
"Bagaimana Ay? Apa kamu bahagia malam ini?" tanya Astrid setelah duduk di sofa tunggal yang ada di ruangan VVIP.
"Ya, tentu saja. Aku sangat bahagia karena aku bisa melihat Bea tersenyum lagi." Soraya tersenyum lebar saat mengungkapkan bagaimana perasaannya kepada Astrid.
"Apa semua itu berarti kamu merestui hubungan mereka?" tanya Astrid lagi. Dia menyilangkan kakinya dengan gaya yang anggun dan elegan.
Soraya tak segera menjawab, karena dia sendiri belum yakin jika Dirga adalah yang terbaik untuk putrinya. Apa yang sudah terjadi beberapa menit lalu, hanya semata ingin Beatrice bahagia dan tidak murung lagi.
"Entahlah. Aku tidak ingin membahas masalah itu dulu. Tentu Mbak Astrid tahu maksudku," ucap Soraya tanpa melepas pandangannya dari ratu lebah.
Pembicaraan mereka harus terhenti ketika mendengar suara ketukan. Ternyata seorang waiter yang mengantarkan minuman yang sudah dipesan. Setelah meletakkan pesanan kaum sosialita itu di atas meja, waiter tersebut segera pergi.
"Cepat juga ya pelayanannya," gumam Astrid sambil menatap meja kotak yang ada di hadapannya.
"Iya nih. Aku baru tahu kalau di sini ada pelayanan seperti ini," sahut Soraya sambil merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya.
"Eh, Ay. Mending kamu pergi ke toilet deh. Tengok si Dena, siapa tahu dia tersesat. Pipis aja kok lama banget ya." Astrid menggerutu karena sudah tahu bagaimana kebiasaan Dena. Lajang seumuran dengan Soraya itu cukup kacau dan meresahkan.
Soraya mengela napasnya setelah mendengar ucapan Astrid. Ada benarnya saran dari seniornya itu karena sikap yang ditunjukkan oleh Dena. "Oke. Aku akan menyusulnya ke sana. Takutnya dia ke kunci di toilet lagi," gumam Soraya seraya beranjak dari tempatnya. Janda cantik itu mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Pintu pun akhirnya terbuka. Namun, langkahnya harus terhenti di depan ruangan, ketika melihat sesuatu hal yang luar biasa menurutnya. Soraya ternganga karena ternyata Dena sedang bersama seorang pria di sana.
"Dena! Wah ... wah ... wah!" Soraya menggeleng beberapa kali setelah melihat Dena sedang dipepet oleh seorang pria.
Sontak dua sejoli yang hampir lapuk itu menoleh. Dena yang tengah berada dalam kungkungan tubuh jangkung Alexandre, seketika terbelalak. Lain halnya dengan Alexandre yang masih terlihat tenang.
"Baiklah. Lanjutkan saja dulu. Kalau kalian butuh rekomendasi hotel berbintang yang nyaman, aku ada beberapa," ujar Soraya. Dia memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua.
"Eh, Ay. Apa-apaan kamu? Jangan salah paham!" cegah Dena setengah berseru. "Kamu sih!" Dena memukul lengan Alexandre yang berbalut kemeja hitam ketat.
"Apa salahku?" protes Alexandre. Bule asal Swedia itu kembali mengarahkan tatapan kepada Dena. "Jadi, bagaimana?" tanyanya.
__ADS_1
"Apanya yang bagaimana?" Dena balik bertanya.
"Kenapa kita selalu bertemu dalam situasi yang tidak tepat?" pikir pria berkulit bersih itu. Matanya yang berwarna hazel, bergerak dengan tak beraturan.
"Mana aku tahu. Coba kamu tanya sama malaikat," celetuk Dena seenaknya.
"Hmmm ...." Alexandre menggumam pelan. Sementara posisinya masih berada di hadapan Dena, menghalangi tubuh wanita itu sehingga tak bisa ke mana-mana. "Bagaimana jika kita sekali saja bertemu dalam situasi yang jauh lebih baik?" tawarnya yang membuat Dena seketika tergelak. "Kenapa tertawa? Apanya yang lucu?" Alexandre menaikkan sebelah alisnya.
"Lucu ... lucu ... kocak," ujar Dena kembali tertawa. "Jadi, kamu mau ngajak aku kencan, ya?"
Alexandre tak menanggapi dengan berlebihan saat mendengar pertanyaan Dena barusan. Pria itu justru tersenyum kalem dan semakin mendekatkan tubuh kepada sahabat dekat Soraya tersebut. Dena pun seketika terlihat kikuk saat menatap paras tampan Alexandre dari jarak yang teramat dekat.
"Katakan sesuatu padaku," pintanya dengan suara yang terdengar berat dan begitu dalam.
"Tentang apa" tanya Dena salah tingkah. Wangi aroma parfume yang dipakai oleh pria di hadapannya, telah membuat wanita empat puluh lima tahun itu menjadi seakan terhipnotis.
