan higienis. Barulah ibu Soraya mau mencicipi teh yang sudah Ibu sajikan," sahut Dirga dengan nada bicara sinis penuh sindiran.


"Dirga, Nak. Ibu tidak pernah mengajarkanmu untuk bersikap seperti itu," tegur Astuti lagi dengan raut tak setuju.


"Tidak apa-apa. Lagi pula, saya kemari bukan untuk numpang minum teh," balas Soraya yang masih berusaha untuk menjaga imagenya. "Saya kemari untuk membahas masalah Beatrice," tegasnya.


"Bukannya dia sedang berada di Spanyol? Dia bahkan pergi ke sana tanpa pamit terlebih dulu," sanggah Dirga.


"Dia sudah kembali. Kebetulan kemarin kami pergi berdua ke sana," jawab Soraya dengan sikap dan gaya bicaranya yang menunjukkan bahwa dia berasal dari kalangan atas. "Beatrice memaksa untuk pergi ke Madrid tanpa saya ketahui apa alasannya. Namun, kenyatataannya dia di sana masih saja terlihat murung. Setelah kembali ke Indonesia, dia baru bercerita bahwa semua itu karena kamu Dirga," tutur Soraya dengan tatapan lekat tertuju kepada pria muda di hadapannya.


"Karena saya? Apa salah saya padanya?" tanya Dirga tak terima. "Bea yang memulai. Saya tidak melakukan apapun," bantah Dirga tegas. "Lagi pula, ini adalah urusan pribadi. Seharusnya dia yang datang menemui saya, bukan Anda."


"Saya adalah ibunya. Bea putri saya satu-satunya. Dia tidak mengetahui sama sekali tentang kunjungan ini, karena ini adalah murni inisiatif saya sendiri," jelas Soraya.


"Apapun alasan Anda, apa etis jika saya berbicara tentang masalah hubungan kami kepada Anda, yang jelas-jelas tidak menyukai kedekatan kami berdua? Maaf Bu Soraya, saya tidak akan berbicara apapun jika bukan Bea sendiri yang datang," tolak Dirga tak kalah tegas.


"Bea tak ingin bertemu kamu. Itu yang dikatakannya kemarin," ujar Soraya yang seketika membuat Dirga terhenyak. "Sejujurnya saja bahwa putri saya memang belum sepenuhnya bisa bersikap ataupun berpikir secara dewasa. Usianya memang sudah dua puluh dua tahun, tapi dia terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya. Satu hal yang paling penting adalah ... Bea tidak suka menerima kekecewaan," tegas Soraya dengan tatapan yang masih tertuju kepada Dirga.


Sementara Astuti yang sejak tadi hanya menyimak, akhirnya ikut bersuara. "Jika boleh saya tahu, sebenarnya ada apa ini?" tanya janda dua anak itu.


"Aku tidak tahu, Bu. Bea tiba-tiba tidak bisa dihubungi. Lalu, tak lama kemudian aku melihatnya sedang berada di Spanyol. Bea tidak mengatakan apapun padaku, dia bahkan tidak membalas satu pun pesan yang kukirimkan. Padahal, jika ditelisik dari masalah yang terjadi dalam hubungan kami berdua, dialah yang memulainya," tutur Dirga kepada Astuti.

__ADS_1


"Memangnya apa yang sudah Bea lakukan?"


"Dia ...." Dirga menjeda kalimatnya, karena saat itu terdengar suara dering ponsel yang pasti bukan milik dia. Dari suaranya saja, telah diketahui bahwa itu berasal dari ponsel mahal.


Benar saja. Tak lama kemudian, Soraya mengeluarkan sebuah ponsel mahal miliknya dari dalam tas. Nama Beatrice tertera di layar. Dengan segera, Soraya menjawab panggilan tersebut. "Sayang," sapanya.


"Apa mama akan pulang cepat hari ini?" terdengar suara lembut Beatrice dari seberang sana.


"Iya. Mama akan segera pulang," jawab Soraya. Dia lalu menutup sambungan teleponnya. Wanita cantik itu kemudian memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. "Maaf, saya harus segera pulang karena sudah ada janji dengan Beatrice," pamit Soraya.


"Silakan," jawab Dirga datar. Dia lalu beranjak dari duduknya bahkan sebelum Soraya pergi dari sana, membuat Astuti merasa tak enak hati.


"Bu Soraya, tunggu," cegahnya sebelum janda cantik itu berlalu dari ruang tamu rumahnya.


"Ada apa, Bu Astuti?" tanya Soraya. Dia yang sudah hendak pergi, tertegun untuk sejenak kemudian menoleh kepada ibunda Dirga tersebut.


"Saya sama sekali tidak tahu ada masalah apa antara Dirga dengan Bea. Namun, kita sama-sama seorang ibu, tentunya kita ingin yang terbaik untuk putra-putri kita," ucap wanita dengan tampilan sederhana itu. Sesuatu yang sangat jauh berbeda dengan penampilan Soraya.


"Ya, itu sudah pasti. Karena itulah saya sangat berhati-hati dalam memilihkan siapa pun pria yang berusaha mendeketi Beatrice," balas Soraya.


"Beberapa waktu ke belakang, Bea pernah datang kemari. Dia menghabiskan waktu di sini selama seharian. Bea meminta saya untuk mengajarinya memasak," tutur wanita itu lagi.


"Saya menyukai putri Anda, bukan karena kecantikan fisik ataupun status sosialnya semata. Saya melihat jika Bea adalah gadis yang sangat istimewa. Saya yakin dia mendapatkan keistimewaan itu pasti dari Anda sebagai ibunya. Seorang ibu memiliki peran yang amat penting untuk membentuk karakter anak-anaknya. Maaf, Anda pasti jauh lebih tahu tentang hal itu," ucap Astuti kemudian.


