
Ando POV,
Pesta resepsi berlangsung hingga jam 10 malam. Setelah MC menutup acara aku dan Lisha bergegas kembali ke kamar. Setelah pintu kamar terbuka, Felisha langsung buru-buru masuk ke dalam lalu duduk di tepi ranjang. Ku tutup kembali dan mengunci pintu kamar lalu melihat Lisha dengan dahi berkerut.
"Hadeeeeuuuhhh...." Lisha langsung melepaskan sepatunya dan melemparnya pelan ke sembarang.
"Ya Allah kakiku berasa kayak mau ke potong tengahnya...sshhhh...sakit sekali.." Felisha melihat-lihat kakinya sambil di pijit-pijit sendiri.
Aku mendekat dan duduk di bawah di hadapan Felisha. Mengangkat kaki nya menaruh nya ke pangkuan. Memijatnya pelan sampai betis sambil menunduk memperhatikan kaki mungil perempuan itu yang putih mulus.
"Sakit banget ya sayang?" Aku mendongak menatap wajah Felisha yang meringis, ia hanya mengangguk. Wajah Felisha seketika merah saat Aku menyentuh kakinya hingga betisnya. Ini untuk pertama kalinya Aku menyentuh kakinya. Lisha merasa canggung dan langsung meraih tangan ku untuk menghentikan pijatan ku.
"Udah kak..udah lebih baik sekarang.. udah nggak sakit banget kayak tadi.." Lisha menurunkan gaunnya yang aku singkap tadi sebelum memijat kakinya.
"Udah enakan sekarang?" Aku menatap Felisha yang hanya mengangguk dan tertunduk malu. Syukurlah kalau begitu. Bisa-bisa batal rencana unboxing kalau sakitnya belum hilang. Dan tentu saja ini hanya terucap di dalam hatiku, tak berani mengatakannya di depan Felisha. hahaha.
Aku kemudian berdiri melepas jas yang ku pakai, mengambil air putih lalu ku berikan kepada Lisha.
"Minum dulu sayang.."
"Terimakasih.." Felisha menerima segelas air putih itu lalu meminum nya sampai tandas.
"Haus banget yah..." Aku tersenyum lalu meraih gelas kosong yang ada di tangan Felisha untuk di simpan kembali.
"Aku dari tadi emang haus kak, pengen air putih tapi takut lipstik nya ke geser makanya nggak mau minum dulu tadi...". Keluh Lisha sambil berdiri.
"Kenapa nggak bilang sayang biar aku ambilin sedotan.." Ucap ku sambil membantu Felisha berdiri. Takut kakinya masih sakit.
"Ck..memangnya kalau pake sedotan nggak nyentuh bibir gitu? Kan sama aja tetep ke sentuh bibirnya sama sedotan"
"Ya tinggal panggil MUA nya dong biar lipstiknya di rapihin lagi sama dia. Tapi tadi waktu aku cium kamu gak protes? padahal aku ***** sampai habis loh lipstiknya.." Aku tersenyum senang teringat saat tadi berciuman di panggung Felisha tak menolak malah membalas ciuman ku. Bahagia nya hatiku karena ini pertama kalinya dia membalas ciumanku.
Ku lihat Wajah Felisha langsung memerah karena malu mungkin teringat tadi berciuman di atas panggung di depan banyak orang.
"Nggak usah di pikirin sayang..sini aku bantuin lepas gaunnya...?" Aku menawarkan diri untuk membantunya melepas gaun hitung-hitung latian buat ntar pas dianya udah siap di gempur. Hahaha.
Felisha terdiam mencerna penawaran ku kali ini. Namun beberapa detik kemudian ia menggeleng kuat.
"Jangan..aku bisa lepas sendiri.." Lisha mencoba meraih sleting gaunnya yang berada di belakang. Aku diam membiarkan dan hanya memperhatikan. Tapi yang kulihat sedari tadi ia berusaha melepas sleting nya sendiri namun tak pernah berhasil.
"Ck..di bilangin sini biar aku bantuin.." Aku mendekat dan langsung membuka sleting gaun Felisha hingga ke paling bawah, tepatnya hingga ke pinggang dan langsung memperlihatkan punggung polos nya.
