Suami Sabarku

Suami Sabarku
Bab 59. Naulaa anak hebaat!!!!


__ADS_3

"Naura sayang kenalin ini tante Lisha dan ini tante Lita". Lisha, Lita maaf aku bawa Naura putriku untuk bertemu dengan kalian karena di rumah nggak ada temennya". Ucap Yoga yang membuat kedua perempuan itu heran.


" Oh hai Naura...cantik banget..salam kenal ya dari tante". Ucap Lisha dan Lita tersenyum manis kepada Naura.


"Halo tante atu Nola". Jawab anak perempuan itu yang langsung membuat ke duanya gemas mendengar ucapan Naura yang masih cadel menyebutkan huruf dan menyebut namanya Nola yang maksud dia adalah Naura.


" Tante Lisha mamah atu?" Tanya Naura.


"Naura sini sayang biar papah pangku ya". Ucap Yoga mengalihkan suasana.


Sedangkan Lisha dan Lita saling pandang, terkejut mendengar Naura memanggil Lisha mamah.


" Naura sayang, panggil Aunty aja yah biar enak di dengernya jangan tante...ketuaan...hehe.." Lita cengengesan setelah mengatakannya. Ia merasa terlalu tua jika di panggil tante. Sedangkan anak kecil itu hanya mengangguk, sorot matanya menatap Lita.


" Naura, papah kan sudah bilang sayang mamah nya Naura sekarang sudah dimana sayang?" Ucap dokter Yoga lembut kepada putrinya.


"Di Syurga". Jawab anak perempuan itu. Dokter Yoga pun tersenyum memandang putrinya. Lisha dan Lita kembali saling pandang, terkejut mendengarnya. Keduanya merasa iba kepada dokter Yoga dan Naura yang masih sangat kecil, masih sangat membutuhkan kasih sayang orang tua yang lengkap.


" Nah...kalau mamah udah di syurga berarti aunty Lisha bukan mamah nya Naura yah..". Ucap dokter Yoga lagi.


Mata anak kecil itu seketika berkaca-kaca dan sudah hampir menangis. Tapi langsung di hapusnya air mata yang sudah hampir keluar dengan tangan kecilnya. Naura seperti sudah terbiasa dengan keadaannya yang kadang harus menangis dan menghapus air matanya sendiri karena sang papah yang sibuk jadi ia terlatih untuk mandiri walau ada kakek dan nenek yang mengasuhnya.


Hati Felisha merasa tercubit, tak tega melihat anak sekecil Naura sudah tak mendapatkan kasih sayang dari ibunya karena di tinggal untuk selama-lamanya. Matanya juga ikut berkaca-kaca.


Dokter Yoga menatap Lisha lama. Seperti ada hal yang ingin di sampaikan tetapi karena disana ada Lita dan juga Naura jadi ia urungkan. Lita yang menyadari hal itu, segera meminta izin membawa Naura berjalan-jalan di taman belakang restauran itu.


"Naura sayang, kita jalan-jalan ke belakang dulu yuk sama Aunty Lita yuk.." Ajak Lita kepada Naura. Anak perempuan itu menoleh menatap papahnya seolah meminta izin dan dokter Yoga pun mengangguk.


Naura turun dari pangkuannya dan berjalan ke arah Lita yang sudah berdiri menunggunya. Meraih tangan anak perempuan itu, menggenggam nya dan membawanya berkeliling.


"Lisha, aku minta maaf soal kejadian di restauran malam itu". Ucap Yoga setelah Lita dan Naura tak terlihat.


" Nggak masalah dokter. Aku yang seharusnya minta maaf karena meninggalkan dokter makan malam sendiri waktu itu". Lisha merasa tak enak hati mengingat dirinya pada saat itu yang pulang meninggalkan dokter Yoga dan tak jadi makan malam bersamanya.


