Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 75. Isi pesan dari Mato


__ADS_3

Author POV,


Pagi-pagi pengantin baru Ando dan Felisha meninggalkan kamar pengantin tempat pelaksanaan akad. Mereka berjalan menuju mobil namun Ando memperhatikan Felisha yang beberapa kali berhenti lalu mengapit vitamin B dengan ke dua pahanya sambil meringis.


"Masih sakit banget ya?" Ando ikut berhenti dan melihat-lihat ke arah vitamin B.


"Dikit. Nggak nyaman aja buat gerak.."


"Sini biar aku gendong.." Ando hendak menawarkan punggungnya di hadapan Felisha namun Felisha langsung mencegahnya.


"Nggak usaaaahh...malu di liatin orang.." Felisha kembali berjalan meninggalkan Ando.


"Nggak papa sayang...mereka ngerti kok kita pengantin baru.." Ando menghentikan langkah Felisha dengan menarik tangannya.


"Ya udah kalau nggak mau..kita jalannya pelan-pelan aja.." Ando seketika menggenggam tangan Felisha lalu mengajaknya berjalan pelan setelah mendapat pelototan.


Setibanya di depan pagar rumah Ayah dan Ibu Felisha tak langsung turun dari mobil. Ia ternganga melihat keramaian di dalam rumah.


"Aduh keliatan nya rumah masih rame aja..aku kira udah pulang semua.." Gumam Felisha panik.


"Ada apa sayang...ayo keluar.." Ando meraih tangan Felisha namun Lisha bergeming dari duduknya.


"Ntar dulu..ini gimana kalau mereka sampe ngeliat cara jalan aku yang nggak nyaman..." Sambil melihat-lihat ke rumah Felisha terlihat panik. Ando merasa lucu melihat wajah panik perempuan itu namun juga kasihan karena ulahnya sampai Lisha susah untuk berjalan normal.


"Nggak akan ada yang merhatiin... kalaupun ada dia juga pasti ngerti namanya pengantin baru kan.." Ucap Ando santai yang langsung mendapat delikan mata dari Felisha yang keluar sambil cemberut.


"Aawwww..ssshhhhh..." Lisha kembali merasakan perih saat bergerak. Ando ikut meringis melihatnya.


"Kamu ngomongnya enak banget karena nggak ngerasain...kamu kalau jadi aku juga pasti kayak gini...jangan gitu megangnya atuh kayak yang megang orang sakit kalau gitu..." Omel Lisha saat Ando memegangi bahunya seperti sedang memapah orang sakit. Ando langsung menurunkan tangannya menggenggam tangan Felisha kemudian berjalan pelan masuk ke dalam rumah.


"Padahal waktu kamu teriak-teriak bilang sakit akunya langsung berhenti...nggak lanjut sampe bobol juga kan.." Bisik Ando sambil terus berjalan.


Lisha menghentikan langkahnya lalu menoleh menatap Ando.


"Belum bobol aja sakitnya udah kayak gini...gimana kalau sampai tembus...boro-boro bisa jalan...mungkin akunya udah pingsan sampe pagi.." keluh Felisha.


"Iya iya maaf...jadi aku nya harus gimana...udah pelan gitu masih aja sakit..." Ando bergumam sembari kembali melangkah menuju pintu.


"Aaaaa...ternyata kalian belum pulang yah...Halo Alan halo Alana..." Felisha histeris bahagia saat melihat si kembar anak dari tante Santi adik bungsu dari Ibu yang hendak keluar dari rumah untuk bermain di halaman. Tante Santi akan menyuapi anak kembarnya yang berusia 2 tahun disana sambil bermain.


"Belum Aunty...masih nunggu jemputan dari papah ini.." Tante Santi menjawab seolah-olah Alan dan Alana yang menjawab.


"Oohh ya udah Aunty masuk dulu ya..dadaahh.."


"Eh anak-anak ayah udah pulang ternyata...ayah kira kalian bakal nambah hari nginap disana.." Ayah keluar dan menyambut anak dan menantu nya dengan senyum lebar. Ando langsung meraih dan mencium punggung tangan Ayah.


"Aku sih mau aja Yah..hehe" Ando melirik Felisha yang sudah melotot ke arahnya.


"Ngapain lama-lama disana...mending pulang ke rumah Ayah biar bisa lama-lama bareng Ayah sama Ibu.." Lisha menjawab sambil meraih tangan Ayah untuk di cium punggungnya.


