
"Cup...Cup...cup..." Ando mengecup seluruh wajah istrinya sebelum meninggalkan halaman rumah sakit AA. Pagi ini Ando mengantar Felisha ke tempat kerja namun tak bisa menjemput saat pulang karena hari ini ia akan pergi keluar kota melakukan perjalanan dinas.
"Udah atuh..ini mukanya sampai basah ih.." Lisha menahan wajah Ando yang sejak tadi menciuminya berulang kali.
"Aku butuh asupan vitamin K dan D yang banyak sayang, supaya semangat kerjanya." Lisha memutar bola matanya jengah mendengar alasan suaminya. Di usia pernikahan mereka yang baru menginjak 3 bulan Ando tak pernah membiarkan istrinya tenang. Setiap ada waktu ia akan memanfaatkan dengan baik. Lisha sudah mulai terbiasa dengan perlakuan Ando, ia selalu siaga memasang tanda awas di otaknya jika sudah berada di dekat suaminya.
"Tadi malam kan udah kak...kalau sama kamu mah sampai asupan vitamin B nya di kasih dosis tinggi juga nggak pernah cukup."
"HAHAHAHA...kamu tau aja.." Dengan cepat Ando menyambar bibir Felisha yang cemberut. Melu mat habis bibir yang sudah di poles lipstik nude itu.
"Hhmmpptt..." Felisha membulatkan matanya lebar terkejut dengan serangan tiba-tiba Ando karena sedari tadi ia sudah mewanti-wanti jangan menyentuh bibirnya karena takut lipstik nya jadi belepotan, ini malah lebih dari itu. Tangan Ando sudah menerobos masuk ke balik bajunya.
"Aahh...mmmpptt.." Tanpa sadar suara desa han keluar dari mulutnya saat Ando menyentuh langsung bukit vitamin D. Senyum miring terbit dibibir Ando di celah ciumannya membuatnya semakin bersemangat mengobrak abrik bibir penuh istrinya. Bibirnya turun menelusuri leher Felisha. Nafas keduanya saling memburu. Entah kapan suaminya itu melepaskan kancing kemeja yang di kenakannya sampai Vitamin D sudah terekspos sempurna melihat dunia luar.
"Ahh..ss...ahh..sssstoppp kak." Dengan susah payah Felisha menahan wajah Ando yang hendak turun melu mat puncak vitamin D. Ando menghentikan aksinya. Mendongak menatap wajah Felisha yang menutup mata dengan nafas terengah mencoba mengatur nafas.
Ando menutup kembali vitamin D yang sudah berhasil di keluarkan dari tempatnya, mengaitkan kembali kancing baju Felisha, mencoba merapihkan penampilan istrinya yang sudah dia obrak abrik sambil tersenyum ia mengusap bibir yang sudah terlihat pucat dan bengkak karena ulahnya.
"Maaf..aku suka nggak tahan kalau udah nyentuh dikit selalu pengennya bablas aja sampai dapet vitamin B." Ando menatap Lisha yang masih setia menutup mata. Lisha bangun dan duduk tegak, mendelik ke arah suaminya yang kalau hasratnya udah naik suka tak tahu tempat.
"Udah di bilangin jangan sentuh bibir aku nanti lipstiknya jadi rusak. Ini mah bukan hanya di rusak tapi malah di habisin sama kamu.." omel Lisha sambil tangannya sibuk merapikan hijab dan pakaiannya. Ando tersenyum lebar mendengar omelan istrinya.
"Kalau nggak ingat kita di dalam mobil..udah aku makan sekalian bibir kamu ini yang suka di maju-maju in.." Ando menekan bibir Felisha sampai maju kedepan.
"Mmmpp.." Lisha menepis tangan Ando lalu melihat-lihat riasannya ke kaca spion.
"Riasan aku jadi rusak begini.." Ucap Lisha sambil memoleskan kembali lipstik di bibirnya.
