Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 34. Di Jemput ke Hotel


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam tapi aku belum juga bisa tidur. Berbaring terlentang memandangi langit-langit kamarku yang putih polos itu.


Kata-kata mamah dan papahnya kak Ando tadi siang masih terngiang di telinga.


"Sudah lama mamah gak pernah lihat Ando semangat lagi kayak dulu. Sudah lama juga Ando gak pernah ngenalin cewek ke mamah. Sejak Ando di tinggal menikah sama si mantannya itu, Ando hanya fokus dengan karirnya. Seperti takut memulai hubungan baru lagi dengan wanita."


"Papa hanya mengingatkan lagi jangan sampai kamu terlalu berharap banyak padanya lalu kemudian menyakitimu."


Ah seketika hatiku seperti di remas. Ada rasa tak rela jika kak Ando ternyata pernah di sakiti begitu dalam. Seperti apa wanita itu, aku jadi penasaran dengannya. Tapi seandainya jika ia masih bersama wanita yang telah menorehkan luka di hati kak Ando, itu artinya aku tak akan pernah mengenal seorang Alfando. Ah tidak. Jangan sampai wanita itu muncul lagi di hidup kak Ando.


Hatiku benar-benar tak rela jika kak Ando bersama wanita lain.


Apa ini, apakah aku cemburu jika ada wanita lain yang merasakan perhatian seorang Alfando selain aku? Ah pikiran ku mulai ngawur sepertinya. Sebaiknya aku tidur sekarang daripada banyak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.


Segera aku membaca doa lalu menutup mata berharap esok akan ada kabar baik menghampiri.


***


Seperti biasa kak Ando selalu terlihat tak ada apa-apa dengan sikap ku. Dia seperti sudah terbiasa dengan ku yang labil ini. Dia hanya akan terkekeh jika melihat ku cemberut karena nya.


Tidak terpengaruh dengan kelakuan ku yang terkadang masih sangat labil.


Seperti hari ini. Aku, Lita dan Rufi ada jadwal praktek di salah satu hotel ternama di kota ini. Disana kami akan praktek menyusun menu yang unik yang akan menarik konsumen untuk mencoba varian menu hotel tempat kami melakukan PKL. Mempraktekkan ilmu yang sudah kami pelajari dari kampus.


Aku sudah menjelaskan semuanya pada kak Ando, kalau kami akan selesai dengan praktek kami nanti malam setelah jam makan malam. Walau begitu kak Ando tetap akan menjemput ku dan mengantar pulang. Sedangkan Rufi dan Lita akan pulang bersama dengan memesan taksi online karena memang di daerah hotel ini tak ada jalur angkutan umum.


Pukul 8.00 malam Ponselku berdering tanda ada panggilan masuk. Aku merogoh tas mengambil handphone yang berbunyi untuk melihat siapa si penelpon. Ku lihat nama kak Ando disana. Segera ku tekan tombol hijau dan menyapanya.


"Halo... Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam..." Jawab kak Ando.


"Udah bisa aku jemput?" Lanjutnya


"Iya udah bisa kesini."


"Ya udah kamu keluar aja, aku tunggu di lobby."


"Kak Ando udah di lobby sekarang?" Tanyaku meyakinkan jika pendengaran ku tak salah.


"Iya sayang, aku udah di lobby sekarang." Katanya.


"Ya udah tunggu aku keluar sekarang." Segera ku matikan panggilannya lalu menoleh kepada Rufi dan Lita mengajak mereka untuk ke lobby.


Kami berjalan sambil Rufi memesan taksi online.


Dari jauh ku lihat kak Ando bermain ponsel dengan serius tanpa peduli dengan sekitarnya. Kak Ando seperti tak ingin banyak tahu dengan sekitar maka dari itu ia lebih memilih bermain ponsel.


Kak Ando mendongak mendengar langkah kami bertiga yang menuju padanya. Ia tersenyum manis lalu memasukkan ponselnya ke saku jaket kulitnya, berdiri dari duduknya menyambut kami.


"Mau langsung pulang?" Tanya kak Ando setelah aku berada di dekatnya.


"Nunggu taksi pesanan mereka dulu." Aku menoleh kepada Rufi dan Lita.


"Sudah ada di depan. Ayo Ta keluar sekarang. Sha, Kak duluan ya." Ucap Rufi pergi sambil melambaikan tangan kepada ku dan kak Ando yang di ikuti oleh Lita.


"Ayo." Kak Ando menoleh padaku, meraih tangan ku, menggenggamnya lembut. Ku biarkan saja. Kami pun melangkah menuju dimana motor kak Ando terparkir.


Memakaikan helm untuk ku setelah itu barulah ia memakai helm nya sendiri. Selalu seperti itu setiap kali kami pergi bersama.