Ayah dan Ando saling tatap lalu tersenyum seperti saling mengerti perasaan masing-masing.


"Ibu mana Yah?"


"Ada tuh di dalem...masuk aja.." Ayah terlihat membawa Alan ke halaman lalu kembali masuk ke rumah.

__ADS_1


Lisha masuk ke dalam rumah yang langsung di sambut oleh teriakan adik sepupunya Ara.


"Teteh sayaaaaangg...welcome back....akhirnya pulang juga.." Ara berlari dan memeluk Felisha erat.


"Aduuuhhhh...lepasin dulu atuh dek..ini sesek kalau di pelukin kayak gini.." Perlahan Ara melepaskan pelukannya lalu menatap Lisha dengan senyum jahilnya.


"Gimana malam pertamanya teh...sakit nggak?" Ara bertanya tanpa ragu. Ando yang mendengarnya langsung terbatuk. Sedangkan Felisha langsung merasakan wajahnya memanas karena malu.


"Uhuk..Uhuk..."


"Kamu ngapain tanya-tanya malam pertama... nanti juga kamu tahu sendiri kalau kamu udah nikah.." Felisha menoyor kening Ara gemas.


"Itung-itung belajar teh..."


"Araa..." Tante Vania muncul dari dapur langsung berteriak sambil melemparkan pelototan kepada anak jahilnya.


"Ampun mah..ampuun..." Ara memegang tangan mamahnya yang menjewer telinga nya.


"Kamu tuh ya...sekolah aja belom selesai udah mau belajar tentang malam pertama haah.." Tante Vania membawa Ara masuk ke dalam kamar dan lanjut mengomelinya. Ando dan Felisha tertawa melihat kelakuan Ara yang selalu membuat tante Vania naik darah.


"Aduuhh...anak geulis na ibu udah datang yah.." Ibu juga muncul dari dapur menyambut anak semata wayangnya yang baru saja naik jabatan sebagai istri dengan senyum bahagia tapi juga haru.


Ibu dan Felisha berpelukan seperti orang yang lama tak bertemu. Padahal belum cukup 24 jam mereka terpisah. Setelah puas berpelukan, ibu melepaskan pelukannya dari Felisha lalu menyapa anak mantunya yang sedari tadi memperhatikan keduanya. Ando maju dan mencium punggung tangan ibu dengan takzim.


"Kalian udah sarapan nak. Sepagi ini udah pulang berarti belum ya?" Ibu bertanya tapi juga di jawab sendiri.


"Ayo sarapan dulu nak..yang lain udah pada sarapan soalnya.." Ibu dengan gerakan lincah menyiapkan semuanya di meja makan lalu mempersilahkan anak dan mantu nya sarapan. Namun sebelum sarapan Ando menyuruh Felisha ke meja makan terlebih dahulu karena ia akan menyimpan kopernya ke dalam kamar.


Saat keluar kamar, Ando melihat Ara duduk sambil mengganti-ganti saluran tv mencari-cari yang akan di tonton nya.


"Ara..udah sarapan belum?" Suara bariton laki-laki itu mengagetkan Ara yang tak menyadari keberadaan Ando disana.


"Eh ngapain kamu senyam-senyum gitu.." Tante Vania keluar kamar mendapati anaknya tersenyum genit kepada sang kakak Ipar membuat sang mama malu.


"Eh enggak kok mah...senyum itu ibadah mah..."


"Ah alasan aja kamu...senyum yang sopan jangan senyum-senyum genit kaya gitu..mama nggak suka.."


"Huffftttt...salah lagi kan aku.." Ara meniup poninya sampai bergerak-gerak ke atas.


Ando tersenyum melihat interaksi tante Vania dan Ara yang seperti Tom and jery.


"Kenapa belum mulai sarapannya sayang?" Ando menarik kursi lalu duduk di samping Felisha.


"Nunggu kamu kak...masa iya aku sarapan duluan nggak nungguin suami aku.." Lisha langsung berdiri mengambil piring kosong lalu menyendok nasi goreng untuk Ando. Ando tersenyum lebar mendengar ucapan Felisha.


"Makasih sayang.."


"Sama-sama.." Felisha menoleh menatap suaminya dengan senyum manis.


"Ibu mana sayang?"


"Tadi pamit ke belakang..paling ngurusin bunga-bunganya.."


Keduanya makan sembari ngobrol. Lebih tepatnya Ando yang lebih banyak bertanya seputaran keluarga istrinya yang dengan senang hati di jawab oleh Felisha. Setelah sarapan Ando dan Felisha masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


"Kamu cari apa sih sayang?" Ando keluar dari kamar mandi memandang Felisha yang sibuk mengobrak-abrik isi tas nya.


