Sosialita

Sosialita
Mendadak Religius,


__ADS_3

Suara gelak tawa Rahma memecah keheningan apartment mewah yang dia tempati. Wanita berbadan dua itu tidak bisa mengontrol suaranya setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Dena. Ini adalah insiden yang patut diabadikan dan sayang sekali kedua seniornya yang lain tidak bisa mendengar langsung cerita tersebut.


"Ck! Sial! Apanya yang lucu sih?" protes Dena setelah Rahma tak kunjung menghentikan tawanya.


"Ya ampun, Mbak Dena sayang, itu adalah momen langka. Jadi, aku tidak bisa berhenti tertawa. Harusnya mbak Aya dan mbak Astrid tahu nih. Astaga," ucap Rahma di sela-sela gelak tawanya.


"Gak ada yang lucu, Su! Ini sangat memalukan bagiku! Aku berharap tidak akan bertemu pria itu lagi." Dena hanya bisa berharap jika takdir tidak mempertemukan dia dengan pria bernama Alexandre itu lagi.


"Loh memangnya kenapa? Bagus dong kalau ketemu lagi, ya ... siapa tahu pria itu jodohmu." Rahma masih saja menertawakan sahabatnya itu.


"Gak! Semoga saja tidak!" tolak Dena dengan tegas. Untuk saat ini, menikah tidak ada dalam daftar keinginannya. Lajang yang tak muda lagi itu hanya ingin mengembangkan bisnis yang dia geluti agar bisa menjadi jauh lebih besar lagi.


"Aduh ... lumayan loh, nanti Mbak Dena dapat bule tuh! Pasti ukurannya tidak bisa diragukan lagi. Hmmm Mbak pasti bakal lupa clubbing kalau udah punya suami." Rahma semakin menggoda Dena. Dia tahu Dena paling tidak suka membahas hal-hal seperti yang tengah mereka bicarakan.


"Diam kamu, Su!" Benar saja, Dena tidak suka jika mereka membahas masalah pria, "lebih baik kamu habiskan tuh makanannya!" tunjuk Dena pada piring berisi makanan yang berjajar rapi di atas meja.


Malam itu dihabiskan Rahma dengan gelak tawa karena Dena. Dia merasa terhibur setelah kehadiran Dena di tempatnya. Kekalutan hati yang sempat menerpa perlahan terkikis karena cerita-cerita konyol yang lolos dari bibir gadis bukan perawan itu. Hati yang sempat hancur karena merasakan penderitaan dalam sepi, perlahan terobati.


Detik demi detik telah berlalu, malam pun semakin larut. Dena melihat arlojinya dan ternyata sudah pukul dua belas malam. Sepertinya dia harus pulang karena Rahma pasti butuh istirahat saat ini. Terlebih setelah beberapa kali dia melihat Rahma menguap dengan mata yang mulai sayu.

__ADS_1


"Aku balik dulu lah, Su. Besok aku harus ke kantor pagi-pagi," pamit Dena seraya beranjak dari tempatnya.


"Nginep di sini aja, Mbak," ucap Rahma seraya menatap Dena.


"Gak ah. Aku pulang aja! Takut kalau rumahku tiba-tiba pindah," seloroh Dena sambil tersenyum lebar.


"Kalau rumahnya pindah ya gak papa kali, Mbak. Kan nanti bisa pindahan ke rumahnya Alexandre," timpal Rahma sambil mengulum senyum.


Sementara Dena hanya mengela napas sambil menatap Rahma jengah. Tak ingin membahas masalah Alexandre lagi, pada akhirnya Dena buru-buru pamit dan segera pergi dari unit ini, "By Su." Dena melambaikan tangan sebelum pintu lift tertutup.


Langkah demi langkah telah dilalui wanita cantik itu hingga sampai di tempat parkir khusus untuk tamu di unit ini. Dia segera masuk ke dalam mobil dan setelah itu dia mengarahkan setir mobilnya keluar dari area luas apartment ini.


"Eh, kenapa ini?" Dena terkejut karena mobilnya tiba-tiba saja menjadi tidak seimbang. "Eh ... eh ... apa-apaan ini?" gerutu Dena seraya memukul setir yang masih dia pegang.


