
Mato selalu berkata bahwa Felisha tak kalah cantik dari rekan-rekan wanitanya di kantor, bahkan Felisha bukan hanya cantik dari luarnya saja tapi juga memiliki inner beauty. Cantik dari dalam, Felisha memiliki hati yang baik sehingga mengeluarkan aura kecantikan yang alami dan tanpa menyadarinya Felisha di kagumi banyak lelaki karena memiliki itu.
***
Mato POV
Felisha adalah gadis yang cantik dan imut, menggemaskan. Pipinya yang cabi dan tubuhnya yang mungil membuatnya terlihat seperti anak SMP. Pertama kali melihatnya ketika dia masih mengikuti proses orientasi. Aku melihatnya hampir tak pernah tersenyum setiap harinya, dia terlihat sedikit cuek di bandingkan dengan teman-temannya. Yang aku lihat dia adalah gadis yang tak terlalu memperhatikan sekitarnya. Jika ada yang harus dia lakukan, dia seperti langsung pada tujuannya tanpa menoleh ke tempat lain.
Suatu ketika aku berjalan menuju ke ruangan perpustakaan dan Felisha sedang berjalan menuju kantor yang dimana kantor tempat para dosen itu berada dekat dengan perpustakaan kampus, Jika ke perpustakaan maka akan melewati koridor ruangan tempat dosen-dosen itu berada. Mungkin dia ada urusan dengan salah satu dosen di sana. Aku keluar dari toilet sambil merapikan pakaianku dan tak melihat jika ada seseorang di depan yang juga berjalan lebih dulu. Tak sengaja aku menabraknya dan dia hampir saja terjatuh, untungnya segera ku tarik lengannya agar ia tak menyentuh lantai.
"Awww.."Pekik Felisha
"Astaghfirullah...maaf maaf. Saya gak sengaja." Mohonku setelah Felisha segera menarik lengannya yang ku tarik tadi.
"Iya gak papa pak." Kata Felisha yang langsung ku jawab "Panggil kak Mato aja jgn pak, saya tidak setua itu." Ucapku tanpa ekspresi mendengarnya memanggil ku "pak".
"Iya kak." Jawabnya dengan tanpa ekspresi sama sepertiku.
Setelah itu Felisha berbalik dan pergi dari hadapanku. Aku terdiam sejenak merasa heran, tumben ada cewek yang gak senyum-senyum malu-malu gitu pas ketemu denganku, biasanya setiap ketemu cewek pasti mengeluarkan senyuman paling manis apalagi kalau aku sapa.
Aku penasaran dengan sosoknya. Aku berniat ingin mengenalnya lebih dekat dengannya. Gadis seperti apa dia. Beberapa bulan aku mencari tau tentang Felisha dan mencari tau dimana ia tinggal secara diam-diam tanpa ada seorang pun yang tau. Setelah merasa cukup aku mencoba untuk mendekatinya, namun aku tak menyangka ternyata dia sudah memiliki kekasih.
Aku mundur secara perlahan namun tidak dengan hatiku. Semakin aku menghindari agar tidak bertemu dengannya aku semakin sering melihatnya, entah bersama dengan dua sahabatnya maupun dengan kekasihnya itu. Hatiku merasa terbakar saat melihatnya berdua dengan kekasihnya walau aku tak melihat ada cinta di mata Felisha, aku seperti melihat dua orang teman namun yang lelaki menaruh hati pada teman wanitanya. itu yang aku lihat.
Aku kembali merasa ada harapan untukku mendekatinya lagi, namun harus menunggu sampai hubungan mereka berakhir. Pikiran yang konyol memang tapi itulah yang aku rasakan. Aku merasa Felisha tak mencintai kekasihnya, tapi terlihat kekasihnya itu sangat mencintainya. Biarlah orang berkata aku egois tapi aku tak bisa menyangkal perasaan aku.
