
Setelah memberikan Khutbah, Pak Penghulu kemudian mempersilahkan mempelai laki-laki untuk membacakan Sighat Ta'lik lalu penyerahan maskawin. Keluarga Ando segera menyerahkan maskawin berupa seperangkat alat shalat dan uang sebesar Tujuh Ratus Lima Puluh juta rupiah yang sudah di depositkan atas nama Felisha. Maskawin tersebut di simpan di dalam bingkai kaca.
Entah bagaimana caranya Ando mendapatkan nomor rekening milik Felisha. Seingatnya ia tak pernah sekalipun memberikan nomor rekening kepada orang lain selain ke dua orang tuanya.
"Darimana dia tahu nomor rekeningku ya.." Felisha bertanya-tanya dalam hati. Ia pasti akan menanyakannya nanti.
Setelah acara akad selesai, MC kemudian mempersilahkan ke dua mempelai untuk melakukan sungkeman dan meminta doa kepada orang tua.
Felisha tersenyum dalam harunya, tersenyum namun air mata sudah meluncur bebas ke pipinya kala teringat percakapannya dengan sang Ayah tadi malam sebelum tidur.
"Ayah mau puas-puasin peluk anak ayah malam ini sebelum besok harus nunggu MC nyuruh dulu baru bisa di peluk". Kata Ayah melow. Benar saja hari ini memang harus menunggu aba-aba dari MC.
Air mata haru tak bisa mereka tahan walau sekuat tenaga. Bukan hanya mereka yang sedang melakukan sungkeman yang menangis haru tapi juga hampir semua orang yang menyaksikan.
Felisha semakin terisak saat melihat tangis Ayah yang tersedu-sedu sampai Ibu harus menenangkannya dengan mengusap-usap punggung Ayah. Lama Ayah memeluk anak semata wayangnya itu membisikkan beberapa nasehat agar menjadi istri yang baik untuk suaminya, Ando.
Saat Ando sungkeman pada Ayah, tak lupa pula Ayah membisikkan beberapa pesan kepada Ando agar menjaga dengan baik anak semata wayangnya. Menjadikan segala kekurangan nya menjadi kelebihan. Begitu juga saat Felisha sungkeman kepada Mamah, lama mereka berpelukan sambil terlihat Mamah membisikkan pesan kepada Felisha agar menerima semua yang ada pada Ando dan mendampinginya sampai akhir hayat.
Setelah acara sungkeman selesai, kini saatnya MC memberikan kesempatan kepada keluarga untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai.
"Onty Icaa..." Ternyata orang yang lebih dulu maju adalah Naura bersama papah nya, Dokter Yoga.
Naura terlihat menarik-narik tangan papanya agar berjalan lebih cepat untuk sampai ke pelaminan sambil melambai ke arah Ando dan Felisha. Keduanya terkekeh melihat ekspresi dokter Yoga saat di paksa berjalan lebih cepat. Ah Naura si anak kecil tak tahu apapun soal para orang dewasa itu. Bagaimana dulu Papahnya sangat menginginkan Onty Ica menjadi ibu sambungnya. Bahkan mungkin sampai saat ini kalau boleh berharap ia pasti masih mengharapkan nya.
"Halo Naura..." Felisha membalas lambaian Naura sambil tersenyum lebar.
"Onty Ica tanttiiikkkkk tekaliii tepelti pelinces..Nau duga mahu tepelti pelinces..." Ucap Naura setelah mendekati kedua mempelai, menatap kagum wajah Felisha. Ando, Felisha dan dokter Yoga tertawa gemas mendengar celotehan Naura yang berada dalam gendongan papanya. Naura berhasil mencairkan suasana di antara ketiganya.
"Naura juga mau seperti princess??" Tanya Felisha dan Naura mengangguk-angguk an kepalanya berkali-kali. Lucu sekali.
"Nanti pas Nau ulang tahun, biar Onty Ica aja yang dandanin Nau..biar seperti princess yahh.." Tawar Felisha.
"Pelomis??" Naura mengacungkan kelingkingnya ke udara.
