Sosialita

Sosialita
Paella spesial,


__ADS_3

Tok ... tok ... tok ....


Buku tebal yang baru saja dibuka terpaksa harus diletakkan kembali di atas meja, setelah terdengar suara ketukan pintu beberapa kali. Beatrice beranjak dari tempatnya. Gadis cantik tadi kemudian mengayun langkah untuk melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.


"Ada apa, Bi Mun?" tanya Beatrice setelah melihat kehadiran asisten rumah tangga, yang berdiri di balik pintu. Wanita paruh baya itu mengangguk sopan kepada putri sang majikan.


"Maaf, Nona muda ... emm saya hanya ingin memberitahu bahwa nyonya besar sedang masak di dapur. Ini kan sesuatu yang jarang sekali terjadi, apa Nona muda tidak ingin melihatnya secara langsung?" tanya Munaroh dengan ragu.


"Mama masuk dapur untuk memasak?" Beatrice meyakinkan diri atas laporan dari asisten rumah tangga itu. Itu memang sesuatu yang jarang bahkan hampir tidak pernah terjadi selama ini. Entah apa yang terjadi pada sang ibu? Beatrice pun tertegun dan berpikir dalam-dalam.


"Iya, Nona. Sejak lima belas menit yang lalu nyonya besar berkutat di dapur," jawab Munaroh, "saya permisi dulu. Maaf jika saya sudah mengganggu waktu Nona muda." Munaroh segera pamit dari hadapan Beatrice karena tidak mendapat respon apapun dari gadis berdarah Spanyol itu. Kepergiannya bahkan tak disadari oleh gadis muda tersebut, karena Beatrice masih terus saja terdiam.


"Mama memasak? Wow, itu sangat luar biasa. Lebih baik aku melihatnya secara langsung," pikir Beatrice setelah menutup pintu kamarnya. Gadis berambut cokelat itu melangkahkan kakinya sampai tiba di tangga menuju lantai pertama. Satu per satu anak tangga telah dilewatinya hingga sampai di lantai dasar rumahnya.


Beatrice kemudian melanjutkan langkah menuju dapur. Ruangan itu ternyata sangat mewah dan luas, sehingga bisa menampung segala perabotan masak beserta ornamen-ornamen lainnya yang terlihat sangat berkelas untuk ukuran perabot dapur. Semua yang ada di sana berlapis marmer hitam, mulai dari meja kompor, hingga meja khusus dengan banyak laci bersusun pada bagian bawahnya.


Beatrice berdiri di ambang pintu. Gadis berambut panjang itu menyandarkan lengan kanannya pada kusen. Dia tersenyum kecil sambil memperhatikan sang ibu yang tengah sibuk dengan berbagai alat masak berbahan stainless yang terlihat sangat mengkilap.


Aroma sedap pun mulai tercium dari semenjak Beatrice tiba di ruang makan. Aroma bawang, daging serta seafood yang sedang ditumis berhasil membuat Beatrice merasa lapar. Gadis berambut cokelat itu memutuskan untuk terus berdiri di pintu penghubung antara dapur dan ruang makan, karena ingin melihat ibunya berkutat dengan penggorengan dan spatula di sana.

__ADS_1


Paella, makanan khas Spanyol yang dipilih sebagai menu makan malam kali ini oleh Soraya. Semua bahan telah dimasukkan menjadi satu dalam penggorengan. Mulai dari bumbu, sayur, daging dan beberapa bahan tambahan seafood telah dicampur menjadi satu dengan nasi yang sudah diolah dengan rempah. Makanan yang berasal dari daerah Mediterania, Spanyol ini menjadi makanan favorit Beatrice ketika masih berada di negara tempat kelahirannya itu. Tentu Soraya sangat mahir dalam membuat masakan itu karena bukan hanya Beatrice yang suka, tetapi Francesco pun sangat suka dengan paella.


"Hmmm ... Bea pasti suka dengan menu spesial makam malam nanti," gumam Soraya setelah mencicipi rasa paella buatannya.