Satu bulan aku menunggu kesempatan itu sambil menyibukkan diri dengan pekerjaan tanpa melepas pantauanku kepada Felisha sampai akhirnya aku mendengar kabar jika Felisha dan kekasihnya sudah putus, tak ada hubungan apa-apa lagi. Aku seolah mendapat angin segar di saat pikiranku mumet karena pekerjaan yang menumpuk.
Aku segera mencari tau tentang kandasnya hubungan Felisha dan mantan kekasihnya itu. Ya mantan kekasih karena memang mereka sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi kan. Aku mendekati ke dua sahabatnya yaitu Rufi dan Lita. Awalnya mereka enggan menceritakan semuanya tentang Felisha tapi pada akhirnya mereka pun mengerti bahwa aku menyukai sahabat mereka. Aku menceritakan awal aku jatuh cinta kepada Felisha.
Aku semakin merasa optimis ketika Rufi dan Lita mengatakan bahwa sebenarnya Felisha tak pernah ada rasa yang lebih kepada Muza mantan kekasihnya melainkan Muza yang mengejar cinta Felisha. Haaahhhh sungguh mendengar itu semua membuatku bersemangat untuk mendekati Felisha dan mengungkapkan perasaan yang selama ini ku pendam.
Sebenarnya aku sedikit ragu untuk mengungkapkan perasaanku dalam waktu dekat ini karena bagaimanapun Felisha baru saja putus dari Muza. Yaa walaupun aku tau jika Felisha tak ada perasaan apapun kepada Muza.
Aku semakin sering bertemu dengan kedua sahabat Felisha untuk merencanakan kapan waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaan aku. Dan Ya, siang ini aku menghubungi Lita menanyakan apakah dia sedang bersama dengan Felisha. Dan ternyata mereka bertiga sedang di kantin untuk makan siang bersama. Aku memberitahu Lita bahwa aku akan datang ke kosan malam ini untuk bertemu dan berbicara berdua dengan Felisha. Lita menyetujuinya dan dia bilang akan memberitahu Rufi soal rencanaku.
Di kost,
Setelah shalat Maghrib, aku bersiap dengan pakaian kasual ku untuk pergi ke tempat Felisha. Ku nyalakan mesin motor ku dan melajukannya menuju kost dimana Felisha tinggal.
__ADS_1
Setelah Lita di jemput oleh kekasihnya iapun mengirim pesan singkat kepada ku bahwa Felisha sekarang tinggal berdua dengan Rufi. Tak lama kemudian aku sudah berada di depan pintu gerbang kos karena memang jaraknya tak begitu jauh dan tak begitu dekat.
Aku memarkirkan kendaraan ku di area parkir dan masuk ke dalam karena tak adanya bapak kos atau yang menjaga disana jadi tak perlu izin untuk menemui anak kos nya.
Ketika menuju ke kamar kos Felisha yang sudah Lita beri tahu nomornya. Di sana aku melihat Felisha dan Rufi yang sedang duduk mengobrol di teras depan kamar. Felisha terlihat sedikit terkejut dengan kedatanganku di kosan sedangkan Rufi berekspresi biasa saja karena ia sudah di beri tahu oleh Lita akan kedatanganku.
"Assalamualaikum..." ucapku
"wa'alaikumsalam kak..." jawab Felisha dan Rufi serempak.
Aku mendekati ke dua gadis itu, dan langsung di persilahkan duduk oleh Rufi sedangkan Felisha masih terdiam.
"Silahkan duduk kak." Rufi menunjuk salah satu kursi di depan Felisha. Yang membuat Felisha seketika menoleh ke arah Rufi dengan mata sedikit melotot tak percaya.
"terimakasih." ucapku.
"Maaf kak, Lita sedang keluar mungkin pulangnya agak malam." Kata Felisha kepadaku. Felisha mengira jika kedatanganku malam ini untuk menemui Lita.
