
Felisha membiarkan Mato memeluknya beberapa saat tanpa membalas pelukannya.
"Kamu gak usah capek-capek buat minta maaf. Aku udah lama maafin kamu, Aku hanya butuh penjelasanmu kenapa sampai kamu meninggalkanku tanpa alasan. Aku juga minta maaf kalau selama kita bersama mungkin ada sikap atau kata-kata aku yang kurang berkenan di hati kamu. Maaf aku gak bisa nurutin permintaan kamu waktu itu untuk menikah. Anggap aja ini pelukan terkahir kita, semoga kelak kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dariku". Ucap Lisha panjang lebar dalam pelukan laki-laki itu.
Perlahan Mato melepaskan pelukannya. Menatap wanita itu, tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
" Kamu ngomong apa? apa maksud kamu pelukan terakhir?" Mendengar ucapan Lisha, Mato merasa seperti akan di tinggal jauh oleh perempuan itu. Ia tak rela jika harus berpisah lagi dengannya.
"Hubungan kita sudah lama berakhir, jadi aku mohon biarkan aku bersama dengan laki-laki pilihanku saat ini". Lisha
" Apa aku gak ada kesempatan sekali lagi buat menebus kesalahan masalalu ku?" Mato masih mencoba untuk mendapatkan kesempatan itu.
"Kalau emang kamu mau aku kasih kesempatan buat menebusnya, biarkan aku menutup kisah di antara kita. Aku harap kamu juga sama sepertiku. Semoga ini yang terbaik untuk kita". Lisha
Mato diam, tak percaya dengan ucapan Felisha yang ingin mengakhiri kisah cinta mereka, sekarang ia sudah mengerti arah pembicaraan mereka saat ini. " Sepertinya aku sudah kalah, tak ada tempat lagi untukku di hatinya". Batin Mato.
"Baiklah..aku mengerti. Tapi aku boleh minta satu hal padamu?"
"Apa?"
"Apa kita masih bisa berteman?" Tawar Mato dengan hati yang berkecamuk. Tak mengapa jika ia hanya bisa berteman saat ini dan kedepannya, asalkan masih bisa bertemu dengan Felisha. Pikirnya.
"Kenapa enggak. Kita gak boleh putus silaturahmi kan.." Felisha tersenyum saat mengatakannya, merasa lega karena akhirnya Mato dan dirinya sudah bisa berdamai dengan kisah mereka yang akan menjadi masalalu. Perlahan Mato ikut tersenyum walau hatinya belum bisa benar-benar menerima perpisahan mereka, tapi ia akan berusaha sebisa mungkin demi wanita yang di cintainya.
***
Ando melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat itu. Mencoba memutar lagu yang ada untuk mengurangi sedih di hatinya.
"some days I feel i'd make a good sunset".
(ada hari-hari aku merasa mampu membuat senja yang indah)
"some days I just don't wanna give up yet".
(ada hari-hari aku hanya tidak ingin menyerah)
" some days it's hard to breathe".
(ada hari-hari terasa sulit untuk sekedar bernafas)
"some days i'm over being me".
(ada hari-hari aku menyerah jadi diriku)
"some days, some days, some days".
(suatu hari, suatu hari, suatu hari)
" some days I try my best to seem happy".
(ada hari-hari aku mencoba yang terbaik agar terlihat bahagia)
"some days this place seems better off without me".
(ada hari-hari tempat ini terasa lebih baik tanpa diriku)
"some days i'm overwhelmed".
(ada hari-hari aku kewalahan)
" some days i'm lost inside this hell".
(ada hari-hari aku tersesat dalam penderitaan)
"some days, some days, some days".
(suatu hari, suatu hari, suatu hari)
"Some days I wonder what it's like".
(ada hari-hari aku bertanya-tanya seperti apa rasanya)
"To live an ordinary life".
(menjalani kehidupan biasa)
"Maybe I won't feel this way".
(mungkin aku tidak bisa begini)
__ADS_1
"Some day"
(suatu hari)
"Some days I feel like everyone hates me".
(ada hari-hari aku merasa seperti semua orang tidak menyukaiku)
"Some days I question, "Why would God create me?"
(ada hari-hari aku bertanya "mengapa Tuhan menciptakan ku?")
"Some days I'm holding strong".
(ada hari-hari aku menggenggam kuat)
"Some days I'm barely hanging on".
(ada hari-hari aku hampir tidak bisa bertahan)
"Some days, some days, some days".
(suatu hari, suatu hari, suatu hari)
"Some days I wonder what it's like".
(ada hari-hari aku bertanya-tanya seperti apa rasanya)
"To live an ordinary life, Maybe I won't feel this way
Some day".
(menjalani kehidupan biasa, mungkin aku tidak bisa begini)
"Some days".
(suatu hari)
"Some days I wonder what it's like".
