
Saat Ando melihat wujud Lisha yang tak berhijab hatinya kembali berdesir melihat pemandangan indah itu. Ingin rasanya ia langsung menerkam istrinya namun mengingat masih ada acara nanti malam jadi sekuat tenaga ia urungkan niatnya. Takut istrinya kelelahan dan tak sanggup berdiri menyambut para tamu.
Felisha semakin menunduk dan memainkan ujung bajunya. Ia belum terbiasa tidak memakai hijab di hadapan laki-laki itu. Perasaannya campur aduk.
Perlahan Ando semakin mendekat. Deg deg deg..jantung Felisha berdetak kencang melihat suaminya semakin dekat dengannya. Ando sedikit menunduk, mendekatkan wajah ke telinga istrinya. Saking dekatnya sampai Lisha merasakan hangatnya hembusan nafas Ando. Seketika Lisha menutup mata.
"Mandi dulu sayang, setelah itu kita shalat jamaah". Hati Felisha langsung lega, ternyata suaminya itu begitu pengertian. Membuka mata menatap suaminya lalu mengangguk pasti. Secepat kilat Lisha turun dari ranjang dan berlari masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tawa Ando pecah melihat tingkah istrinya. " Kak Andooo awas ya.." Terdengar teriakan Lisha sebelum menutup pintu dengan rapat. Ando semakin tertawa mendengarnya.
Beranjak berdiri dan bersiap untuk melaksanakan shalat Dzuhur berjamaah dengan perempuan itu untuk pertama kalinya setelah resmi menjadi suami istri. Ando menyiapkan tempat dimana mereka akan melaksanakan shalat sembari menunggu Lisha selesai bersiap. Mereka shalat dengan khusyu setelah itu Ando memanjatkan doa yang di amini Felisha.
"Kita punya waktu istirahat sampai jam berapa sayang?" Tanya Ando setelah mengganti pakaian shalatnya dengan pakaian santai. Dan sekarang ia sedang duduk memperhatikan istrinya. Dia tadi tak memperhatikan saat MUA dan petugas WO menyampaikan kalau mereka sudah harus kembali ke ruangan acara pukul 7 malam karena sedang berbincang dengan tamu undangan.
"Setelah Maghrib aku di rias dulu, kita nanti ke ruangan pesta jam 7". Lisha menjawab sambil membongkar koper barangnya mencari pakaian rumahan yang sudah ia siapkan sejak tadi malam. Tapi setelah beberapa menit mencari ia tak mendapatkan apa yang di carinya.
" Bagaimana ini..dimana pakaianku yang tadi malam sudah ku siapkan. perasaan aku simpan di koper ini". Lisha bergumam dan terlihat diam berpikir.
"Ada apa sayang?" Ando mendekati istrinya yang terlihat bingung. Namun Lisha tak menjawab pertanyaan nya melainkan berdiri dan mencoba mencari pakaiannya ke koper satunya yang tergeletak di dekat lemari.
Membuka koper itu dan lagi ia tak menemukan pakaiannya disana.
"Aku nggak mungkin kan pakai baju ini di depan dia..ah malu sekali rasanya." Lisha kembali bergumam sambil menunduk melihat mukenah yang masih di pakainya sejak tadi. Namun bukan mukenah yang ia maksudkan tapi lingerie yang sedang ia pakai di balik mukenah nya.
Karena sejak tadi setelah mandi ia sudah mencari sepasang baju tidur panjang favoritnya yang ia pikir sudah ia masukkan ke dalam koper namun tak di dapatinya. Jadilah ia mengambil sembarang pakaian yang bisa di pakainya karena ia pikir akan memakai mukenah setelahnya, jadi Ando tak akan menyadarinya.
"Tapi siapa yang simpan lingerie ini di dalam koper aku ya?" lagi-lagi Lisha bergumam sendiri dengan dahi berkerut. Diam memikirkan nasibnya setelah Ando mengetahui kalau saat ini ia memakai lingerie. Sampai ia tersadar saat Ando memeluknya dari belakang.
"Ada apa sayang? Kaya yang bingung begitu..." Tanya Ando sambil membalikan tubuh Felisha hingga menghadapnya. Namun hanya gelengan kepala istrinya yang ia dapati.
