Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 48. Perasaan bersalah


__ADS_3

"Ck..Kamu gak cinta sama dia sayang, kamu mencintaiku Felisha kamu cintanya sama aku. Apa dengan mengatakan dia calon suamimu aku akan percaya gitu aja? Nggak...aku gak percaya Sha". Mato menggeleng, berbicara dengan suara sedikit kencang namun tertahan agar tidak mengundang perhatian orang-orang yang ada disana.


" Sudahlah Sha kamu boleh berpura-pura di depan laki-laki itu tapi tidak denganku. Aku gak bisa kamu bohongi". Lanjut Mato sembari berdiri untuk meninggalkan tempat itu. Tak memberi kesempatan Felisha untuk berbicara. "Aku gak akan pernah lepasin kamu sebelum kamu jadi milikku." Bisik Mato tepat di telinga perempuan itu sambil mengusap pipi mulus Felisha. Senyum miring terukir dibibirnya sebelum benar-benar pergi meninggalkan Felisha yang duduk terpaku mendengar semua yang di katakan nya.


Felisha diam beberapa menit dengan tatapan kosongnya. Tersadar dari lamunannya langsung teringat kalau ada Ando yang menunggunya di dalam mobil dan belum makan siang sedari tadi. Gegas ke kasir untuk membayar tagihan pesanan mereka yang belum sempat di sentuh olehnya dan Ando. Lisha memilih take away saja makanan yang sudah di pesannya tadi. Hilang sudah selera makannya karena kehadiran Mato.


Berjalan menuju tempat Ando memarkirkan mobilnya dengan menenteng paper bag berisi makanan. Mengetuk kaca jendela mobil agar Ando membukakan pintu untuknya.


" Aku take away makanannya kak. Kita makan di kost an aja ya". Ucap Lisha saat duduk di samping Ando.


"Oh gitu. Ya udah. kita pulang sekarang?"


Lisha hanya mengangguk tanpa menoleh kepada Ando yang segera melajukan mobilnya menuju inde kost.


Selama perjalanan, Felisha hanya diam memandang keluar jendela dari balik kaca. Sesekali Ando melirik wanita yang duduk di sebelahnya. Mengusap lembut kepalanya yang tertutup hijab lalu meraih tangan sang kekasih yang berada di pangkuan dan menggenggamnya.


Tak ingin bertanya saat suasana hati wanita itu sedang tak baik-baik saja. Ando memilih membiarkan hati Felisha tenang dulu barulah ia akan mengajaknya bicara.


Berbagai macam yang ada di pikiran Lisha saat ini. Ingin rasanya ia teriak sekencang mungkin berharap sedikit mengurangi beban yang ada. Tapi sayang itu tak mungkin ia lakukan.


Pelan-pelan Ando menepikan mobilnya membuat Felisha seketika menoleh ke kanan lalu kembali melihat-lihat keluar jendela tempat Ando berhenti, menatap heran dengan dahi berkerut.


"Kenapa kita berhenti disini?". Tanya Lisha masih melihat-lihat sekitar yang terlihat sepi. Merasa heran karena tujuan mereka masih lumayan jauh.


Ando memutar badannya ke kiri menghadap wanita di sampingnya.


" Bukankah kamu butuh tempat yang sepi?". Tanya Ando. Felisha menoleh menatap kekasihnya itu.


"Nangis aja sayang gak papa. Sini.." Ando meraih tubuh Felisha dan memeluknya. Tangis perempuan itu pecah di pelukan sang kekasih.


"Hikshikshiks...kenapa kamu ba baik banget sama a aku". Dengan terbata-bata Lisha mengucapkannya.


Ando menutup mata sejenak mendengar ucapan kekasihnya itu dan semakin mengeratkan pelukannya.


" Aku hiks..aku bukan orang baik...aku udah jahat banget sama kamu..hikshiks..." Lisha meracau di tengah isakannya. "Kamu....sudah melakukan begitu banyak untuk ku tapi apa yang kamu dapat dariku? Aku..aku hanya bisa melukai hatimu..hiks...Aku...aku..belum bisa memberikan cintaku untuk kamu huaaaahuaa..." Tangisnya semakin jadi. Ternyata perasaan bersalah kepada sang kekasih lebih mendominasi hati dan pikirannya. Merasa bahwa hatinya belum bisa ia berikan kepada lelaki yang sudah begitu sabar menghadapi nya selama ini.


