Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 56. Duda beranak satu


__ADS_3

"Lisha..Lita...kalian nggak ke kantin?" Tanya mbak Reta ketika melintas melewati kubikel keduanya.


Seketika Lisha dan Lita melirik jam yang ternyata memang sudah waktunya istirahat.


"Bentar mbak.." jawab Lita


"Dikit lagi mbak.." jawab Lisha.


"Udah dulu kerjanya...ntar di lanjutin...break..break..break.." Mas Yudi melongokan kepalanya ke kubikel Lita.


"Mas Yudi ih ngagetin aja". Lita yang hendak berdiri di buat kaget oleh mas Yudi yang bersebelahan dengan kubikelnya.


" Lisha kemon bebi..." Ucap Mas Yudi lagi karena belum melihat Lisha keluar dari kubikelnya.


Felisha dan Lita sudah terbiasa dengan panggilan mas Yudi yang selalu saja menyebut mereka Baby. Katanya karena Lisha dan Lita adalah karyawan paling muda di sana. Selain mbak Reta tak ada lagi yang jomblo alias sudah menikah dan punya buntut masing-masing.


Jadi ketika Lita lebih dulu di terima bekerja di Rumah Sakit itu Mas Yudi lah yang paling bersemangat menyambutnya. Dan ketika Lisha juga di terima bekerja disana mas Yudi semakin bersemangat karena selain Reta dan Lita ada satu gadis lagi yang masih jomblo pikir Yudi. Ia tak tahu saja kalau Lisha juga sebenarnya tak jomblo.


Mas Yudi adalah karyawan laki-laki satu-satunya di Instalasi Gizi membuatnya selalu menjadi bulan-bulanan para karyawati emak-emak. Jika sudah membahas tentang urusan ranjang maka Yudi dan Reta lah yang selalu menjadi korban ke isengan para emak-emak di sana. Tak jarang ke duanya di jodoh-jodohkan oleh mereka namun tak juga berhasil sampai saat ini. Sepertinya Reta tak tertarik dengan Yudi yang pecicilan.


Sejak pagi Felisha dan Lita di sibukkan dengan data-data pasien baru sehingga tak menyadari kalau sudah waktunya istirahat.


Ibu Rofiqoh selaku kepala instalasi gizi di rumah sakit itu sedang melihat interaksi ke tiganya.


"Kenapa kalian masih ada di sini? Nggak ada yang mau istirahat?" Tanya Ibu Rofiqoh.


Seketika ketiga nya menoleh.


"Eh Ibu..ini baru aja mau ke kantin bu.." Mas Yudi menjawab dengan kikuk.


Ibu Rofiqoh di kenal sangat disiplin waktu. Jika waktunya istirahat maka harus di gunakan untuk istirahat karena jika waktunya habis maka ia tak akan mentolerir. Semua sudah harus kembali berada di dalam ruangan.


Ketiganya segera pergi ke kantin sebelum mendengar omelan ibu Rofiqoh.


***


Ketiganya memilih meja yang berada di sudut ruangan itu. Yudi duduk berhadapan dengan Lita sedangkan Lisha duduk di samping Lita. Ketiganya makan siang sambil berbincang ringan, sesekali mereka akan tertawa ketika ada cerita dari mas Yudi yang membuat mereka tertawa.


Ketika sedang asik mendengarkan mas Yudi bercerita tentang pengalamannya saat pertama kali bekerja di rumah sakit itu. Seseorang datang membawa nampan yang berisi makanan. Berdiri tepat di hadapan Felisha. Ketiganya mendongak melihat siapa orang itu.

__ADS_1


"Hai...saya boleh gabung?" Tanya orang itu dengan senyum simpulnya menatap Felisha.


Lita dan mas Yudi menoleh melihat Felisha, begitu pula Lisha yang langsung menoleh kepada ke duanya menatap mereka bergantian.


"Oh boleh dok. Silahkan.." Ucap Mas Yudi cepat mempersilahkan orang itu duduk di sampingnya yang tak lain adalah dokter Yoga.


Yudi sangat mengenal siapa dokter Yoga karena beberapa kali melakukan konsultasi dari beberapa pasien dengan kasus Ginjal dan Hipertensi.


"Terimakasih..." Ucap dokter Yoga yang hanya di balas dengan senyum kikuk Felisha karena duduk berhadapan lagi dengan dokter itu.


"Sama-sama dokter.." Ucap Lita dan Yudi.


Alhasil mereka duduk makan tanpa ada yang mau memulai percakapan. Yoga melihat kecanggungan di antara mereka dan berniat membuka percakapan lebih dulu.


"Mas Yudi..gimana data pasien hipertensi minggu ini..apa ada tambahan?" Tanya Yoga mencairkan suasana.


"Alhamdulillah...belum ada tambahan dok.." Jawab mas Yudi.


Selama makan siang kali ini hanya di isi dengan percakapan antara dokter Yoga dan Mas Yudi tentang beberapa pasien dengan kasus Ginjal dan Hipertensi. Lisha dan Lita seperti tak ada kepentingan untuk nimbrung pada percakapan mereka.


Diam-diam Yudi menyimpan pertanyaan besar di kepalanya. Ia melihat tatapan dokter Yoga kepada Lisha tak seperti tatapan biasa antara laki-laki dan perempuan. Namun pertanyaan itu akan ia tanyakan nanti kepada Lita.


Setelah selesai makan. Ke empat orang itu hendak kembali ke ruangan masing-masing. Mereka berjalan keluar dari kantin bersama-sama. Yoga pamit kembali ke ruangannya sedangkan Lisha, Lita dan mas Yudi masih harus melanjutkan perjalannya karena ruangan mereka cukup jauh dari kantin.


