
Beberapa hari kemudian,
Semenjak mengalami keguguran, kedekatan antara dokter Richard dan Rahma pun mulai terjalin dengan baik serta terbilang intens. Pria tampan dengan tampilannya yang selalu terlihat bersih itu kerap menghubungi Rahma, hanya sekadar untuk basa-basi menanyakan kabar. Terkadang, dia juga mengajak wanita tiga puluh lima tahun tersebut keluar dan menghabiskan waktu bersama. Salah satunya seperti hari itu. Dokter Richard akan pergi ke tempat biasa dia melakukan latihan menembak. Dia meminta Rahma untuk menemaninya pergi ke sana, hingga pria itu menyelesaikan sesi latihan tersebut.
Rahma yang sudah merasa mantap untuk melepaskan diri dari jeratan pria tua mata keranjang bernama Abraham Lee, berniat hendak meninggalkan apartemen dan juga segala kenyamanan fasilitas mewah yang dia nikmati selama ini. Dia benar-benar merasa kecewa terhadap pria tua itu. Tak ada lagi yang bisa Rahma harapkan darinya.
"Kenapa kamu memilih untuk berlatih menembak?" tanya Rahma. Kini, dia dan dokter Richard berbicara dengan bahasa dan sebutan yang jauh lebih akrab dan juga santai. Dokter tampan itu sudah menyelesaikan sesi latihan, tetapi tak langsung mengantarkan wanita itu pulang ke apartemennya.
"Sebagai manusia normal, tentu saja aku memiliki luapan amarah dan banyak ekspresi lainnya yang memang harus dilampiaskan. Namun, selain karena profesiku menuntut sebuah ketelitian dan juga kesabaran tinggi, maka aku harus belajar untuk melatih fokus dengn cara mengendalikan emosi yang ada dalam diriku dengan sebaik mungkin. Menembak membuatku belajar agar selalu fokus dan tak terburu-buru dalam mengambil keputusan, karena itu akan berakibat fatal," jelas dokter Richard. Dia tetap fokus mengemudi, meskipun sambil berbincang dengan Rahma. Obrolan santai yang seakan menjadi sarana untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing. Tak ada lagi kata 'saya dan anda' di antara mereka berdua saat ini.
"Sepertinya menyenangkan, ya? Aku juga yang tadi hanya menjadi penonton sampai gregetan," ujar Rahma dengan nada dan juga mimik wajah yang terlihat sangat menggemaskan.
Dokter Richard tersenyum kalem seraya menoleh kepada wanita cantik berambut sebahu di sebelahnya. Rahma baru mengganti model rambut beberapa hari setelah dia keguguran. "Apanya yang membuatmu gregetan? Olahraganya atau yang berlatihnya?" goda pria tampn berusia empat puluh lima tahun itu, membuat Rahma tersipu.
Wanita cantik yang telah berniat untuk kembali ke jalan yang benar tersebut segera mengalihkan pandangan ke depan. Dia tak ingin bersitatap dengan dokter tampan di sebelahnya. Sementara dokter Richard sendiri terus saja tersenyum. Tak disangka bahwa pria kelem itu ternyata pandai merayu juga.
"Aku sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan apartemen yang sekarang kutempati," ucap Rahma kemudian. Dia mengalihkan topik pembicaraan agar dapat menyembunyikan rasa gelisah dalam hati, karena harus terus-menerus melihat senyuman si tampan penuh pesona tadi.
"Lalu, kamu akan tinggal di mana? Apa sudah menemukan tempat tinggal yang baru?" tanya dokter Richard menanggapi. Tangannya lihai memainkan si bundar di hadapannya.
"Tidak sulit untuk mencari kontrakan di kota ini. Aku juga akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahlianku," sahut Rahma yang sudah memantapkan hati, sehingga tak terlihat ada beban dalam dirinya.
"Oh, bagus itu. Memangnya apa yang menjadi keahlian kamu?" tanya pria tampan itu lagi. Dia melirik Rahma untuk sejenak dari balik kaca mata hitam model aviator yang dikenakannya.
__ADS_1
"Nah, itulah yang membuatku bingung. Aku tak tahu apa yang menjadi keahlianku selain menggoda suami orang," jawab Rahma. Dia seperti tengah mengingatkan dirinya sendiri, atas segala kesalahan yang selama ini diperbuat dan dinikmati dengan tanpa sadar serta membuatnya kalap.
Dokter Richard menginjak pedal rem, ketika mobil yang dia kendarai melewati perempatan lampu merah. Pria dengan kaos polo berwarna merah bata itu kembali menoleh kepada Rahma. "Bukankan kamu sudah bulat untuk melepaskan semua hal yang berkaitan dengan masa lalu yang kelam? Jika memang begitu, maka lupakan juga segalanya secara menyeluruh. Jangan setengah-setengah. Totalitas dalam hal apapun sangat diperlukan untuk mencapai hasil yang maksimal," jelasnya memberikan sebuah saran.
Rahma menoleh, kemudian tersenyum manis. "Aku sangat beruntung karena dipertemukan denganmu. Selain tampan, baik, dan ramah ... ternyata kamu juga sangat dewasa dan bijaksana," ucapnya tak merasa sungkan untuk menyanjung.