"Promise.." Felisha tersenyum dan mengaitkan kelingkingnya dengan kelingking Naura sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Yeeee..makatiihh Onty tanttiiikkkkk..." Naura bersorak gembira dengan mengangkat-angkat tangannya ke udara.
"Sama-sama cantiikk..."
Kini giliran Dokter Yoga yang memberi selamat kepada Ando dan Felisha.
"Selamat ya Do. Barakallah...turut bahagia untukmu dan juga Lisha.." Ucap dokter Yoga tulus sembari memeluk Ando dan menepuk-nepuk bahu saudara sepupunya itu.
"Aamiin..Terimakasih Ga..terimakasih..." Ucap Ando tak kalah tulus.
Dokter Yoga lalu menyalami Felisha dan mengucapkan selamat kemudian berlalu dari sana. Sepanjang jalan menuju tempat duduknya kembali, Naura terus bertanya kepada sang papa kapan ia akan ulang tahun. Dokter Yoga menjelaskan dengan sabar akibat dari perjanjian Felisha dan Naura tadi.
Setelah keluarga yang lain memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai. Kini saatnya Photografer yang akan mengambil gambar mereka maju dan berbincang sebentar lalu kemudian memberikan komando kepada keduanya untuk mengambil gaya.
Sebagian orang memperhatikan mereka dan sebagian orang sibuk berbincang dengan kerabat hingga sesi foto selesai.
"Rufi sama Lita mana ya.." Felisha tampak mencari-cari dua sahabatnya itu. Dan ternyata mereka berada tak jauh dari tempat ke dua mempelai berdiri.
"Heii...sini.." Panggil Lisha dengan tangannya saat matanya dan Rufi bertemu di antara banyaknya orang disana.
"Ada apa Sha..mau kita ambilin makan?" Tanya Rufi.
"Bukaan...Kita foto dulu sinii.." Ucap Lisha sambil memberi kode kepada sang Photografer agar mengambil gambar mereka. Beberapa gambar sudah berhasil di ambil. Dari yang berfoto bersama Ando sampai yang hanya mereka bertiga semuanya tak luput di abadikan.
"Shaa...aku dapet komisi gak tuh dari yang 750 juta??" Bisik Lita di telinga Felisha sambil menaik turunkan alisnya.
"Hahaha...tenaaannggg...kamu nanti ku traktir makan kue sepuasnya di Asia Cake.." Lisha cekikikan sendiri melihat Lita cemberut karena hanya akan mendapatkan komisi makan kue.
"Kenapa sii??" Tanya Rufi mendekat. Sedangkan Ando bengong melihat ke tiga perempuan itu.
"Lita minta komisi dari uang 750 juta itu katanya. Aku bilang tenang aja ntar aku traktir makan kue sepuasnya di Asia Cake". Felisha tertawa-tawa memberi tahu Rufi. Rufi dan Lita ikut tertawa mendengarnya.
"Ck dasar pelit.." Lita mendecak mendelik ke arah Lisha.
Perias datang untuk memperbaiki tampilan make up dan sedikit memodifikasi tampilan pakaian Felisha saat istirahat agar sedikit berbeda dengan tampilan saat akad tadi.
__ADS_1
Tepat jam 10 pagi acara resepsi di mulai. Tamu-tamu sudah mulai berdatangan. Rekan kerja Felisha dan teman saat kuliah, teman Ayah di kantor, teman Ibu, memenuhi tempat resepsi. Suasana Pesta pernikahan yang semi Formal menjadikan para tamu bebas berinteraksi dengan akrab.
Felisha mengundang beberapa rekan kerjanya di kantor, Mbak Reta, Mas Yudi dan yang lainya termasuk si Ibu bos Rofiqoh juga tak luput di undangnya. Mereka datang bersama-sama membuat Felisha begitu terharu sampai berkaca-kaca melihat kedatangan rombongan mereka. Satu persatu menyalami dan memberi selamat kepada Felisha.
"Selamat Ya Lisha...Semoga bahagia selamanya.." Ucap Bu Rofiqoh menyalami dan memeluk Felisha.
