
"Ada apa Sha? Kok kaya yang nggak semangat gitu...ada masalah?" Lita yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya itu hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piringnya seperti tidak selera makan.
"Shaa..." Panggil Lita ulang karena tak ada jawaban.
"Eh iya kenapa Ta?" Lisha baru menyadari saat Lita menyentil tangannya.
"Kamu kenapa nggak makan?"
"Makan kok..ini.." Lisha segera menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya. Lita yang melihat merasa ada yang tidak beres dengan kelakuan sahabatan itu.
"Ada apa Shaa? Kamu sama kak Ando baik-baik aja kan?" Selidik Lita.
"Baik ko Ta..Alhamdulillah..." Jawab Lisha sembari memakan makanannya sampai habis.
"Terus apa yang kamu pikirin sekarang? Kamu nggak bisa boong sama aku..kalau masalahnya bisa kamu selesain sendiri nggak usah cerita tapi kalau sekiranya perlu bantuan aku dan Rufi, kamu boleh cerita siapa tau kami bisa bantu". Ucap Lita panjang lebar.
" Aku nggak ada apa-apa Ta...hari ini nggak tahu kenapa aku kurang selera makan aja.." Lisha meneguk air putihnya sampai tandas sambil memikirkan apakah ia harus memberitahu dua sahabatnya itu soal pesan yang di terima nya tadi pagi atau tidak dulu. Mungkin ada baiknya dia mencari tahu sendiri siapa orang tidak bertanggung jawab itu.
"Jangan-jangan kamu dah isi Sha?? Bulan ini udah dapet belum?" Lita bertanya dengan semangatnya yang di jawab dengan gelengan Lisha.
"Nggak tahu Ta..aku biasanya dapetnya akhir bulan..tapi bulan lalu masih dapet.."
"Coba di tespek aja dulu Sha...siapa tau kan.."
"Nanti aja kalau udah telat 2 mingguan baru di tes..."
__ADS_1
"Pulang nanti kak Ando jemput?"
"Dia ke Bogor hari ini, mungkin pulangnya agak larut..tadi bilang hanya bisa anter tapi nggak bisa jemput katanya". Lita mengangguk-angguk an kepalanya tanda mengerti.
" Ehm..." Deheman dari seseorang membuat kedua perempuan itu menoleh.
"Eh Dokter Yoga..." Lita menampilkan cengiran kudanya kepada Yoga.
"Boleh gabung?" Yoga membalas senyum dan bikin Lita ingin pingsan saat ini juga.
"Boleh Dok, silahkan". Lisha mempersilahkan sepupu dari suaminya itu untuk duduk bersama mereka dengan bergeser duduk di sebelah Lita.
"Naura apa kabar Dok?" Lisha membuka percakapan setelah cukup lama diam, sedangkan dokter Yoga hanya fokus dengan makanannya setelah di persilahkan duduk. Lita ikutan bingung dengan situasi.
"Alhamdulillah baik...dia nanya terus kapan ulang tahunnya katanya mau di pakaikan baju princess sama kamu". Yoga meraih tisu dan menyeka sisa makanan di bibirnya.
"Setiap hari nanyain kamu terus, Papa kapan ketemu Aunty Ica kata dia, aku bilang nanti kalau Aunty Ica nya udah nggak sibuk". Yoga terus berbicara tanpa menatap Lisha ataupun Lita. Dia berbicara dengan pandangan menunduk menatap piring kosong di hadapannya.
" Oh ya? Ah jadi kangen Naura.." Lisha menoleh dan tersenyum kepada Lita. Berbeda dengan Lisha, Lita malah tersenyum canggung melihat ekspresi Yoga saat berbicara. Merasa iba dengan dokter Yoga yang sepertinya masih menyimpan perasaan kepada istri dari saudara sepupunya itu namun tak bisa berbuat apa-apa karena sekarang mereka sudah berstatus saudara ipar.
"Nanti kalau kak Ando ada waktu aku ajak Naura jalan-jalan boleh ya Dok?" Lisha dengan semangat meminta izin kepada Yoga mengajak Naura jalan-jalan bersama suaminya. Lama Yoga terdiam menatap Lisha yang menunggu jawabannya dengan wajah penuh harap. Ingin sekali Yoga berkata tidak jika itu bukan pergi dengannya namun mulutnya tak kuasa dan akhirnya menyetujui permintaan perempuan yang masih ia harapkan untuk menjadi ibu sambung putrinya.
"Boleh." Jawabnya pendek. Lita yang melihat tatapan Yoga kepada Lisha, ikut merasakan ke galauan laki-laki itu. Jika ada yang memberinya pilihan apakah dia akan berada di pihak Ando atau Yoga maka ia akan memilih pergi tanpa menjawab pertanyaan yang membingungkan itu. Dia akan memilih tak pernah mengenal kedua laki-laki itu mungkin lebih baik dari pada harus memilih salah satunya.