Ando tak menyela sedikitpun ucapan wanita yang sedang terisak di pelukannya itu. Membiarkan Felisha mengeluarkan apa yang menjadi beban di hatinya. Namun ketika mendengar kata terakhir yang di ucapkan oleh Felisha, Ando kembali menutup matanya yang tiba-tiba memanas. Mendongak agar air mata tak benar-benar keluar dari kelopak matanya.


"Gak papa. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar mencintaiku". Ucap Ando setelah cukup lama terdiam.


Perlahan Felisha melonggarkan pelukannya. Menatap wajah kekasihnya yang berusaha mengukir senyum di balik kesedihan di hatinya.


"Apa aku masih punya kesempatan itu?" Tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Setelah berkata jujur, Lisha pikir Ando akan memilih untuk mengakhiri hubungan mereka tapi kenyataannya tidak seperti yang ia pikirkan. Felisha tak menyangka jika Ando akan menunggu sampai ia benar-benar mencintainya.


Ando mengangguk dan lagi-lagi tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Menghapus air mata yang masih menggenang di wajah wanita yang sudah mengunci hatinya itu dengan ibu jarinya. Mengecup puncak kepala Felisha lama, seolah menyampaikan betapa ia mencintai wanita itu. Apapun akan ia lakukan untuk tetap bersamanya, mencintai dengan segala kekurangan dan kelebihannya.


"Terimakasih". Ucap Felisha dengan tulus dan menubruk tubuh Ando, kembali memeluknya dengan erat.


" Udah sayang, kita lanjut pulang ya. Aku laper pengen makan kamu. Boleh?" Canda Ando yang langsung di hadiahi cubitan di perutnya.


"Ih dasar mesum". Ucap Lisha yang langsung membuat Ando tertawa mendengarnya.

__ADS_1


" Hahahaha..."


Ando melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang mulai lengang karena jam istirahat sudah habis. Jam sudah menunjukkan pukul 13.40 mereka belum mengisi perut sama sekali. Hanya terisi nasi goreng saat sarapan tadi pagi.


20 menit kemudian mereka tiba di kos an. Setelah memarkir mobilnya, karena waktu dzuhur sudah hampir habis Ando pamit shalat dzuhur dulu di masjid yang letaknya tak jauh dari sana dan Lisha segera menuju kamarnya yang di sambut oleh kedua sahabatnya Rufi dan Lita.


"Lho..kamu pulang sendiri aja?" Tanya Lita.


"Sama kak Ando tapi dia shalat dzuhur dulu di masjid baru kesini". Jawab Lisha.


" Oohh.." Lita hanya ber oh ria.


"Aku shalat dzuhur dulu ya". Pamit Lisha yang di angguki keduanya. Buru-buru menyimpan paperbag berisi makanan tadi di atas meja teras dan segera masuk ke dalam kamar untuk melaksanakan kewajibannya.


" Oke oke". Jawab Lita.


Rufi meraih paperbag itu dan mengeluarkan isinya.


"Mereka darimana sih, kaya nya belum makan siang ini". Ucap Rufi yang melihat menu makanan yang di bawa oleh Lisha yang berupa makanan berat.


" Sepertinya bukan dari rumah kak Ando deh Fii". Jawab Lita.


"Iya. Sepertinya begitu". Rufi.


10 menit kemudian Lisha keluar dengan wajah segar dengan pakaian santainya. Duduk melihat menu yang sudah tersaji di atas meja. Tak lama kemudian Ando datang dengan wajah dan rambut yang sedikit basah karena terkena air wudhu.


" Ganteng bangeeeettttssss..." Bisik Lita di telinga Felisha saat melihat kedatangan Ando yang berjalan menuju tempat mereka bertiga sedang duduk.


"Ngakuin aja kali kalau kak Ando emang ganteng, baik banget pula". Ucap Lita sembari berpindah duduknya di samping Rufi. Sedangkan Rufi hanya tersenyum melihat kelakuan ke dua sahabatnya itu.


Mereka duduk makan di selingi obrolan ringan.


" Kalian gak makan?" Tanya Ando kepada Rufi dan Lita, heran karena hanya terdapat dua piring kosong di sana yang berarti hanya untuknya dan Lisha saja.


"Udah kak. Tadi kita berdua udah makan". Jawab Rufi.


***


Kantor Rayapharmindo.


Menjatuhkan bokongnya duduk di kursi yang berada di balik meja kerjanya. Meraih gelas yang berisi air putih lalu meneguknya sampai tandas.