"Kamu nggak pakai lipstik juga udah cantik sayang.." Ando menatap Lisha dengan wajah tak suka. Ando bukannya tak senang jika melihat istrinya dandan tapi ia lebih ke khawatir akan menarik perhatian kaum lelaki karena auranya. Hatinya cemburu tapi tak pernah ia ungkapkan. Apalagi di rumah sakit itu ada dokter Yoga yang pernah menaruh hati kepada istrinya membuat ia selalu waspada walaupun Yoga itu saudara sepupunya tapi waspada lebih baik sebelum terjadi yang tidak di inginkan.
"Bukan soal cantik atau enggaknya kak..aku tuh pakai lipstik supaya nggak kelihatan pucatnya..." Lisha memasukkan kembali lipstiknya ke dalam tas.
"Udah ah..aku turun sekarang...kalau udah sampai Bogor kabarin ya." Lisha melihat jam yang melingkar di tangannya 7 menit lagi pukul 8 pagi. Biasanya ia hadir setengah jam sebelum jam kerja di mulai tapi sekarang ia malah molor sampai hampir telat. Menatap wajah Ando yang seperti berat berpisah dengannya hari ini.
"Kamu kenapa kak? Kayak yang ngga semangat gitu mau kerja..padahal udah aku kasih vitamin tadi.." Ucap Lisha tersenyum kecut mengingat tadi hampir saja bablas.
__ADS_1
"Baiklah...kalau udah sampai Bogor nanti aku kabarin." Ando meraih kepala Felisha dan mengecupnya lama seolah akan pergi jauh.
"Yang semangat dong...kamu harus selalu ingat kalau ada aku yang selalu nungguin kamu pulang kerja..Oke?" Lisha mencoba menyemangati suaminya yamg entah kenapa seperti terlihat kurang semangat berangkat ke luar kota kali ini. Lisha melingkarkan tangannya di lengan suaminya, menyandarkan kepala di bahu lalu mendongak mengecup pipinya. Ando tersenyum senang dengan Lisha yang sudah mulai berani menciumnya tanpa ia minta.
"Makasih sayang...tetap seperti ini ya walau nanti kita berdua udah punya anak, perhatian kamu jangan pudar sama aku. Aku inginnya kamu selalu manja-manja seperti ini sama aku. Laki-laki itu paling senang kalau istrinya manja-manja gini." Ucap Ando panjang lebar, mengusap dan mengecup kepala Felisha yang menggelayut manja. Lisha mengangguk malu-malu. Melepas pelukannya dan bergegas keluar dari mobil.
"Ya udah aku udah hampir telat ini..nanti kena omelan bu Rofiqoh kalau sampai telat..aku masuk dulu..kamu hati-hati nyetirnya."
"Iya sayang.." Ando tersenyum senang.
"Love You Honey.." Ucap Ando ketika Lisha akan membuka pintu. Lisha menoleh dan tersenyum.
"Love You too..." Ando seketika tersenyum lebar mendengarnya.
Ando menatap punggung Felisha yang berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan sesekali menoleh ke belakang melihatnya dan melambaikan tangan sambil tersenyum seolah melihatnya di dalam mobil.
Perlahan Ando menginjak gas dan melajukan kendaraan nya meninggalkan parkiran rumah sakit setelah punggung Felisha menghilang dari pandangan. Hari ini ia akan mengunjungi kediaman klien yang berada di Bogor. Ia berharap semua urusan nya bisa selesai dengan lancar hari ini.
"Halo, Saya sudah di jalan. Saya jemput di rumah atau di kantor?" Ando terlihat berbicara dengan seseorang lewat sambungan telepon.
"Oke. InsyaAllah 15 menit lagi sampai". Ando menutup telepon setelah mengucapkan salam.
