Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 23. Telponan


__ADS_3

Felisha terkekeh mendengar ucapan orang itu yang sedang menggodanya.


"Iya deh boleh. Jadi siapa namanya kak?"


"Siapa?" Ucap orang itu, lagi-lagi menggoda Felisha


"Enggak jadi kalau gitu." Ucap Felisha pura-pura merajuk


Terdengar suara tawa di seberang yang membuat Felisha terpaku mendengarnya.


"Halo..."


Tak ada jawaban dari Felisha


"Halo... Lisha... Felisha." Sekali lagi orang itu memanggil Felisha tetapi masih belum ada jawaban.


"Halo halo halo..." Ucapnya mengulang-ulang kata halo yang membuat Felisha tersadar dari lamunannya


"i i iya halo kak. Eh gimana tadi?" Jawab Felisha tergagap


"Kamu melamun Lisha?" tanya orang itu dengan alis berkerut heran.


"Enggak kok. Ada apa kak?"


Felisha berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Enggak ada apa-apa. Kamunya aja dari tadi di panggil-panggil gak ada jawaban tau nya ngelamun."


"Maaf."


Hening, tak ada yang bersuara


...


...


"Kakak tadi namanya siapa?" Tanya Felisha setelah lama terdiam.


"Kamu nanyanya sama saya?"


"Iyalah kak. sama siapa lagi coba?"


"siapa tau nanya orang deket kamu."


"Eh siapa? jangan ngadi-ngadi kak, sekarang aku sendirian nih." Felisha bergidik yang membuat orang itu terkekeh mendengarnya.


Ya, sekarang Felisha duduk sendirian di dalam kamarnya meninggalkan Rufi, Lita dan Iman di teras karena suara berisik dari ketiganya.


"Oh gitu."


"Iya, nama kakak siapa tadi?" Ulang Felisha


"Nanti aja tanyain sama Iman. Dia tau kok nama saya siapa."


"Issh kalau tau gitu akunya gak perlu nanya sama orangnya langsung." Omel Felisha dengan berbisik


"Hmm..Kamu ngomong apa tadi?"


"Enggak ada kak. Ya udah dulu ya kak. Mungkin kak Iman mau pulang ponselnya aku pake."


Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana Felisha kemudian berjalan keluar kamar untuk mengembalikan ponsel milik Iman tanpa mematikan panggilannya.


"Nih kak." Felisha


"Udah?" Iman meraih ponselnya


Felisha mengangguk.


Iman langsung menempelkan ponselnya ke telinganya.


"Halo bro." Ucap Iman sambil melipir ke tempat sepi meninggalkan Felisha, Rufi dan Lita.


Tak lama kemudian ia kembali dengan senyuman lebar.


"Eh Fel... Temenku minta nomer ponsel kamu. Aku kasih ya? Tanya Iman kepada Felisha

__ADS_1


"Namanya siapa sih kak? Tadi suruh nanya ke kak Iman namanya." Kesal Felisha


"Namanya Alfando, tapi biasanya aku panggilnya Ando aja. Temen-temen yang lain juga panggilnya gitu. Ando." Ucap Iman


Felisha membulatkan bibirnya ber- oh ria dan mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


"Jadi boleh ya aku kasih ke dia nomer kamu?" ulang Iman


"Orangnya baik gak nih?"


"Oh baik banget Fel..Aku jamin seribu persen." Ucap Iman sambil mengacungkan jempol


"Ya udah deh boleh boleh."


"Oke. Sudah.."


"Aku pulang dulu ya. Nomermu sudah aku kirimin dia."


Iman kemudian pamit pulang sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya.


Felisha hanya menjawab dengan senyuman. Sedangkan Rufi dan Lita langsung menggoda sahabat mereka yang wajahnya terlihat merah seperti tomat dan membuat Felisha Semakin cantik karena merona.


"Cie cieeee..." Goda Lita setelah melihat Iman yang sudah menjauh.


"Cie cie apaan sih Ta.." Felisha mencubit pelan lengan Lita sambil melengos masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintunya.


Sedangkan Rufi hanya tersenyum menggeleng melihat Lita yang selalu saja menggoda Felisha.


"Aduh. sakit tau." Lita mengaduh karena cubitan Felisha


"Alaahh..lebay banget."


Ucap Rufi yang juga ikut memukul pelan lengan Lita dan pergi ke kamarnya meninggalkan Lita yang ternganga sendirian melihat kelakuan dua sahabatnya itu.


Lita pun kemudian pergi ke kamarnya.


***


Felisha POV


Awalnya aku gak berharap akan akrab karena kami belum pernah bertemu dan bertatap muka langsung. Kami sama-sama belum tahu rupa masing-masing seperti apa. Setiap kali ia melakukan panggilan video, aku selalu menolaknya dengan berbagai alasan.


Kak Ando sering kali menanyakan atau meminta foto ku lewat kak Iman tapi aku sudah mewanti-wanti agar kak Iman tak memberikannya. Akupun menanyakan foto kak Ando tapi kak Iman bilang kalau dia tak pernah mau berfoto. Kak Ando selalu saja menolak untuk di ambil gambarnya. Jadilah kami sama-sama tak pernah saling tau rupa masing-masing.


Akhirnya, kak Ando bermaksud mencari tau sendiri lewat salah satu media sosial yang paling di gandrungi orang-orang saat ini. Yaitu Pesbuk.


Namun disana lagi-lagi dia tak juga menemukan apapun. Karena memang aku tak punya pesbuk. Makanya dia gak dapat-dapat.