"Aahhh..." Felisha reflek berbalik menghadap ku untuk menyembunyikan punggungnya yang padahal sudah sempat ku lihat tadi.
Aku berdiri terpaku setelah melihat punggung Felisha yang polos nan putih mulus itu tanpa penghalang kecuali tali br a. Otak ku berhenti sejenak seperti terkunci tak bisa berpikir jernih. Ingin rasanya menerkamnya sekarang juga. Tapi aku takut Felisha malah merasa tidak nyaman.
"Maaf aku belum terbiasa.." Felisha merasa bersalah saat melihat ekspresi wajah ku yang diam terpaku. Perlahan Felisha maju dan mendekat.
__ADS_1
"Kak..maaf..aku nggak bermaks.." Ucapan Felisha terputus saat Aku meraih pinggangnya sampai tubuh kami menempel satu sama lain.
"Aku maafin tapi kamu harus tanggung jawab malam ini karena kamu udah berhasil bangunin dia.." Aku menunjuk belalai ku dengan mata, perlahan Lisha mengikuti arah pandang ku. Wajahnya langsung merah seperti tomat karena malu.
Ia kemudian kembali mendongak menatap wajah ku yang tersenyum manis menatapnya sambil menaik turunkan alis ku memberinya kode agar bersiap dalam pertempuran hebat malam ini.
"Tapi aku..Hhmmmppttt....." Langsung aku ***** habis bibirnya, tidak membiarkan dia membuat alasan lagi. Pokoknya malam ini harus tercapai semua angan dan cita-cita ku.
Suara decapan menggema mengisi ruangan. Aku melepaskan ciuman ku saat melihat wajahnya merah karena kehabisan oksigen.
"Hooshh..Hooshh.." Lisha tersengal-sengal menghirup udara sebanyak mungkin.
Ku tarik pinggangnya dan berniat untuk melanjutkan acara yang tertunda setelah nafasnya terlihat normal.
"Bentar kak..aku mau pipis dulu..." Eemmm...sekalian mandi..." Ucapnya dengan tersenyum jahil, setelah itu ia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Haiiiiss...padahal belalai gajah udah ON. Lisha awas saja ntar kalau keluar tidak akan aku lepaskan.
Aku menjatuhkan tubuh lelah ku ke kasur sembari menunggu Lisha selesai membersihkan diri. Ku raih handphone ku untuk mengecek pesan yang masuk. Sudah ku duga akan banyak ucapan selamat dari teman-teman.
Ku buka pesan satu per satu, semua adalah pesan dari teman kuliah, rekan kerja dan juga klien-klien ku. Ku lihat ada pesan dari nomor yang tak ada nama kontaknya. Kalau di lihat dari pesan terakhir yang masuk aku sudah bisa menebak kalau itu pesan dari Kalista.
Lama ku pikir-pikir, di buka atau langsung di hapus saja. Tapi akhirnya aku memilih membukanya. Sudah ku tebak isinya masih sama dengan pesan yang selalu dia kirim sebelum-sebelumnya. Masih belum bosan juga dia mengirim pesan seperti ini, padahal aku tak pernah sekalipun membalas pesannya.
"Al...aku nggak akan berenti minta maaf sama kamu.."
"Al...kamu nggak pernah hilang dari hati aku. pikiran aku".
" Kamu masih selalu ada di hati aku.."
"Al...walaupun kamu udah nikah dengan orang lain tapi aku tau di hati kamu masih ada aku".
Seketika aku merasa mual setelah membaca isi pesan nya. Perut ku sperti di aduk-aduk, percaya diri sekali dia.
Aku melempar ponsel ku ke atas kasur dan berlari mengetuk pintu kamar mandi.
" Sayaaang...Lishaaa buka pintu nya aku mual pengen muntaahh..."
"Ada apa kak..kenapa tiba-tiba mual..kamu masuk angin ya..??" Lisha langsung membuka pintu karena panik dan memberondong ku dengan pertanyaan.
"Huuueeeekkkk...hueeekkk..." Boro-boro bisa menjawab yang ada malah pengen keluarin semua isi perut.
"Kok bisa mual sih kak...kamunya salah makan kali.." Ucapnya sambil mengusap-usap punggung dan menekan-nekan belakang leher ku dengan pelan.