Dena terdiam sejenak. Mobil mogok di tengah jalan pada jam seperti itu adalah sebuah bencana besar. Lajang empat puluh lima tahun tersebut tak bisa hanya tinggal diam. Dia mencoba untuk menghubungi layanan truk derek. Namun, Dena tak menyadari bahwa ponselnya ternyata kehabisan baterai. Perlu waktu beberapa saat saat, hingga ponsel yang telah dia sambungkan pada pengisi daya bisa dinyalakan kembali. Selagi menunggu hal itu, Dena keluar dari mobil sambil terus menggerutu.


Dibukanya kap mesin mobil tersebut. Dena memerhatikan rangkaian membingungkan di hadapannya. Dena tak mengerti tentang mesin sama sekali. "Menyebalkan!" umpat Dena. Dia kembali menutup kap mesin yang dibukanya. Memanggil truk derek akan menjadi alternatif yang paling bagus dalam situasi seperti itu. Namun, sebelum kembali ke dalam kendaraan tadi, Dena sempat menendang ban mobil miliknya. "Sialan!" umpat wanita itu lagi, bersamaan dengan berhentinya sebuah mobil SUV hitam tak jauh dari tempatnya berada. Mobil itu terparkir di depan, dalam jarak beberapa meter.


Dena tertegun. Hatinya mulai was-was, terlebih saat dia melihat seorang pria dengan perawakan pendekar, alias pendek dan kekar yang tengah berjalan ke arahnya. Segera saja Dena meraih pegangan pintu mobil dan langsung masuk. Dia pun mengunci pintu dari dalam kemudian duduk dengan memasang wajah tegang. Dena juga telah bersiap dengan berbagai senjata andalan yang di siapkan di dalam mobilnya.

__ADS_1


Pria tadi mengetuk jendela kaca mobil milik Dena berkali-kali. Dia terlihat mengucapkan sesuatu. Akan tetapi, Dena tak berniat untuk mencari tahu dan juga tak peduli. Dia akan berdiam diri di dalam mobil, hingga mobil derek datang menjemputnya.


Karena terus diabaikan oleh Dena, pria tadi kembali ke mobilnya. Dia tampak berbicara dengan seseorang yang berada di dalam kendaraan mewah tersebut. Tak lama kemudian, pintu belakang mobil SUV itu terbuka. Dari dalam sana, keluar seorang pria dengan perawakan tegap dan memiliki tinggi di atas rata-rata pria Indonesia. Pria itu berjalan menuju ke arah mobil Dena terparkir.


"Astaga. Semoga mereka bukan sindikat mafia perdagangan gadis dan organ dalam," gumam Dena gugup. Mulutnya sudah komat-kamit merapalkan doa. Dalam situasi genting seperti itu, tiba-tiba saja dia menjadi religius. "Ya, Tuhan. Selamatkan aku," gumamnya lagi ketika pria dengan perawakan tegap tadi sudah semakin mendekat dan bahkan berdiri di dekat pintu mobilnya. Dena memejamkan mata erat-erat.


Pria tadi membungkuk, kemudian mengetuk kaca jendela. Perlahan Dena memberanikan diri untuk membuka mata. Dia juga menoleh ke luar. Seketika wanita itu terbelalak tak percaya, saat melihat seraut wajah tampan yang sebenarnya tak ingin lagi dia lihat. "Alex?" ucapnya seraya meringis kecil. Perlahan Dena menurunkan kaca mobilnya. "Sedang apa kamu di sini?" tanya lajang empat puluh lima tahun tersebut.


"Seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu berhenti di tempat sepi pada jam seperti ini. Jangan memancing pria-pria nakal untuk menambah kenakalan mereka," sahut pria yang tak lain adalah Alexandre.


"Ya, termasuk kamu. Tukang jajan." Dena mendengus pelan.


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


...Hallo, selamat siang. Ada rekomendasi karya keren nih untuk kalian😍Kuy baca gratis karya Author Santi Suki dengan judul Tetanggku ... Mantanku😍 Jangan sampai ketinggalan ceritanya yak😁...



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2