Ando melajukan mobil nya ke rumah wanita yang tadi di telponnya. 15 menit kemudian ia tiba di depan rumah. Membunyikan klakson untuk memberi tahu kalau ia sudah menunggu. Tak lama kemudian terlihat seorang wanita keluar rumah dan mengunci pintu dari luar. Berjalan mendekat ke arah mobil dan mengetuk kaca. Ando menurunkan kaca mobilnya lalu mempersilahkan masuk.
" Masuk. Kita berangkat sekarang." Ucapnya dingin. Sikap Ando memang sangat dingin kepada orang lain. Terlihat kaku di mata orang lain apalagi jika itu berhubungan dengan wanita, ia tak pandai berbasa-basi. Sikapnya akan berubah 360 derajat jika di depan Felisha istrinya.
Perempuan itu mengangguk dan membuka pintu belakang untuk duduk di sana. Ando hanya memperhatikan saja tanpa berbicara. Setelah perempuan itu duduk dan memakai sabuk pengaman, Ando kembali melajukan kendaraannya menuju Bogor.
"Kamu tinggalnya sama siapa di rumah itu?" Ando membuka percakapan setelah diam cukup lama.
"Sendiri pak Ando." Jawabnya takut-takut. Aura Ando sangat kuat di dalam mobil itu.
"Kamu kalau ke kantor naik apa? Saya nggak melihat ada kendaraan tadi." Ando berusaha mencari topik untuk di bahas karena jika dirinya diam maka perempuan itu juga ikut diam. Suasana di dalam mobil sangat canggung karena ini pertama kali Ando dan perempuan itu berada dalam kondisi seperti sekarang.
Ando yang merupakan senior dan memegang jabatan khusus fungsional di kantor membuat perempuan itu menjadi canggung, terlebih sikap Ando yang dingin menjadikan suasana di dalam mobil menjadi kaku.
__ADS_1
"Aku selama ini naik taxi online pak. terkadang juga di jemput oleh teman".
"Kenapa nggak beli motor?"
"Nanti aja Pak..masih ngumpulin uangnya.." Ucapnya ragu-ragu. Ando terlihat mengangguk-angguk mengerti.
Selama perjalanan baik Ando maupun wanita itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan diam. Ando yang dasarnya kaku dan dingin menjadikan perempuan itu lebih banyak diam. Tanpa terasa mereka sudah memasuki kota Bogor dan menuju perkampungan tempat kediaman klien.
***
Ting
Ting
Ting
Bunyi pesan beruntun masuk ke ponsel Felisha. Mengintip sebentar dan melihat pesan, dahinya berkerut saat melihat nomor asing yang mengirim pesan itu. Karena penasaran, Lisha kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja samping tikus-tikus miliknya.
"Udah tiga bulan nikah tapi belum hamil juga".
"Kamu yakin bisa ngasih suami kamu anak?".
" Berani taruhan nggak?".
Lisha mengerutkan dahi membaca pesan aneh dari nomor asing itu. Jantungnya mendadak berdetak lebih kencang.
"Kamu siapa berani ngirim pesan begini ke saya?" Lisha sedikit tersulut emosi saat mendapat pesan seperti itu.
"Kamu nggak perlu tahu siapa yang ngirim pesan. Cukup jawab aja berani nggak taruhan dalam waktu dekat kamu bisa hamil anak suami kamu?"
"Jangan jadi PENGECUT! Saya nggak punya waktu ngeladenin kamu".
Setelah membalas pesan itu, Lisha kemudian menutup handphone dan melanjutkan pekerjaannya. Mencoba mengenyahkan pikirannya dari pesan aneh dari orang tak bertanggung jawab.
" Enak aja main ngajak taruhan emang kamu siapa berani ikut campur rumah tangga aku...modelannya kayak penjual obat subur saja yang mau nawarin obat biar cepet hamil...itu juga pakai ngajak taruhan segala..." Gumam Felisha sambil melihat-lihat pekerjaannya.
__ADS_1
...****************...