"Ini piringnya, Ma!" Beatrice menyodorkan wadah dari bahan keramik berwarna putih.


Prang. Soraya menjatuhkan spatula yang sejak tadi ada dalam genggaman tangannya, setelah mendengar suara Beatrice yang ternyata sudah berada di belakang tubuhnya. Soraya begitu fokus pada pekerjaannya, sehingga tak menyadari kehadiran sang putri di sana. Dia pun segera membalikkan badan setelah mengambil spatula yang ada di lantai dan meletakkannya pada bak cuci piring. Wanita itu kemudian mengambil yang baru.


"Sejak kapan kamu ada di sini, Bea?" tanya Soraya.


"Sejak beberapa menit yang lalu, Ma," jawab Beatrice dengan seutas senyuman di wajahnya.


"Biar Mama yang menyiapkan. Tunggu saja di ruang makan," cegah Soraya setelah berdiri di samping Beatrice. Ibu satu anak itu hanya ingin menyiapkan makan malam spesial untuk mereka berdua.


"Tak apa, Ma. Aku juga sebenarnya sedang belajar memasak dan membiasakan diri di dapur," ujar Beatrice dengan tenang.


"Kamu belajar memasak?" ulang Soraya tak percaya.


"Ya. Aku bahkan sempat berburu buku resep, tapi ternyata masakan sederhana sekalipun terasa begitu ribet buat aku," keluh gadis itu.

__ADS_1


"Tidak ada yang ribet atau sulit selama kita sudah mahir, Bea. Untuk menjadi mahir, kita harus sering berlatih. Seberapa rajin kita? Semua itu kembali lagi pada niat. Jadi, untuk awalnya sebaiknya kamu bulatkan niat agar hasilnya tidak setengah-setengah. Semua yang dilakukan dengan sepenuh hati, maka hasilnya pasti akan jauh lebih memuaskan," tutur Soraya seraya membantu Beatrice menyiapkan minuman.


"Aku selalu melakukan apapun dengan maksimal. Aku senang menjalani hobi, karena itu membuatku bisa menikmati segala hal yang kulakukan. Mama pasti tahu bahwa kenyamanan itu di atas segalanya. Ketika kita merasa nyaman, maka kita pasti akan dapat menikmati segala hal yang kita kerjakan. Namun, jika kita kehilangan kenyamanan itu, maka ...."


"Semuanya akan menjadi bencana, karena kamu tidak menikmatinya sama sekali," lanjut Soraya.


"Ya, Mama benar. Karena itu, aku akan tetap berada dalam zona nyaman untuk saat ini," ujar Beatrice membenarkan ucapan sang ibu.


"Jangan salah, Sayang . Tetap berada dalam zona nyaman, akan membuat hidupmu terasa membosankan. Semuanya terasa sama dan bahkan hampir tak ada tantangan. Lama-kelamaan, kamu akan merasa jenuh karena hidupmu masuk ke dalam jebakan rutinitas. Saat itulah kamu berusaha untuk keluar dan mencari sesuatu yang anti mainstream," ujar Soraya dengan tatapan sedikit menerawang.


"Contohnya?" tanya Beatrice.


"Contohnya adalah ...." Soraya tersenyum getir. Dia lalu menoleh kepada putri kesayangannya. Soraya membelai lembut rambut panjang gadis itu. Sesuatu yang membuat Beatrice menjadi semakin heran dibuatnya. Sudah lama sekali dia tak merasakan semua itu dari sang ibu, dari semenjak mereka kembali dari Spanyol.


"Apa Mama juga terjebak dalam sebuah rutinitas yang membosankan, sehingga kerap melakukan sesuatu yang aneh?" tanya Beatrice dengan tiba-tiba, membuat Soraya terdiam beberapa saat.


"Ada kalanya kita merasa benar-benar lelah, dan membutuhkan sebuah tempat yang membuat kita merasa nyaman," jawab Soraya dengan wajah sendu.


...🌹TBC🌹...

__ADS_1


__ADS_2