Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 37. Diamnya Dia


__ADS_3

Sejak sore Felisha dan Lita sudah mempersiapkan diri untuk menghadiri interview itu. Rufi turut membantu menyiapkan segala sesuatu yang kiranya di perlukan oleh kedua sahabatnya.


Mulai dari pakaian sampai dengan keperluan lainnya di persiapkan dengan matang. Ketiganya begitu bersemangat menyiapkan segalanya sampai tak menyadari ada sepasang mata yang menatap mereka dari balik pintu yang tidak tertutup rapat dengan dahi berkerut. Merasa heran dengan mereka yang terlihat sibuk sampai-sampai tidak menyadari kedatanganya. Siapa lagi kalau bukan Ando yang hendak bertemu Felisha namun kekasih dan sahabat-sahabatnya itu sedang mode sibuk.


"Assalamu'alaikum... Assalamu'alaikum..." Ucapan salam dari Ando tak di respon. Lebih tepatnya tak ada jawaban saking fokusnya dengan kegiatan mereka di dalam sana.


Ando pun memilih memperhatikan mereka dari luar. Dia memilih untuk duduk di kursi teras membiarkan kekasih dan sahabat-sahabatnya itu menyelesaikan kegiatan mereka.


Merasa heran, sebenarnya ketiga perempuan itu hendak kemana sampai ia melihat ketiganya sedang menyiapkan pakaian yang sepertinya terlihat formal. Maklum karena kekasihnya itu tak memberinya kabar sama sekali seharian ini, tumben. Jadi ia memilih langsung datang saja ke kost tanpa menelpon dulu alhasil Ando mendapati kekasihnya sedang sibuk entah karena apa.


Melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 19.00 malam. Karena tadi ia berangkat menuju kosan kekasihnya setelah shalat maghrib. Sepertinya mereka belum menyadari kedatangan Ando. Ia mencoba menyapa sekali lagi.


"Eh tau gak yang tadi siang nelpon aku itu suaranya mirip seseorang." Suara dan ucapan Felisha berhasil menghentikan tangan Ando yang hendak mengetuk pintu. Menurunkan tangannya kembali lalu memilih mendengarkan percakapan antara kekasihnya dengan dua sahabatnya. Sebenarnya ia tidak ingin mendengar sesuatu yang kemungkinan bisa membuat hatinya sakit, tapi entah kenapa kali ini dia ingin mendengar percakapan antara ketiganya.


"Mirip siapa emangnya?" Kali ini suara Lita yang bertanya.


"Coba tebak mirip suara siapa?" Tanya Lisha lagi.


"Siapa?? Kak Mato??" Lita mencoba menebak.


Ando tidak mendengar jawaban Felisha sama sekali. Ia terus menunduk melihat ujung sepatunya mendengarkan percakapan ketiganya.


"Yakin?? ah hanya mirip aja kalii.." Lita coba meyakinkan Felisha jika kemungkinan hanya mirip.

__ADS_1


"Iya Shaa..mungkin hanya mirip aja." Rufi juga ikut meyakinkan.


"Iya sih.. bisa jadi..tapi kok feeling aku itu seperti kak Mato ya". Felisha menjawab dengan nada sedih. Ando mengepalkan kedua tangannya yang berada di saku celananya setelah mendengar ucapan kekasihnya. Ando bukannya tidak tahu soal masalalu Felisha bersama laki-laki yang bernama Mato. Ia sangat tahu ceritanya dari sahabatnya Iman maupun dari kedua sahabat kekasihnya itu, Rufi dan Lita. Namun ia tak pernah ada niat untuk menanyakannya kepada Felisha. Ia cukup tahu saja.


Ya, Rufi dan Lita memutuskan untuk menceritakan semuanya kepada Ando. Biar bagaimanapun dengan Ando mengetahuinya, mungkin akan sedikit membantu agar ia bisa membuat Felisha bangkit dan menutup masalalunya bersama Mato dan membuka hati untuk Ando. Mungkin itu alasan utama Rufi dan Lita.


" Udaahh...enggak usah di pikirin. kalaupun benar itu kak Mato. Bagus doongg..kamu bisa buktiin ke dia kalau kamu baik-baik saja tanpa dia dan ingat, sekarang kamu udah punya kak Ando yang sayang banget sama kamu lebih dari yang kamu tau..". Ucapan Rufi untuk menyemangati sahabatnya yang terlihat galau itu tanpa sadar telah membuat hati Ando juga ikut bersemangat dan bernafas sedikit lega.


