Sosialita

Sosialita
Tempat yang berbeda,


__ADS_3

Kilau sang mentari menembus jendela kaca yang dibiarkan terbuka, karena tirai berwarna abu-abu masih terikat di sisi kanan dan kiri jendela. Kelopak mata itu pun perlahan terbuka karena cahaya yang menerobos masuk ke dalam kamar bernuansa abu-abu tersebut.


"Aduh! Kenapa kepalaku masih berdenyut begini sih?" gerutu Dena sambil memijit sebagian kepalanya. Dia belum sadar, bahwa saat itu dirinya tidak sedang berada di dalam kamarnya. Namun, tak lama kemudian wanita berambut lurus tadi mengedarkan pandangan pada setiap sudut kamar. Dena pun tampak mengernyitkan kening, karena nuansa kamar itu sangat berbeda dengan kamar miliknya. "Aduh, inikah namanya halusinasi?" gumam lajang empat puluh lima tahun tersebut sambil tertawa pelan. Dia lalu terdiam sejenak untuk mengumpulkan segenap tenaga serta kesadarannya.


Perlahan kesadaran Dena mulai pulih. Bola matanya kembali bergerak ke kiri dan ke kanan, untuk mengamati kondisi kamar tempatnya berada saat itu. Berkali-kali wanita cantik tapi jomblo itu mengerjapkan mata, pemandangan yang dia dapati tetap sama. Suasana kamar tersebut sangat jauh berbeda dengan kamarnya. Hal itu seketika Dena terhenyak dari dan melompat turun dari tempat tidur.


"Astaga! Ternyata ini bukan halusinasi! Hah? Ini kamar siapa? Kenapa aku bisa berada di sini?" Dena terlihat kebingungan setelah yakin jika itu memanglah bukan kamarnya. "Ya amplop, apa aku mati overdosis dan sekarang melanglangbuana menjadi arwah?" racaunya sambil menangkup wajah sendiri. Namun, tak lama kemudian Dena merasakan kulitnya sendiri. Dia juga memegangi dada yang masih berdetak dengan normal. "Oh, syukurlah. Ternyata aku masih hidup," gumamnya lagi. Dia lalu duduk di tepian tempat tidur.


Dena termenung untuk beberapa saat. Dia mencoba mengingat kejadian semalam. Walaupun samar, tapi dirinya mulai menangkap sosok Alexandre yang dia ingat tengah berkendara di sebelahnya. "Ah, apa pria itu yang membawaku kemari? Jika iya, maka ...." Dena meraba seluruh tubuhnya. Dia memastikan bahwa tak ada sesuatu yang aneh dari dirinya. "Untung saja pakaianku masih utuh. Berarti aku gak diapa-apain sama dia?" ujarnya lagi. Wanita itu lalu beranjak ke sisi lain kamar. Dia membuka setiap pintu yang ada di dalam sana, bahkan hingga pintu laci pun dia buka juga. Pada akhirnya, Dena menemukan apa yang dia cari, yaitu pintu menuju kamar mandi. Wanita itu sudah tak tahan ingin segera buang air kecil.


Beberapa saat berada di dalam kamar mandi, Dena pun akhirnya keluar dan berdiri di depan cermin rias untuk merapikan diri. Wajahnya kini telah terlihat jauh lebih segar. Dia segera merapikan rambut dengan sisir yang selalu tersimpan di dalam tasnya. Setelah merasa cukup, dia mengayun langkah keluar dari kamar tadi. Pintu berwarna putih itu dibukanya dengan pelan agar tidak ada yang tahu jika dirinya akan kabur dengan diam-diam dari rumah megah tersebut.


"Yes! Aman!" ujar Dena setelah memastikan tidak ada orang di dalam rumah megah itu. Matanya sigap melihat ke kiri dan ke kana dengan langkah mengendap-endap.


Sepertinya Dena tak ingin menunggu lebih lama lagi. Dia segera mengayun langkahnya. Akan tetapi, ternyata keadaan di rumah besar itu membuat dirinya kebingungan, dalam mencari jalan menuju ruang tamu dan pintu keluar. Pada akhirnya, langkah wanita tersebut harus terhenti di dekat tangga penghubung ke lantai dua, saat mendengar suara seorang wanita paruh baya yang sedang berjalan turun.


"Siapa Anda?" tanya wanita yang tentu saja adalah Syafridawati. Dia baru saja keluar dari kamarnya dan akan menuju ke ruang makan untuk sarapan bersama putranya, Alexandre.

__ADS_1


Dena menggigit bibirnya sambil menahan napas, karena dia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Lajang itu bahkan tidak tahu siapa pemilik rumah itu. Akan menjadi bencana, jika ternyata wanita yang menyapanya adalah pasangan dari Alexandre. Pikir Dena.


Namun, semua sudah terlanjur. Perlahan lajang berusia empat puluh lima tahun itu memberanikan diri untuk membalikkan badan dan melihat sang pemilik suara.


