
Gemericik air hujan masih terdengar meski malam telah semakin larut. Udara dingin begitu terasa di salah satu perkampung yang ada di kota Jakarta selatan. Suara katak dan hewan malam lainnya terdengar saling bersahutan. Angin malam pun berhembus mesra lewat jendela yang dibiarkan terbuka untuk menyapa seorang pria manis yang masih berkutat dengan laptopnya di dalam kamar.
Ya, siapa lagi kalau bukan Dirga. Sejak langit berubah menjadi gelap karena sang mentari hilang ditelan bumi, Dirga tak beranjak dari tempatnya. Dia sibuk mengedit foto Rahma dan beberapa wanita lain yang memakai jasanya dalam minggu ini. Seperti itulah kesibukan pria dua puluh lima tahun tersebut, di kala dirinya sedang libur dari pekerjaan di cafe. Pria itu tidak ingin hanya sekadar diam di rumah tanpa melakukan apapun.
"Ga! Ini sudah malam, jangan bekerja terus. Istirahatlah dulu," tegur Astuti setelah masuk ke dalam kamar putra sulungnya itu.
"Iya, Bu. Sebentar lagi juga selesai," jawab Dirga tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
Astuti hanya bisa mengela napas pelan, setelah melihat jam dinding yang ada di sana. Wanita paruh baya itu lalu keluar dari kamar sang anak tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ada rasa haru di hati Astuti, ketika melihat putranya yang harus ikut banting tulang bekerja keras demi membantu perekonomian keluarga. Astuti sadar jika semua ini karena dirinya tidak mampu membiayai semua kebutuhan rumah tangga.
Hidup sebagai seorang single parent, membuat ibu dua anak tersebut harus banting tulang di pasar. Utang peninggalan almarhum suaminya pun masih tersisa cukup banyak di bank, dan setiap bulan harus dia cicil demi melunasi angsuran yang seakan tak habis-habis itu.
Belum lagi untuk biaya anak bungsunya yang baru duduk di bangku SMP.
"Ya, aku pun menjadi salah satu penyebab Dirga menjadi seperti ini," gumam Astuti sambil mengaduk kopi untuk putra sulungnya.
Wanita paruh baya itu kembali ke dalam kamar putra sulungnya dengan membawa secangkir kopi hitam. Dia meletakkan cangkir tersebut di atas meja, lebih tepatnya di dekat laptop yang sedang menyala. Astuti kemudian memilih untuk duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan putranya.
"Ibu buatkan kopi untuk menemanimu," ucap Astuti, "ya, walaupun kopinya tidak seenak racikanmu sendiri tentunya." Astuti tak mengalihkan pandangan dari wajah sang anak, yang kerap mengingatkannya pada sosok pria yang pernah dia cintai dulu.
__ADS_1
"Terima kasih, Bu. Kopi buatan Ibu rasanya sangat nikmat kok." Dirga mengalihkan pandangannya kepada wanita paruh baya, yang tak henti menatap dirinya. Setelah itu, dia pun mengubah posisi duduknya.
Dengan terpaksa dia menghentikan sejenak pekerjaannya, karena tidak enak hati kepada sang ibu. Dia segera menuang kopi panas itu ke atas lepek (tatakan), kemudian meniupnya, "hmmm ... mantap, Bu." Ucap Dirga setelah menghabiskan kopi yang ada di lepek. Dia mengacungkan jempolnya agar sang ibunda tidak merasa kecewa.
"Kamu bisa saja," ucap bu Astuti sambil tersenyum tipis. "Lebih baik kamu segera istirahat, Ga. Ibu tidak mau jika kamu sampai sakit karena kurang tidur," tutur Astuti tanpa mengalihkan pandangannya dari Dirga.
"Iya, Bu. Sebentar lagi juga selesai semuanya," balas Dirga dengan santai. Dia sempat melirik jam yang terpajang di dinding kamarnya. Ternyata, saat itu sudah hampir pukul dua belas malam.