"Untuk apa kamu menanyakan hal itu?" Dena mengernyitkan kening.
"Karena aku ingin tahu," jawab bule asal Swedia itu.
"Kalau sudah tahu ... kamu mau apa?" Tatapan Dena terarah langsung kepada pria bertubuh jangkung tadi.
"Kalau sudah tahu ... maka aku ...." Alexandre terdiam sejenak. Dia memperhatikan wajah Dena dengan saksama. "Ternyata kamu cantik juga," rayunya membuat Dena seketika ingin berpura-pura pingsan. "Aku suka dengan sikapmu yang apa adanya, galak, dan ...." Alexandre kembali menjeda ucapannya. Namun, wajah tampan pria itu kini hanya berada beberapa senti saja di hadapan paras cantik Dena yang semakin gelagapan.
Napas Dena seakan tercekat di tenggorokan, saat merasakan hembusan napas Alexandre yang menghangat di wajahnya. Sudah sekian lama dia tidak merasakan getaran seperti yang dialaminya saat ini. Dena kemudian memejamkan mata sambil menunggu apa yang akan dilakukan Alexandre selanjutnya. Namun, beberapa saat dia menunggu tapi ternyata tak terjadi apapun. Perlahan, Dena kembali membuka mata. Dia melihat Alexandre yang tengah memperhatikan dengan tatapan aneh.
"Kamu kenapa? Jangan bilang kalau kamu berharap untuk dicium olehku," ledek Alexandre geli, membuat Dena seketika merengut antara rasa malu bercampur kecewa. Dena pun segera memalingkan muka. Sementara bule asal Swedia tadi hanya tertawa pelan. "Astaga," ujarnya.
"Minggir kamu! Aku harus kembali ke teman-temanku." Dena mencoba untuk mendorong tubuh tegap Alexandre. Akan tetapi, usahanya hanya sia-sia. Postur Alexandre terlalu kokoh untuk dia singkirkan dari hadapannya, terlebih karena tiba-tiba pria itu memegangi pergelangan tangan Dena dan menahannya.
__ADS_1
"Aku akan membiarkanmu pergi setelah ...."
"Setelah apa? Jangan ma ...." Suara Dena tak terdengar lagi, karena tenggelam dalam sentuhan bibir Alexandre yang membuat wanita itu terlena. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua sama-sama mereguk manisnya adegan ciuman tersebut. Dena bahkan sampai lupa bahwa ada teman-teman yang sedang menunggu dia untuk kembali bergabung. Lajang empat puluh lima tahun tersebut malah asyik menikmati setiap perlakuan Alexandre terhadapnya.
Entah sudah berapa lama, Dena tak mendapat perlakuan seperti itu dari seorang pria. Rasa haus lajang cantik tersebut sedikit terobati, ketika Alexandre membasahi bibirnya dengan cara yang teramat sempurna. Ini pertama kalinya bagi Dena dicium oleh seorang pria bule. Sang pemilik perusahaan travel itu tampak terengah, setelah Alexandre melepaskan pertautan mereka.
"Apa aku sudah boleh pergi?" tanya Dena yang merasa salah tingkah dan tak karuan. Dia ingin segera bersembunyi dari pemilik rambut cokelat itu.
Alexandre tersenyum kalem. Dia mengelus pipi Dena dengan punggung tangan, lalu kembali memandang wanita yang baru saja diciumnya. "Tentu, tapi setelah ini kita akan bertemu lagi, kan?" tanyanya seakan memberikan sinyal kuat bagi Dena yang kembali tersipu.
"Terserah kamu," jawab Dena kikuk.
"Okay. Jadi, siapa nama lengkapmu?" tanya Alexandre lagi penasaran. Sementara bibirnya hanya berjarak beberapa senti saja dari bibir Dena.
Dena tak langsung menjawab. Dia seperti tengah menimbang-nimbang. Namun, tak lama kemudian wanita itu pun menjawab, "Magdalena Myesha Dianing Suryadinata. Kalau kamu kesulitan menghapalnya, cukup ingat saja 'Dena'. Itu jauh lebih simpel." Seusai berkata demikian, Dena pun mendorong pelan tubuh tegap Alexandre yang kali ini membiarkannya pergi sambil tersenyum kalem.
"Aku akan mencatat nama lengkapmu," sahutnya sebelum Dena benar-benar menghilang dari pandangan.
Dena kemudian menoleh seraya tersenyum lembut. Sikap yang dia tunjukkan kali ini jauh lebih manis dari sebelumnya.
...🌹To Be Continue 🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Hallo selamat pagi❤️Ada rekomendasi karya keren yang wajib kalian baca nih😍yuk mampir di karya Author Melisa dengan judul Annisa Istri Kecilku. Jangan sampai ketinggalan yak😎...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1