Sosialita

Sosialita
Keresahan Dirga,


__ADS_3

"Huuh ... lelahnya," keluh Dirga saat mengempaskan diri di atas kasur empuk yang ada di dalam kamarnya. Seperti biasa, dia baru saja pulang dari pasar membantu Astuti. Hari itu, Dirga sedang mendapat jatah libur dari cafe.


Sebenarnya pria manis tersebut ingin mengajak kekasihnya bertemu. Namun, sudah tiga hari ini gadis blasteran Spanyol itu hilang tanpa kabar. Nomornya pun susah untuk dihubungi. Ada rasa kesal sekaligus khawatir dalam diri pria berusia dua puluh lima tahun itu.


"Sebenarnya Bea ke mana, sih? Kenapa dia tidak memberi aku kabar sama sekali?" Dirga bergumam lirih tanpa mengalihkan pandangan dari langit-langit kamarnya.


Satu per satu alasan yang membuat Beatrice menjaga jarak dengannya mulai memenuhi pikiran. Lagi dan lagi Dirga hanya bisa menerka karena belum sempat berkomunikasi dengan gadis yang selama ini mencuri cinta dan perhatiannya. Pertengkaran kecil yang terakhir kali terjadi karena laporan dari Maryati jika Beatrice jalan bersama pria bernama Reyhan, nyatanya berhasil membuat hubungan asmara itu membeku hingga detik ini.


"Sepertinya aku harus menghubungi Bea lagi. Mungkin hari ini aku bisa bertemu dengan dia," gumam Dirga sambil merogoh ponsel yang tersimpan di saku celana jeansnya.


Manik hitam itu fokus pada layar ponsel, sementara kedua jempol tangannya pun bergerak lincah saat mengetik pesan untuk seseorang yang hilang entah kemana. Nomor Beatrice tetap sama, masih centang satu dan terakhir dilihat tiga hari yang lalu. Tentu keadaan ini berhasil membuat Dirga semakin resah. Dia tidak tahu harus kemana mencari Beatrice, karena yang selama ini dia tahu, Beatrice hanya memiliki satu nomor saja.


"Hmmm ... sepertinya aku tahu harus mencari Bea di mana," gumamnya setelah teringat jika masih ada media sosial yang bisa dijadikan petunjuk keberadaan sang kekasih. Selama ini Dirga sendiri jarang sekali membuka media sosial karena tidak sempat.


Aplikasi berwarna merah muda yang dipadukan dengan warna kekuningan serta memiliki logo kamera, telah dibuka Dirga. Kedua ujung alis itu saling bertautan setelah akun Beatrice muncul di urutan teratas. Sebuah potret gadis cantik berambut cokelat sedang tersenyum manis di foto tersebut. Dirga membaca lokasi dan caption berbahasa Spanyol yang dia tidak mengerti apa itu artinya.


"Jadi dia pergi ke Spanyol? Tanpa memberi kabar kepadaku? Keterlaluan sekali dia!" Dirga tidak terima dengan semua yang dilakukan oleh kekasihnya itu.


"Apa-apaan Bea ini! Dia bersenang-senang di Spanyol sedangkan aku sibuk memikirkan dia. Aku khawatir terjadi sesuatu dengannya, tapi ternyata semua ini tidak ada artinya!" Dirga mengeluh setelah tahu kebenaran ini.


Hati yang sempat dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran indah, kini mendadak layu hanya karena kesalahpahaman semata.

__ADS_1


Tak kuasa untuk menahan diri, Dirga kemudian mengirimkan pesan lewat aplikasi tadi. Dia bertanya tentang keberadaan Beatrice.


Beberapa saat lamanya Dirga menunggu balasan dari kekasihnya. Namun, ternyata jangankan untuk membalas. Beatrice bahkan belum membuka pesan masuk itu. Tentu saja, karena saat itu gadis cantik tersebut masih tertidur pulas. Seperti yang telah diketahui bahwa Indonesia khususnya DKI Jakarta, lebih cepat enam jam dari kota Madrid, Spanyol.


Dirga kembali mengeluh pelan. Rasanya suntuk jika dia harus terus berada di rumah. Dirga pun memutuskan untuk keluar rumah. Tanpa diduga ternyata dia berpapasan dengan mak Ijem yang sedang viral di gang sekitar rumahnya.