"Ibu segeralah beristirahat. Besok kan harus ke pasar. Setelah ini, aku juga akan langsung tidur," saran kekasih dari Beatrice tersebut.
"Tak apa. Ibu ingin di sini dulu sebentar," sahut Astuti. Dia melawan rasa kantuk dan juga lelah, demi menemani putra tercintanya.
"Nak, setelah ini kamu harus istirahat." Sekali lagi, Astuti mengingatkan putranya agar segera menyudahi pekerjaan yang terus membuat Dirga tampak sibuk.
"Iya, Bu, iya. Setelah ini Dirga pasti tidur," ucap Dirga seraya tersenyum manis.
"Lagi pula, untuk apa sih akhir-akhir ini kok Ibu lihat kamu semakin gila kerja? Mau beli sesuatu atau mau dipakai jalan-jalan?" tanya Astuti lagi penuh selidik, karena merasa begitu penasaran.
Namun, Dirga tak segera menjawab pertanyaan itu. Dia sendiri masih bingung harus bagaimana. Hingga saat ini, Dirga belum bicara perihal pernikahan dengan ibunya. Terlebih Astuti selalu menasihati dia dengan banyak petuah, yang selalu mengingatkan perbedaan kasta antara keluarganya dengan keluarga sang kekasih. Akan tetapi, masalah sebesar itu tak mungkin untuk terus dia simpan sendiri. Bagaimanapun juga, sang ibu harus tahu tentang permintaan Beatrice yang sangat tiba-tiba tapi terkesan mendesak.
__ADS_1
"Dirga ingin menikah, Bu," jawab pria dua puluh lima tahun tersebut tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Astuti.
Bukannya terkejut ataupun menanggapi jawaban Dirga dengan serius, wanita paruh baya tadi malah tertawa. Dia menganggap jawaban Dirga hanya sebuah gurauan, "Sudah ah! Ibu mau istirahat dulu. Semakin malam kamu semakin ngelantur, Ga," ucap Astuti sebelum meninggalkan kamar Dirga. Dia beranjak menuju pintu. Namun, sebelum Astuti sempat memutar pegangannya, ibu dua anak tersebut memilih untuk mengurungkan hal itu ketika dia mendengar putranya kembali berbicara.
"Aku serius, Bu. Bea ingin agar kami segera menikah," tegas Dirga lagi dengan raut wajah yang terlihat sungguh-sungguh. Dia lalu berdiri dan berjalan menghampiri sang ibunda yang masih terpaku di dekat pintu. "Bea mendesakku agar segera menikahinya. Aku setuju, tapi tentu saja setelah mendapatkan bekal yang cukup, walaupun Bea menyanggupi untuk menanggung seluruh biaya pernikahan kami. Namun, aku tidak diajarkan menjadi benalu. Apalagi terhadap seorang gadis yang kucintai. Karena itulah, aku harus bekerja lebih keras demi mengumpulkan uang hingga mencukupi," jelas Dirga dengan pelan dan sangat hati-hati.
Namun, Astuti tenyata hanya ternganga setelah mendengar penuturan putra sulungnya itu. Wanita paruh baya tersebut memandang lekat, kepada putra yang kini telah menjadi tulang punggung keluarga. Diraihnya paras manis sang anak, kemudian dibelai dengan penuh kasih. "Kamu yakin akan menikah dalam waktu dekat?" tanyanya seakan tak percaya dengan apa yang baru dia dengar.
"Iya, Bu. Aku harap Ibu tidak ada masalah dengan hal itu," sahut Dirga pelan.
"Ibu sama sekali tidak ada masalah, karena cepat atau lambat pun kamu memang harus menikah. Ibu hanya berharap keputusan tiba-tiba itu bukan karena ada alasan lain," ujarnya.
"Alasan apa?" tanya Dirga.
"Semoga bukan karena Bea sedang hamil."
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1