Sosialita

Sosialita
Sikap Manja Rahma,


__ADS_3

"Dek Rahma sayang ... kamu di mana, Dek?" Suara Abraham menggema di dalam apartment yang ditempati oleh kekasih gelapnya itu.


Seketika, Rahma membuka kelopak matanya setelah mendengar suara tuyul senior yang selama ini membuat hidupnya terasa layak dan glamour, "Aku di kamar, Mpap!" sahut Rahma saat mendengar suara Abraham yang tak henti memanggilnya.


Tak berselang lama, pintu kamar itu pun akhirnya terbuka lebar. Sosok pria paruh baya yang ditunggu oleh Rahma sejak tadi pagi akhirnya muncul, meskipun saat itu sudah menjelang siang. Mungkin, pejabat negara tersebut baru memiliki alasan untuk keluar dari kantor dan menemuinya. Sebuah pembenaran yang harus selalu Rahma pegang selama menjadi pelakor kelas atas.


"Kenapa Dek Rahma terlihat begitu lemas?" tanya Abraham setelah duduk di tepian ranjang, "Dek Rahma sedang sakit?" Abraham mengulurkan tangannya hingga menyentuh kening Rahma untuk memastikan keadaan wanita yang selama ini membuatnya terbang menembus awan, membelah cakrawala. Dia merasa kembali muda saat berada di dekat wanita simpanannya tersebut, meskipun Abraham harus rajin-rajin mengkonsumsi suplemen dan berbagai jamu kuat. Dia harus tahan banting dan tetap kokoh saat menghadapi wanita yang berusia jauh lebih muda darinya.


"Aku harus bed rest, Mpap," ucap Rahma menatap Abraham dengan lekat, "ada masalah dengan kehamilanku," lanjutnya.


"Astaga. Apa yang sedang terjadi?" Abraham terkejut setelah mendengar jawaban Rahma.


Pria yang sudah terbilang matang itu tampak mengkhawatirkan kondisi kekasih gelapnya, meski sebenarnya dia tidak menginginkan benih yang sedang tumbuh dalam kandungan Rahma. Abraham menatap iba setelah mendengar Rahma menyampaikan diagnosis dari dokter Richard saat melakukan pemeriksaan tadi pagi.


"Bagaimana kalau aku mengirim pelayan ke sini? Biar ada yang membantumu, Sayang?" tawar Abraham seraya membelai rambut cokelat Rahma.


"Terserah Mpap saja. Kalau aku berharapnya bukan pembantu yang merawatku, tapi Mpap sendiri. Ya ... meskipun itu hanya sebuah angan saja." Rahma mengela napas panjang setelah mengucapkan keinginannya kepada Abraham.


"Sayang, kamu pasti sudah tahu kan apa alasannya," bujuk Abraham seraya tersenyum simpul, "sebenarnya aku pun ingin menemanimu di sini, tapi ...." Abraham menghentikan ucapannya karena interupsi dari Rahma.


"Pasti karena ada bu Rima di rumah dan anak-anak yang sedang menunggu. Apalagi sebentar lagi Mpap akan menjadi kakek. Sementara statusku masih sama saja, hanya menjadi persinggahan. Entah kapan aku akan menjadi yang istimewa. Aku sadar Mpap. Aku hanya wanita simpanan yang gak berhak mendapatkan semuanya seperti bu Rima. Namun, aku pun seorang wanita dan sedang hamil, apa salah jika aku menginginkan Mpap di sini untuk menemaniku sehari saja? Mpap malah pergi dan tak pernah datang lagi." Semua unek-unek Rahma akhirnya dapat dia ungkapkan.


"Apa karena aku tidak bisa melayani Mpap lagi seperti dulu, jadi harus Mpap buang begitu saja? Apa Mpap sudah menemukan wanita lain yang sama sepertiku?" Entah mengapa hari ini Rahma begitu melankolis. Air mata pun tak terbendung lagi hingga turun membasahi pipi.


Abraham tertegun setelah mendengar protes dari Rahma. Sungguh, dia tidak memiliki wanita lain lagi selain Rima dan Rahma. Memang, akhir-akhir ini dia sibuk dengan pekerjaaan dan sibuk dengan urusan keluarga bersama Rima, istri sahnya.

__ADS_1


"Sayang, jangan berpikir seperti itu. Tidak ada wanita lain lagi yang aku singgahi. Cukup kamu seorang." Abraham mendekatkan diri kepada Rahma, "Mpap sangat menyayangi kamu," ucap Abraham seraya meraih tubuh Rahma ke dalam dekapannya.


