Sosialita

Sosialita
Pertolongan dokter Richard,


__ADS_3

Gelapnya malam tanpa sinar sang dewi malam telah pudar karena mengikuti arus waktu. Malam yang dingin telah dilalui semua insan dan kini sang mentari yang memberikan kehangatan. Penunjuk waktu pun sudah berada di angka delapan pagi, waktu sarapan di rumah sakit telah usai.


Rahma termenung di atas bed pasien yang ditempatinya sejak kemarin. Dia sudah diperbolehkan pulang hari ini, tinggal menunggu perawat melepas selang infus yang terpasang di tangannya. Kemarin seusai sadar pasca kuret, Rahma mendadak lemas dan dokter Richard pun memutuskan memasang infus sampai keadaan Rahma normal.


Wanita cantik berusia tiga puluh lima tahun itu sedang memikirkan keputusannya setelah ini. Tadi malam dia sempat memberitahu Abraham tentang kondisinya dan pria yang menyandang status sebagai suami orang itu hanya membaca pesannya saja. Abraham sepertinya tidak peduli dengan keadaan Rahma saat ini. Tentu hal ini yang menjadi pertimbangan besar bagi Rahma untuk masa depannya.


"Aku pasti bisa melewati semuanya sendiri." Rahma berusaha meyakinkan diri jika mampu berdiri tanpa uluran tangan Abraham. Dia belum tahu harus bagaimana setelah ini.


Setelah menunggu selama satu jam lebih, pada akhirnya Rahma siap untuk bertolak dari rumah sakit ini. Selang infus sudah dilepas dan biaya administrasi pun sudah dibayarnya. Kemarin malam asisten rumah tangga yang bekerja di apartmentnya datang membawakan pakaian ganti dan beberapa peralatan yang dibutuhkan oleh Rahma, tak terkecuali tas berisi dompet dan barang penting lainnya. Kini, wanita yang baru saja kehilangan janin itu bersiap pulang. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang inap itu sebelum pergi.


"Sebaiknya aku pesan taksi online nanti saja kalau sudah sampai di lobby. Biar taksinya tidak terlalu lama menungguku," gumam Rahma ketika berjalan di koridor ruang VIP yang dia tempati.


Rahma berusaha untuk tetap kuat meski kondisi tubuhnya belum pulih sepenuhnya. Dia pun akhirnya sampai di depan lift penghubung menuju lantai dasar dan dia segera masuk ke sana. Tidak sampai satu menit Rahma telah sampai di lantai dasar. Namun, baru saja dia keluar dari pintu lift, tiba-tiba saja dikejutkan dengan sosok pria yang seharusnya bertanggung jawab atas keadaannya saat ini.


"Mpap!" Rahma menatap dengan intens pria yang dia butuhkan kemarin malam itu.


"Dek Rahma! Kenapa ada di sini?" Abraham terlihat ketakutan ketika bertemu Rahma di tempat dan waktu yang tidak tepat.


"Aku baru saja keguguran dan sekarang aku mau pulang! Kenapa Mpap ada di sini? Mau mencariku?" tanya Rahma penasaran. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk memastikan keadaan aman.


"Ti ... tidak! Julia sedang dirawat di sini dan aku datang bersama istriku." Abraham semakin gusar karena takut semuanya akan terbongkar di sini.


"Ayah!"

__ADS_1


Abraham dan Rahma terkesiap ketika mendengar suara yang bersumber di balik tubuhnya. Tentu dia tahu siapa pemilik suara itu. Rahma terpaku karena tubuhnya susah sekali untuk digerakkan. Tidak mungkin bukan jika saat ini hubungannya bersama Abraham terbongkar. Apalagi ini di tempat umum. Suara derap sepatu high heels semakin terdengar di indera pendengaran Rahma dan itu berarti sosok yang tak lain adalah Rima telah berada di balik tubuhnya.


"Siapa dia, Yah?" tanya Rima sambil menatap punggung wanita yang sedang berhadapan dengan suaminya.


"Ayah gak kenal. Mbak ini tadi jatuh dan Ayah menolongnya, Bund. Sepertinya Mbak ini baru saja pulang rawat inap," ucap Abraham sambil berjalan melewati Rahma begitu saja.


"Keterlaluan si tua bangka ini!" umpat Rahma dalam hati. Dia harus membalikkan tubuh untuk melihat bagaimana ekspresi wajah sepasang suami istri itu.


"Loh Jeng Rahma!" Tentu saja Rima terkejut setelah Rahma membalikkan tubuh dan menatapnya, "ternyata Jeng Rahma toh yang ditolong sama Ayah. Jeng Rahma habis opname ya? Sakit apa?" Rima memberondong Rahma dengan pertanyaan.