Ando menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan lalu melanjutkan rencananya untuk bertemu sang kekasih. Ia tak mau lagi memberikan kesempatan Felisha untuk menjawab ucapan Rufi dengan sengaja langsung mengetuk pintu.


Tok... tok...tok... "Assalamu'alaikum..."


Ketukan tiga kali yang di ikuti ucapan salam dari Ando membuat ketiganya terkejut bukan main dan sontak menoleh ke arah pintu tanpa menjawab salam Ando.


Dengan sigap Lita membuka pintu kamar lebar-lebar. Ando menatap kekasihnya yang langsung terlihat salah tingkah saat melihat kedatanganya. Ando hanya tersenyum dan mengulang ucapan salamnya.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab ketiga perempuan itu.


"Sepertinya lagi sibuk banget ya kalian."


"Oh udah enggak ko kak..udah selesai siap-siap nya dari tadi." Lita segera menjawab.


"Sha...kita balik ke kamar dulu ya.." Rufi dan Lita buru-buru pamit ke kamar masing-masing memberikan waktu kepada sepasang kekasih itu.

__ADS_1


"Humm..." Lisha hanya bisa mengangguk pasrah. Ya iyalah apalagi yang bisa di lakukannya sekarang coba.


Setelah kepergian Rufi dan Lita, Lisha pun beranjak keluar untuk duduk di kursi teras ditempat biasanya. Melewati sang kekasih yang hanya berdiri memperhatikan setiap gerakannya sedari tadi yang semakin membuatnya salah tingkah. Dengan langkah gontai ia duduk di kursi tanpa menoleh ke arah laki-laki yang berdiri menjulang tepat di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar.


Ando membiarkan saja Felisha melewatinya tanpa sepatah katapun. Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang mau memulai percakapan.


Ando berbalik dan kemudian beranjak untuk duduk di hadapan Felisha. Cukup lama mereka saling diam. Hening...tak ada yang bersuara. Sampai akhirnya..."Kamu udah makan belum?" Pertanyaan Ando membuyarkan pikiran Lisha yang sedari tadi berkecamuk di kepalanya. Memikirkan apakah percakapan nya bersama sahabatnya tadi di dengar oleh Ando atau tidak. Aahhh sungguh hati Felisha sedang tidak baik-baik saja sekarang. Merasa bersalah kepada sang kekasih. Itulah yang ada di hatinya sekarang.


Felisha menggeleng pelan. "Belum..."


"Ayo. Kita keluar cari makan dulu." Ajak Ando yang hanya di angguki oleh Lisha. Cepat-cepat ia masuk ke kamar menyambar handphone yang tergeletak sembarangan di atas kasur dan sweater kesayangannya yang ia simpan di sandaran kursi belajar lalu memakainya. Tanpa berlama-lama mereka meninggalkan kost untuk menuju rumah makan dan mengisi perut yang sudah bernyanyi sedari tadi meminta untuk di isi.


Setibanya di rumah makan langganan, Ando dan Felisha memesan makanan sesuai selera masing-masing. Tak butuh waktu lama pesanan mereka datang karena rumah makan padang langganan mereka sudah cukup mengenal selera sepasang kekasih itu.


Mereka makan tanpa ada percakapan. Sesekali Felisha melirik kekasihnya yang sedari tadi memasang wajah datar, tak seperti biasanya yang selalu menatapnya dengan cinta. Kali ini auranya sangat berbeda membuatnya takut untuk memulai percakapan. Tadi sepanjang jalan kekasihnya itu tidak mengeluarkan sepatah katapun padanya sampai tiba di tempat tujuan.


Setelah makan, mereka melaju membelah jalanan kota yang masih cukup ramai dengan pengendara.


Ando melajukan kendaraannya dengan pelan menuju taman. Ia tidak langsung mengantar sang kekasih pulang namun membawanya ke taman yang tidak begitu jauh dari rumah makan tadi.


Felisha pun hanya mengikuti dimana pun Ando membawanya tanpa berani bertanya.


Setibanya di taman, tidak seperti biasanya. Biasanya Ando akan menggamit tangan kekasihnya jika berjalan berdua seperti itu. Tapi kali ini berbeda, Ando berjalan lebih dulu menuju bangku taman yang kosong. Sedangkan Lisha hanya mengikuti langkah sang kekasih dari belakang.

__ADS_1


...****************...


Kira-kira Ando mau ngapain ya ngajak Lisha ke tamanšŸ¤”


__ADS_2