"Yeayy...makasih Dok.." Lisha bertepuk tangan di depan dada sembari tersenyum lebar karena senang akan pergi bertiga dengan suaminya dan Naura keponakan suaminya. Perlahan bibir Yoga terangkat membentuk senyum tipis melihat senyum lebar perempuan itu. Lita ikut tersenyum melihat interaksi keduanya.
__ADS_1
Lita merasa Lisha bukannya tak tahu soal perasaan dokter Yoga padanya sampai saat ini, hanya saja Lisha memilih mengabaikan dan terlihat mencoba mengakrabkan diri dengan orang-orang di sekeliling suaminya. Mencoba membangun komunikasi yang akrab dengan keluarga Ando tanpa mempedulikan perasaan Yoga padanya. Namun yang di lihat oleh Lita, Yoga tersiksa dengan perasaan nya yang seperti judul lagu "Kasih Tak Sampai".
" Ya udah aku duluan ya..." Yoga menarik nafas dan membuangnya kasar berharap sedikit mengurangi kegalauan, ia kemudian bangkit dari duduknya lalu pamit.
"Oke Dok..." Lisha mengacungkan jempolnya ke arah Yoga dengan senyum mengembang. Lita ikut tersenyum dan sedikit membungkukkan badan.
"Shaa..aku mau nanya deh sama kamu..jawab yang jujur ya.." Lita langsung ingin mengajukan pertanyaan setelah punggung Yoga menghilang dari balik pintu.
"Mau nanya apa?" Lisha sepertinya sudah bisa menebak akan pertanyaan sahabatnya itu.
"Kamu pasti tahu kan kalau dokter Yoga masih ada perasaan sama kamu?" Lita menunggu jawaban Lisha yang terlihat mengaduk-aduk minumannya.
"Tahu...emang kenapa?"
"Kamu nggak kasihan sama dia? Jujur ya dari tadi itu tuh aku perhatiin dia yang kayak galau banget tau nggak..dia natap kamu kayak yang penuh harap gitu.."
"Harapin apa sama aku, udahlah perasaan dia ke aku juga perlahan pasti akan hilang dengan sendirinya..yang penting aku nggak respon aja perasaannya..aku yakin suatu saat nanti dia pasti mengalah oleh keadaan yang kenyataannya aku sekarang adalah istri dari saudara sepupunya dia yang artinya aku adalah saudara ipar nya dia." Ucap Lisha panjang lebar.
"Ya semoga saja..tapi kamu jangan terlalu akrab juga dengan dokter Yoga takut kak Ando salah paham sama kalian berdua. Terus Naura jangan sering-sering kamu temuin takut dia makin lengket dan malah nggak mau pisah sama kamu karena dia sempet nganggap kamu mamahnya kan..inget nggak waktu pertama kali dia ngeliat kamu...dia manggil Mamah kan...Bagaimana pun juga kak Ando tahu kalau dokter Yoga pernah..." Lisha membekap mulut Lita, tak membiarkan nya berbicara semakin panjang lebar.
"Iya Iya...aku tauu...aku hanya berusaha akrab aja dengan keluarga kak Ando tanpa terkecuali, lagipula kak Ando orangnya nggak cemburuan Ta..kalau cemburu juga ya paling di pendem aja dalam hati..hehe.."
"Jangan salah... mungkin dulu kak Ando nggak pernah protes kalau sedang cemburu karena kalian statusnya masih pacaran, sekarang statusnya udah beda...dia udah jadi suami kamu sekarang jadi bisa aja kak Ando jadi marah kalau sedang cemburu itu hak dia...hati-hati loh ya dengan orang diem kayak kak Ando.." Lita mengingatkan sahabatnya itu untuk berhati-hati.
"InsyaAllah kak Ando selalu sabar kalau sama aku..makasih ya udah ngingetin..." Lisha tersenyum menenangkan Lita sambil mengusap lengannya. Sejenak melupakan pesan tadi pagi yang masuk ke nomernya. Biarlah itu menjadi masalahnya sendiri, mungkin pulang nanti dia baru akan bercerita kepada suaminya soal pesan itu dari pada harus bercerita kepada dua sahabatnya Rufi dan Lita.
__ADS_1
...****************...
Maafkan baru bisa up lagi☹️..orang rumah pada tumbang semua termasuk aku..ini nulisnya dikit-dikit aja dulu yang penting dalam minggu ini ada up..makasih ya yang masih setia nungguin kabar dari Ando & Lisha...selamat mbaca semoga terhibur 🤗🤗🤍🤍❤️❤️