"Ini kenapa belum di lepas sayang.." Tanyanya lagi sembari memegang mukenah yang di kenakan Felisha.
"Mmm..itu..itu..mmm..aku lupa bawa pakaian aku...". Lisha berbicara dengan ragu sampai terbata-bata.. bingung harus bagaimana memberitahu suaminya. Dahi Ando berkerut.
"Terus yang kamu pakai sekarang apa?" Ando ikut bingung dengan apa yang di maksud istrinya.
"Aku...aku..aku tadi dapetnya hanya ada ini di koper aku." Lisha menyingkap mukenah nya lalu memperlihatkan apa yang di pakainya kepada sang suami. Ando menelan ludahnya saat melihat leher dan dada istrinya yang tidak tertutup mukenah.
__ADS_1
Tersenyum sambil perlahan melepas mukenah yang di kenakan Felisha.
"Nggak papa sayang..aku malah seneng kalau kamu pakaiannya kaya gini." Bisik Ando sambil mengelus lengan telanjang istrinya yang putih bersih dengan punggung tangannya membuat bulu kuduk Felisha meremang.
"Kak..aku..aku mau ke kamar mandi bentar.." Lisha mencoba mencari alasan agar malunya tak sampai di ubun-ubun. Segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Ando tersenyum dengan kelakuan istrinya.
"Mau sampai kapan kamu ngehindar dari ku sayang.." Teriak Ando sambil terkekeh. Tak ada jawaban dari Lisha.
Di dalam kamar mandi Lisha mencoba menekan detakan jantungnya. Mengatur nafas lalu melepas mukenahnya, mencuci muka agar lebih tenang karena merasakan dinginnya air menyapu wajahnya.
"Huffttt...sakit nggak ya kalau kak Ando minta hak nya sekarang..aduuhh..aku belum siap karena nanti malam masih harus menyambut para tamu undangan lagi..bagaimana ini.." Terlihat Lisha bolak-balik di dalam kamar mandi memikirkan bagaimana jika suaminya itu meminta haknya sekarang.
Menghirup udara sebanyak mungkin lalu membuangnya perlahan. Membuka pintu kamar mandi dan berjalan keluar. Matanya mencari-cari keberadaan suaminya namun tak di dapatinya. Perlahan mendekat ke ranjang dan ternyata suaminya tertidur disana. Seketika perasaan nya lega.
"Semoga tidurnya lama.." Lisha berdoa dalam hati agar suaminya tidur lebih lama sampai waktunya MUA datang untuk merias dirinya.
Namun ia salah. Ternyata Ando tak benar-benar tidur. Saat ia hendak berbalik untuk mengambil ponselnya di meja rias, Ando menarik tangannya dan langsung membuatnya terjatuh menimpa tubuh suaminya.
"Aaaaaaaaaaaa...kak Ando ih..." Teriak Lisha kaget.
"Turunin ih..kak..lepasin.." Lisha bergerak-gerak ingin melepaskan diri namun tidak berhasil. Ando malah mengeratkan pelukannya.
"Jangan gerak-gerak gitu sayang..kamu udah berhasil bangunin adik kecil aku dari tadi tapi malah lari nggak mau tanggung jawab."
"Hah...lepasin makanya.."
"Nggak akan aku lepasin...tanggung jawab dulu.."
Akhirnya Felisha diam tak bergerak di atas tubuh suaminya. Takut banyak gerakan yang malah akan semakin membuat si adik kecil bangun.
"Nah..diam gitu dari tadi juga dia nggak akan minta tanggung jawab..paling-paling minta di elus.." Ucap Ando menahan tawa melihat ekspresi Felisha yang wajahnya sudah merah seperti tomat karena malu.
Felisha akhirnya merebahkan kepalanya ke dada suaminya. Benar-benar takut melakukan gerakan. Ando tak tahan melihat ekspresi istrinya yang selalu terlihat menggemaskan baginya.
Melepas pelukannya lalu mengangkat wajah Istrinya agar menatapnya. Menangkup ke dua pipi nya dan melu*** bibir ranum yang sedari tadi menggodanya. Seketika Lisha langsung menutup matanya menikmati kecu*** demi kecu*** lembut suaminya. Lama Ando bermain-main disana sampai mereka sama-sama merasakan kekurangan pasokan oksigen.
