
Hotel bintang lima ternama di Jakarta adalah tempat yang dipilih Alexander untuk melangsungkan pernikahannya bersama Dena. Setelah melewati beberapa bulan untuk mempersiapkan semua ini, akhirnya hari bahagia itu telah tiba. Dekorasi mewah telah menghiasi ballroom hotel untuk perayaan pesta pernikahan ini.
Acara akad nikah telah berlangsung tadi pagi dengan disaksikan tamu undangan khusus dari sepasang pengantin itu. Mereka dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri di hadapan semua saksi yang hadir. Resepsi pernikahan digelar sore ini hingga malam nanti.
"Cantik sekali kau, Den!" puji Soraya setelah melihat penampilan glamour wanita yang baru saja menyandang status sebagai istri itu.
"Ck. Kemana saja kamu selama ini?" Dena berdecak setelah mendengar pujian tersebut.
Wanita yang sudah resmi dipersunting Alexandre itu sebenarnya merasa malu telah menyelenggarakan pesta mewah seperti ini, karena dia sadar jika bukan seorang gadis muda lagi. Akan tetapi dia tidak dapat menolak ketika Alexandre dan keluarga besarnya menginginkan semua pesta ini.
"Hmmm ... luar biasa!" Tiba-tiba saja terdengar suara Rahma di dalam ruangan itu. Dia terlambat datang sore ini.
"Heh kau! Kenapa telat? Untung saja belum dimulai acaranya," tanya Astrid ketika melihat kehadiran si bungsu di sana.
"Aku minta maaf, karena tadi sempat ada drama. Aku mual terus sebelum berangkat ke sini," ungkap Rahma seraya duduk di salah satu kursi yang ada di sana.
"Maklum, hamil muda memang seperti itu rasanya." Soraya mencoba memberikan semangat kepada Rahma.
"Setidaknya ini jauh lebih baik Mbak daripada hamil yang kemarin. Ini gak terlalu parah sih mualnya." Rahma mengembangkan senyum manis.
Istri dari dokter Richard itu tengah hamil satu bulan. Mereka memang sengaja tidak menunda untuk memiliki momongan. Justru dokter Richard memberikan vitamin agar Rahma cepat hamil dan inilah hasil usahanya. Sang istri mengandung satu bulan dalam kondisi sehat.
"Sayang, ayo kita keluar. Acara akan dimulai, mari kita bersiap," ajak Alexandre setelah masuk ke dalam ruangan tersebut.
Dena mengela napas setelah mendengar ajakan itu. Dia menerima uluran tangan Alexandre sebelum berdiri dari tempatnya. Sepasang suami istri itu akhirnya keluar dari ruangan diikuti ketiga Bridesmaids yang tak lain adalah anggota geng sosialita warung remang-remang.
__ADS_1
"Sayang, Aku nervous," bisik Dena saat berjalan di sisi Alexandre.
"Kamu harus percaya diri. Kamu sangat cantik hari ini," puji Alexandre dengan diiringi senyum yang manis.
Acara resepsi pernikahan megah itu akhirnya dimulai. Sepasang pengantin itu berjalan di atas karpet merah menuju pelaminan. Mereka terlihat sangat serasi dengan pakaian serba putih. Dena memakai gaun putih tulang dengan belahan dada rendah, sementara Alexandre memakai tuxedo putih. Senyum bahagia mengembang dari kedua sudut bibir itu dengan indahnya.
Terlambat menikah jauh lebih baik dari pada harus terburu-buru memilih pasangan hidup. Bukan hidup bahagia yang didapatkan melainkan sebuah perpisahan. Satu harapan yang pasti dari kedua mempelai ini, mereka hanya ingin memiliki rumah tangga bahagia dan bisa hidup bersama sampai akhir nanti. Serangkaian acara telah terlewati tanpa hambatan. Satu persatu tamu undangan mulai berdatangan sesuai dengan jadwal yang tertulis di undangan.
"Aku mau pamit pulang dulu ya. Badanku terasa gak enak nih Mbak Ay," keluh Rahma sambil menatap Soraya, "lagi pula kita sudah foto bersama 'kan?" tanya Rahma sambil menyimpan ponselnya ke dalam tas.
"Terus pulang sama siapa? Pak Dokter sudah selesai operasi kah?" tanya Soraya. Pasalnya dokter Richard tidak bisa hadir karena ada pasien yang harus mendapatkan tindakan cepat.
"Sudah, dia sudah di depan. Aku suruh masuk dia gak mau karena dari rumah sakit langsung menjemputku," jawabnya sambil berdiri dari tempatnya.
