
Lisha terus berjalan ke arah ku dengan tak menyadari kalau belalai sudah berdiri tegak. Dia datang dan langsung memintaku melepas pakaian. Dahiku berkerut heran.
"Ada apa..kamu mau kita mulai sekarang?" Tanyaku tersenyum senang. Waah..jangan bilang kalau Lisha sudah tidak tahan pengen di buat mende sah.
"Mulai apa..?? Buka dulu pakaiannya..dari tadi kenapa belum ganti baju..apa nggak gerah?" Omelnya sambil mendaratkan bokongnya di sampingku.
"Ya kan aku nungguin kamu selesai mandinya sayang..". Aku melepas satu persatu kancing kemeja yang sedari tadi masih menempel di badan ku.
"Loh kenapa nungguin aku..kan kamu nya bisa ganti baju sendiri..gimana si.." Ucapnya sambil menatap ku yang sedang melepas kemeja.
"Balik badannya.." Lisha meminta ku berbalik badan memunggunginya setelah kemeja sudah ku lepaskan.
"Ada apa sih sayang..kamu mau kasih aku kejutan apa sampai harus berbalik dulu..ini nggak sekalian tutup mata nih?" Aku duduk memunggunginya. Sesaat kemudian ku rasakan punggung ku seperti sedang di baluri minyak. Aku menoleh untuk melihat namun di cegah nya.
"Nggak usah banyak gerak...aku balurin minyak kayu putih punggungnya biar angin nya pada kabur..kamu kayaknya masuk angin nih sampe kembung..mual kan jadinya.." cerocosnya sembari membalurkan minyak kayu putih di punggung ku. Aku akhirnya diam mendengarkan ocehannya sejak tadi yang mengatakan kalau aku masuk angin makanya mual.
Ingin rasanya aku kasih tahu penyebab yang sebenarnya. Gimana ya respon dia kalau tahu perempuan itu selalu mengirimkan pesan seperti itu padaku. Nanti akan aku beritahu tapi jangan malam ini bisa-bisa gagal rencana gempuran roket nya.
"Nggak usah mandi dulu kak besok pagi aja..takut makin parah masuk anginnya kalau mandi malam-malam.."
Waduh..kalau gini ceritanya alamat nggak ada acara gempur-gempuran ini. Aku memutar otak untuk mencari alasan.
"Aku udah nggak masuk angin lagi sayang..nih udah nggak mual-mual lagi kan..berarti anginnya udah pada kabur karena kamu balurin minyak kayu putih barusan.." Aku memutar badan, memegang tangannya yang hendak menambahkan lagi minyak kayu putih itu ke punggung ku.
"Secepat itu??" Tanyanya dengan alis terangkat. Aku mengangguk meyakinkan.
__ADS_1
"Nggak mungkin secepat itu juga kali kak...udaah kamu cepet pakai bajunya.. Aku buatin teh hangat dulu." Lisha berdiri dan hendak ke pantry namun secepat kilat aku meraih pinggangnya hingga ia terjatuh ke pangkuan ku.
"Aaaaaa.....Kamu apaan siiihh...suka banget ngagetin begini.." Omelnya sambil bergerak ingin melepaskan diri.
"Udah diem dulu sayang..kalau kamu gerak-gerak terus..aku nggak janji kalau malam ini nggak minta hak aku.." Aku tersenyum senang saat Lisha akhirnya diam setelah merasakan ada yang menusuk-nusuk dari bawah. Aku sengaja menggerak-gerakan belalai yang sudah ON sejak tadi.
"Kamu nggak sadar dari tadi udah bikin aku kepanasan...Mmmm??" Bisikku tepat di telinganya. Ku lihat bulu halusnya meremang. Hahaha.
"Kamu yakin mau sekarang?" Tanya Lisha menoleh menatapku. Eh dia kayak nantangin gitu.
"Emang kamu nya udah siap?"
"Kalau akunya belum siap..emang bisa di tunda gitu?"
"Kalau kamunya udah siap..ya ayok kita gempur-gempuran malam ini..tapi kalau kamunya belum siap..ya udah kita tunda dulu sampai kamu bener-bener siap.." Aku melepas lilitan handuk di rambutnya yang langsung memperlihatkan rambut basahnya. Ah kalau melihatnya seperti ini aku tidak bisa menunda lagi.
"Jujur..aku belum siap kak.." Seketika belalai gajah langsung down..lemes tak berdaya. Lisha menatap ku dengan wajah sendu merasa bersalah. Namun beberapa detik kemudian aku berusaha menampilkan senyum ku agar Lisha tak merasa bersalah jika tak melayaniku malam ini.
Aku ingin kami melakukan nya dengan sama-sama menginginkannya.
"Ya udah kamu pakai baju nya sana aku mau mandi dulu.." Lisha turun dari pangkuan ku dan aku langsung beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri namun sebelumnya tentu saja menuntaskan yang tertunda malam ini.
