Sosialita

Sosialita
Petuah Mas Jambul


__ADS_3

Angin malam berhembus mesra untuk menyapa seorang pria manis yang duduk di bangku panjang salah satu angkringan. Menunggu menu spesial yang sudah dipesan akan tetapi tak kunjung datang. Seperti biasa pemilik angkringan ini selalu mendahulukan pelanggan yang lain daripada sosok pria manis yang sedang termenung itu. Mas Jambul begitulah nama panggilan pemilik angkringan yang selalu ramai pengunjung setiap malamnya.


"Wedang ronde spesial untuk Bang Dirga," ucap seorang gadis berambut sebahu yang tak lain adalah adik kandung mas Jambul. Gadis itu lebih muda dari Beatrice, wajahnya manis dengan dua lesung pipit yang tercetak jelas di kala dia tersenyum.


"Terima kasih, Ran," ucap Dirga seraya tersenyum tipis kepada Ranti.


Ya, adik kandung mas Jambul itu bernama Ranti. Setelah mengantar pesanan Dirga, gadis manis itu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Sementara mas Jambul terlihat sibuk meracik wedang ronde untuk pembeli lainnya. Dirga hanya bisa menghela napas ketika melihat hal itu, karena dia harus sabar menunggu pria berusia sekitar tiga puluh delapan tahun itu untuk mengeluarkan semua unek-unek yang memenuhi hatinya.


"Bang Dirga, kata Mas Jambul sampean disuruh menunggu sebentar. Kalau mau curhat, Abang disuruh makan sate telur puyuh dulu yang banyak," ucap Ranti setelah kembali ke tempat Dirga berada saat ini.


Mas Jambul dan Ranti berasal dari Pasuruan Jawa Timur. Mereka merantau di ibukota hampir lima tahun ini akan tetapi gaya bicara adik kakak itu terkadang masih medok dan campur aduk dengan logat jawa.


"Mas mu itu selalu saja mencari keuntungan." Dirga mendengus kesal setelah mendengar pesan dari mas Jambul yang baru saja disampaikan oleh Ranti.


"Ya, harap maklum lah, Bang. Sekarang tuh gak ada yang gratis. Ke toilet saja sekarang bayarnya naik loh, dari dua ribu sekarang jadi lima ribu. Bayangin aja kalau Abang ke tempat wisata terus lagi mules. Nah loh habiskan itu duit lima puluh ribu kalau ke kamar mandi sebanyak sepuluh kali."


Dirga ternganga setelah mendengar ucapan tidak penting dari gadis yang sedang duduk di hadapannya itu, "terus kamu sendiri kenapa duduk di sini? Gak bantu-bantu kakakmu saja biar cepat selesai pekerjaannya," tanya Dirga seraya melahap sate telur puyuh favoritnya.


"Saya disuruh Mas Jam nemenin Abang, biar gak kesepian," jawab gadis manis itu tanpa berpikir panjang.


Angkringan Mas Jambul yang ada di pinggiran kota ini adalah tempat yang biasa dipakai Dirga menghabiskan waktu di kala suntuk. Selain murah dan rasanya enak, Dirga sering menghabiskan waktu di sini untuk curhat tentang kehidupan bersama pria yang biasa dipanggil mas Jambul itu. Meskipun penampilannya terlihat aneh karena gaya rambutnya, tetapi mas Jambul adalah seorang pria yang bijak. Dia seringkali memberikan petuah atau wejangan kepada Dirga tentang menghadapi kehidupan yang semakin rumit ini.

__ADS_1


"Ran, terno wedang rondene nang mejo pojok. Ojok gelem loh nek digudo arek iku loh! (Ran, antar wedang rondenya ke meja pojok. Jangan mau jika digoda pria itu loh!)" titah mas Jambul saat menghampiri adiknya dan Dirga.


"Sudah habis berapa tusuk sate, Ga?" tanya mas Jambul setelah duduk di bangku panjang yang ada di dekat Dirga.


"Tiga, Mas." Dirga menunjukkan tiga tusuk sate telur puyuh kepada mas Jambul.


"Hmmm ... kalau sudah habis tiga dalam kurun waktu beberapa menit saja, berarti sekarang kamu sedang galau ya?" tebak mas Jambul seraya menatap Dirga penuh arti.