"Mas Yudi nggak shalat? Aku sama Lita mau shalat Dzuhur dulu." Ucap Lisha.


"Hehe aku ntar aja shalat nya..belum mandi bersih soalnya hehe". Jawab Yudi dengan berbisik sambil menoleh ke kiri dan ke kanan seolah takut ada orang lain yang mendengar.


"kalau gitu aku duluan ya". Yudi melambaikan tangan dan pergi meninggalkan kedua perempuan yang sedang bengong mendengar ucapannya.


Lisha dan Lita terdiam mencerna maksud perkataan Yudi. Beberapa saat kemudian mereka saling pandang dan menggeleng-gelengkan kepala.


" Mas Yudi emang abis ngapain semalam?" Teriak Lita yang langsung mendapat cubitan dari Lisha. Yudi yang sudah hampir berbelok ke lorong menuju ruangan pun berbalik terkejut mendengar teriakan Lita. Matanya melotot dan langsung menaruh telunjuk di bibirnya tanda kalau ia menyuruh Lita untuk diam.


Baru saja Lita ingin melontarkan pertanyaan lagi Yudi sudah berlari menuju ruangannya agar tak mendapat protes dari Lita.


"ishh mas Yudi...Dasar.." Ucap Lita. Ia berbalik dan hendak mengajak Lisha berwudlu namun Lisha ternyata sudah lebih dulu pergi ke tempat wudhu.


"Sha..." Panggil Lita.

__ADS_1


"Kamu kelamaan ngomongnya, kita bisa kena semprot bu Rofiqoh kalau telat masuk ruangan". Omel Lisha sambil berjalan masuk ke dalam Mushollah.


" Iya iya maaf". Lita segera berwudlu lalu melaksanan shalat Dzuhur di samping Lisha yang sudah lebih dulu shalat.


***


Kembali ke ruangannya, laki-laki jangkung itu mendaratkan bok*ngnya di kursi kebesarannya. Bayang-bayang wajah wanita itu selalu saja hadir menghantui pikirannya. Wajah wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya yang sudah tiga tahun lebih pergi meninggalkan dirinya dan buah hatinya untuk selama-lamanya.


Anisa mengalami pendarahan hebat saat melahirkan sang buah hati. Nyawanya tak tertolong, pergi meninggalkan Yoga dan anaknya yang baru saja ia lahirkan ke dunia untuk selama-lamanya. Menyisakan luka mendalam bagi seorang Yoga. Begitu terpukulnya Yoga saat itu, namun ia harus kuat menghadapi kenyataan karena ada malaikat kecil yang harus ia jaga dan harus ia besarkan dengan baik walau hanya seorang diri.


Yoga berjanji akan membesarkan buah hati mereka dengan baik di depan pusara istrinya sesaat setelah pemakaman. Ia menamai anak mereka sesuai permintaan Anisa sebelum melahirkan. Naura Feisya Abiyya yang berarti perempuan cantik seperti bunga, sedangkan Abiyya adalah nama belakang dari ayahnya Yoga Abiyya.


Meraih pigura foto berukuran 10,2 x 10,2 cm yang ada di atas meja. Melihat senyum indah terukir di bibir wanita yang sangat di cintainya, tiba-tiba ia teringat ketika tadi ia melihat tawa Felisha yang begitu mirip dengan yang ada di pigura itu.


"Dia sangat mirip denganmu". Yoga seolah sedang berbicara dengan gambar yang ada di Pigura itu.


" Kau tau...sudah tiga tahun lamanya kamu pergi meninggalkan ku dan Naura anak kita. Tapi aku belum juga mendapatkan wanita yang bisa menjadi sosok ibu yang baik untuk Naura". Yoga tersenyum getir mengingat dirinya yang belum bisa membuka hati kepada wanita yang di pilihkan ibunya setelah kepergian Anisa istri tercintanya.


"Kalau aku memilih dia menjadi ibu untuk Naura, apakah kamu setuju?" Yoga masih terpaku melihat foto mendiang istrinya yang sedang tersenyum.


Tok


Tok


Tok


Ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Ia tak menyimpannya kembali ke atas meja namun menyimpan pigura itu ke dalam laci mejanya.


"Masuk.." Mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintunya.


Pintu ruangan terbuka, asisten dokter Yoga yang merupakan seorang laki-laki itu datang untuk melaporkan jadwal kunjungannya di kamar pasien. Yoga menerima dan melihat daftar jadwal kunjungannya hari ini. Ada beberapa pasien yang perlu intervensinya secara langsung dan ada yang masih bisa di intervensi oleh asistennya.


Yoga sengaja memilih asisten laki-laki, setelah Anisa istrinya meninggal dunia ia sangat tertutup, lebih tepatnya menghindari interaksi dengan wanita secara intens dan lama. Sedangkan jika menjadi asistennya otomatis ia akan lebih sering berinteraksi dengannya. Yoga tak mau itu terjadi.


Setelah asistennya itu keluar Yoga kembali termenung, pikirannya melayang kembali kepada wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya setelah tiga tahun lebih ia tutup untuk wanita lain selain mendiang istrinya.


Felisha. Sepertinya ia akan sedikit kesulitan untuk mendapatkannya karena ia melihat Lisha masih sangat muda. Mungkin Lisha tak akan mau menerima nya karena statusnya yang duda beranak satu.


Yoga menarik nafas lalu membuangnya pelan. Ia tersenyum miring merasa lucu, bisa-bisanya hatinya terpaut kepada wanita muda yang sangat jauh di bawah umurnya. Ia sangat berharap Lisha menerima dirinya dan buah hatinya Naura.

__ADS_1


...****************...


Selamat bermalam minggu guys..semoga menghibur yaa...🥰


__ADS_2