(ada hari-hari aku bertanya-tanya seperti apa rasanya)
(menjalani kehidupan biasa, mungkin aku tidak bisa begini)
"Some days".
(suatu hari)
Lagu yang berjudul "Some days" dari Brent Morgan sangat mewakili perasaan nya saat ini. Memilih melajukan mobilnya menuju pantai.
Duduk di atas batu yang berada di bawah pohon di tepi pantai itu. Menghirup udara sebanyak mungkin lalu di hembuskan pelan. Mengeluarkan sebatang rokok untuk di hisapnya. Memandang jauh ke lautan.
Dadanya seketika terasa sesak mengingat kejadian tadi saat kekasihnya di peluk oleh laki-laki lain. Di hisapnya rokok di tangannya dengan kuat lalu mendongak di hembuskannya asap rokok itu ke udara. Menatap bintang-bintang di langit yang bertebaran.
"Kenapa sesak sekali Ya Allah...ini lebih sakit dari yang dulu ketika di tinggal nikah". Ando membatin.
Mungkin dengan yang dulu itu LDR an jadi hubungan mereka kurang intens, sedangkan yang sekarang hampir setiap waktu selalu bersama jadi sakitnya beda.
Teringat papah mamah nya yang sempat menanyakan kapan ia akan menikahi Felisha. Yang saat itu ia hanya bisa menjawab dengan alasan kalau Felisha masih kuliah. Ia akan segera menikahi kekasihnya itu jika lulus kuliah, dan sekarang perempuan itu sudah lulus kuliah alasan apalagi yang akan Ando berikan kepada ke dua orang tuanya. Tidak mungkin kan ia mengatakan yang sebenarnya, kalau ia sedang menunggu sampai Felisha mencintainya.
Semakin lama ia semakin merasakan dingin yang menusuk karena angin yang bertiup kencang. Melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya jam menunjukkan pukul 10 malam. Sudah cukup lama ia berada disana.
Berdiri dan beranjak menuju mobil. Membuka pintu dan hendak masuk ke mobil tapi di urungkannya. Menyipitkan matanya melihat pria dan wanita di restoran yang tak jauh dari sana. Menutup kembali pintu mobilnya lalu berjalan mendekat.
"Abraham?" Panggil Ando dan seketika orang yang di panggil itu menoleh ke belakang.
"Eh bang Ando..apa kabar bang?" Abraham berdiri dan langsung menyalami Ando ala laki.
"Baik Alhamdulillah... lu gimana kabarnya?"
"Alhamdulillah baik bang".
" Duduk dulu bang" Tawar Abra basa basi.
"Lain kali aja Bro, gw mau lanjut pulang ke rumah". Ucap Ando menolak halus ajakan laki-laki itu.
"Okelah kalau gitu..eh bang sama siapa kesini?" Tanya Abra sambil celingak-celinguk ke belakang Ando mencari keberadaan orang yang mungkin datang bersamanya malam ini namun tak di dapatinya.
"Sendiri. Tadi kebetulan lewat jadi mampir kesini". Jawab Ando.
__ADS_1
" Oohh..jangan lama-lama sendirian bang, kalau mau, gw punya temen". Ucap Abraham sambil tersenyum sengaja menggoda laki-laki itu yang hampir saja menjadi anggota keluarganya. Ya, Abraham adalah saudara sepupu mantan kekasih Ando, Kalista.
"Hahaha...buat lu aja". Ando tertawa mendengar tawaran Abraham. Ia tahu kalau laki-laki yang hampir saja menjadi iparnya itu sedang menggodanya.
" Hahaha..." Abraham ikut tertawa mendengar jawaban mantan calon iparnya itu.
"Gw duluan ya..." Ando beranjak menuju mobilnya.
"Oke bang..ati-ati di jalan". Ucap Abraham mengangkat kedua jempolnya ke udara.
***
Ando menatap kos an itu yang terlihat sepi, sepertinya para penghuninya sudah tertidur. Ketika hendak ke rumah, tiba-tiba saja terlintas di pikirannya untuk membelokkan kendaraan nya menuju kos an. Melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 10.50. Sudah cukup larut jika harus berkunjung.
Memilih berdiam diri di dalam mobil sambil menatap ke arah kamar Felisha. Meraih ponselnya lalu memeriksanya. Terdapat dua panggilan tak terjawab dari nomor yang ia beri nama "My Lovely" dan beberapa pesan masuk yang ternyata salah satunya adalah pesan dari kekasihnya itu. Memilih membuka lebih dulu pesan dari "My Lovely" nanti setelah itu ia memeriksa pesan yang lain.
"Malam kak..udah tidur kah?"
Hanya itu bunyi pesan dari "My Lovely". Dilihatnya waktu pesan itu masuk ternyata pesan itu di kirim setelah panggilannya tidak di jawab.