Ku basuh wajah ku setelah berkumur, kemudian berbalik badan keluar dari kamar mandi sedangkan Lisha mengikuti ku di belakang.
Ku duduk di tepi ranjang untuk menenangkan diri. Dahi ku berkerut melihat Lisha mengobrak abrik tas nya yang ada di meja.
__ADS_1
"Nah ini dia...dapat.." Ucapnya setelah menemukan barang yang di carinya. Aku tak tahu itu apa karena dia berdiri membelakangi ku.
Lisha berbalik dan berjalan ke arah ku dengan masih memakai handuk kimono dan di kepala nya juga masih terlilit handuk. Si belalai gajah langsung kembali ON melihat ujung vitamin D tercetak jelas di balik handuk kimono itu.
Oh ya, ada yang tau nggak Vitamin D itu apa? sini biar aku jelasin.
Tadi siang itu waktu aku dan Lisha istirahat setelah resepsi sembari menunggu waktu resepsi malam, aku bilang sama Lisha kalau aku butuh Vitamin buat menjaga stamina untuk nanti malam. Terus dia bilang kalau dia tidak membawa vitamin waktu datang kesini. Aku bilang lagi kalau aku tidak butuh vitamin yang lain kecuali yang ada padanya. Doi bingung dong dengan maksud aku.
Tanpa di duga nya langsung aku remas dua vitamin yang ada di dadanya dengan lembut dari balik lingerie yang di pakainya tadi siang dan seketika dia teriak memukul tangan ku.
"Aaaaaaaa....kamu apaan si..main pegang-pegang aja tanpa ijin.." Lisha langsung menjauhkan badannya seperti takut aku ambil paksa kepunyaan nya. Hahaha..lucu sekali ekspresi nya.
"Emang harus ijin dulu sayang..itu kan udah sah punya aku.." Ucapku menunjuk dadanya. Lisha langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tapi kamu ngagetin ih.." Ucapnya bersungut-sungut.
"Sini duduk dulu dong biar aku jelasin vitamin yang ku maksud.." Aku menepuk-nepuk paha meminta ia duduk di pangkuan ku. Tapi bukan Lisha namanya kalau tak menolaknya.
"Nggak mauuu.."
"Sayang..kamu nggak inget ceramah Pak Penghulu tadi setelah akad?" Kewajiban seorang istri itu melayani suami..." Lisha langsung memotong ucapan ku.
"Iya iya aku inget..ingat banget malah." Yes berhasil. Lisha langsung duduk di pangkuan ku dengan ragu-ragu. Aku tersenyum penuh kemenangan. Ku lingkarkan tangan ku ke pinggangnya dan mengecup lengan telanjangnya. Ku lihat bulu halusnya meremang.
"Mau denger nggak soal vitamin tadi?" Tanyaku basa basi.
"Iyaa...mauu..cepetan..aku berat loh kak.."
"Enggak kok..kamu nggak berat..terlalu ringan malah.."
"Jadi gini..vitamin D yang ku maksud itu tuh yang ini..vitamin dada.." Aku menyentuh dua vitamin dada dengan sedikit meremasnya.
"Aaww.." Lisha melotot ke arah ku tapi tak ku pedulikan dan lanjut ke vitamin B.
"Kalau aku bilangnya butuh vitamin B, berarti aku butuhnya yang ini.." Ucapku sembari menyentuh bawahnya.
"Aahhh.." Reflek Lisha memukul tangan ku dengan keras. Tak hanya itu, ia juga mendaratkan cubitan manjanya di lengan ku.
"Kamu belum di apa-apain juga udah KDRT begini.." Gerutu ku sambil mengusap-usap bekas cubitan nya.
Lisha melompat turun dari pangkuan ku lalu duduk di kursi meja rias.
"Kamu mah modusnya nggak ketulungan". Ucapnya sembari menyisir rambut.
Jadi gitu ceritanya...Vitamin D dan B. Kalau capek-capek dan lelah kan kita emang butuh vitamin kan..makanya aku butuh banyak asupan vitamin. Apalagi kalau vitamin D dan B yang ada sama Felisha. Beuh nggak bisa ngomong lagi aku. HAHAHAHA....
...****************...
__ADS_1