Sosialita

Sosialita
Mpok Ijem yang meresahkan,


__ADS_3

"Mpok Ida! Beli rokoknya Mpok!" Dirga setengah berteriak saat memanggil sang pemilik toko. Dia berdiri di depan toko kelontong milik bu Rosidah, dengan pandangan yang terus mencari sosok wanita itu.


Sepulang kerja dari cafe, Dirga mampir terlebih dahulu di toko kelontong yang ada di depan gang menuju rumahnya. Toko itu merupakan yang terlengkap di daerah tempat tinggal Dirga, karena selain menyediakan kebutuhan sehari-hari, toko tersebut juga menyediakan berbagai macam makanan ringan, minuman kaleng, rokok, dan segala jenis barang kebutuhan sehari-hari. Hanya teman kencan yang tidak tersedia di toko itu.


"Mau beli apa, Bang?" tanya seorang gadis yang baru muncul dari dalam toko tersebut. Gadis itu tak lain adalah Maryati, anak dari pemilik toko.


"Tumben sama kamu, Mar. Mpok Ida ke mana?" Bukannya menjawab pertanyaan Maryati, Dirga justru malah balik bertanya padanya.


"Mama lagi di belakang, Bang. Biasa, ada panggilan darurat," jawab gadis yang masih duduk di bangku SMA itu seraya terkikik pelan. "Abang ada perlu apa?" tanyanya lagi.


"Rokok. Seperti biasanya, Mar." Dirga menunjuk deretan rokok yang berjajar di etalase kecil tempat penyimpanan rokok. "Tumben kamu yang jaga toko, kemana mpok Ida?" tanya Dirga sambil menyerahkan beberapa lembar rupiah kepada Mary.


"Ye, si Abang kurang minum nih kayaknya. Orang tadi sudah dijawab. Biasanya pada jam segini pasti mama sudah bersiap untuk menyambut papa pulang kerja," jawab Maryati sambil menyerahkan rokok sekaligus uang kembalian kepada Dirga.


"Oh, iya. Aku lagi ngga konsen. Capek, Mar. Hari ini pengunjung cafè rame banget," kilah Dirga seraya tertawa pelan. "Ini untuk beli minuman saja lah, Mar," ucap Dirga sambil mengembalikan lagi uang kembalian yang baru saja diberikan oleh Maryati. Dia lalu membalikkan badan dan berjalan menuju showcase tempat penyimpan minuman dingin. "Masih cukup kan untuk membeli ini?" tanya Dirga sambil menunjukkan minuman kaleng merk 'colo-colo' kepada Maryati.


"Masih ada kembaliannya, Bang! Tuh dapat snack yang dua rebuan dua biji!" tunjuk Maryati dengan telunjuk yang terarah pada tempat menyimpan berbagai jenis makanan ringan.


Dirga segera mengambil snack yang dimaksud oleh Maryati. Pria manis itu memutuskan untuk duduk di bangku panjang yang ada di depan toko kelontong tersebut. Dia ingin beristirahat sejenak di sana sambil menikmati sebatang rokok dan beberapa snack yang dia beli.


"Mar! Aku ikut duduk di sini boleh ya!" seru Dirga hingga membuat Maryati keluar dari toko. Kebetulan tidak ada pembeli lain yang datang ke tokonya saat itu.

__ADS_1


"Duduk aja kali, Bang! Gratis tanpa dipungut biaya parkir!" ujar Maryati sambil duduk di samping Dirga. "Eh, Bang. Udah dengar kabar belom?" bisik Maryati sambil setelah mengedarkan pandangan sebelum memulai untuk menyampaikan informasi kepada Dirga.


"Kabar tentang apa?" tanya Dirga tanpa menatap Maryati. Dia sibuk membuka bungkus snack yang dibelinya.


"Itu si mak Ijem. Abang tahu gak kalau sekarang mak Ijem tuh lagi kesemsem sama si Mamad penjual ketoprak yang biasa mangkal di depan masjid itu loh!" ujar Maryati sambil mengulum senyum karena membayangkan bagaimana saat mak Ijem menggoda Mamad yang sangat muda.


"Jangan ngaco kamu, Mar. Mana mungkin mak Ijem seperti itu." Dirga tidak percaya dengan cerita yang disampaikan oleh Maryati.


"Ih! Abang kok gak percaya sih." Maryati memukul lengan Dirga. "Ini serius, Bang! Asal Abang tahu ya, itu si Mamad sampai kagak berani jualan lagi di sana. Entah dia sampai pindah ke mana karena takut dengan mak Ijem yang agresif." Sepertinya sinyal-sinyal ghibah Maryati sangat kuat hingga dia mengetahui hal-hal seperti yang sedang diceritakannya kepada Dirga.


