Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 20. Mumet


__ADS_3

Sepulang dari warung makan, Felisha, Rufi dan Lita tiba di kosan dengan pikiran masing-masing.


Pikiran Rufi yang di penuhi tanda tanya karena sejak tadi ke dua sahabatnya itu hanya diam baik selama makan maupun di perjalanan pulang ke kos tak ada yang bersuara.


Setelah tiba di kosan, Felisha segera membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam yang di ikuti oleh kedua sahabatnya, Rufi dan Lita.


"Sha, ada apa? kalian dari mana saja tadi?"


Setelah duduk Rufi melihat tak ada yang berniat menjawab pertanyaannya. Rufi mengerutkan keningnya heran.


Felisha menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar.


"Tadi sore sepulang dari kampus aku sama Lita ke rumah kak Mato Fi"


Felisha mulai menceritakan semuanya kepada Rufi. Mulai dari Mato yang sering protes karena merasa tak di gubris sejak mereka sedang sibuk-sibuknya di kampus, sampai akhirnya tiba-tiba Mato tak ada kabar sama sekali.


Setelah di cek ke kantornya ternyata Mato keluar kota, tak ada yang tau kemana dan sampai berapa lama perginya.


Di cek ke rumahnya pun nihil. Tak ada seorangpun disana yang bisa memberinya kabar.


Sedangkan sepupu dari Mato juga tak ada disana.


Rufi sangat terkejut mendengar penjelasan dari Felisha.


Rufi pikir selama ini kekasih sahabatnya itu sangat mengerti dengan kesibukan mereka di kampus karena Mato pernah merasakannya ketika dulu ia berkuliah di tempat yang sama dengan Felisha.


Selama sebulan ini mereka memang sibuk. Sampai tak ada waktu untuk bercerita lama. Maka dari itu, dua sahabat Felisha tak ada yang mengetahui apapun tentang hubungan Felisha dan Mato akhir-akhir ini.


"Mungkin saja kak Mato mau ngasih kabar ke kamu pas keluar kota tapi ponselnya hilang Sha. Bisa aja kan, kita gak tau"


Rufi mencoba berfikir positif tentang kepergian Mato yang tiba-tiba dan tak ada kabar sama sekali.


"Iya ya Sha, kok kita dari tadi gak ada kepikiran kesitu ya"


Ucap Lita menyetujui apa yang di katakan Rufi.


"Sudah dua minggu ini kak Mato gak pernah ngasih kabar. Tapi baru seminggu ini aku coba hubungin dia tapi gak pernah aktif nomernya"


"Aku pikir, seminggu sebelum aku coba hubungin dia, mungkin dianya juga sibuk dengan kerjaannya. Ternyata entahlah". Lanjut Felisha mengangkat bahunya lesu tanda tak tau.


"Oh gitu. Semoga kak Mato baik-baik aja."


Rufi mendekati Felisha dan memeluknya dari samping. Begitu juga dengan Lita yang sudah duduk di sisi lain Felisha.


"Kak Mato pasti punya alasannya sendiri Sha". Lita

__ADS_1


Felisha dan Rufi mengangguk.


***


Felisha POV


Seminggu dua minggu aku menunggu kabar dari kak Mato dan terus mengirim pesan ke nomor ponselnya namun tak pernah ada jawaban. Karena memang tak pernah lagi aktif sejak waktu itu.


Aku mencoba mencari tau tentang kepergian kak Mato yang kata mereka sedang keluar kota untuk bekerja, namun jawaban mereka lagi-lagi membuat ku sedih.


Pasalnya sampai saat ini kak Mato tak pernah lagi datang dan kabarnya kak Mato sudah tak lagi bekerja disana.


Ku pulang dengan perasaan kacau dan bermaksud untuk ke rumah kak Mato. Siapa tau saja sepupu kak Mato sudah kembali disana lagi.


Aku menghentikan taxi yang kebetulan melintas, menuju rumah kak Mato.


Dan disinilah aku berada, berdiri di depan rumah kak Mato yang seperti tak ada tanda-tanda jika ada seseorang di dalamnya.


Aku bergidik karena hari sudah sore dan angin berhembus kencang, sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib.


Kucoba mendekat dan mengetuk pintu berkali-kali mengucapkan salam namun sudah dua puluh menit tak ada jawaban dari dalam.