"Handphone aku mana ya..kok nggak ada disini.." Lisha terus mencari sambil mengeluarkan isi tasnya ke atas meja.


"Handphone kamu aku sita dulu sementara waktu.." Lisha seketika menghentikan gerakan tangannya menoleh ke arah suaminya. Ando berjalan mendekati Felisha.


"Handphone kamu ada sama aku.."


"Emang ada apa sih kak..main sita-sitaan segala..siniin ponselnya aku mau nanya kabar Rufi sama Lita bentaran.." Lisha menengadahkan tangannya meminta handphone miliknya.


"Ntar dulu...aku mau baca pesan dari orang yang namanya kamu tulis 'Kak Mato' itu.." Ando merogoh ponsel milik Felisha yang ia simpan di saku celananya.


"Maksud kamu?" Lisha tak mengerti maksud dari laki-laki itu.


"Duduk sini.." Ando menepuk pahanya meminta Lisha duduk di pangkuan nya.


"Jelasin dulu ada apa ini?" Lisha berkacak pinggang meminta penjelasan.


"Duduk sini dulu dong..biar enak jelasinnya.." Ando kembali menepuk pahanya. Lisha akhirnya mengalah dan langsung naik kepangkuan suami yang selalu saja memaksanya duduk di pangkuannya.


Ando melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Felisha, namun bukan Ando namanya kalau tidak mengambil kesempatan di kala istrinya lengah.


Tangannya merambat naik meremas vitamin D sambil tersenyum simpul. Felisha menatap Ando dengan pelototan. Yang di pelototi malah terkekeh melihat mata bulat istrinya.


"Turunin tangannya nggak..?"


"Pegang dikit doang...sebenernya aku tuh butuh asupan vitamin D pagi ini sayang.."


"Sakitnya belum hilang kak...aku belum sanggup kalau harus sekarang...lagipula malu kalau kedengeran orang rumah.."


"Aku cuman butuh Vitamin D sayang sambil nunggu vitamin B nya siap di konsumsi lagi.."


"Sama aja...awalnya aja bilang cuman butuh vitamin D. ujug-ujug minta vitamin B.." Lisha sepertinya sudah mulai terbiasa dengan vitamin-vitamin favorit Ando.


"Hhmmm..." Ando membuang nafas terlihat lemas. Lisha menatap suaminya prihatin.


keduanya akhirnya memilih membuka dan membaca isi pesan dari Mato yang belum sempat di buka sejak tadi subuh untuk mengalihkan hasrat yang sudah mulai merambat naik.


"Sha...seharian ini aku kepikiran kamu Sha.."


"Aku udah berusaha sekuat yang aku bisa untuk mengalihkan pikiran aku dari kamu tapi nggak bisa Sha..."


"Aku sampai kepikiran pengen jemput kamu sekarang, membawamu pergi jauh sampai tak ada orang yang bisa menemukan kita"


"Dulu..aku melamarmu lebih dari tiga kali Sha, tapi kamu nggak pernah mau aku nikahi dengan alasan kamu belum lulus kuliah..tapi setelah kamu lulus kuliah kamu malah jadi milik laki-laki lain"


"Jujur aja Sha...pertama kali liat kamu bersama laki-laki lain, duniaku hancur untuk ke dua kalinya Sha setelah yang pertama aku hancurin sendiri dengan memilih menjadi seorang pengecut, pergi ninggalin kamu tanpa punya keberanian untuk datang menemui mu setelah melakukan kesalahan besar."


"Aku nggak tahu lagi bagaimana caranya meminta maaf sama kamu Sha..."


"Aku minta maaf Sha...aku minta maaf..."


"Aku putus asa Sha.."


Setelah mengetahui kenyataannya kalau ternyata laki-laki itu pernah melamar Felisha lebih dari tiga kali. Di dalam hati kecil Ando merasa kasihan kepadanya. Walau bagaimana pun Ando juga laki-laki sama seperti Mato. Ando tak bisa membayangkan perasaan Mato saat itu yang di tolak lamarannya lebih dari tiga kali.

__ADS_1


Ando menarik nafas lalu membuangnya kasar. Lisha menoleh ke samping menatap wajah Ando setelah membaca semua isi pesan dari Mato. Keduanya sama-sama terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing.


...***************...


__ADS_2