Begitu pun dengan profil WhatsApp ku juga tak pernah memakai fotoku, tapi ku pakai gambar-gambar kartun. Membuatnya semakin penasaran. Biar saja dia penasaran. Aku juga dia buat penasaran kan.


Dia kembali mencoba untuk melakukan panggilan video tapi lagi-lagi aku tolak.


Aku hanya gak nyaman aja buat video call an sama dia. Sebenarnya aku memang gak suka video call bukan cuman sama dia aja. Aku emang gitu orangnya, sering gak percaya diri.


Kak Ando akhirnya menyerah buat Video call. Jadinya panggilan suara aja lebih nyaman.


Sampai saat ini kami baru sebatas teman. Saling berbagi cerita tentang keseharian saja lewat telepon. Namun terkadang juga kami akan saling bertukar cerita soal kepribadian masing-masing. itu menjadikan kami lebih akrab lagi.


Seringkali kak Ando menelepon ku tanpa alasan. Katanya hanya pengen dengar suaraku saja. Aneh memang tapi itulah yang terjadi.


Setiap hari kak Ando tak pernah absen untuk menelponku. Terkadang aku risih tapi makin hari semakin terbiasa dengan panggilan masuk dari kak Ando. Bahkan jika seharian tak ada panggilan masuk darinya terasa ada yang kurang.


Oh ya kak Ando saat ini masih bertugas di luar kota jadi belum bisa datang untuk menemui ku secara langsung.


Hari-hari berlalu tanpa terasa sudah sebulan ini kami sering telponan saling berbagi cerita dan saling mengenal satu sama lain walaupun hanya lewat telepon dan chat WhatsApp saja tapi Aku dan kak Ando lebih nyaman.


***


Flashback On


Pernah sekali kak Ando ada tugas ke kota tempat ku saat ini, tepatnya dua minggu lalu dia datang untuk melakukan Pelatihan kerja. Dan saat itu adalah kesempatan emas bagi kami untuk bertemu langsung, tapi lagi-lagi aku belum yakin dan belum percaya diri untuk bertemu langsung dengannya.


Dengan berbagai macam alasan yang ku pikirkan untuk menolak bertemu dengannya, ada satu alasan yang mungkin tidak akan membuatnya kecewa.


Aku beralasan bahwa aku sedang sakit dan tidak bisa di ganggu dulu. Dan itu sukses. Kak Ando akhirnya mengerti, dia hanya akan menelponku setiap ada waktu senggang. Sama seperti ketika dia berada di kota tempatnya bertugas.

__ADS_1


Sampai saatnya dia akan kembali aku tak sekalipun mau bertemu dengannya. Entah apa yang terjadi denganku. Tapi itulah kenyataannya. Aku belum percaya diri untuk bertemu langsung dengan kak Ando. Mungkin masih ada trauma karena pernah tiba-tiba di tinggal begitu saja oleh orang yang ku anggap spesial. Jadinya selalu berpikir mungkin begini saja dulu lebih baik.


Flashback off


***


Setiap malamnya kak Ando selalu tak pernah absen untuk menelponku walau hanya sebentar seperti sekarang.


"Assalamualaikum kak" Ucapku saat panggilan telepon nya ku angkat


"Wa'alaikumsalam..." Ku dengar suara berat di seberang sana seperti biasa akan langsung membuat jantungku berdebar.


"Udah makan malam belum." Ucapnya lagi


"Udah dong. Kak Ando udah makan?"


"Belum." Ucapnya singkat


Aku mengernyit heran dan melirik jam weker di atas meja belajar ku sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam dia belum makan.


"Loh kok belum?"


"Iya. Lagi males makan malam. Diet" katanya.


"Ck. Gak usah diet diet segala. Emang kak Ando gemukan apa pake acara diet-dietan?" Cerocos ku


"Mau tau aja atau mau tau banget?" candanya


"Enggak lah. gak dua-duanya."


Ku dengar tawa renyah kak Ando.


"Emang kamu gak penasaran mau liat aku gemukan atau kurusan?"


"Enggak lah.."


"Kenapa? aku penasaran banget lho pengen liat kamu."


"Ih kak Ando berarti pengen nilai aku ya? aku tuh jelek banget orangnya. Enggak ada menariknya pokoknya."


"Aku penasaran pengen ketemu kamu langsung tuh bukan buat nilai kamu. Tapi aku pengennya liatin kamu dari bangun tidur sampai tidur lagi."


...


...


Hening...


"Iiiiiihhh kakak gombal yaa." Ucapku setelah hening beberapa saat.


"Siapa yang gombal."


"Kak Ando tuh yang gombal."


"Enak aja. Aku serius tau."


"Serius apa?"


"Udah ah aku mau keluar cari makan dulu. Laper.."


"Katanya mau diet. Gimana sih.."


"Katanya gak usah diet-dietan segala. Gimana sih.."


"Ih Kak Ando...Kesel!!!"


Teriakanku membuatnya tertawa lepas. Bahagia sekali dia.


"Ya udah ya.. Aku mau jalan dulu nih."


"Iyaa..sana makan dulu.. Udah larut malam baru mau cari makan. Assalamualaikum..." Omelku dan langsung ku akhiri panggilannya tanpa menunggu jawabannya.


Aku mengunci layar ponsel ku, beranjak untuk mengunci pintu kamar dan bermaksud kembali ke tempat tidur. Tapi belum sempat ku kunci pintunya terdengar ketukan dari luar. Siapa yang datang jam segini.


"Siapa?" Aku sedikit mengencangkan suara agar terdengar sampai di luar.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2