
"Kenapa Mama memata-matai Dirga? Seharusnya Mama tidak melakukan semua ini 'kan? Bukankah Mama bisa memintaku untuk membawa Dirga pulang dan Mama bisa bertanya langsung dengannya!"
Soraya tertegun setelah mendengar pertanyaan yang dilayangkan oleh Beatrice. Dia tidak menyangka saja jika putrinya akan semarah ini setelah mengetahui semua yang sudah dia lakukan terhadap Dirga. Bahkan, Beatrice tetap membela pemuda itu meski keadaan keduanya sedang tidak baik-baik saja. Tentu sebagai seorang ibu, Soraya merasakan sakit hati setelah mendengar suara nada tinggi dari darah dagingnya sendiri.
"Bea. Kenapa kamu menjadi seperti ini? Apa kamu tidak sadar siapa yang sedang berada di hadapanmu ini?" Soraya benar-benar kecewa dengan sikap yang ditunjukkan Beatrice kepadanya.
Beatrice menghela napas berat setelah mendengar pertanyaan dari Soraya. Gadis berambut cokelat itu menundukkan kepala karena takut menatap sorot mata penuh kekecewaan dari mata indah Soraya. Ya, dia sadar apa yang baru saja diucapkannya sangatlah tidak pantas. Seharusnya dia bisa bertanya baik-baik mengenai perihal itu.
Suasana di dalam kamar bernuansa krem itu mendadak menyesakkan. Tatapan Soraya masih tetap sama, menatap lekat putrinya yang sedang tertunduk dengan bibir yang terkunci rapat. Soraya sendiri tidak tahu harus bagaimana mengahadapi sifat keras kepala yang dimiliki Beatrice.
"Mama sangat kecewa, Be! Mama tidak pernah menyangkan jika kamu berani membentak Mama hanya demi membela pemuda itu!" sarkas Soraya setelah dia berdiri dari tempatnya. Kedua tangannya pun disilangkan di depan dada.
"Liburan kita di sini akan Mama perpanjang! Sepertinya kamu butuh waktu untuk merefresh pikiranmu dari Indonesia dan salah satu warga yang tinggal di sana!" ujar Soraya dengan serius, "bila perlu, Mama akan memindahkan kamu lagi di sini, biar pikiranmu lebih luas!" Soraya pun pergi meninggalkan Beatrice yang masih tertunduk lesu.
Brak.
Beatrice memejamkan mata setelah mendengar pintu kamar yang tertutup dengan keras. Tidak lama setelah itu, dia menegakkan kepala dengan ekspresi wajah penuh sesal. Ya, tentu saja Beatrice sadar dengan kesalahannya. Dia pun tahu jika kali ini Soraya benar-benar marah dengannya.
"Ya Tuhan. Ampuni aku." Beatrice bergumam pelan setelah mengusap wajahnya dengan kasar.
Gadis berambut cokelat itu merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Kepalanya berdenyut hebat setelah masalah yang menimpa hidupnya bertambah satu lagi. Masalah bersama Dirga belum usai dan kini hadir masalah baru dengan Soraya.
"Ahh! Kenapa semuanya menjadi seperti ini! Kacau!" ujar Fayre sambil menjambak rambutnya sendiri. Dia semakin pusing karena tak kunjung menemukan ide untuk langkah selanjutnya.
__ADS_1
"Aku harus minta maaf kepada Mama dan memperbaiki semuanya, sebelum Mama benar-benar membuatku berakhir di kota ini." ujarnya lagi setelah teringat ancaman Soraya sebelum pergi dari kamar ini.
Pikiran gadis berambut cokelat itu mulai bercabang karena masalah ini. Dia harus mencari jalan terbaik untuk permasalahannya bersama Dirga dan sebelum itu, Beatrice harus bicara dengan Soraya terlebih dahulu. Dia hanya ingin memperbaiki semuanya sebelum terlambat.
"Seharusnya aku bisa mengontrol diri dan membuat Mama yakin jika Dirga adalah yang terbaik untukku. Bukannya malah membentak hingga membuat Mama terluka," gumam Beatrice dengan suara yang lirih.
Gadis berambut cokelat itu bangkit dari tempatnya. Dia duduk di tepian ranjang dengan pandangan lurus ke depan. Sepertinya dia sedang merangkai kata-kata yang akan diucapkan kepada ibunya setelah ini. Rasa bersalah yang teramat besar membuat Beatrice takut jika Soraya terlanjur marah dan mengambil keputusan sepihak.