"Aku juga harus pulang, Ay. Handoko ingin bertemu," sahut Astrid.
Tak berselang lama, Beatrice dan Dirga hadir di sana bertepatan dengan Rahma dan Astrid yang baru saja turun dari pelaminan. Keduanya baru saja pamit kepada Dena sebelum meninggalkan pesta mewah tersebut.
"Hallo Cantik. Hmmm calon pengantin makin cantik aja," sapa Rahma ketika berpapasan dengan Beatrice.
"Hay Tante, senang bertemu dengan Tante di sini." Beatrice membalas sapaan Rahma dengan sikap yang sopan.
Akhirnya, Astrid dan Rahma berjalan menuju pintu keluar setelah berpamitan dengan Soraya dan Beatrice, "ayo Sayang kita menemui tante Dena," ajak Soraya seraya mengembangkan senyumnya.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
__ADS_1
Resepsi pernikahan mewah telah berakhir. Tepat pukul sebelas malam, sepasang pengantin baru itu masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Kamar pengantin sudah didekorasi dengan indahnya. Kelopak bunga mawar bertaburan di sana. Siap menjadi saksi betapa indahnya malam penuh warna ini.
"Aku tidak menyangka jika takdir membawaku pada pernikahan ini. Bahkan, setelah bertemu denganmu saja aku belum punya niat untuk menikah. Akan tetapi malam ini aku bisa tahu bagaimana indahnya kamar pengantin," ucap Dena ketika berhadapan dengan Alexandre.
"Kata orang malam setelah hubungan resmi dinyatakan sah dalam pernikahan disebut malam pertama. Apakah menurutmu ini malam pertama kita?" tanya Alexandre dengan senyum tipis. Jari-jarinya membenarkan anak rambut yang menutupi kening Dena.
Dena tersenyum simpul setelah mendengar pertanyaan itu. Dia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Alexandre, "ya. Ini adalah malam pertama kita. Malam pertama dengan status suami istri. Aku milikmu, Alexandre," ucap Dena dengan suara yang terdengar lembut.
Kecupan mesra mendarat sempurna di kening berlapis makeup itu. Sebuah tanda betapa besarnya rasa cinta yang hadir di antara mereka. Perlahan kecupan itu turun menyusuri hidung dan berakhir di bibir berwarna merah tua itu.
"Aku sangat mencintaimu, Sayang," ucap Alex setelah meneguk rasa manis dari 'buah cherry' yang ada di hadapannya.
"Aku lebih dari itu," balas Dena sambil membelai pipi Alexandre, "bantu aku melepaskan gaun ini," ucap Dena seraya membalikkan badan.
Kedua tangan pria keturunan Swedia itu begitu cekatan saat membantu Dena melepaskan kancing gaun yang ada di punggung. Sesekali dia memberikan sentuhan lembut yang membuat Dena harus mengigit bibir.
"Entah mengapa aku merasa kagum setiap melihat bentuk indah tubuhmu. Kamu begitu sempurna di mataku, Sayang," puji Alexandre ketika gaun putih itu jatuh di atas lantai.
"Ya ... memang seharusnya seperti itu 'kan! Kamu harus selalu kagum kepadaku, bukan kepada gadis lain," ucap Dena sambil mengerlingkan mata kepada Alexandre, "aku ingin berendam air hangat sebelum tidur," ucap wanita berusia empat puluh enam tahun itu.
Alexandre berkacak pinggang sambil menatap tubuh indah yang baru saja masuk ke dalam kamar mandi itu. Tak lama setelah itu, Alexandre pun melepas tuxedo putih yang masih melekat di tubuhnya. Lantas dia pun menyusul Dena masuk ke dalam kamar mandi.
"Sepertinya kita harus mandi bersama sebelum tidur nyenyak malam ini," ucap Alexandre setelah berada di dalam kamar mandi. Dia segera melepas pakaian yang masih tersisa di tubuh.
Malam panjang dimulai di bawah guyuran shower. Suara merdu yang terdengar di sana menandakan betapa hebatnya kuasa Alexandre atas apa yang dimiliki oleh Dena. Dua bentuk yang berbeda membaur menjadi satu hingga menciptakan satu rasa yang sama. Pada akhirnya Dena mulai berlayar bersama nahkoda untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Niat hati ingin sendiri, kini telah memiliki tambatan hati.
__ADS_1
"Berikan aku suara manjamu, Sayang. Terbanglah setinggi mungkin ketika rasa itu telah datang," bisik Alexandre ketika merasakan getaran hebat dari pusat tubuh sang istri.
...🌹To Be continued 🌹...