"Emmm ... itu, Tante ... eh, Nyonya ... saya Dena," ucap Dena dengan terbata karena gugup setelah berhadapan langsung dengan Syafridawati. Dia merasa was-was karena takut dikira maling oleh sang pemilik rumah.


"Nama yang indah," ucap Syafridawati dengan senyum yang terlihat sangat ramah, "kenapa buru-buru pulang? Tidak sarapan dulu?" tanya wanita paruh baya itu seraya menatap Dena dengan senyum yang sangat manis. Ada rasa bahagia dalam hati wanita paruh baya tersebut setelah melihat kehadiran seorang wanita cantik di rumah putranya. Setidaknya dia merasa lega karena putranya membawa seorang wanita.


Syafridawati memang belum bisa memastikan siapa Dena sebenarnya. Dia hanya berharap agar wanita yang berdiri di hadapannya saat itu adalah kekasih putranya. Selama ini Alexandre tidak pernah membahas tentang wanita jika bersama dengannya. Terkadang Syafridawati takut jika putranya tidak memiliki selera kepada lawan jenis. Apalagi, hobi dan kehidupan sehari-hari Alexandre bergelut dalam bidang yang hanya cenderung digeluti hanya oleh kaum lelaki. Ya, Alexnadre memliliki hobi yang menguji adrenalin. Salah satunya adalah mengendarai mobil di jalur off road serta memanjat tebing. Alexandre tak jarang melakukan travelling keliling Indonesia bahkan dunia, hanya untuk menemukan spot-spot menantang bagi dirinya.


"Jangan sungkan. Saya adalah ibunya Alex," ucap Syafridawati dengan sikap yang ramah. Dia memperkenalkan dirinya kepada Dena.


"Mama." Terdengar suara sapaan seorang pria dari arah lain. Kedua wanita berbeda generasi itu pun segera mengalihkan pandangan ke arah sumber suara. Dena terbelalak setelah melihat pria yang ditemuinya tadi malam dan kini dia tahu siapa pemilik rumah itu. Lajang berusia empat puluh lima tahun tersebut semakin salah tingkah, setelah melihat tatapan mata Alexandre yang sangat tajam dan intens terhadapnya.


"Aduh! Matilah aku! Ya ampun ...." gumam Dena di dalam hati, saat Alexandre berjalan ke arahnya, lalu berdiri di antara dia dan Syafridawati.


"Selamat pagi. Aku pikir kamu belum bangun," sapa pria berambut cokelat tembaga itu tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Dena.

__ADS_1


"Aku harus pulang," balas Dena dengan tatapan yang dia arahkan ke segala arah.


"Kenapa buru-buru? Kita sarapan dulu. Lagian, sebentar lagi Mama akan berangkat ke bandara," cegah Syafridawati seraya meraih tangan Dena dan menuntunnya menuju ruang makan. Dena pun tak sempat menolak. Dia menoleh kepada Alexandre yang hanya menggaruk kepalanya.


"Tante memangnya mau ke mana?" tanya Dena berbasa-basi, meskipun dia sama sekali belum mengenal siapa pun di rumah itu. Namun, harus diakui bahwa perutnya sudah merasa lapar. Dia segera duduk di sebelah wanita paruh baya tersebut.


"Saya hendak berangkat ke Swedia, nengok papanya Alex. Kebetulan dia sedang sakit," jelas Syafridawati seraya mengisi piringnya dengan makanan yang tersedia di atas meja.


"Kamu sih, Lex. Kemarin pergi ke sana waktu Mama lagi sibuk-sibuknya. Jadi, sekarang Mama harus pergi sendiri," protes wanita itu melirik sang putra yang tengah meneguk jus apel dalam gelasnya.


"Karena aku juga harus menyesuaikan sama jadwal aku, Ma," sahut Alexandre tenang. Sesekali, pria itu melirik Dena yang tak peduli dengan obrolan ibu dan anak tersebut. Dena sibuk mencicipi makanan dalam piringnya. "Mau aku antar pulang atau mau naik taksi saja?" tawarnya kepada Dena yang tengah sibuk mengunyah.


"Ah, ngga usah repot-repot. Aku bisa naik taksi," sahut Dena dengan mulut penuh oleh makanan.


"Kamu memang merepotkan," gumam Alexandre pelan, bahkan hampir tak terdengar oleh Dena dan Syafridawati. Kedua wanita beda usia itu tak menanggapi ucapannya, dan sibuk dengan santap pagi mereka.


"Jangan begitu, Lex. Sebagai laki-laki yang bertanggung jawab, kamu ngga boleh membiarkan pacar kamu pulang sendiri naik taksi," tegur Syafridawati mengingatkan, membuat Alexandre dan Dena tersedak saat mendengar ucapan wanita paruh baya tersebut.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2