"Saya sakit perut, Jeng. Ini tadi saya mau pulang tapi tiba-tiba saja lemas dan bapak ini yang menolong saya," ucap Rahma dengan tatapan mata yang tertuju pada Abraham.


"Ah syukurlah ada suami saya yang menolong Jeng Rahma. Mau sekalian diantar pulang sama suami saya Jeng siapa tahu belum ada yang menjemput?" tawar Rima dengan entengnya, "suami saya kan baik hati, pasti tidak akan keberatan jika mengantar Jeng Rima pulang, benar kan Yah?" Rima menatap Abraham penuh arti. Ini adalah strategi pencitraan yang dilakukan Rima karena sebentar lagi suaminya akan mencalonkan diri dalam pemilihan dewan pusat.


"Maaf Ayah tidak bisa untuk kali ini. Rumahnya kan jauh dari sini, Bund." Tanpa sadar Abraham mengatakan sesuatu hal yang seharusnya tidak diucapkan di hadapan Rima.


Rahma tidak tahu harus bagaimana. Keadaan ini semakin membuat kepalanya pusing. Rasa was-was dan takut membaur menjadi satu. Dia takut Abraham salah menjawab dan pada akhirnya semua terbongkar.


"Sayang. Aku cari-cari ternyata kamu ada di sini." Suara bariton yang sangat familiar di indera pendengaran Rahma berhasil memecah ketegangan yang sempat terjadi.


Dokter Richard tiba-tiba saja sudah berdiri di sisi Rahma. Dokter spesialis kandungan itu tersenyum manis kepada Rima dan Abraham. Dia masih memakai jas dinasnya saat ini karena baru saja selesai praktek. Tanpa diduga, dokter Richard merengkuh pundak Rahma hingga jarak diantara keduanya terkikis.


"Mari kita pulang, Sayang. Kamu harus istirahat yang cukup agar lekas sembuh," ucap dokter Richard seraya menatap Rahma dengan tatapan yang berbeda.

__ADS_1


"Ini dokter Richard yang biasa memeriksa putri saya kan? Ternyata ini pasangan Jeng Rahma. Wah, kalian serasi sekali," puji Rima dengan tatapan takjub.


"Iya, Rahma adalah kekasih saya dan rencananya kami akan segera meresmikan hubungan ini. Mohon doanya saja." Sepertinya dokter Richard lebih cocok menjadi aktor karena berakting cukup bagus di depan Rima.


Mendengar jawaban tersebut tentu membuat Abraham tidak suka. Pria matang itu menatap dokter Richard dengan tatapan tajam dan setelah itu menatap Rahma dengan tatapan mata yang sama. Abraham terlihat tidak terima dengan kabar tersebut.


"Jeng Rima, saya harus pulang sekarang. Terima kasih atas doa Jeng Rima waktu itu, karena saya berhasil mendapatkan pria setia, bertanggung jawab, penyayang dan tentunya kaya raya seperti suami Jeng Rima." Rahma tersenyum smirk ketika berhasil melayangkan sindiran untuk pria yang berdiri di sisi Rima.


Setelah itu, dokter Richard pun membawa Rahma menjauh dari sana. Mereka tak mengeluarkan sepatah katapun hingga keluar dari lobby rumah sakit dan sampai di tempat parkir khusus pegawai rumah sakit. Dokter Richard sepertinya tidak perduli dengan tatapan mata heran dari rekan kerjanya di sana.


"Terima kasih, Dok, karena sudah menyelematkan saya," ucap Rahma setelah sampai di sisi mobil dokter tampan dan wangi itu.


"Apakah dia orangnya?" tanya dokter Richard seraya menatap Rahma.


"Ya. Dokter benar." Rahma membuang napasnya kasar setelah mengakui kebenaran tentang pria yang seharusnya bertanggung jawab akan hidupnya, "sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada dokter karena sudah menolong saya. Permisi." Rahma berniat pergi dari hadapan dokter Richard karena tidak mau merepotkan pria tampan itu lagi.


Namun, langkahnya harus terhenti ketika dokter Richard menahan tangannya, "jangan pulang sendiri, mari aku antar pulang. Kebetulan aku sudah selesai praktek," ucap dokter Richard sambil menatap Rahma penuh harap.


...🌹To Be Continue 🌹...


...βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–...


...Hallo selamat pagi😍Aku ada rekomendasi karya super keren dari sahabat aku nih πŸ˜‚ kuy baca cerita menarik dari author Strawcakes dengan judul Dipersunting Tuan Barun. Serius dah kalian wajib banget baca karya ini😍...

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2