
"Tunggu. Kenapa cincin Mbak Dena sama dengan Alex. Oh, jadi rupanya kalian sudah bertunangan juga?" selidik Rahma tanpa melepaskan pandangan dari Dena yang mendadak salah tingkah.
Dena mendadak bungkam setelah mendengar pertanyaan dari Rahma. Dia menjadi gugup dan merasa malu tatkala ingin menjawab pertanyaan dari Rahma. Hidungnya kembang kempis seperti seorang ABG yang baru merasakan jatuh cinta.
"Den! Jelaskan semua ini!" desak Astrid karena merasa penasaran dengan kenyataan yang disembunyikan oleh Dena.
"Oh, jadi mau main rahasia segala!" timpal Soraya sambil berkacak pinggang di hadapan Dena.
"Ah sudahlah! Lebih baik kita duduk dulu. Biarkan Mbak Dena menyusun penjelasan untuk kita. Lihatlah, wajahnya terlihat berseri-seri. Ya ... sepertinya sih ada kabar baik dari Swedia. Bukan begitu Tuan Alex?" ujar Rahma sambil menatap Alex penuh arti.
Sementara pria keturunan Swedia itu hanya mengulum senyum tanpa ada satu kata yang terucap dari bibirnya. Lantas dia pun ikut duduk di sana bersama yang lain. Dia mengambil tempat di sisi Dena.
"Butuh waktu berapa lama sih Den untuk bercerita? Aku sudah gak sabar tahu gak sih!" Astrid terlihat sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada Dena.
"Jadi begini ...." Dena menghentikan ucapannya sejenak. Dia tengah merangkai kata yang tepat untuk disampaikan kepada ketiga temannya, "Setelah berkenalan dengan ayahnya Alex dan melewati beberapa proses, akhirnya kami memutuskan untuk menjalani hubungan ke jenjang yang lebih serius. Kami menggelar acara tunangan di sana, lebih tepatnya di mansion ayahnya Alex. Hanya keluarga besar dan beberapa kolega yang diundang dalam acara itu," jelas Dena seraya menatap ketiga temannya secara bergantian.
"Aku senang mendengarnya," ujar Soraya seraya menatap Dena dengan senyum yang manis, "akhirnya setelah ini kamu punya teman hidup." Soraya bernapas lega melihat satu persatu teman sosialitanya sold out.
"Ehem, akhirnya Mbak Dena bukan perawan tua lagi," celetuk Rahma dengan entengnya hingga membuat sang empu menatap tajam ke arahnya.
"Hei, Mantan Pelakor! Diam kau!" sungut Dena.
__ADS_1
Sementara Richard dan Alex hanya tersenyum kalem begitu mendengar celotehan para wanita yang ada di sana. Entah memang takdir atau sekadar keberuntungan, Rahma dan Dena mendapatkan pasangan yang sempurna. Mungkin setelah ini mereka akan hidup bahagia dengan pasangan masing-masing.
"Hey kalian para pria, tolong jaga pasangan kalian. Jangan sampai kalian menyakiti mereka, apalagi sampai berani memiliki wanita idaman lain. Rumah tangga gak akan bahagia meski kalian memiliki banyak uang. Aku harap kalian berdua bisa menjaga untuk kedua temanku ini." Tiba-tiba saja Astrid memberikan petuahnya kepada kedua pria tampan yang sedang duduk bersebelahan itu.
"Aih, pengalaman pribadi ya?" cibir Soraya seraya menatap Astrid. Janda kaya raya itu sedang mengamati ekspresi wajah seniornya itu, "kenapa kamu sedih? Apa ada masalah dengan lebah jantan?" selidik Soraya.
"Ya, seperti biasa. Dia ingin menikah lagi. Kali ini dia lebih gila karena menyuruhku untuk melamar gadis yang baru lulus SMA. Cih. Pria kurang ajar si Handoko itu!" Astrid mengeluarkan keresahan hatinya di hadapan ketiga temannya.
"Terus kamu mau gitu?" Soraya mengernyitkan keningnya.
"Tidak. Aku justru mengajukan gugatan cerai ke pengadilan," jawab Astrid tanpa beban.