"Lisha..selamat ya..Semoga di berkati bahagia selalu bersama suami.." Mbak Reta menyusul memberi selamat setelah Ibu Rofiqoh. Cipika cipiki lalu bergantian dengan yang lainnya.
"Wooaahh cantik banget Neng..selamat yaah semoga Sakinah mawadah warohmah..pokoknya doa terbaik untuk kalian.." Mas Yudi tak mau kalah memberi selamat kepada Ando dan Lisha walaupun ia tak mengenal dekat Ando tapi ia tahu kalau suami Felisha itu sepupu dari dokter Yoga karena mendengar ceritanya dari Lita.
"Lita mana Sha? dari tadi aki nggak lihat.." Tanya Mas Yudi
"Ada kok..mungkin sedang jalan-jalan.."
"Oke..aku cari Lita dulu.." Mas Yudi pamit pergi mencari Lita.
Tamu semakin banyak yang berdatangan karena ternyata acara resepsi akan berlanjut hingga malam. Namun malamnya tamu undangan yang datang adalah tamu dari pihak Ando. Acara di selenggarakan satu waktu dan tempat saja mengingat waktu cuti keduanya yang terbatas.
Ando dan Felisha hanya di beri jeda waktu istirahat saat memasuki Waktu Dzuhur sampai Maghrib. Setelah itu mereka akan bersiap kembali ke tempat Acara.
Keduanya kini sudah berada di dalam kamar pengantin untuk beristirahat setelah menyambut para tamu yang datang serempak.
Ando terlihat mencoba melepas aksesoris yang menempel di kepala Felisha di bantu assisten MUA yang di minta Felisha untuk membantu melepaskan. Namun Ando tak menyelesaikannya lalu pamit ingin membersihkan diri lebih dulu sebelum Felisha. Akhirnya Lisha melepas asesorisnya hanya di bantu oleh asisten MUA. Tapi ia merasa lebih baik daripada harus di bantu oleh Ando. Entah kenapa ia masih sangat canggung kepada suaminya itu.
Setelah mandi, Ando keluar dari kamar mandi sudah tak ada orang disana. Berjalan mendekat ke ranjang dan melihat disana ternyata Felisha tertidur dengan masih terdapat sisa-sisa make up di wajahnya. Sepertinya tadi Lisha hanya menghapus make up nya dengan micellar water.
Felisha menunggu Ando selesai membersihkan diri hingga jatuh tertidur karena kelelahan dari subuh sudah bersiap untuk acara akad. Ando duduk di tepi ranjang menatap perempuan yang sekarang sudah sah menjadi istrinya itu dengan ekspresi yang sulit di artikan. Hatinya berdesir masih tak percaya sekarang ia sudah menjadi suami dari perempuan itu. Terulur tangannya mengusap pipi istrinya sampai Lisha tersadar dari tidurnya.
Pelan-pelan Lisha bangun dengan perasaan linglung. Bangkit dan duduk tegak menatap laki-laki yang ada di hadapannya yang sedang tersenyum manis padanya. Masih meraba-raba kenapa sampai ia bisa berada di kamar yang sama dengan laki-laki itu.
"Kenapa masih pakai ini..hmm?" Tanya Ando sembari memegang ujung hijab instan yang di pakai Lisha. Seketika Lisha tersadar sepenuhnya kalau ternyata ia baru saja telah menjadi istri laki-laki yang ada di hadapannya. Pipinya langsung menghangat memerah karena malu.
"Buka aja ya..kan udah nggak ada orang lain sekarang hanya ada aku.." Perlahan Ando meraih hijab Lisha dan di lepaskan. Lisha hanya diam terpaku tak tahu harus bagaimana. Ia tak meng iyakan tapi juga tak melarang. Saat melihat penampakan Lisha yang tak berhijab hatinya kembali berdesir melihat pemandangan indah itu. Ingin rasanya ia langsung menerkam istrinya namun mengingat masih ada acara nanti malam jadi sekuat tenaga ia urungkan niatnya. Takut istrinya kelelahan dan tak sanggup berdiri menyambut para tamu.
...****************...
__ADS_1