Soraya terdiam sejenak. Dia menatap Astuti dengan lekat. Wanita di hadapannya itu teramat sederhana, sangat jauh dengan dia dan juga ketiga sahabatnya.


"Bea selalu mengatakan bahwa Dirga adalah pria yang baik. Sekarang saya tahu dari mana asal karakter tersebut. Maaf jika saya terlalu kasar," ucap Soraya.


"Permisi," pamit janda cantik itu sebelum pergi dari kediaman Astuti.


Sementara Astuti hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa bisa mencegah kepergian Soraya. Dia mengela napas setelah Soraya benar-benar hilang dari pandangannya. Kini, sepertinya Astuti harus bicara dengan Dirga mengenai masalah ini. Tentu sebagai seorang ibu, Astuti pun tidak mau putranya memiliki masalah.

__ADS_1


"Ga, kenapa kamu melakukan semua ini? Seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu, terlebih bu Soraya adalah ibunya Bea," tutur Astuti setelah masuk ke dalam kamar Dirga dan duduk di tepian ranjang.


"Bu." Pandangan Dirga tak lepas dari sosok wanita yang tengah menatapnya saat ini, "aku tahu apa yang sudah aku lakukan tadi adalah sebuah kesalahan dan sangat tidak sopan. Akan tetapi saat aku melihat wajah bu Soraya, aku tidak bisa melupakan penolakan dan kata-kata beliau kala itu, saat aku mengantarkan Bea pulang." Dirga berdecak kesal karena situasi ini. Dia mengubah posisi menjadi menyamping sehingga bisa bertatapan dengan ibunya.


Astuti tertegun setelah mendengar jawaban dari putranya. Tanpa bertanya, dia sendiri sudah bisa menebak kejadian apa yang membuat Dirga bersikap seperti ini. Tentu Astuti paham jika saat itu Soraya tidak bisa menerima putranya karena status ekonomi mereka. Astuti mulai resah akan hal itu. Sebagai seorang ibu, dia merasa sedih saat melihat wajah frustasi putra sulungnya.


"Tapi, Ga. Tidak seharusnya kamu membiarkan hubungan ini larut dalam kesalahpahaman. Semestinya kamu bicara dengan Bea, Nak." Astuti memilih untuk membahas Beatrice saja karena takut Dirga semakin emosi jika membahas Soraya.


"Bu, aku ini seorang pria. Harga diriku terluka ketika Bea bersikap seperti itu kepadaku. Dia yang bersalah, tetapi dia hanya diam dan memilih pergi tanpa memberiku kabar. Menurut ibu apakah yang dilakukan Bea adalah benar?" Bukannya tenang, Dirga justru semakin kesal saat mengingat sikap yang ditunjukkan kekasihnya itu.


Astuti tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena dia sendiri belum tahu masalah apa yang membuat Dirga dan Beatrice seperti ini. Astuti menatap wajah putranya dengan lekat sambil mencari solusi untuk masalah kedua sejoli ini.


"Sebuah hubungan tidak akan bisa berjalan dengan baik jika keduanya sama-sama egois. Harus ada salah satu diantara kalian yang mengalah. Sejak kapan kamu seperti ini, Ga? Ibu tidak pernah mengajarkan kamu menjadi pria egois. Jika Bea bersikap seperti itu kepadamu, mungkin dia memiliki alasan yang tidak kamu ketahui dan tugasmu adalah menemuinya untuk menyelesaikan masalah," tutur Astuti sambil mengusap tangan putranya dengan lembut.


"Bu, sudah aku katakan sebelumnya, aku tidak bersalah. Bea yang bersalah karena sudah main belakang dengan pria lain yang jauh lebih baik dariku." ujar Dirga dengan wajah yang terlihat sangat kesal.


"Tanyakan pada hatimu, Ga! Apa mungkin Bea melakukan semua itu? Bukankah kamu sudah mengenal Bea sejak lama? Seharusnya kamu tahu kan bagaimana karakter Bea?" Astuti masih berusaha menyadarkan putranya dari sikap tidak benar ini.


"Tapi Marry melihat sendiri jika Bea bersama kakak temannya, Bu. Asal Ibu tahu, bu Soraya sempat mengenalkan pria itu kepada Bea. Lalu apakah salah jika aku marah karena hal itu?" Dirga semakin kesal karena harua mengingat semua cerita yang berhubungan dengan Beatrice dan Reyhan.


"Astaga. Jadi kalian menjadi seperti ini karena kabar burung yang disampaikan oleh Marry anaknya mpok Ida itu?" Astuti terkejut setelah mendengar pengakuan dari Dirga, "Ga, cemburu itu boleh, asal jangan cemburu buta, karena semua itu bisa membuat kita terluka. Kamu salah, Nak, jika bersikap seperti ini kepada Bea. Temui dia dan bicaralah baik-baik," tutur Astuti dengan suara yang terdengar lembut.


Dirga menghembuskan napas yang berat setelah mendengar nasihat ibunya. Tentu dia tidak akan melakukan semua itu karena tidak merasa melakukan kesalahan. Biar bagaimanapun Dirga ingin Beatrice yang datang dan menjelaskan alasan dari sikapnya itu.


"Sudahlah, Bu. Kita tidak usah membahas ini. Aku lelah dan ingin istirahat," ucap Dirga sambil mengubah posisinya membelakangi Astuti.


...🌹To Be Continue 🌹...


...âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–âž–...


...Selamat pagi semua😘Hmmm lagi nyari novel seru gak hari ini? Aku ada loh rekomendasi karya keren untuk kalian🤭Yuk kepoin karya dari author Thatya0316 dengan judul Pernikahan Tanpa Hati. Jangan sampai lupa yak🤭...

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2