Entah karena keadaan atau hanya sekadar akting belaka, Rahma tiba-tiba tergugu dalam dekapan hangat Abraham. Tubuhnya bergetar saat Abraham memberikan kecupan mesra di kening. Ada perasaan lain yang tiba-tiba saja terasa di hatinya.


"Jangan menangis lagi, Sayang." Abraham mencoba menenangkan Rahma. Baru kali ini dia melihat Rahma seperti itu.


"Hari ini aku mau Mpap tetap di sini. Pulang besok saja, ya," rengek Rahma dengan teramat manja. "Please, kali ini saja temani aku, Mpap. Aku sedang membutuhkan Mpap saat ini." Rahma mencoba merayu sugar daddy yang hanya diam saja.


Ada rasa kasihan setelah mendengar permohonan dari Rahma. Pria paruh baya itu sedang memikirkan alasan yang akan disampaikan kepada istrinya, karena dia tidak akan pulang malam ini. Mungkin, tidak ada salahnya menginap di sana untuk menemani wanita yang sedang mengandung benihnya.


"Baiklah, aku usahakan untuk menginap malam ini," ucap Abraham sambil mengusap punggung Rahma.


"Serius?" Rahma melepaskan diri dari dekapan hangat Abraham, "Mpap gak bohong kan?" Rahma memastikan keputusan Abraham sekali lagi.


"Iya serius. Nanti Mpap akan menghubungi yayasan sosial agar mengirim seorang wanita yang akan membantumu di sini. Mpap harap kamu lekas sembuh," ucap Abraham dengan kedua tangan yang sedang menangkup pipi mulus Rahma.


Mungkin Rahma terlalu ceroboh dalam hal ini. Dia membiarkan hubungan itu hingga menghasilkan benih yang sedang tumbuh dalam rahimnya. Tentu dia pun tidak akan mendapatkan pengakuan atau perhatian layaknya istri sah. Untung saja, Abraham tidak meninggalkannya begitu saja setelah mengetahui dirinya hamil dan tidak bisa melayani dengan baik.


"Dek Rahma sudah minum obat?" tanya Abraham.


"Belum. Aku pun belum makan, Mpap," jawab Rahma dengan suara yang terdengar manja.


"Kalau begitu aku pesankan makanan dulu ya. Kamu tidak boleh sampai telat makan, agar anak kita tumbuh dengan baik," gumam Abraham sambil merogoh ponsel yang tersimpan di saku celananya. "Dek Rahma ingin makan apa?" tanya Abraham setelah membuka ponselnya.


Rahma hanya mengembangkan senyumnya setelah mendengar Abraham menyebut 'anak kita' dalam ucapannya. Entah itu secara sadar ataupun tidak sadar, yang pasti hal ini membuat Rahma bahagia dan membuat hatinya berbunga-bunga. Setidaknya Abraham masih mengakui benih tersebut.

__ADS_1


"Apa aja, Mpap. Aku mau apapun yang Mpap belikan." Rahma tersenyum manis tanpa melepaskan pandangan dari Abraham yang sibuk dengan ponselnya.


"Oke, kalau begitu kita makan siang bersama setelah ini. Aku mau pesan masakan padang. Sudah lama aku tidak makan itu." Abraham berbicara tanpa menatap Rahma.


"Mpap jangan makan yang bersantan. Ingat kolesterol, Mpap!" Rahma memperingatkan Abraham tentang penyakitnya.


"Gak papa, kan sekali ini aja. Lagi pula, kamu ini seperti Rima saja, melarangku makan nasi padang," gumam Abraham pelan.


"Eh, apa-apan Mpap ini! Aku jelas-jelas beda sama bu Rima. Beda dari segala hal ya! Apalagi kalau dibanding dari segi pelayanan, jelas beda jauh kali!" Rahma tidak terima setelah dibandingkan dengan istri sah Abraham itu.


Abraham terkekeh setelah mendengar protes dari Rahma. Dia kelepasan saat mengatakan hal itu, karena selama ini Rahma sangat tidak suka jika dibandingkan dengan siapapun. Pria matang itu meletakkan ponselnya di atas nakas. Setelah itu, dia naik ke atas ranjang kemudian merebahkan diri di samping Rahma.


"Sini bobo sama Mpap, sambil menunggu makanannya datang. Kamu pasti rindu pelukan hangat Mpap kan?" Abraham tersenyum manis sambil menepuk tempat yang ada di sisinya. Rahma pun segera memposisikan diri di sana.


...🌹TBC🌹...


...Ada yang geli gak sih baca part Abraham🤭jujur othor mual nulis ini😂...


...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...


...Hallo semua😍Ada rekomendasi karya untuk kalian nih❤️Jangan sampai ketinggalan yak karya dari author Teh Ijo dengan judul Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu. Kuy gercep kepoin karyanya biar gak penasaran😍



...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2