"Sebenarnya waktu itu aku ingin mengatakan tentang perasaan ku ke kamu, tapi.." dokter Yoga menggantungkan ucapannya dan Lita diam menunggu kelanjutan ucapannya.

__ADS_1


"Tapi ternyata kamu sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah". Yoga menarik nafas dan membuangnya kasar.


Lisha tak tahu harus berkata apa. Ia juga tak tahu kalau ternyata dokter Yoga menyimpan perasaan lebih kepadanya padahal selama ini mereka hanya pernah bertemu sebanyak dua kali.


" Dan... aku semakin terkejut saat tahu kalau ternyata kamu adalah tunangan Ando saudara sepupu aku". Lanjut Yoga tersenyum getir.


"Maafkan aku dokter.." Hanya itu yang bisa di ucapkan perempuan itu.


Yoga menggeleng. "Tidak Lisha, aku yang harusnya minta maaf karena tidak mencari tahu lebih dulu apakah kamu mempunyai hubungan dengan orang lain atau tidak. Untung saja Ando tidak langsung memukulku waktu itu saat tahu aku mencoba mendekati tunangannya". Yoga tersenyum kecut saat mengingat sikap Ando yang dingin padanya.


Lisha tersenyum kaku. " Maafkan sikap kak Ando dokter".


"Selama melanjutkan pendidikan di luar negeri, aku sama sekali nggak pernah pulang ke Indonesia jadi hanya bisa mendengar kabar pertunangan Ando lewat telepon dari ibu tanpa tahu siapa calon istri dari sepupu aku itu. Dan jika ingin bertemu dengan Naura putriku maka mereka akan mendatangiku disana".


" Aku melanjutkan pendidikan sejak di tinggal pergi oleh istriku. Aku hampir saja gila setiap mengingat kalau aku tak bisa menyelamatkan nyawa istri ku sendiri. Rasa bersalah yang amat dalam hampir saja membunuh ku pelan-pelan".


"Namun Naura putri kecil yang di tinggalkan Anisa untukku selalu menyadarkan ku bahwa aku harus tetap sadar, aku harus tetap waras, karena ada malaikat kecil yang harus ku jaga dan besarkan sesuai permintaannya sebelum menghembus kan nafas terakhirnya". Yoga terlihat menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Mencoba mengurangi rasa sesak di dadanya.


" Aku akhirnya memilih melanjutkan pendidikan di luar negeri agar pikiran ku sedikit teralihkan dari rasa kehilangan dan rasa bersalah yang amat dalam".


" Sampai saat kembali ke Indonesia ibu masih belum menyerah juga mengenalkan ku dengan beberapa anak perempuan kenalan nya tapi itu malah membuat ku jengah. Aku benar-benar masih betah menutup hati untuk perempuan lain".


"Mmm...Kalau boleh tau, sejak kapan dokter kembali ke Indonesia?" Tanya Lisha.


"Sekitar 3 bulan yang lalu". Jawab dokter Yoga terlihat menerawang mengingat saat ia kembali ke Indonesia.


Felisha hanya manggut-manggut. " Waktu itu Kak Ando nggak tau ya kalau dokter sudah kembali dari luar negeri? " Tanya Lisha lagi karena mengingat ekspresi ke duanya saat bertemu di restauran malam itu. Ekspresi wajah mereka seperti teman lama yang baru bertemu setelah sekian lama.


"Tau..Ando tau kalau aku sudah kembali tapi kami belum pernah ada kesempatan untuk bertemu karena setelah kembali aku langsung di sibukkan dengan pekerjaan, begitu juga dengan Ando dia selalu sibuk dengan pekerjaannya. Malah ketemunya di restauran malam itu. Ck..ck..." Ucap Yoga menggeleng pelan.


"Ya Ando sibuk dengan pekerjaan dan sibuk bersama tunangannya". Batin Lisha. Tak berani mengungkapan nya hanya bisa di ucapkan dalam hati.