Pada akhirnya, kekasih Dirga itu berdiri dari tepian ranjang dan mengayun langkah keluar dari kamar. Dia berjalan menuju kamar Soraya dengan segenap rasa yang bercampur menjadi satu. Kedua tangannya saling bertautan untuk mengusir rasa gugup yang menghampiri.
"Ma ... Mama. Apa aku boleh masuk?" tanya Beatrice setelah mengetuk pintu kamar yang ditempati Soraya selama menginap di rumah ini.
Beberapa kali Beatrice mengetuk pintu kamar tersebut akan tetapi tidak ada jawaban apapun dari dalam. Beatrice pun mulai resah karena takut Soraya tidak mau bicara dengannya. Baru kali ini mereka berdua dalam keadaan seperti ini.
Punggung yang terbalut dress berwarna hitam adalah yang pertama kali dilihat oleh Beatrice ketika masuk ke dalam kamar tersebut. Soraya duduk di tepian ranjang dan membelakangi pintu. Sepertinya janda kaya raya itu sedang termenung memikirkan permasalahan yang baru saja terjadi dengan putrinya.
"Mama." Beatrice semakin mendekat ke tempat Soraya berada saat ini. Dia memberanikan diri untuk berdiri di samping Soraya meski wanita yang sudah melahirkannya itu bergeming di tempatnya.
Beatrice memutuskan untuk duduk di samping Soraya dan setelah itu tangannya meraih telapak tangan halus milik ibunya, lantas dia menggenggam telapak tangan itu dengan erat.
"Aku minta maaf karena sudah membentak Mama," ucap Beatrice dengan nada penuh sesal. "Aku tahu jika Mama sangat terluka karena ucapanku." Beatrice mengalihkan pandangannya ke samping untuk menatap wajah cantik yang masih terlihat awet muda itu.
"Aku menyesal atas kejadian beberapa menit yang lalu," ungkap Beatrice lagi tanpa mengalihkan pandangan dari Soraya.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu tentu akan merasa terenyuh setelah mendengar permintamaafan dari anaknya. Bahkan Soraya sendiri tidak tahu harus bagaimana saat ini. Luka di hatinya belum mengering karena kata-kata yang diucapkan oleh Beatrice, sedangkan dia sendiri tidak tega setelah mendengar ungkapan penyesalan dari gadis cantik yang menjadi duplikat atas dirinya dan Francesco.
"Jangan ulangi kesalahan itu lagi," ujar Soraya seraya menatap Beatrice dengan tatapan intens.
"Pasti. Aku tidak akan melakukannya lagi." Beatrice terlihat bersungguh-sungguh saat mengatakan hal ini.
"Hidup itu bukan sekadar untuk mencintai dan dicintai, Be. Ada banyak hal yang harus kamu pikirkan untuk masa depan. Bukan hanya perkara cinta, tetapi ini menyangkut kelayakan kehidupan. Kamu boleh saja marah kepada Mama karena sudah mengintai pemuda itu, karena kamu belum berada di posisi Mama seperti saat ini." Soraya terdengar bersungguh-sungguh saat mengatakan hal itu.
"Suatu saat mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama dengan Mama, ketika di masa depan kamu memiliki seorang anak dan anakmu akan menikah. Kamu pasti tidak akan diam saja saat menghadapi hal itu, Sayang." Soraya berusaha memberikan Beatrice pengertian tentang semua tindakan yang sudah dilakukannya.
"Ya, aku tahu jika Mama melakukan semua ini karena Mama sayang padaku dan ingin yang terbaik. Akan tetapi tidak bisakah Mama bertemu dan bicara terlebih dahulu kepada Dirga sebelum menolaknya dan memandang dia sebelah mata karena status ekonominya?" Beatrice masih keukeh dengan pendapatnya tentang Dirga, "bahkan jika Mama mau, aku bisa menyuruh dia untuk datang menemui Mama," imbuh Beatrice seraya menatap Soraya penuh arti.
Helaan napas berat terdengar lagi di sana. Janda kaya raya itu kembali mempertimbangkan jawaban dari Beatrice. Mungkin dia butuh waktu untuk berpikir tentang keputusannya bertemu dengan Dirga, "kita lihat saja nanti. Kita urus masalah dengan Dirga setelah kita pulang ke Indonesia. Untuk saat ini Mama hanya ingin kita menikmati liburan di sini tanpa harus memikirkan masalah yang terjadi di Indonesia," ujar Soraya dengan tatapan yang tak lepas dari Beatrice.
...🌹To Be Continue 🌹...
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Hallo semua😍Aku ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih❤️Jangan sampai ketinggalan karya dari author LichaLika dengan judul Pernikahan Rahasia Anak SMA 2. Kuy gercep biar gak ketinggalan episode terbarunya🤭
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1