Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 24. Nomor Tak dikenal


__ADS_3

Aku mengunci layar ponsel ku, beranjak untuk mengunci pintu kamar dan bermaksud kembali ke tempat tidur. Tapi belum sempat ku kunci pintunya terdengar ketukan dari luar. Siapa yang datang jam segini.


"Siapa?" Aku sedikit mengencangkan suara agar terdengar sampai di luar.


"Ini Lita Sha, cepetan buka pintunya..." Teriak Lita dari luar.


"Hufftt... Kenapa lagi sih Lita". batinku


"Ku kira siapa.. ketuk pintu jam segini. Bikin takut aja tau." Sungut ku


"Maaf Sha..Tadi abis nonton film horor, jadi tiba-tiba takut tidur sendirian. hehe.."


Lita menjawab dengan cengiran kudanya.


"Sini masuk. Makanya gak usah banyak gaya. Sok sok an nonton film horor sendirian. " Omel ku sambil membukakan pintu lebar-lebar.


"Iya tapi gak janji ah. hihi.."


"Silahkan aja, tapi jangan coba-coba ketok pintu aku lagi..awas ya, ku getok pala mu pake sutil nanti.."


"Kejam amat neng.."


"Baru tau ane kejam? Udah ah aku mau tidur. Ngantuk."


"Aku tidur dimana nih?"


"Sini.. tidur di kasur aja berdua kita."


kataku sambil menepuk-nepuk kasur di sebelahku dengan mata terpejam


"ulu uluuu makasih yaa... manis amat anak orang.. punya siapa sih ini? punya kak Ando ya?"


Lita masih saja menggodaku yang sedari tadi mengomelinya. Sementara aku sudah merasakan kantuk dan sedikit lagi akan tertidur.


"Enggak usah menggodaku. Udah ngantuk berat nih."


Aku berbalik memeluk guling kesayangan ku dan memunggungi Lita yang masih saja setia dengan cerocosnya sampai sayup-sayup ku dengar dia seperti berbicara sendiri.


Aku menoleh melihatnya ternyata sekarang dia sedang teleponan. Sepertinya telponan sama kak Bara.


Ku biarkan saja dia sampai aku benar-benar tertidur.


Aku terbangun dari tidurku karena mendengar suara masjid yang tak begitu jauh dari kosan. Ku bangunkan Lita pelan-pelan agar dia tak kaget.


"Ta.. bangun sudah subuh nih."


"Mmmm"


Pelan-pelan Lita menggerakkan badannya tanpa membuka mata.


"Jam berapa Sha?" tanya Lita


Ku lirik jam weker yang berada di atas meja sudah menunjukkan pukul 4.10


"Ayo bangun Ta.. Sudah adzan subuh itu."


"Iya iya..."


Lita bangun dari tidur namun matanya Masi saja terpejam.


Aku turun dari kasur dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Ku lihat Lita sudah terbangun sepenuhnya ketika aku keluar dari kamar mandi. Ku ambil mukenah lalu melaksanakan shalat subuh.


Pukul 5.30 aku gegas ke dapur untuk membuat nasi goreng untuk sarapan pagi ini. Sedangkan Lita sudah kembali ke kamarnya.


Setelah nasi goreng sudah siap kuletakkan di meja dan keluar untuk memanggil kedua sahabatku Rufi dan Lita agar sarapan bersama.


***


Kami bertiga seperti biasa berjalan kaki menuju ke kampus sambil mengobrol santai.

__ADS_1


Tiba di depan kampus kami bertemu dengan kak Muza dan kak Arsen. Mereka hendak menyeberang jalan dari Indo juni menuju kampus.


"Felisha..." Panggil kak Muza


Kami bertiga menoleh ke arah suara.


"Iya kak." Jawabku


Kak Muza dan kak Arsen mendekati kami dan mengajak berjalan bersama menuju ruangan masing-masing. Namun dua sahabatku itu dan juga kak Arsen berjalan lebih dulu seperti membiarkan aku dan kak Muza berbicara berdua di belakang mereka.


"Sha, apa kabar?" Tanya kak Muza


"Alhamdulillah baik kak."


"Kita lama juga gak ketemu ya."


"Iya. Gimana PKL nya kak?" Tanyaku basa basi karena ku lihat kak Muza sepertinya canggung berbicara dengan ku.


"Alhamdulillah lancar. Kalian kapan mulai PKL nya?"


"Insyaallah bulan depan."


"Lokasinya dimana?"


"Aku dengar di Puskesmas dulu setelah itu baru turun ke rumah-rumah warga."


Akhirnya kami berbincang sambil berjalan menuju ruang kelas. Tanpa terasa kami sudah berada di depan kelas. Aku, Rufi dan Lita pamit lebih dulu lalu kak Muza dan kak Arsen melanjutkan ke ruangan mereka.


"Aku duluan kak." Kataku saat hendak masuk ke ruang kelas.


"Oke." Kak Muza hanya mengacungkan jempol dan tersenyum simpul.


"Cie cie cieeee." Lita dan Rufi kompak menggodaku saat kami berada di dalam ruang kelas.


"Apa?" ku tanya mereka dengan mengangkat sedikit dagu dengan dahi berkerut.


"Siapa?"


"Ah kamu pura-pura gak tau apa malas tau."


"Beneran gak tau. Siapa emang?" Sengaja ku tanya untuk memperjelas siapa yang mereka maksud. Padahal siapa lagi kalau bukan kak Muza.