Ando melepaskan tautan bibir mereka lalu mengelap bibir istrinya dengan ibu jarinya. Tersenyum menatap wajah Felisha yang lagi-lagi merah karena malu.
__ADS_1
Perlahan menggulingkan tubuh istrinya ke samping dan kembali memeluknya dan mengecup keningnya berkali-kali. Menghirup wangi shampoo di rambut hitam legam istrinya. Lisha semakin menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher suaminya membuat Ando kegelian namun di tahannya.
"Kita harus istirahat sekarang supaya ada tenaga buat nanti malam". Ucap Ando ambigu. Ia tersenyum saat menyadari ucapannya sendiri. Tak lama kemudian mereka pun tertidur dalam posisi berpelukan.
Ada tenaga buat nanti malam? Tenaga buat apa dulu nih..tenaga untuk menyambut tamu atau tenaga untuk yang lain? Ada yang tau nggak tenaga buat apa??
Pukul 7 malam pesta resepsi kembali di gelar di ruangan tempat acara akad tadi pagi di laksanakan. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Rekan kerja Ando, rekan kerja Papah, teman-teman dan kenalan Mamah juga teman-teman dari Kak Femy, Kak Suci dan Kak Regan memenuhi tempat resepsi. Tak luput pula mantan kekasih Felisha ketika kuliah dulu Muza yang datang dengan di temani oleh sahabatnya Arsen.
Suasana pesta yang meriah, ruangan yang di hiasi dengan berbagai ornamen dengan perpaduan warna putih dan gold membuat ruangan terlihat mewah nan elegan.
Kini tamu-tamu silih berganti memberi selamat kepada Ando dan Felisha tak terkecuali Iman yang juga datang bersama Bara.
" Selamat Bro...Selamat menempuh hidup baru.." Iman dan Bara bergantian memberikan ucapan selamat kepada ke dua mempelai.
"Makasih bro udah jadi pak comblang kita berdua.." Ucap Ando sambil menunjuk dirinya dan Felisha kepada Iman yang membuat Iman dan Bara terkekeh.
"Sama-sama Bro..doain gw juga dong biar cepet dapat jodoh". Ucap Iman terkekeh.
" Tentu saja. Gw doain semoga lu berjodoh dengan Rufi.." Ucap Ando yang membuat Lisha seketika menoleh menatap suaminya dengan dahi berkerut. Apa-apaan ini kenapa jadi dengan Rufi coba.
"Hahaha...gw aminin deh..kalau itu yang terbaik..hahaha.."
Bara hanya geleng-geleng kepala mendengar candaan mereka. Ketika Iman dan Bara turun dari pelaminan tak jauh dari sana sudah ada Rufi dan Lita yang menyambut mereka.
"Hai kak..apa kabar?" Lita menyapa Bara dengan sedikit canggung. Pasalnya mereka sudah cukup lama tak pernah bertemu jadi Lita merasa canggung dengan pertemuan mereka kali ini.
"Hai..Alhamdulillah baik..kamu apa kabar?" Tanya Bara yang juga terlihat canggung.
"Baik kak Alhamdulillah.." Jawab Lita. Setelah itu mereka sama-sama diam. Sedangkan Rufi dan Iman asik mengobrol sambil sesekali memandang ke arah pelaminan. Walau lelah namun keduanya selalu memancarkan aura kebahagian di wajah mereka membuat orang-orang yang melihatnya ikut merasakan aura kebahagian itu.
Berbeda dengan seorang wanita yang menatap ke pelaminan dari kejauhan. Hatinya bergemuruh melihat senyum yang terkembang sejak tadi di wajah Felisha. Ia tak rela melihat perempuan lain berada di samping laki-laki yang pernah mengisi hatinya. Di dalam hatinya yang paling dalam ia tak suka jika Ando terlihat lebih bahagia saat bersama Felisha di bandingkan dengan ketika bersamanya.
Senyum sinis ia tampilkan saat melihat Ando dan Felisha tertawa-tawa ketika berbincang dengan para tamu.
"Kamu jangan lebih bahagia dari ketika bersamaku. Hanya aku yang bisa buat kamu bahagia". Gumam wanita itu.
...****************...
__ADS_1