Aku melirik Rufi dan berkata. "Rufi bisa saya bicara berdua dengan Felisha?" tanyaku dengan sedikit formal dan itu membuat Felisha menoleh dengan cepat ke arah Rufi dengan alis berkerut. Merasa heran, apa yang akan aku bicarakan dengannya. Rufipun mengangguk. "Sha, aku ke kamar dulu ya. Bye.." Rufi melambai pada Felisha dan segera beranjak dari sana dengan sedikit tergesa.
Aku diam menatap Felisha yang berekspresi datar dan sedikit bertanya-tanya. Sebenarnya aku bingung mau memulainya dari mana tapi aku harus mengungkapkan perasaanku malam ini juga. Aku tak pandai basa basi jadi aku langsung saja pada intinya. haha
"Mau bicara apa kak?" tanya Felisha. "apa ada yang bisa saya bantu?" lanjutnya lagi
"Enggak ada sih, aku cuman mau bertanya sesuatu."
"Apa kak? tentang Lita ya kak?" tanya Felisha semakin penasaran yang kubalas dengan gelengan kepala.
"Gimana hubungan kamu dengan Muza?"
"Enggak gimana-gimana kak."
"Kamu masih jalan sama dia?" tanyaku langsung.
"Udah enggak kak. Ada apa?" Felisha masih terlihat bingung dengan keadaan. Menggemaskan.
"Felisha, aku menyukaimu, aku jatuh cinta sama kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?" Ucapku tudepoin dan dengan sungguh-sungguh, namun Felisha tak menjawab, dia terlalu syok mendengar penuturanku.
Hening,
__ADS_1
...
...
"Sha..Felisha.." Aku menyentuh tangan Felisha yang sukses mengembalikan kesadarannya. Entah mengapa dia malah terdiam tak menjawab sedari tadi.
"Iya ada apa kak?" Felisha tergagap menjawab panggilanku.
"Aku menyukaimu, aku jatuh cinta sama kamu Felisha. maukah kamu bersamaku, menjadi pacarku?" Aku mengulang pernyataan dan pertanyaanku. Dan Felisha hanya menggeleng sambil menunduk membuat jantungku dag dig dug. Kok dia menggeleng, apa dia menolakku? Haaahh tanda tanya itu langsung terlintas di benakku. Sungguh aku tak siap jika Felisha harus menolakku malam ini. Ya, aku memang seegeois itu.
"Tapi kenapa Sha?" Tanyaku tak sabaran.
"Bukankah selama ini kak Mato menyukai Lita sahabatku?" tanyanya.
Aku tersenyum lalu berkata. "Aku selama ini selalu menemui Lita dan Rufi, bukan cuman Lita aja. Aku bertanya cukup banyak sama mereka tentangmu. karena aku tau mereka pasti bisa memberiku banyak informasi tentang kamu. Bukan menaruh hati pada Lita tapi sama kamu. Selama seminggu lebih aku banyak bertanya kepada mereka berdua.
Felisha lagi-lagi termangu oleh pernyataanku. Ia masih belum percaya dengan apa yang di katakan olehku.
"Aku minta waktu buat menjawab pertanyaan kak Mato." Ucap Felisha akhirnya setelah lama terdiam.
"Berapa lama Sha?" Tanyaku
"Seminggu kak." Felisha meminta waktu seminggu dan aku keberatan. terlalu lama menurutku
"Besok ya jawabannya." Aku mencoba negosiasi.
"Lima hari kak." Felisha
"Itu lama banget Sha." Aku memelas
Felisha menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Baginya ini tak masuk akal. Mungkin dia akan bertanya kepada dua sahabatnya Rufi dan Lita untuk memastikannya.
"Baiklah. Aku akan menunggu sampai lima hari ke depan." Jawabku mengalah, tapi aku tak yakin jika aku bisa menunggu selama lima hari ke depan karena aku akan ke luar kota untuk bekerja. Namun belum ada kepastian kapan waktunya berangkat. Felisha hanya mengangguk.
"Aku pulang dulu." Aku berdiri dan pamit pulang.
"Iya." Hanya itu Jawaban Felisha. Yaa emang apalagi yang kamu harapkan Mato. batinku.
...****************...
__ADS_1