"Mas Jambul ini sebenarnya pedagang angkringan atau dukun ya, kok bisa tahu apa yang aku rasakan?" seloroh Dirga seraya tersenyum simpul.


"Loh keluargaku ini keturunan kyai, Ga. Jangan salah kau ini! Emakku di Nongko jajar Pasuruan sana terkenal sakti. Apalagi pak Memet, bapakku itu. hmmm jangan diragukan lagi!" jawab mas Jambul dengan serius.


"Dia hebat karena bisa menaklukkan emakku yang super galak dan menakutkan itu," jawab mas Jambul asal.


"Memangnya siapa sih nama emaknya Mas Jam?" Dirga semakin terkekeh saat mengikuti candaan dari mas Jambul itu.


"Raden Ayu Maningrum alias Ayunengseh." jawaban yang diucapkan mas Jambul berhasil membuat Dirga tertawa lepas.


Kedua pria berbeda usia itu tak henti tertawa karena ada saja perihal lucu yang menjadi pembasahan mereka berdua. Hingga pada akhirnya Dirga ingat jika butuh petuah untuk masalahnya kali ini.


"Mas Jam, sebenarnya aku tuh lagi bingung," ucap Dirga dengan raut wajah yang berubah menjadi serius.

__ADS_1


"Kenape lagi? Masalah sama anak gadis wong sugih iku ta?" tebak mas Jambul seraya menatap Dirga.


Lagi dan lagi mas Jambul seperti seorang dukun yang bisa menebak isi pikiran pria manis itu, "Mas Jambul belajar di mana sih kok tahu banget keluh kesah ku?" Bukannya bercerita, Dirga malah terpancing untuk membahas hal tidak penting itu lagi.


"Jadi kita membahas masalah yang mana nih? Masalah dukun atau masalahmu?" tanya mas Jambul.


"Oke lebih baik masalah ku saat ini saja," jawab dirga seraya membenarkan posisi duduknya saat ini.


Pada akhirnya pria manis itu menceritakan apa saja yang sudah dia lalui hari ini. Mulai dari menghabiskan waktu bersama Beatrice hingga bagaimana sikap Soraya kepadanya. Dirga mulai ragu dengan hubungannya bersama gadis blasteran yang selama ini mencuri hatinya itu. Dia takut saja ibunya tidak terima jika mengetahui bagaimana sikap Soraya.


"Sudahlah, Ga. Ikutin saranku saja. Dari dulu aku kan sudah bilang, jangan diteruskan hubunganmu dengan dia. Meskipun kalian berdua saling mencintai, status ekonomi kalian jauh berbeda," tutur mas Jambul dengan gaya bicara yang serius.


"Tapi aku sangat mencintai dia, Mas." Jawaban Dirga masih sama seperti dulu.


"Terkadang orang kaya tidak membutuhkan cinta yang tulus, Ga. Rata-rata mereka lebih condong melihat kasta dan harta calon menantunya. Saranku lebih baik kamu sudahi saja hubunganmu dengan gadis blasteran itu. Apalagi, kamu sendiri sudah tahu bagaimana respon ibunya 'kan?" Mas Jambul memberikan saran yang bijak untuk Dirga.


"Lebih baik kamu cari yang sepadan saja, Ga. Kehidupan kalian itu ibarat langit dan bumi, sangat jauh berbeda," ucapnya lagi, "saranku nih ya, mendingan kamu pacaran sama Ranti tuh, aku restuin dah. Dia gadis yang baik dan belum terkontaminasi sama pria ibukota." Mas Jambul menaik turunkan alisnya saat berusaha menjodohkan Dirga dengan adiknya.


Dirga tersenyum tipis mendengar saran dari pemilik angkringan ini. Ya, untuk saat ini dia sendiri ragu untuk melanjutkan hubungan ini ke jenjang pernikahan. Mengingat sikap sombong yang ditunjukkan Soraya kepadanya. Dirga takut jika suatu saat nanti sikap Soraya melukai harga diri keluarganya.


"Aku bingung Mas, harus bagaimana. Kalau sudah seperti ini aku ingin jadi orang kaya saja lah biar dapat restu dari ibunya Bea tanpa pusing memikirkan biaya pernikahan," gumam Dirga seraya mengambil satu tusuk sate telur puyuh.

__ADS_1


__ADS_2