"Jadi, sekarang kamu ingin menggoda seorang duda?" Dokter Richard tertawa renyah setelah berkata demikian. Tawa yang tidak berlebihan, tapi terlihat sangat menawan. "Katanya duda juga tak kalah menantang dari suami orang lho," ucap pria itu lagi.
"Maksudnya apa? Kamu ingin kugoda juga?" Rahma pun menanggapi candaan dokter rupawan tadi dengan sebuah gurauan.
"Tak apa. Semenjak istriku tiada, sudah lama aku tidak mendengar rayuan dari seorang wanita," sahut dokter Richard. Dia menghentikan laju kendaraannya di depan sebuah restoran, berhubung saat itu sudah masuk jam makan siang.
"Aku tidak yakin. Kamu sangat tampan dan juga mapan, tak mungkin jika tidak ada seorang wanita pun yang dekat denganmu," bantah Rahma tak percaya. Dia melepas sabuk pengamannya, mengikuti apa yang dokter Richard lakukan.
"Ada beberapa yang mencoba untuk mendekatiku, salah satunya adalah perawat di rumah sakit tempatku bekerja. Namun, aku rasanya belum merasa tertarik untuk menanggapi hal itu," ujarnya menjelaskan. Dia lebih dulu keluar dari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Rahma dan membantunya turun.
"Tidak, bukan begitu," sanggah dokter Richard. Dia mengangguk sopan pada karyawan restoran yang menyambut kedatangan mereka berdua di pintu masuk. "Tentu saja aku ingin kembali berumah tangga. Namun, belum ada sosok yang cocok dan membuatku tertarik," lanjutnya menjelaskan. Dia mengarahkan Rahma pada salah satu meja di pinggir. Setelah itu, pria tampan dengan kaos merah bata tadi menggeser kursi ke belakang agar Rahma bisa duduk di sana.
"Aw, terima kasih," balas Rahma yang merasa tersanjung atas sikap manis pria tersebut. Sebuah perhatian kecil yang membuatnya merasa senang. "Apa kriteria wanita idamanmu terlalu tinggi, sehingga sulit sekali mencari yang cocok?" tanya Rahma lagi seakan tengah menginterogasi pria yang saat itu duduk di hadapannya.
Dokter Richard sudah hendak menjawab. Akan tetapi, dia urungkan karena kehadiran seorang pelayan yang membawakan buku menu ke dekat meja mereka. Keduanya segera memilih menu tanpa harus berlama-lama. Si pelayan tadi pun bergegas meninggalkan dua sejoli itu.
"Kamu salah, Ma. Kriteria wanita idamanku bukan terlalu tinggi, tapi justru terlalu sederhana," jawab dokter Richard kembali pada topik pembicaraannya tadi.
__ADS_1
"Sederhana?" ulang Rahma tak mengerti.
"Ya. Aku suka wanita yang tampil apa adanya di hadapan orang lain, tapi selalu menunjukkan sisi lebih dari kecantikan yang dia miliki hanya di hadapanku. Jujur saja bahwa aku merupakan seorang pencemburu. Aku tak akan merasa bangga jika ada pria lain yang mengagumi keindahan fisik dari pasanganku," tutur pria yang kini telah melepas kaca mata hitamnya, sehingga Rahma dapat melihat tatapan lembut yang dia tujukan terhadap dirinya.
Kembali, perasaan aneh itu muncul. Rahma merasa malu dan salah tingkah. Perasaan yang tak pernah ada setiap kali dirinya tengah bersama mpap tersayang, yang telah memberikan berjuta kemewahan untuk menghiasi kehidupannya selama ini.
Namun, entah mengapa karena Rahma tak ingin melewatkan tatapan manis tadi. Dia begitu menikmatinya dan terus terbuai dengan semakin dalam. Rahma pun tak menolak ketika dokter Richard menyentuh punggung tangan yang dia letakkan di atas meja. Wanita muda itu membalasnya dengan sebuah senyuman lembut teramat manis, bagaikan sebuah marshmallow.
"Apa aku pernah mengatakan bahwa kamu sangat cantik?" tanya dokter Richard.
"Aku rasa belum," jawab Rahma malu-malu.
"Kalau begitu, akan kukatakan sekarang. Kamu sangat cantik." Dokter Richard tersenyum kalem, kemudian meraih serta mencium punggung tangan Rahma dengan begitu mesra, membuat wanita dengan floral dress sifon tadi kembali tersipu malu.
"Rahma, makanlah." Sebuah suara yang Rahma kenal, telah berhasil membuat dirinya tersadar dari segala khayalan indah tentang dokter Richard. Wanita tiga puluh lima tahun itu mengerjapkan mata. Tampaklah dokter Richard yang sedang memperhatikan dengan raut aneh padanya. "Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya.
Setengah gelagapan, Rahma menjawab dengan segera. "Kamu." Namun, dengan segera wanita itu mengulum bibirnya. "Ah, sebaiknya aku ke toilet dulu," pamitnya seraya beranjak dari duduk. Namun, langkah wanita itu seketika terhenti saat melihat Abraham Lee dengan istri sahnya yang bernama Rima. Mereka juga berada di restoran yang sama dan tampak sangat bahagia.
...🌹To Be Continue🌹...
...➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖...
...Ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih😎Kuy baca karya dari author Dtyas dengan judul Kukira Kau Cinta. Gercep yok biar gak ketinggalan cerita keren ini😍...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...