Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 17. Ada apa dengan mereka 2


__ADS_3

"Bukan itu maksud aku kak. Siapapun yang mau ngelamar aku sekarang, pasti akan aku tolak karena seperti yang aku bilang tadi. Fokus pasti akan terbagi jika sudah menikah, karena itu aku gak sanggup." Kata Felisha yang di balas dengan anggukan berkali-kali oleh Mato tanda mengerti jika Felisha belum siap menikah saat ini.


***


Sejak saat itu Mato masih berusaha untuk membuat Felisha yakin bahwa menikah tak akan membebaninya malah akan membantunya agar cepat menyelesaikan pendidikannya karena Mato akan dengan senang hati mendampinginya selama proses pendidikan.


Namun lagi-lagi Felisha menolaknya dengan alasan yang sama. Tak mau fokusnya terbagi.


Selama dua bulan Mato tak kendur membujuk kekasihnya itu untuk mau dia nikahi. Bukan tanpa alasan Mato melakukannya tapi Mato punya alasan sendiri kenapa sampai dia bersikeras ingin menikahi Felisha sekarang.


Yang pertama Mato takut jika suatu saat Felisha berpaling karena seringnya ia mendapati laki-laki yang ingin mendekati kekasihnya itu. Yang kedua Mato takut jika suatu waktu dia tak bisa mengendalikan diri untuk tidak menyentuh Felisha lebih jauh daripada sekedar menggenggam tangan dan memeluknya sedangkan mereka belum halal.


Dua hal itu yang selalu saja menghantui pikiran Mato selama ini. Ingin rasanya Mato berteriak sekencang-kencangnya mengatakan semuanya di hadapan Felisha bahwa ia sangat tersiksa jika berdekatan dengan kekasihnya itu tanpa Felisha sadari. Tetapi itu adalah hal yang memalukan baginya.


Felisha sendiri merasa jengah setiap kali ia bertemu dengan kekasihnya itu, karena selalu saja membahas tentang pernikahan. Mato yang tak henti-hentinya mengatakan jika dia ingin segera menikahinya. Tapi Mato tak pernah mau memberi tahu Felisha tentang alasan mengapa ia harus menikahi Felisha dalam waktu secepat itu. sedangkan hubungan mereka baru saja berjalan. Felisha tak tau saja jika Mato selalu berujung dengan bermain solo di kamar mandi setelah bertemu dengannya. Walaupun kekasihnya itu tak melakukan gerakan yang aneh-aneh atau memakai pakaian terbuka. Semudah itu libido seorang Mato naik.


Sampai akhirnya Felisha memaksa Mato untuk memberinya alasan yang tepat mengapa ia harus menikah sebelum ia lulus kuliah. Dan akhirnya Mato mengatakan semua apa yang menjadi alasan utamanya. Namun tidak dengan alasan kedua tadi. Mau di taruh dimana mukanya jika harus jujur soal itu.


"Kak..Kenapa sih selalu saja yang di bahas masalah itu terus? Aku tuh sampai gak tau harus ngejelasinnya kaya gimana lagi. Capek banget aku kak." Ucap Felisha pelan namun penuh tekanan sehingga terdengar seperti bisikan lirih. Karena ia sudah terlalu lelah dengan ajakan Mato untuk menikah.


"Aku takut suatu saat kamu berpaling dari aku sayang. Aku tidak akan bisa menerima jika kamu ninggalin aku karena laki-laki lain." Ucap Mato dengan menatap Felisha sendu.


"Ya Allah kak. Itu hanya ketakutan kakak yang gak berdasar buat aku. Emang selama ini aku pernah jalan dengan laki-laki lain ataukah aku pernah chatting an sama laki-laki lain gitu. Aku sudah bilang aku mau fokus kuliah dulu enggak ada niat yang laen-laen kak. Please!" Felisha mengatupkan kedua tangannya di dada memohon agar Mato segera menghentikan keinginannya menikahi Felisha dalam waktu dekat.


"Enggak pernah sayang, kamu gak pernah ngelakuin itu, aku hanya bilang kalau aku takut suatu saat kamu berpaling dari aku karena kita gak pernah tau ke depannya kita akan seperti apa." Mato

__ADS_1


"Kakak terlalu takut dengan hal yang belum tentu terjadi kak. Harusnya kakak berpikir jika memang kita berjodoh pasti kita gak akan kemana-mana kan. Kita tetep akan bersama kak. Inshaa Allah." Ucap Felisha meyakinkan Mato.


Mato terdiam tak tega melihat Felisha yang sudah berkaca-kaca, air mata menggenang di pelupuk matanya, sebentar lagi akan jatuh mengaliri pipi mulusnya.


Tangis Felisha pecah saat Mato mendekati dan memeluknya erat. Mato menghirup wanginya hijab yang di kenakan kekasihnya itu dan mengelus punggung Felisha untuk menenangkannya.


Lama Felisha terisak tanpa suara di dalam pelukan Mato sampai tak menyadari kalau kemeja navy yang di kenakan kekasihnya itu basah karena ingus dan air matanya. Mato pun membiarkan Felisha menangis di pelukannya agar Felisha merasa lega. Mato khawatir dengan keadaan kekasihnya yang mungkin merasa tertekan dengan permintaannya, ia segera membawa Felisha untuk duduk di bangku yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Mato berlari kecil pergi meninggalkan Felisha yang sibuk menetralkan perasaannya. Dan tak lama kemudian ia datang membawa air mineral kemasan, membuka tutup botol dan menyerahkannya kepada Felisha agar meminumnya.