Ku edarkan pandanganku ke bagian halaman rumah, memperhatikan keadaan sekitar yang nampak tak terawat. Sepertinya mereka memang benar-benar meninggalkan rumah ini. Batinku


Jika sudah begini siapa yang bisa aku hubungi. Terkadang merasa menyerah, mungkin kami tidak berjodoh.


Tetapi hati kecilku masih berharap suatu hari nanti kak Mato akan datang menjelaskan semuanya padaku.


Ku putuskan pulang saja ke kosan. Sudah cukup hari ini. Mungkin ini terakhir kalinya aku ke tempat ini.


Aku akhirnya pulang dengan hati kecewa, lagi-lagi aku tak menemukan apapun disana. Tak ada jejak yang bisa ku jadikan petunjuk dimana kak Mato sekarang.


Setelah tiba di kosan, langsung saja ku buka pintu kamar dan masuk ke dalam tanpa menyapa ke dua sahabatku Rufi dan Lita yang duduk di teras kamar. Sepertinya mereka sedang menunggu ku.


Namun kedua sahabatku itu sangat mengerti dengan keadaan perasaanku akhir-akhir ini.


Terkadang sepulang dari kuliah, aku akan mengurung diri di kamar untuk sekedar merenung dan berfikir beribu kali, apa yang sebenarnya terjadi denganku dan kak Mato.


Apa salahku hingga kak Mato pergi meninggalkan ku tanpa alasan yang bisa membuatku mengerti akan kepergiannya


Sejak awal hubungan di antara kami selalu saja di ributkan dengan persoalan tentang kak Mato yang ingin menikah secepatnya namun aku belum siap untuk menjalani rumah tangga sebelum lulus kuliah. Sedangkan kak Mato ingin kami segera halal.


Alasannya takut kebablasan sementara kami belum halal.


Apakah kak Mato sebenarnya sudah menemukan pengganti ku? sosok yang mau memenuhi semua keinginannya? apakah kak Mato sudah bosan denganku?

__ADS_1


Banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku dan semuanya hanya kak Mato yang bisa menjawabnya.


Sedangkan ia pergi tanpa kabar.


***


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku tentang kak Mato yang tiba-tiba menghilang.


"Sha, kamu udah tidur?"


Suara Lita terdengar dari balik pintu. Aku melirik jam weker yang ada di atas meja belajar ku, menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Lama juga ternyata aku duduk melamun. Batinku.


Karena sejak selesai melaksanakan shalat Isya dan makan malam, aku duduk melamun sampai tak menyadari jika sudah larut malam.


Aku beranjak dari tempat dudukku untuk membuka pintu kamar.


"Ada apa Ta, jam segini ketok ketok pintu?" Tanyaku pada Lita setelah ku bukakan pintu untuknya.


"Aku mau tidur disini." Jawab Lita yang langsung masuk ke dalam kamar ku tanpa di persilahkan.


Tiba-tiba saja Rufi keluar dari kamarnya memeluk bantalnya dan langsung menuju kamar ku.


"Aku juga mau tidur disini. Besok kan kita libur". Ucap Rufi yang langsung nyelonong masuk tanpa permisi.


Aku tak bisa menolak kedatangan dua sahabatku itu yang mau tak mau akan tidur bersamaku malam ini.


Aku kemudian menutup kembali pintu kamar, menguncinya dan kembali duduk di kursi belajar ku tadi.


"Kalian berdua kenapa tiba-tiba mau tidur disini huh? Kan kasurnya gak cukup buat kita bertiga. Lagian ya Fi apa hubungannya kalau besok libur sama kamunya tidur disini?"


Cerocos ku yang heran dengan tingkah laku dua sahabatku malam ini.


"Malam ini aku males tidur sendirian aja." Alasan Lita


"Aku juga." Rufi ikut-ikutan saja.


Aku mengeluarkan badcover yang ada di lemari untuk di bentangkan ke lantai. Rufi dan Lita akan tidur di lantai yang hanya beralaskan karpet bulu dan badcover malam ini.


Aku, Rufi dan Lita sudah terbiasa dengan ini. Kami akan membentangkan karpet dan badcover jika akan tidur bersama karena memang ukuran kasur masing-masing kamar yang kecil dan hanya untuk satu atau dua orang saja.


Karena kami bertiga, jadi yang akan tidur di atas kasur adalah tuan rumah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2