Sosialita

Sosialita
Rayuan manja,


__ADS_3

Sementara itu, di sebuah kamar pada salah satu apartemen mewah ibu kota. Rahma menggeliat manja dalam dekapan seorang pria yang jauh lebih pantas menjadi ayahnya. Pria itu berusia sekitar lima puluh tahun, dengan rambut hitam yang telah bercampur dengan warna putih. Namun, meskipun begitu nyatanya si pria masih terlihat bugar dan juga tampak sangat terawat. Dia memiliki kulit dan kondisi badan yang sangat bersih. Dialah Abraham Lie, seorang pejabat pemerintah yang telah memiliki seorang orang istri dan dua orang cucu.


"Pap," bisik Rahma dengan manja, seraya memainkan dagu Abraham yang terlihat kelelahan. Perlahan, tangannya berpindah pada leher dan dada pria keturunan Tionghoa tadi. "Pap. Mpap," Rahma mencubit pipi dan hidung mancung si pria hingga akhirnya membuka mata.


"Apa, Sayang?" balas Abraham seraya mengeratkan rangkulannya. Dia mengusap-usap lengan Rahma yang saat itu masih dalam keadaan tanpa busana.


"Aku mau bicara serius ini, Mpap," ucap Rahma dengan gaya dan nada bicara yang terdengar begitu manja.


"Bicara tentang apa? Tentang yang kemarin itu, ya? Oke. Nanti saya naikan jatah bulanan kamu, Sayang. Apalagi akhir-akhir ini service kamu luar biasa. Saya benar-benar puas," ucap sang pejabat sambil mengecup kening Rahma dengan mesra.


"Ih, bukan itu. Aku bukan mau bahas uang bulanan, Mpap. Aku mau bicara tentang yang lain." Rahma bersikap semakin manja terhadap Abraham. Dia tak peduli meskipun pria yang ada di dekatnya adalah seorang pria tua beristri.


"Lalu, tentang apa?" tanya Abraham lagi. "Oh, kamu mau beli jam tangan baru, tas, perhiasan, atau mobil?" tawar Abraham lagi. Segala jenis kemewahan yang dapat membeli hati Rahma dia sebutkan saat itu.


Rahma langsung saja memasang wajah cemberut, karena pria itu tak memahami maksud hatinya. "Ih, sebel deh. Mpap ko ngga ngerti apa mau aku sih. Nyebelin ah!" Rahma bangkit dan duduk sambil memasang wajah cemberut.


Tak berselang lama, Abraham pun ikut duduk di sebelahnya. Dia kembali merengkuh pundak Rahma dengan mesra. "Ya, sudah. Kalau begitu coba bilang kamu mau apa?" rayunya. Dia mencoba untuk membuat Rahma agar berhenti merajuk.


Mendengar hal itu, seketika kedua bola mata Rahma tampak berbinar. Dia kembali bersemangat. Rona masam berbalut wajah cemberut langsung memudar dari paras cantiknya. Rahma kemudian menyandarkan kepala dengan manja di dada Abraham.

__ADS_1


"Ayo coba cerita ada apa," pinta Abraham.


"Aku mau punya status yang jelas, Pap. Sampai kapan aku diginiin terus, Mpap?" rengek Rahma masih dengan sikapnya yang manja.


"Ya, ampun," Abraham terkekeh menanggapi permintaan Rahma. "Sejak kapan kamu berpikir seperti itu, Sayang? Biasanya juga kamu fine-fine saja dengan hubungan kita." Abraham terdengar keheranan.


"Sejak beberapa hari yang lalu. Wajar kan kalau aku mulai berpikir ke arah sana? Aku juga harus mikirin masa depan aku, Pap," bujuk Rahma dengan genit.


"Iya, saya paham. Namun, itu tidak mungkin, Sayang. Kamu tahu bukan kalau saya sudah punya cucu. Lagi pula, ada aturan yang melarang saya untuk menikah lebih dari satu kali, kecuali istri pertama saya meninggal dunia," jelas pira paruh baya tersebut.


"Ya ampun," desis Rahma seraya memutar bola matanya jengah, "kenapa ada aturan begitu sih, Pap?" protes Rahma dengan suara yang terdengar sangat manja.


Sekali lagi Abraham terkekeh setelah melihat wajah cemberut wanita yang selalu memanjakannya selama ini. Dia meraih tubuh molek itu ke dalam dekapan hangatnya. Sepertinya, Abraham harus berusaha keras untuk membujuk daun mudanya agar mengurungkan niatnya.


"Kalau Mpap dipecat, tentu aku cari Mpap yang baru dong," kelakar Rahma sambil mengusap dagu Abraham yang terlihat sexy di mata Rahma.


"Tidak akan aku biarkan!" jawab Abraham dengan posesif sambil mengeratkan pelukannya.


Meskipun sudah berumur, pada kenyataannya Abraham selalu bersikap posesif kepada Rahma. Terkadang dia cemburu dan khawatir jika Rahma memiliki kekasih dan berpaling darinya. Akan tetapi menikah secara sah bersama Rahma bukanlah pilihan yang tepat. Ada keluarga yang harus dijaga perasaannya.

__ADS_1


"Ih Mpap nakal," ucap Rahma dengan suara yang sangat manja, "Mpap aja boleh dua, masa aku enggak sih," protes Rahma lagi.


"Kamu mau mobil baru, Sayang? Sepertinya mobilmu harus diganti." Abraham mulai mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain.


"Ya ... ya ... ya. Kalau soal itu, Mpap pasti yang. lebih tahu," jawab Rahma seraya tersenyum penuh arti.


Suara dering ponsel membuat pembicaraan itu harus berakhir. Abraham memberikan kode agar Rahma tidak bersuara karena ada telfon penting dari rekan kerjanya. Obrolan berlangsung selama beberapa menit lamanya, sepertinya Abraham sedang membahas masalah partai politik.


"Sayang, aku harus segera kembali," ucap Abraham setelah panggilan berakhir. Dia segera turun dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dari aroma-aroma lain yang menempel di tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Pria paruh baya itu keluar dari kamar mandi dengan wajah yang terlihat lebih segar. Dia segera memakai pakaian kerjanya sambil menatap tubuh molek yang terlihat menantang di atas ranjang. Sesekali Abraham mengerlingkan mata saat melihat tatapan genit dari daun mudanya.


"Kenapa harus buru-buru sih, Mpap? Aku masih kangen ih!" Rahma mengerucutkan bibirnya setelah melihat penampilan Abraham rapi, "satu ronde lagi masih bisa kan, Mpap?" Rahma sengaja menggoda pria matang itu agar naik kembali ke atas ranjang.


"Ada pekerjaan penting, Sayang. Besok aku akan datang lagi. Persiapkan dirimu," ucap Abraham seraya tersenyum smirk. "Mobil baru sudah aku pesankan, mungkin minggu depan akan sampai," ucapnya setelah mengecup kening Rahma. Setelah itu dia segera keluar dari kamar dan pergi dari apartment ini.


Rahma hanya bisa menghela napas setelah Abraham pergi. Keinginan yang muncul setelah bertemu Dirga kala itu sepertinya sulit untuk didapatkan dari sosok Abraham Lie. Tatapan mata wanita cantik itu menerawang jauh entah kemana. Mungkin saja dia sedang membayangkan memiliki pasangan yang bisa dipamerkan kepada semua orang.


"Aiih kenapa aku terus memikirkan semua ini? Oke, Rahma! Ingat! Perlakuan manis tidak akan membuatmu glowing dan kenyang!" Rahma mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri agar tidak terlarut dalam keinginan konyolnya.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2