Setelah Felisha terlihat lebih tenang, Mato meraih pundaknya dan menyandarkan kepala Felisha ke bahunya. Mato berkali-kali mengucapkan kata maaf sambil mengecupi tangan kekasihnya itu.


Kejadian yang serupa selalu saja terulang sampai akhirnya Felisha dan Mato sama-sama saling mendiamkan. Tak ada yang saling menyapa sampai beberapa hari bahkan minggu. Namun Mato tak pernah melepas pantauannya dari Felisha. Mato tak pernah menampakkan dirinya di hadapan Felisha, Ia selalu melihat gerak gerik Felisha dari jarak jauh.


Ia melihat keseriusan Felisha dalam mengejar pendidikannya. Mato tak pernah melihat Felisha hang out bersama teman-teman wanitanya di kelas selain Rufi dan Lita apalagi teman laki-lakinya.


Tapi di saat yang bersamaan Mato juga merasa kecewa karena sepertinya Felisha sangat menikmati kesendiriannya. Yang tak tampak kesedihan dan kerinduan untuknya karena hubungan mereka yang tak baik-baik saja. Hatinya seketika seperti di remas. Sakit.


FLASHBACK OFF


***


Felisha POV


Aku sangat tertekan sejak pertama kali kak Mato mengutarakan keinginannya untuk segera menikah dengan ku, sebenarnya itu adalah hal baik, tapi bagiku menikah sebelum lulus kuliah itu sangatlah berat karena akan membutuhkan tenaga dan pikiran yang ekstra, terlebih lagi jika setelah menikah langsung hamil. Aku sungguh tak akan sanggup jika harus menjalani semuanya. Itu yang ada di benakku saat ini

__ADS_1


Sudah dua bulan ini kak Mato tak henti-hentinya merayu ku agar mau untuk dia lamar, dengan berbagai macam penawaran. Mulai dari yang akan menunda kehamilan sampai aku lulus dulu hingga hal yang kurang masuk di akal seperti takut aku berpaling dari dia karena laki-laki lain. mendengar Itu sangat membuatku kecewa.


Pasalnya selama ini aku sangat menjaga jarak dengan lawan jenis termasuk dengan teman sekelas. Bukan hanya karena aku tau kak Mato cemburuan tapi juga karena dasarnya aku memang sedikit introvert jika berhubungan dengan laki-laki.


Aku mulai bosan dengan rengekan kak Mato setiap kali kami bertemu. Setiap pertemuan, kak Mato selalu saja ujungnya ngebahas soal menikah. Aku jengah dengan keadaan, di tambah lagi sekarang aku sedang banyak tugas di kampus, membuatku muak dengannya. Aku jadi suka gagal fokus karenanya.


Dan akhirnya aku selalu berusaha untuk tidak ketemu kak Mato dulu sementara waktu, karena menghindari pertengkaran yang mungkin terjadi lagi.


Setiap hari kak Mato selalu menghubungiku sepulang kerja. Tapi aku tak pernah menggubrisnya. Aku sengaja menghindar untuk memberi waktu kepada kami berdua untuk saling mengoreksi diri. Mungkin saja aku yang salah ataukah dia.


Akhirnya kak Mato mendatangiku di kosan karena panggilannya tak pernah ku jawab. Aku tak bisa menghindarinya kali ini tapi aku tak banyak bicara. Hanya mengatakan kalau aku sedang tak ingin di ganggu karena akan menghadapi ujian tengah semester. Kak Mato pun mengalah dan mengerti akan situasi ku. Ketika kak Mato pulang aku segera masuk ke dalam kamar untuk belajar. Rufi dan Lita juga sedang belajar di kamar masing-masing.


Setelah beberapa hari tak bertemu dengan kak Mato dan ujian kami telah usai, hanya tinggal menunggu nilai keluar, aku, Rufi dan Lita duduk di gazebo depan kelas sembari menunggu nilai hasil ujian, tiba-tiba saja kak Mato mendatangiku dan duduk di hadapan ku menatap tajam ke arahku. Aku membuang pandangan ke sembarang arah agar tidak menatapnya. "Nanti malam aku ke tempat kamu." Ucapnya.


Aku bergeming tak membalas ucapannya. "Felisha" Suara bariton itu kembali terdengar pelan namun penuh tekanan dan dia semakin menatapku tajam membuat ku ingin menghilang dari sana saat itu juga.


"Hmm." Ku hanya menjawabnya dengan deheman singkat sambil menunduk memainkan kaki. Tetap menghindari tatapan tajamnya.


Kak Mato segera berdiri dan pergi meninggalkan kami bertiga tanpa pamit. Ku lirik dua sahabatku yang bingung melihat ku dan kak Mato seperti itu. Mereka pasti bertanya-tanya ada apa sebenarnya.


Benar saja Rufi dan Lita langsung melayangkan pertanyaan sesuai dengan perkiraan ku. Setelah melihat kak Mato menjauh.


Aku belum bisa menjelaskan semuanya kepada mereka karena aku sendiri bingung dengan masalah yang terjadi dalam hubungan ku dan kak Mato.


...****************...

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya..🤗


__ADS_2