Cukup lama aku berada di dalam kamar mandi, berharap saat keluar Lisha sudah tertidur agar aku tak ada alasan lagi untuk mengganggunya malam ini. Kalau melihat nya masih belum tidur bisa-bisa aku lepas kendali.
Aku membuka pintu kamar mandi namun dahiku berkerut dalam saat mendapati lampu kamar masih terang benderang. Apa Lisha belum tidur juga?
__ADS_1
Aku mendekati tempat tidur. Ku lihat Lisha duduk sambil memegang ponsel. Jantung ku seketika berdebar, jangan-jangan yang di tangannya itu ponsel ku. Takut jika Lisha melihat pesan dari perempuan itu yang belum sempat ku jelaskan. Aku sengaja tak menghapusnya karena ingin menjelaskan nya kepada Lisha agar suatu saat dia mendapati pesan seperti itu lagi tak jadi masalah.
"Sayang...kenapa belum tidur? udah malam banget loh ini.." Ku duduk di tepi ranjang dan benar saja dia sedang memegang handphone milik ku. Jantung ku semakin tak karuan.
Perlahan aku mendekat dan hendak memeluknya namun langsung di tepisnya. Hatiku seperti di remas. Rasa-rasanya aku bakalan di suruh tidur di sofa nih kalau begini ceritanya.
Aku meraih ponsel yang ada di tangan nya. Sesuai dugaan ku, Lisha sudah melihat pesan dari perempuan itu. Aku dan Lisha sudah lama saling tahu sandi masing-masing. Walaupun tak pernah saling periksa handphone tapi kami sepakat saling memberitahu sandi. Aku menarik nafas lalu membuangnya kasar.
"Kamu jangan salah paham sayang, denger dulu aku jelasin sama kamu.." Aku berbicara se pelan mungkin agar Lisha mau mendengarkan penjelasan ku. Namun tanpa menjawab ia malah berbaring memunggungi ku. Menarik selimut menutup seluruh tubuhnya, dari kepala sampai kaki. Lagi-lagi aku menarik napas dan membuangnya kasar. Bener-bener alamat tidur di sofa deh malam ini.
Aku menatap sofa yang berada tak jauh dari tempat tidur kami. Belum tidur di sana aja udah berasa pegal nih badan. Aku menoleh dan menatap sendu istri ku yang sudah ku buat ngambek di malam pengantin.
"Sayang...maafin aku. Sebenarnya tadi tuh aku mual karena baca pesan dari dia. Aku berasa pengen muntah pas dapet pesan dari perempuan itu. Sumpah aku nggak ada main serong dengan orang lain..kamu percaya kan sama aku??" Aku akhirnya jujur soal mual ku tadi tapi tak ada jawaban.
Ku baringkan badan ku miring menghadap punggung Felisha, mencoba memeluknya dari belakang dan ternyata dia tak menolak. Aku semakin mengeratkan pelukan ku dan menghirup wangi shampoo di rambutnya. Aku diam menunggu respon nya namun sudah beberapa menit tak ada jawaban.
Aku bangkit duduk kembali dan mencoba menarik ujung selimut yang menutupi kepalanya. Ku lihat ia menutup mata dan nafasnya pun teratur, ternyata Lisha sudah tertidur. Syukurlah, besok akan aku jelaskan semuanya padanya agar tak ada salah paham lagi.
Lama aku menatap wajah nya yang terlelap. hatiku berdesir, sungguh aku seperti bermimpi kalau aku akhirnya akan bisa menatap wajah lelapnya setiap malam seperti ini. Melihat wajahnya ketika bangun tidur. Aku ternyata sudah tak sendiri lagi sekarang, aku sudah memiliki istri. Istri cantik nan imut seperti Felisha.
Senyumku mengembang saat melihat piyama yang tergeletak di tepi ranjang. Ternyata Istriku tercinta sudah menyiapkan nya untuk ku pakai malam ini. Ah seperti ini ya rasanya memiliki istri. Bahagia yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata.
Segera ku raih dan memakainya. Setelah itu ku nyalakan lampu tidur dan beranjak naik ke ranjang. Memeluk perempuan yang sudah sah menjadi istriku, mengecupi wajahnya sampai ia bergerak mengerang. Membuka matanya menatapku tanpa bicara lalu membalikan badannya memunggungi ku. Sepertinya ngambeknya belum sembuh.
"Kata pak Penghulu tadi, seorang istri itu nggak boleh tidur memunggungi suaminya.." Bisik ku ke telinganya. Ku lihat ia bergerak membalikan badannya kembali menghadap ku dengan mata masih tertutup. Aku tersenyum senang melihatnya, bersorak-sorai dalam hati. Alhamdulillah tak sampai tidur di sofa malam ini. Hehehe...
__ADS_1
...****************...