Tak lama kemudian ponselnya berkedip-kedip tanda ada panggilan masuk dan siapa lagi kalau bukan dari " My Lovely ". Sengaja ia mematikan nada deringnya karena tak ingin di hubungi saat tadi ia berada di pantai. Benar-benar ingin menikmati kesendirian nya di pantai itu.
Mengusap wajah nya dan berdehem untuk menetralkan perasaan nya sebelum menekan tombol hijau.
" Halo, Assalamu'alaikum... " Ucap Ando setelah panggilan itu terhubung.
Sepi. Tak ada jawaban dari seberang telpon.
"Halo.." Ulang Ando.
Sayup-sayup terdengar isakkan kecil dan di susul dengan suara. "Srooootttttt...." yang tak lain adalah suara cairan yang di keluarkan dari hidung. Seketika Ando menjauhkan ponsel dari telinganya dengan dahi berkerut.
"Halo. Assalamu'alaikum sayang.." Ucap Ando yang akhirnya mendapat jawaban dari seberang sana. Segitu cinta dan sayangnya ia kepada perempuan itu sampai ia tak tahu caranya untuk marah atas apa yang di lihatnya tadi.
"Kamu darimana aja? kenapa panggilan aku gak di jawab? Segitu sibuknya sampe lupa sama aku?". Rentetan pertanyaan yang keluar dari bibir Felisha yang membuat Ando tanpa sadar menyunggingkan senyumnya.
" Kenapa gak di jawab huh...??" Ucap Felisha dengan nada yang sudah naik satu oktaf karena Ando tak langsung menjawab pertanyaan yang di ajukannya.
"Jawab dulu salamnya sayang. Assalamu'alaikum..." Ando mengulangi ucapan salamnya yang tidak di jawab sedari tadi.
"Kumsalam..." Jawab Felisha yang terdengar seperti tidak ikhlas menjawabnya. Ando terkekeh mendengarnya.
"Kenapa marah-marah gitu sayang? Aku tadi bertemu teman lama, terus ponselnya tidak sengaja ter silent jadi gak kedengeran sama aku kalau ternyata ada yang kangen. Maaf..". Goda Ando dengan sangat lembut sambil terkekeh. Ada benarnya juga kan Ando bertemu teman lama. Lebih tepatnya mantan calon ipar. hehe
" Isshhh...sampe selarut ini?" Tanya Lisha tak percaya.
"Ketemunya sih tadi. Sekarang aku udah di depan gerbang kos an kamu sayang". Ucap Ando santai.
" Haahhh...yang bener kak?" Tanya Lisha yang langsung membuka pintu kamarnya lalu memandang ke arah gerbang. Benar saja di sana ia melihat mobil Ando terparkir tepat di depan gerbang.
"Kamu ngapain kesini selarut ini?" Lanjut Lisha.
"Cuma pengen ketemu kamu sebentar sebelum pulang ke rumah". Jawab Ando yang langsung keluar dan berdiri di depan mobil dengan senyum lebar menatap kekasihnya yang berjalan ke arahnya sambil memegang handphone di telinganya.
" Tapi pagarnya udah di konci kak. Nggak bisa masuk". Ucap Lisha saat berada di balik pintu pagar besi itu.
"Nggak papa. Aku kan bilang cuman pengen ketemu kamu bentaran bukan pengen masuk".
" Ya udah sana pulang, udah ketemu kan?" Usir Lisha cemberut.
"Hahaha bentar lagi sayang..aku belum puas liatin kamu".
" Isshh...apaan sih.." Ucap Felisha tersipu. Seketika wajahnya terasa panas. Ia yakin pipinya sekarang sudah memerah.
"Sana masuk..aku pulang sekarang". Ucap Ando menyuruh kekasihnya masuk kembali ke kamar kos nya.
Felisha mengangguk dan berbalik untuk kembali ke kamarnya.
" Sayang..." Panggil Ando. Lisha membalikkan badan kembali menatap kekasihnya yang berada di luar pagar.
"Love you...have a nice dream baby". Ucap Ando tersenyum.
" Have nice dream too.. " balas Felisha tersenyum manis lalu kembali berjalan menuju kamar.
Saat Felisha tak terlihat lagi, senyum Ando perlahan memudar. Ungkapan cintanya belum terbalas. Ia masih butuh perjuangan yang entah sampai kapan ia sendiri tak tahu. Tapi hatinya sedikit lega karena melihat senyum manis kekasihnya yang terlihat sangat tulus malam ini. Entah mengapa ia melihat ada cinta untuknya di dalam senyuman itu. Semoga saja.
Melirik paper bag yang teronggok di sebelahnya, Ando kemudian melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai lengang. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum setiap mengingat senyum kekasihnya tadi. Ada bahagia setelah kesedihan walau bahagianya belum seberapa malam ini, tapi Ando yakin lambat laun akan banyak kebahagiaan yang datang menghampiri asalkan ia sedikit lebih bersabar lagi.
...****************...
__ADS_1