
Sekitar tujuh belas jam perjalanan telah ditempuh oleh Soraya dan Beatrice. Keduanya kini telah tiba di Bandar Udara Internasional Adolfo Suárez Barajas, Madrid. Di sana, kedatangan mereka disambut dengan suka cita oleh Matilde dan suaminya Carlos. "Bienvenido a Madrid (Selamat datang di Madrid)." Matilde memeluk kakak ipar serta keponakannya, begitu juga dengan Carlos yang begitu merindukan gadis muda berambut cokelat itu.
"Bagaimana kabar kalian berdua?" tanya Matilde seraya mengajak ibu dan anak itu melangkah keluar bandara. Sementara koper milik Soraya dan Beatrice dibawa oleh Carlos.
"Kami sangat bahagia karena bisa kembali kemari," jawab Soraya dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya.
"Ya, semenjak kalian kembali ke Indonesia, rasanya sulit sekali untuk bertemu lagi. Aku bahkan berpikir jika kau tidak akan mempertemukanku lagi dengan Bea. No me gustará (Aku tidak akan menyukainya)," ujar Matilde sambil merengkuh pundak Beatrice yang berada di sebelahnya. "Astaga, kau semakin tinggi saja, Bea," ucapnya lagi seraya melirik keponakannya tersebut.
Sementara Beatrice tak banyak bicara. Gadis berambut cokelat tersebut hanya tersenyum saat menanggapi ucapan Matilde, yang merupakan adik dari sang ayah.
"Sudahlah. Kita lanjutkan reuni kecil ini di rumah saja. Lagi pula, Paquita sudah menunggu kedatangan kita di sana. Dia menyiapkan banyak makanan untuk menyambut kedatangan kalian berdua," ucap Carlos menimpali dari arah depan. Dia lalu memasukkan koper milik Soraya dan Beatrice ke dalam bagasi. Setelah semua masuk dan duduk nyaman di dalam mobil VW Beetle berwarna kuning, Carlos pun mulai menyalakan mesin dan melajukan kendaraannya keluar dari area bandara.
Selama di dalam perjalanan, Soraya dan Matilde begitu berisik. Mereka tak henti-henti berbicara tentang segala macam. Sementara Beatrice lebih memilih melihat ke luar jendela, pada jalanan kota Madrid yang telah sekian lama dia tinggalkan. Rasanya seperti mimpi ketika dirinya bisa kembali ke tanah kelahiran yang menyimpan banyak kenangan bersama mendiang sang ayah, Francesco Rojas.
__ADS_1
Setitik butiran bening muncul di pelupuk mata gadis cantik dua puluh dua tahun tersebut. Beatrice dulu sangat dekat dengan sang ayah. Karena itu, dia merasa begitu kehilangan ketika Francesco dinyatakan meniggal dunia setelah kecelakaan lalu lintas yang dialaminya.
Gadis itu terus terhanyut, hingga lamunannya kemudian terhenti, ketika mobil yang dikendarai Carlos telah memasuki halaman sebuah rumah megah khas Spanyol dengan lantai berlapis batuan alam. Carlos menghentikan mobil kesayangannya di dekat garasi yang berada terpisah dari bangunan rumah dua lantai yang memiliki jendela dan desain unik. Rumah berwarna putih tadi dihiasi beberapa tanaman yang membuat suasana di sekitarnya tampak rindang dan asri.
"Hola, bienvenido (Hai, selamat datang)," sambut seorang gadis berambut pirang dengan kepang samping yang menjuntai melewati pundak sebelah kiri. Dia baru muncul setelah mendengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah. Gadis itu memiliki postur sedikit lebih tinggi dari Beatrice. Dia mengenakan singlet putih dan celana tidur bergambar salah satu tokoh kartun terkenal. Gadis itu adalah Paquita, putri tunggal pasangan Carlos dan juga Matilde. Usianya setahun lebih tua dari Beatrice, karena dulu Matilde menikah lebih dulu dibandingkan kakanya Francesco.