"Eh, Mary! Kamu ini kan masih remaja, kenapa suka banget ngeghibah bersama ibu-ibu. Sampai berita tentang mak Ijem aja kamu tahu," tegur Dirga karena tidak percaya jika gadis yang ada di sisinya itu begitu kuat menangkap bahan ghibah.


"Ya ampun, Bang!" Maryati menepuk bahu Dirga dengan manjanya. "Ini bukan gosip! Aku melihat sendiri waktu mak Ijem beli ketoprak sambil mencolek si Mamad," ujar Maryati dengan nada bicaranya yang terdengat sangat yakin.


"Aku tuh bilang gini ke Abang, biar Abang lebih hati-hati gitu. Abang kan cakep, masih muda dan jauh lebih seger jika dibandingkan sama bang Kohar. Jadi, sebaiknya kalo entar mak Ijem ada deket-deket apa lebih sering nyapa sama Abang, ada baiknya jangan terlalu diladenin. Bisa jadi Abang sedang jadi sasaran target buruannya," saran Maryati sambil meringis kecil.


"Ya ampun. Meresahkan sekali," gumam Dirga seraya mengisap, lalu mengepulkan asap rokoknya. "Lagian, kenapa harus dibandingkan sama bang Kohar sih?" protesnya.


Maryati tertawa lepas, seraya meletakkan lengannya di atas pundak Dirga. Dia sudah terbiasa melakukan hal seperti itu kepada Dirga, yang memang akrab dengan dirinya. "Karena aku ga mungkin bandingin sama si Joni," gelaknya.


"Iyalah, orang si Joni anak mpok Nining kan masih balita," sahut Dirga ikut tertawa. Mereka pun terus berbincang ke sana kemari dengan akrab, sambil sesekali tertawa bersama.

__ADS_1


Namun, tanpa Dirga ketahui bahwa ada seseorang yang memperhatikan keakraban antara dirinya dengan Maryati sejak tadi. Sepasang mata berwarna cokelat yang terlihat tak suka dengan pemandangan tersebut.


Ya, Beatrice yang tadinya hendak turun dari mobil, terpaksa harus mengurungkan niat. Gadis itu lebih memilih tetap berada di dalam mobil yang berhenti di seberang jalan, sambil terus memperhatikan apa yang Dirga lakukan dengan Maryati.


Kecewa dan juga kesal yang saat itu dirasakan oleh Beatrice. Semuanya bercampur menjadi satu. Namun, salahnya dia seakan tak hendak meminta penjelasan kepada Dirga tentang yang sebenarnya. Beatrice lebih memilih untuk menyuruh sang sopir agar kembali melajukan kendaraan, dan pergi dari sana.


"Menyebalkan!" gerutu gadis blasteran Spanyol tersebut dengan kesal. Beatrice memasang wajah cemberut, saat mobil sedan yang ditumpanginya telah meninggalkan area tempat tinggal Dirga. Dia kembali dengan membawa rasa kesal dalam hati. Begitu juga dengan bingkisan makanan yang tadinya akan dia berikan untuk Astuti, calon ibu mertuanya.


"Pak, ini bawa saja buat Bapak," ucap Beatrice sambil menyodorkan bingkisan berisi berbagai camilan dan kue kering mahal yang dibawanya kepada sang sopir, setelah dirinya tiba di depan rumah. Beatrice lalu turun dari mobil tanpa menunggu sopir tadi membukakan pintu untuknya. Hati gadis itu teramat panas. Rasa cemburu telah menguasai akal sehatnya. Beatrice begitu kesal atas apa yang dia lihat tadi.


"Jadi begitu kelakuan Dirga di belakang aku?" pikirnya seraya membuka pintu kamar. Dia lalu berdiri sejenak sambil memikirkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, gadis cantik itu lalu merogoh ponsel dari dalam sling bag kecilnya. Beatrice tampak menghubungi seseorang.


"Hallo, Ma. Mama kapan pulang?" tanya Beatrice. Rupanya dia mengbubungi Soraya yang masih berada di kantor.


"Ada apa, Bea? Mama akan pulang sebentar lagi," jawab Soraya dari seberang sana.


"Ngga ada apa-apa, ma. Aku hanya mau bilang kalau aku setuju dengan tawaran mama yang waktu itu," jawab Beatrice.


"Tawaran yang mana?" tanya Soraya lagi.


"Tawaran tentang pergi berlibur ke Madrid," jawab Beatrice dengan yakin. Tak ada yang ingin dia lakukan lagi setelah melihat Dirga dengan gadis lain. Beatrice hanya ingin pergi dan menghilangkan rasa suntuk dalam hatinya. Berlibur dan bersenang-senang akan membuat dia kembali bersemangat lagi. Negeri matador, menjadi pilihan tepat untuk mengobati segala kegalauan yang tengah dirinya rasakan.

__ADS_1


...🌹To Be Continue🌹...


__ADS_2