"Ck. Kak Muza dong Sha, siapa lagi coba." Lita mencebikan bibirnya.


"Berharap balikan gimana? perasaan tadi aku gak denger kak Muza bilang gitu."


"Emang Sha, kak Muza gak bilang mau balikan... tapi cara dia ngeliat kamu tuh keliatan banget kalau dia masih ngarepin kamu."


"Enggak usah ngadi-ngadi kalian. Kak Muza tuh gampang banget buat dapetin cewek baru lagi. Jadi untuk apa mau ngarepin aku. Kayak yang gak ada cewek lain aja."


"Ya siapa tau kaann..."


"Udahlah...gak usah pikir yang macem-macem kalian tuh.." Ucapku sambil mengibaskan tangan di udara


Rufi segera ke ruang kelasnya. Tak lama kemudian dosen masuk. Kami mengikuti proses belajar mengajar yang lumayan menguras otak dan energi hari ini.


Setelah dosen memaparkan materinya selama satu jam, kamipun bersiap untuk melakukan praktikum di laboratorium pangan. Hari ini kami akan mencoba membedakan antara beras utuh, beras patah dan menir dengan cara mengukurnya.


Kami berkutat dengan berbagai macam bahan pangan yang sudah tersedia di laboratorium.


Setelah 4 jam kami melakukan praktikum akhirnya selesai juga. Kami bergegas menuju ruang kelas untuk membuat laporan sementara hasil praktikum hari ini. Ku lirik jam yang melingkar di pergelangan tangan ku sudah menunjukkan pukul 13.00 siang.


Ku ajak Lita ke musholla menunaikan shalat Dzuhur sebelum ke kantin untuk makan siang.


"Ta kita shalat dzuhur dulu ya setelah itu kita ke kantin."


Lita hanya menganggukkan kepalanya. Sepertinya dia terlalu lelah untuk menjawab.


"Rufi udah pulang belum ya?"

__ADS_1


"Kayaknya udah. Tadi di ruangannya aku lihat udah gak ada orang."


"Ya udah yuk..!"


Kami segera menuju Musholla yang berada tak jauh dari kantin kampus.


Di kantin,


Tak begitu ramai karena sudah pukul 13.30. Sudah habis waktu istirahat.


Kami mengobrol ringan membahas praktikum yang kami lakukan tadi sambil menunggu pesanan datang.


Tiba-tiba kurasakan ponselku bergetar panjang tanda jika ada panggilan masuk.


Segera ku rogoh saku seragamku dan melihat nama Kak Ando terpampang di layar handphone.


"Siapa yang nelpon Sha?" Tanya Lita.


"Kak Ando"


"Halo, Assalamualaikum..." Lita tak bertanya lagi setelah ku geser tombol hijau dan mengucap salam kepada kak Ando.


"Wa'alaikumsalam..." Jawab kak Ando.


"Lagi dimana Sha?" Lanjutnya


"Ini lagi mau makan siang."


"Lho kok baru makan jam segini?"


"Keluar lab udah jam satu tadi, jadi shalat Dzuhur dulu sebelum makan."


"Ya udah makan dulu Sha. Udah lewat banget waktunya ini."


"Iya kak."


Setelah ku tutup panggilan dari kak Ando, pesanan kami datang. Kami pun makan dengan khusyuk tanpa suara hanya dentingan sendok yang terdengar karena sudah terlalu lapar.


Tak lama kemudian getaran dari handphone milikku yang kuletakkan asal di atas meja kembali terdengar. Ku lirik siapa si penelpon ternyata tak ada nama yang tertera disana hanya nomor tak di kenal.


Ragu-ragu ku angkat handphone ku sambil menoleh ke arah Lita. Lita pun mengangguk memberikan kode agar menjawab panggilan itu karena ia penasaran siapa si penelpon.


Ku geser tombol hijau untuk menjawab, ku tempelkan ponsel itu ke telinga untuk mendengar suara dari seberang sana namun sudah sekitar dua menit an tak ada suara apapun yang ku dengar.


"Halo..."


Akhirnya ku coba untuk menyapa lebih dulu. Namun tak ada jawaban. Ku lirik Lita yang menatapku dengan ekspresi wajah penuh tanya sambil mengunyah makanannya dan hanya ku jawab dengan gelengan pelan.


Sekali lagi ku coba untuk menyapa si penelpon namun lagi-lagi tak ada jawaban. Ku jauhkan ponselku untuk melihat apakah panggilannya putus ataukah masih terhubung dan ternyata masih terhubung.


"Halo..."


Ku tatap Lita lalu menggeleng sebagai tanda tak ada suara apapun disana. Dan akhirnya ku tutup saja panggilannya.


"Mungkin orang iseng atau salah sambung Sha." Kata Lita kepada ku yang hanya ku angguki.


Belum sempat ku selesaikan makan ku handphone milikku lagi-lagi bergetar. Tak ku hiraukan. Biarkan saja pikirku.


Ku lanjutkan melahap makanan ku sampai tandas. Dan ketika aku baru saja menyelesaikan makan ku handphone kembali bergetar tanda ada panggilan masuk. Lagi-lagi dari nomor yang tak di kenal.


"Jawab aja Sha. Siapa tau penting." Ucap Lita


Aku mengerutkan dahi dalam, ketika ku coba menjawab panggilan itu karena masih sama seperti tadi. Tak ada suara apapun.


"Halo..." Aku lagi-lagi mengawali obrolan namun juga tak ada jawaban.


Aneh


...****************...

__ADS_1


__ADS_2