Tentu hal ini membuat ketiga temannya terkejut bukan main. Pasalnya selama ini Astrid begitu kuat saat rumah tangganya diterpa badai besar. Pernikahan suaminya dengan wanita lain bukan lagi hal yang membuat heran. Akan tetapi kali ini sepertinya ratu lebah itu sudah tidak tahan dengan kelakuan suaminya.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Malam telah datang setelah sang mentari kembali ke peraduan. Suasana di dalam kediaman Richard terasa sepi meski saat ini masih pukul tujuh malam, karena semua keluarganya sudah kembali ke rumah masing-masing.
Suara dentingan sendok dan garpu terdengar di ruang makan. Sepasang suami istri itu sedang makan malam bersama. Keduanya tidak bersuara karena fokus pada makanan masing-masing. Sungguh merupakan sesuatu yang luar biasa dan tak pernah dibayangkan sebelumnya, jika kini mereka akan menjadi sepasang suami istri.
"Berhubung aku masih disibukkan dengan pekerjaan, tidak apa-apa 'kan jika kita menunda dulu rencana bulan madu?" Suara berat Richard akhirnya memecah kebisuan di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Aku sama sekali belum memikirkan bulan madu. Sudah resmi menikah saja, bagiku itu merupakan sesuatu yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Terima kasih banyak karena sudah bersedia menerimaku apa adanya." Rahma tersenyum manis. Dia menggenggam tangan Richard yang terulur padanya. Rona kebahagiaan terpancar jelas dari wajah kedua insan itu.
"Terima kasih juga karena sudah mengembalikan gairah dalam hidupku. Setiap orang hidup dengan masa lalu masing-masing. Kita tahu bahwa sekencang apapun seseorang berlari, masa lalu akan tetap mengikuti seperti sebuah bayangan. Namun, ada kalanya kita tak memedulikan bayangan tersebut. Jadi, bersikap biasa saja. Itu akan jauh membuat hidupmu terasa jauh lebih ringan." Richard balas menggenggam jemari lentik Rahma, kemudian menciumya dengan mesra.
Adegan manis itu terus berlangsung hingga acara makan malam usai. Kini, keduanya tampak bersantai di sofa sambil berbincang ringan. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Apa kamu sudah mengantuk?" tanya Richard kepada sang istri. Sedangkan Rahma hanya tersenyum lembut. Sebuah pertanda yang menyiratkan sesuatu dari wanita muda itu. Richard pun balas tersenyum. Dia lalu beranjak dari duduknya seraya mengulurkan tangan. Pria itu mengajak wanita yang baru dinikahinya untuk menuju ke pembaringan.
Beberapa waktu tinggal di kediaman mewah milik dokter tampan itu, Rahma tak sekalipun berani masuk ke kamar pribadinya. Lain dengan malam ini. Richard membawa dia ke sana, ke dalam ruangan luas dengan segala fasilitas lengkap yang ada di dalamnya.
"Kamar yang sangat nyaman," ucap Rahma yang saat itu sudah berdiri berhadapan dengan pria tampan penuh pesona.
Richard tak menjawab. Dia hanya tersenyum sambil membelai rambut serta wajah wanita yang diharapkan akan selalu ada untuk menjadi teman setia dalam segala suasana. Tanpa banyak bicara, pria itu langsung saja mendaratkan sebuah ciuman mesra di bibir Rahma.
"Aku sudah menjadi milikmu seutuhnya," bisik Rahma sesaat setelah Richard melepaskan pertautan di antara mereka.
"Tetaplah menjadi milikku," balas Richard. Hasrat kelelakiannya kembali hadir setelah sekian lama tertidur. Perkenalan yang tak disangka akan berakhir dalam sebuah jalinan asmara. Keindahan duniawi kembali dia rasakan, ketika dapat menyentuh dan menikmati betapa halusnya tubuh seorang Rahma.
Aktivitas panas pun berlangsung, di atas ranjang empuk yang selama ini hanya menjadi tempatnya merenung, serta menyendiri dalam menghabiskan malam. Untuk pertama kali setelah sekian tahun berlalu, dokter tampan itu dapat kembali mereguk nikmatnya bercinta, mendengar desah lembut nan manja dari seorang wanita.
Sementara bagi Rahma, ini merupakan sesuatu yang teramat indah. Pada akhirnya, dia dapat merasakan makna dari penyatuan yang sesungguhnya. Tak hanya berlandaskan gairah yang membara, tapi juga sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar kepuasan semata. Sesuatu yang disebut cinta.
__ADS_1
...🌹To Be continued 🌹...
...Akhirnya sepasang suami istri ini bisa ehem ehem 😍...