Tenggorokannya terasa sangat kering saat mengingat pertemuannya dengan Felisha hari ini. Teringat bagaimana Lisha berjalan bersama laki-laki lain selain dirinya, melihat tautan tangan mereka, terlebih saat ia melihat tatapan yang penuh cinta dari laki-laki itu yang tak lain adalah Ando untuk Felisha membuat hatinya terbakar. Menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lalu menggusarnya dengan kasar.


" Dia pikir aku bisa di bohongi segampang itu". Ucapnya dengan senyuman miringnya.


"Aku gak lihat ada cincin tunangan di jarinya. Itu berarti dia belum terikat oleh laki-laki itu". Pikir Mato.


" Bagaimanapun caranya kamu harus kembali padaku Felisha. Aku tak bisa jika kamu menjadi milik orang lain karena hanya aku yang boleh mencintaimu. Ya hanya aku". Ucap Mato berbicara kepada diri sendiri.


Pintu ruangan terbuka, Mato mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang.

__ADS_1


"Kenapa muka lu kusut begitu? udah kaya cucian belum di setrika aja" Tanya Abraham saat masuk dan melihat wajah dan rambut Mato yang acak-acakan tak seperti biasanya.


"Ada perlu apa lu datang kesini?" Tanya Mato masih dengan wajah tak bersahabat.


"Biasa aja dong pak. Kenapa si lu? Ada masalah ama perempuan?"


"Gw tadi ketemu ama Felisha di restoran depan rumah sakit AA".


" Nah terus?"


"Gw belum selesai ngomong main serobot aja". Omel Mato kepada Abraham sahabatnya.


"Ya ya ya...Lanjutin ".


" Dia ke sana sama laki bro. Mereka gandengan tangan mesra banget..bikin gw pengen nonjok orang tau gak..sekarang lu udah tau kan kenapa muka gw kusut..gw pengen nonjok orang". Ucap Mato sambil mengepalkan tangannya di depan wajah Abraham.


"Tapi bukan gw kan yang pengen lu tonjok..lu kenal siapa laki-laki itu?"


"Nggak. Aku nggak kenal. Aku baru lihat tadi. Tapi sepertinya dia cinta banget sama Felisha".


" Kenapa bisa lu ngomong begitu?"


"Gw cowo men.. gw lihat dari caranya dia menatap Felisha...gw juga lihat dari cara dia memperlakukan Felisha tuh bikin gw...BUG..." Mato berdiri dan menghantam meja dengan kepalan tinjunya. Seketika barang-barang yang berada di atas meja itu berhamburan.


Abraham manggut-manggut sambil terkekeh melihat keadaan sahabatnya itu yang sepertinya sedang terbakar api cemburu.


"Jadi lu cemburu?" Tanya Abra dengan tenang sambil meraih permen yang ada di atas meja Mato, membuka kulitnya lalu melemparkan ke dalam mulutnya.


Mato kembali duduk di kursinya.


"Tentu saja gw cemburu..Nggak boleh ada laki-laki lain selain gw". Ucap Mato dengan suara yang mulai meninggi. Kesal dengan respon sahabatnya itu yang seperti tak peduli dengannya.


" Terus gimana dengan perasaan Lisha saat tau lu pernah punya anak ama perempuan lain?" Tanya Abra yang langsung membuat Mato diam tak tahu harus jawab apa.


Mato Mengetatkan rahangnya.


"Lu yakin Felisha udah maafin lu?"


"Nggak usah muluk-muluk deh..Felisha terima permintaan maaf lu aja udah syukur lu". Lanjut Abraham.


" Jadi gw harus gimana sekarang biar Felisha balik lagi ke gw?" Tanya Mato terdengar putus asa.


"Ya minta maaf dulu lah. Kalau udah di maafin barulah kita pikirin lagi selanjutnya lu harus gimana". Ucap Abraham.


" oke kalau gitu malam ini gw mau ketemu sama dia. Tapi lu janji ya buat bantuin gw dapetin Felisha kembali". Ucap Mato kembali bersemangat.


"Yaa tergantung lawan lu siapa. Gw gak janji". Abraham berdiri dan berlalu dari sana membuat Mato makin kesal di buatnya.


Mato diam.."Si Abra kadabra kelihatanya tau laki-laki itu. Jangan-jangan dia kenal". Terlihat berpikir sambil mengetuk-ngetukan jarinya di meja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2