"Eh, Gaga. Mau ke mana?" tanya wanita berusia lima puluh tahun lebih itu. Mak Ijem sudah tampak rapi dan cantik, meskipun saat itu waktu masih terbilang pagi. Usia senja ternyata tak membuat wanita paruh baya tersebut kehilangan gejolak masa muda yang penuh semangat.


"Eh, Emak. Selamat pagi, Mak," balas Dirga sopan.


"Aduh, jangan panggil emak dong. Panggil sis atau kakak saja. Memangnya saya sudah kelihatan kayak emak-emak, ya?" protesnya sambil senyum-senyum genit.


Dirga tertegun sejenak. Dia tak tahu harus menjawab apa. Dia lalu teringat pada obrolannya dengan Maryati beberapa hari yang lalu. Ternyata apa yang dikatakan oleh gadis itu memang benar adanya. "Oh iya, Kak." Dirga mengulum senyumnya.


"Belum, Kak. Ibu masih di pasar. Paling nanti agak siangan," jawab Dirga. "Ada apa gitu, Kak?" tanyanya kemudian.


"Ngga apa-apa. Tadinya aku mau minta dipijit. Kemarin nyuci pake nimba air segala. Jadi, pinggang sakit. Pegel-pegel. Sementara jadwal aerobic masih lusa," jelasnya.


"Oh, begitu. Nanti kalau ibu sudah pulang saya sampaikan, Kak," balas Dirga menanggapi.


"Jangan lupa ya, Ga. Soalnya aku juga mau ikut Belly Dance minggu ini. Biar perut makin singset dan seksi gitu," ujar mak Ijem penuh percaya diri.

__ADS_1


"Oh iya, Kak." Dirga mengangguk seraya mengulum senyumnya. Dia lalu bermaksud untuk pamit dari hadapan nenek lincah itu, tapi ternyata mak Ijem kembali menahannya.


"Mau ke mana sih, Gaga? Kok buru-buru amat," ucap wanita paruh baya itu lagi dengan sikapnya yang mulai genit. "Ini loh, Ga. Kak mau tanya pendapat kamu," ucapnya lagi.


"Pendapat tentang apa, Kak?" tanya Dirga yang sudah merasa tidak nyaman karena harus terus berhadapan dengan boneka berkulit keriput itu.


"Begini loh, Ga. Kakak kan baru dari salon, habis warnain rambut. Menurut Gaga ini warna rambut Kakak bagus ngga?" tanya mak Ijem sambil mengibaskan rambutnya yang berwarna ombre.


"Oh, iya. Bagus kok, Kak. Cocok, bikin Kakak kelihatan jauh lebih muda," jawab Dirga. Dia berharap dengan jawaban seperti itu, maka mak Ijem akan membiarkannya pergi. Namun, ternyata anggapan Dirga salah. Mak Ijem masih tetap menahan langkahnya.


"Terus kalau warna lipstik Kakak gimana?" tanya wanita itu lagi.


Dirga menatapnya sesaat, untuk melihat warna lipstik yang dipakai oleh mak Ijem. Bingung, itulah yang dia rasakan saat itu. Bagaimana tidak, mak Ijem mengoleskan lipstik warna pink rose pada bibirnya yang tidak kencang lagi.


"Bagaimana, Ga?" tanya mak Ijem lagi.


"Hmm." Dirga bergumam pelan. "Bagus juga, Kak. Kelihatan segar dan ranum. Seperti kembang rose yang sedang mekar," ujar kekasih Beatrice itu memberikan pujiannya. Akan tetapi, tak lama kemudian Dirga tertegun. Ingin rasanya dia menarik kembali kata-kata yang telah diucapkan barusan. Namun, itu sesuatu yang tidak mungkin, apalagi karena mak Ijem terlihat sangat senang. Dia berkali-kali mengedipkan matanya dengan bulu mata lentik penolak angin.


"Syukur deh kalau menurut kamu bagus. Kakak jadi makin percaya diri dengan penampilan baru ini. Ya, sudah. Kakak masih ada kerjaan yang belum beres. Mau ngasih makan ayam dulu. Dah, Gaga. See you next time," pamit mak Ijem seraya melambaikan tangan. Dia melenggang bak peragawati ke arah rumahnya. Dirga pun kini dapat bernapas lega.


"Pantas saja si Mamad pindah lapak jualan. Ternyata seperti itu meresahkannya si mak Ijem," gumam Dirga setelah PP punggung wanita paruh baya itu menghilang dari pandangan.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


__ADS_2