Perlahan motor melaju dengan pelan memecah jalanan kota yang padat oleh kendaraan di malam hari. Menikmati pemandangan malam yang di hiasi lampu-lampu jalan. Kak Ando meraih tangan ku lalu melingkarkan ke tubuhnya sambil mengusap punggung tangan ku. Tanpa sadar aku pun merebahkan kepala ke pundaknya. Aku terlalu lelah untuk menolaknya, hari ini cukup menguras energi saat praktek.

__ADS_1


Baru saja aku merasa tertidur di pundak kak Ando, ternyata kami sudah berada di parkiran kos. Kak Ando menepuk pelan punggung tangan ku untuk menyadarkan ku karena sudah sampai kosan.


Aku mendongak celingak-celinguk memandang sekitar, mencoba mengembalikan kesadaran ku yang sempat hilang tadi. Aku terkejut setelah menyadari bahwa kami telah sampai.


Segera ku lepas pelukanku dari tubuh kak Ando. Seketika wajahku terasa hangat karena malu. Aku turun dari motor sport milik kak Ando lalu bertanya apakah ia akan singgah sebentar ataukah langsung pulang saja.


"Mau singgah sebentar?"


Kak Ando mengangguk dan turun lalu meraih tangan ku seperti sedang menuntun ku menuju kamar. Akupun hanya mengikuti langkahnya tanpa penolakan. Sepertinya aku benar-benar lelah hari ini. Tak ada tenaga lagi untuk menolak setiap perlakuannya sedari tadi.


Aku melihat Rufi dan Lita yang duduk di kursi teras depan kamar Lita. Sepertinya mereka baru saja sampai karena terlihat penampilan mereka masih sama seperti ku.


"Kalian baru sampai juga?" tanyaku


"iya. Tadi sempet macet karena ada pawai moge tapi gak lama makanya agak telat." Lita menjelaskan.


"Oh. Aku lanjut ke kamar mau mandi dulu. kalian juga. Tuh minyak di muka udah bisa goreng martabak telor." Ucapku mengejek dua sahabat ku.


"Yee ngejek aja. Kamu juga kali Sha. Kita sama-sama udah kayak wajan penggorengan jangan saling ejek. hahaha..." Rufi tertawa setelah mengatakan itu. Kami semua ikut tertawa mendengar ucapan Rufi.


Kak Ando menggeleng pelan sambil terkekeh.


Aku dan kak Ando lanjut melangkah menuju kamar ku.


"Kamu masuk dulu. Mandi biar wangi." Katanya sambil melepas genggamannya dan segera duduk di kursi teras. Aku mendelik padanya yang tersenyum lebar setelah menyuruhku masuk untuk membersihkan diri.


"Maksud kak Ando aku bau gitu?" Sungutku tersinggung.


"Enggak bau sayang. Aku ralat deh kataku tadi, bukan biar wangi tapi biar seger." Kata kak Ando masih dengan senyum lebarnya menampilkan giginya yang rapih. Aku tertegun sejenak menikmati pemandangan indah di depan mata. Lumayan pengobat lelahku hari ini.


Aku membalikkan badan, cepat-cepat berlalu dari sana takut khilaf. Aku mandi sambil tersenyum geli mengingat saat tadi memeluk tubuh kak Ando dan bersandar di pundaknya. Ah memalukan.


Dua puluh menit kemudian aku sudah merasa segar seperti yang di katakan kak Ando tadi. Setelah mengenakan pakaian rumahan, aku keluar untuk menemui kak Ando yang masih setia menunggu ku.


Seperti biasa dia akan langsung mematikan api rokoknya lalu membuangnya ke tong sampah yang ada disana jika melihat ku mendekatinya. Entah kenapa aku tak tahu. Mungkin dia pikir aku gak akan nyaman dengan asap rokok. Itu adalah salah satu sikapnya yang membuat hatiku yang keras mulai terkikis karena perhatian dan pengertiannya.


"Kak Ando udah makan malam belum?" Tanyaku padanya setelah duduk di sampingnya, takut jika tadi ia datang menjemput ku di hotel kalau ternyata belum makan malam.


"Kamu belum makan malam ya?" Tanyanya panik. Mungkin ia mengira aku hendak mengajaknya makan karena belum makan malam.


"Ih di tanyain malah nanya balik. Gimana sih kak"


"Serius sayang, kamu belum makan ya, ayo cari makan dulu." Ajaknya yang langsung berdiri dari duduknya.


"Aku udah makan malam tadi di hotel. Makanya aku nanya ke kamu kak jangan-jangan belum makan tadi pas jemput aku."


"Udah sayang. Aku tadi sore udah makan. Kebetulan ada temen yang ngajak ketemu di cafe deket kantor. Ya udah sekalian aja makan biar gak makan malam lagi kan."


"Tapi kamu beneran udah makan?" Tanyanya masih belum yakin.