" Kamu tau nggak, saat pertama kali melihatmu di kantin waktu itu, entah kenapa aku langsung jatuh hati". Yoga menatap Felisha yang terdiam.


"Aku seperti punya harapan lagi untuk melanjutkan hidup ku dan Naura." Lanjut Yoga sendu.

__ADS_1


"Dokter pasti akan mendapatkan kehidupan baru yang jauh lebih baik bersama perempuan yang tepat. Inshallah...aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk dokter dan juga Naura" Ucap Lisha tulus menyemangati dokter Yoga yang terlihat putus asa.


"Aamiin...terimakasih Lisha.." Yoga mengaminkan doa tulus perempuan itu.


Yoga menghirup oksigen banyak-banyak dan membuangnya kasar. Seandainya ia di takdirkan bertemu perempuan itu sebelum Ando bertemu dengan Lisha, ia tak akan melepaskannya. Sayangnya Ando adalah saudara sepupunya, ia tak mungkin merebut Felisha dari Ando.


Lisha membaca pesan yang masuk di handphonenya tanpa membukanya, ia melihat nama Lita tertera di layar.


"Sha...udah belum bicaranya ama dokter Yoga? Aku udah laper banget nih 😥 "


"Udaah...sini makan dulu".


Tak lama kemudian Lita dan Naura datang dengan menenteng kresek yang berisi beberapa snack dan susu kotak.


" Papah..." Panggil Naura sambil berlari kecil ke arah dokter Yoga. "Nola tadi dali beli eklim di tanaa papah.." Lapor Naura pada sang papah sambil mengarahkan telunjuknya ke minimarket yang ada disana. Lita meringis mendengar Naura melaporkan kegiatan yang seharusnya menjadi rahasia mereka berdua.


"Naura tadi makan es krim ya?" Tanya Yoga sambil mengangkat putri kecilnya ke pangkuan. Naura mengangguk semangat. Lita cengengesan ketahuan memberi Naura es krim.


"Hehehe... cuman dikit dok". Ucap Lita cengengesan.


Yoga tersenyum lalu mempersilahkan Lita duduk makan. Ia sendiri langsung sigap menyuapi putrinya dengan telaten, Yoga sudah terbiasa mengurus putrinya sendiri dari memandikan hingga menyuapinya. Itu semua ia lakukan dengan sangat lihai.


" Kalau gitu anak papah makan nasi dulu sayang. Aaa.." Yoga menyuapi Naura yang langsung membuka mulut menerima suapan dari sang papah. Naura tipe anak yang menurut, ia sama sekali tak pernah rewel soal makanan.


"Pantas saja badannya gembul, anaknya anteng gitu makannya". Pikir Lita.


Felisha dan Lita memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Hati Felisha tersentuh melihat dokter Yoga yang menyuapi putrinya sambil mengajaknya bercerita tentang apa saja. Tanpa terasa makanan yang ada di piring Naura habis tanpa sisa.


" Yeay....Naura hebat!!!" Lisha dan Lita bertepuk tangan saat dokter Yoga memasukkan satu suapan terakhir ke mulut kecil Naura. Naura pun ikut bertepuk tangan untuk dirinya sendiri.


Dokter Yoga Tersenyum lebar melihat putrinya yang begitu bersemangat menghabiskan makanannya dan meminum air putihnya sampai tandas. Betapa Yoga ingin melihat putrinya itu tumbuh dengan tak kekurangan kasih sayang, namun sepertinya takdir tuhan yang mengharuskan ia merawat dan membesarkannya sendiri.


Walau pekerjaannya terbilang cukup menguras waktu dan tenaga. Yoga selalu berusaha memberikan waktu sebaik mungkin kepada sang putri. Setiap ada waktu senggang, Yoga selalu mengajaknya bermain dan mengajak bercerita apapun yang di inginkan putrinya. Berharap putrinya itu selalu merasakan kebahagiaan walau tanpa seorang ibu di sisinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2