"Hola Paquita. ¿Cómo estás? (Hai, Paquita. Apa kabar)," balas Beatrice. Meskipun telah lama meninggalkan Spanyol, tapi Beatrice masih tetap fasih dengan bahasa kampung halamannya. Dia menyambut pelukan hangat dari sepupunya tersebut. Paquita adalah teman bermain Beatrice dulu. "Astaga, aku sangat merindukanmu," ucap Beatrice yang sejak tadi hanya terdiam. Rasanya seperti mimpi ketika mereka bisa bertemu lagi.
"Aku juga sangat merindukanmu, Bea. Kau lama sekali tak berkunjung kemari," balas Paquita dengan senyuman lebar dan mata berbinar karena terlampau bahagia. Tak lupa dia juga menyapa Soraya sambil memeluk janda cantik itu. "Ayo, masuk. Aku sudah menyiapkan banyak makanan di dalam," ajaknya. Mereka lalu berjalan ke dekat pintu dengan bagian atas yang berbentuk melengkung.
Matilde mengajak mereka ke ruang tamu dengan lawang berbentuk melengkung pula. Di sana terdapat kursi berlapis busa tebal yang diletakkan di dekat jendela dan sebuah pintu yang menuju halaman samping. Di dalam ruangan tadi juga terdapat dua buah pohon palem mini sebagai penghias.
"Ma, aku mau langsung ke kamar saja," ucap Beatrice.
__ADS_1
"Oh tentu, Sayang," sahut Soraya. Dia menoleh kepada Matilde dan Paquita yang hanya menautkan alis karena tak mengerti dengan bahasa yang digunakan oleh Beatrice.
"Bea quiere ir a su cuarto (Bea ingin pergi ke kamarnya)," ucap Soraya kepada saudara ipar serta keponakannya.
"Oh, astaga. Aku pikir dia ingin apa," ujar Paquita tertawa renyah. "Déjame llevarte a tu habitación, Bea (Mari kuantar ke kamarmu, Bea)," ajak Paquita seraya menggandeng lengan Beatrice. Kedua gadis itu pun berlalu dari ruangan tadi menuju kamar yang telah disiapkan untuk Beatrice.
Sesampainya di kamar dan Paquita berlalu dari kamar yang ditempati Beatrice saat ini, gadis berambut cokelat itu duduk di atas ranjang. Dia mengedarkan pandangan untuk mengamati kondisi kamar bernuansa krem itu. Lantas, Beatrice segera membuka tas untuk mengambil ponsel miliknya. Ada sesuatu hal yang ingin dia lihat meski ada rasa kesal di dalamnya.
"Sepertinya aku tidak perlu membuka pesan dari Dirga," gumam Beatrice setelah membuka aplikasi chatting di sana, "aku ingin dia sadar akan kesalahannya." Beatrice kembali menyimpan ponselnya karena sementara waktu ingin membiarkan Dirga sendiri. Rasa kecewa yang ada di dalam hati masih mendalam hingga menusuk sanubari.
Masih teringat dengan jelas bagaimana sikap Dirga bersama seorang gadis tempo hari. Beatrice kesal melihat sang kekasih begitu akrab dan sangat dekat dengan seorang gadis selain dirinya. Apalagi ketika melihat gurat kebahagian, senyum lebar dan keceriaan yang ditampilkan Dirga kala itu, api cemburu pun semakin berkobar. Padahal tujuan utama Beatrice pergi ke sana adalah untuk memperbaiki hubungan yang sempat membeku tanpa sebab yang jelas. Namun, semua hanya tinggal rencana karena pada kenyataannya Beatrice memilih pergi ke Spanyol dari pada bertemu dengan Dirga untuk menanyakan kejelasan siapa gadis yang dia lihat kala itu.
"Aku tidak tahu, apa yang membuatmu berubah seperti ini. Satu hal yang membuatku kecewa, kamu tidak bisa menjaga sikap di hadapan gadis lain, seakan kamu tidak ingat jika ada perasaan yang harus kamu jaga." Beatrice bergumam lirih dengan tatapan lurus ke depan. Dia seakan sedang berhadapan dengan Dirga saat mengeluarkan keresahan hatinya.
__ADS_1
...🌹To Be Continue 🌹...