"Udah." Jawabku tersenyum tipis meyakinkannya.


"Syukurlah..."


Kami sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Kak Ando yang menatapku meraih tangan ku menggenggamnya erat sambil di usapkan ke dadanya. Aku hanya membiarkan saja apa yang di lakukannya.


"Gimana kemarin ketemu sama mamah sama papah sayang?" Tanya kak Ando sambil tersenyum manis.


Aku menoleh menatapnya lekat.


"Mamah sama papahnya kak Ando baik banget. Ramah sama aku walaupun baru pertama kali ketemu." Jawabku yang membuat senyum kak Ando semakin lebar.

__ADS_1


"Mmmm papah pensiunan ya kak?" Tanya ku Ragu-ragu.


"Iya. Papah dulu dosen di salah satu universitas negeri."


Aku hanya manggut-manggut dengan bibir membulat tanpa suara.


Aku melirik kak Ando yang masih menggenggam erat tangan ku, sedangkan tangan sebelahnya sibuk dengan ponselnya. Ingin sekali aku bertanya soal mantannya itu tapi tak punya keberanian untuk menanyakannya.


Ku lihat kak Ando mengirim pesan singkat kepada seseorang. Ah gatal rasanya kalau tak bertanya dengan siapa dia berkirim pesan itu.


"Siapa sih kak?" Akhirnya aku bertanya dengan dahi berkerut.


Kak Ando menoleh lalu senyum. "Iman, dia tanya aku dimana, ya aku jawab lagi sama kamu sayang."


"Oohh..."


"Kenapa? Curiga amat." Kak Ando tersenyum jahil. Jahilnya kumat.


"Enggak papa. Nanya aja emang gak boleh."


"Boleh kok sayang. boleh banget. Kamu mau nanya apalagi?" Tanyanya dengan senyum tertahan membuat ku mencebik.


"Ck. Nanti aja. Kak Ando belum pulang nih udah hampir jam 10 lho. Nanti mamah cariin kalau pulang larut malam." Kataku mengingatkan kalau jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh malam.


"Mamah tau kalau aku disini sama kamu. Tadi aku bilang ke mamah kalau aku mau jemput kamu ke hotel tempat praktek. Mamah nitip salam buat kamu katanya."


"Kok baru ngomong sekarang kalau mamah titip salam buat aku."


"Lupa sayang hehe..baru ingat sekarang." Kak Ando menjawab dengan cengirannya. Aku mencebik.


"Maaf." Kata kak Ando dengan senyuman lebar sambil tangan ku kembali di usapkan ke dadanya yang tertutup kaos.


"Aku pulang sekarang ya. Kamu istirahat biar besok seger lagi badannya." Kak Ando beranjak dari duduknya. Aku pun ikut berdiri. Tanpa ku duga ia meraih dan memeluk ku lalu mengecup puncak kepalaku lama yang tertutup hijab rumahan.


Setelah itu kak Ando berlalu, aku masih setia memandangi punggungnya yang sudah tak terlihat. Hatiku berdesir merasakan pelukannya dan kecupan di kepala.


"Aku teringat lagi dengan kata-kata mamah papahnya. Terbersit di hati untuk tidak akan pernah menyakiti hati kak Ando. Membayangkan kak Ando bersama wanita lain hatiku seketika merasa tak rela. Tak akan ku biarkan hal itu terjadi. Ada apa dengan ku, apakah aku sudah jatuh cinta padanya? Kok makin hari aku semakin gak mau kalau kak Ando jauh-jauh dari ku ya." Aku termenung sejenak di teras depan kamar setelah kak Ando pulang.


Aku tersadar dari lamunanku setelah mendengar dering ponsel yang ku genggam sedari tadi. Ku lihat nama kak Ando disana. Ternyata sudah cukup lama aku termenung sendiri disini. Rufi dan Lita mungkin sudah tidur sejak tadi waktu kak Ando masih ada disini.


Buru-buru ku tekan tombol hijau, menjawab panggilan kak Ando.


"Halo Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam...Udah tidur sayang?"


"Belum. Kak Ando udah sampai rumah? Aku bertanya sambil berjalan masuk ke dalam kamar.


"Sudah. Kenapa belum tidur sayang. Jangan tidur larut malam. Gak capek apa tadi seharian praktek di hotel." Kak Ando sedikit bawel kalau menyangkut jam istirahat.


"Iya. Ini baru aja mau tidur. Mamah papah udah tidur?"


"Udah dari tadi. Aku pulang mereka sudah pada tidur semua. Kak Ando emang megang kunci serep pintu rumah karena kebiasaan sering pulang agak larut.


"Ya udah kamu istirahat sekarang. Have a nice dream baby."


"Have nice dream." Jawabku yang mulai sayup-sayup.


Aku menutup panggilan lalu menyimpan handphone milikku sembarang. Ngantuk banget rasanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2